Monthly Archives: Apr 2026

Articles

Sadar Ga? Yang Tidak Terlihat, Justru Itulah yang Paling Mahal….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sadar Ga? Yang Tidak Terlihat, Justru Itulah yang Paling Mahal….

Beberapa hari ini saya membaca kisah yang cukup menggelitik tentang Amsal Sitepu, seorang videografer yang terseret perkara hukum setelah mengerjakan video profil desa.

Amsal sebagai penyedia jasa memberi harga, klien setuju, pekerjaan selesai, lalu di mana letak korupsinya?
Nah, di sinilah ributnya.

Pihak penegak hukum melihatnya dari sisi penggunaan dana negara dan kewajaran anggaran. Semuanya dihitung dan dibandingkan seperti barang pabrikan.
Sementara orang yang bijak melihatnya dari sisi jasa kreatif, yang memang tidak punya harga baku dan kaku.

Salah satu hal yang membuat banyak orang tertegun, karena dalam proses penilaian kasus itu, beberapa unsur kerja kreatif seperti ide, editing, dubbing, cutting, bahkan perlengkapan tertentu, disebut-sebut seolah tidak punya nilai, atau dianggap sangat minim nilainya.
Padahal justru di situlah letak harga dari pekerjaannya.

Kasus ini membuat kita berpikir.
Mengapa di negeri ini, sesuatu yang bisa dipegang sering dianggap lebih bernilai daripada sesuatu yang dipikirkan, dirancang, diolah, dan diciptakan?

Kita masih sangat terbiasa menilai harga kreativitas seperti menilai barang jadi.
Hanya melihat hasil akhirnya, orang bisa berkata:
“Ah, cuma video.”
“Ah, cuma desain.”
“Ah, cuma ide.”

Padahal yang mahal sering kali bukan barangnya.
Yang mahal adalah mata yang bisa melihat sesuatu yang belum dilihat orang lain.
Yang mahal adalah pikiran yang bisa menemukan bentuk, rasa, sudut, komposisi, dan solusi.
Yang mahal adalah keahlian yang lahir dari jam terbang, latihan, kegagalan, dan proses panjang.

Saya jadi teringat pada Elisa, putri saya, ketika dulu kuliah di Melbourne dan memenangkan Australian Fashion Award.

Setelah lulus, Elisa merancang sebuah gaun cantik dengan sentuhan bulu merak. Hasilnya sangat indah. Simple, tetapi memukau. Anggun, tetapi tidak ramai.

Ada sesuatu yang terasa “berbeda” saat gaun itu dikenakan.

Lalu seorang teman berkomentar,
“Sebetulnya modelnya sederhana sekali ya… tetapi entah mengapa kelihatan sedemikian anggun dan memukau?”

Nah, justru “entah mengapa” itulah yang mahal.
Karena yang orang lihat hanya hasil akhirnya.

Yang tidak mereka lihat adalah:
mata yang peka,
rasa artistik,
proporsi yang tepat,
pemilihan material,
jatuhnya potongan,
detail yang nyaris tak terlihat,
dan intuisi kreatif yang tidak bisa dibeli kiloan.
Itulah harga sebuah ide.

Dan lucunya, saat karya seperti itu dijiplak, sekilas mungkin terlihat mirip.
Tetapi ketika dikenakan?
Jauuuuh berbeda.

Mengapa?
Karena ada perbedaan besar antara karya seorang designer sungguhan dan sekadar penjahit.
Penjahit bisa membuat.
Tetapi designer menciptakan.

Designer belajar bertahun-tahun untuk memahami bentuk tubuh, struktur kain, teknik potong, estetika, harmoni, bahkan psikologi visual.
Jadi yang dibayar bukan cuma “jahitannya”, tetapi otaknya, matanya, rasanya, dan ketepatannya.

Begitu juga dalam dunia kreatif lainnya.

Saya juga teringat sebuah kisah lama yang sangat terkenal.

Charles Proteus Steinmetz ahli teknik listrik legendaris dari General Electric, pernah dipanggil untuk memperbaiki generator besar milik Henry Ford.

Setelah menganalisis mesin itu, ia hanya memberi tanda kapur di satu titik. Lalu bagian tertentu diperbaiki, dan mesin kembali normal.

Tagihan yang diberikan membuat orang terkejut.
Ketika Ford meminta rincian tagihan yang mahal itu, muncullah jawaban legendaris:

Making chalk mark on generator: $1
Knowing where to make mark: $9,999
Membuat tanda kapur pada generator: $1*
Mengetahui di mana tanda itu harus dibuat: $9,999

Mak jleb.

Di Indonesia, kita masih sering terlalu pelit menghargai keahlian, gagasan, dan kreativitas.

Kita rela bayar mahal untuk benda bermerek, tetapi keberatan membayar orang yang berpikir.
Kita kagum pada hasil jadi, tetapi sering meremehkan proses kreatif di baliknya.

Padahal, tanpa ide, tanpa skill, tanpa sentuhan ahli, banyak hal yang kita nikmati hari ini tidak akan pernah lahir.

Jadi kalau hari ini kita masih bertanya,
“Kenapa mahal? Kan kelihatannya sederhana…”
Mungkin masalahnya bukan pada harganya.
Mungkin masalahnya adalah:
kita belum cukup paham apa yang sebenarnya sedang kita bayar.
Karena sering kali, yang tampak sederhana itu justru lahir dari pikiran yang tidak sederhana.

Dan sayangnya, di negeri ini, kita masih terlalu sering menghargai barang, tetapi gagal menghormati otak di balik barang itu.
Bagaimana pendapat Anda?

“Quality is never an accident. It is always the result of intelligent effort.” – – John Ruskin.

“Kualitas tidak pernah terjadi secara kebetulan. Kualitas selalu merupakan hasil dari usaha yang cerdas.”- John Ruskin.

YennyIndra
www.yennyindra.com?

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More