Rajin Ke Gereja, Tapi Bisnis Tetap Bangkrut. Kenapa?
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Rajin Ke Gereja, Tapi Bisnis Tetap Bangkrut. Kenapa?
“B. Yenny, sekian tahun lalu saya diajak kerja sama oleh seorang teman yang aktivis gereja. Rajin ibadah, rajin pelayanan, kelihatannya rohani sekali. Tapi ketika bisnis kami gagal, dia malah menyalahkan saya. Katanya, karena saya tidak ke gereja…” cerita seorang sahabat
.
Begitu saya mendengarnya, dalam hati saya langsung berkata:
loh, kok bisa?
Tapi setelah dipikir-pikir, sebenarnya pola pikir seperti ini masih banyak sekali.
Banyak orang diam-diam percaya bahwa kalau seseorang rajin ke gereja, otomatis hidupnya akan diberkati, usahanya lancar, bisnisnya berhasil. Seolah-olah gereja itu menjadi semacam tempat “menukar” kesetiaan kita dengan berkat Tuhan.
Kalau rajin hadir, Tuhan harus memberkati.
Kalau aktif pelayanan, bisnis harus berhasil.
Kalau sering angkat tangan saat pujian penyembahan, usaha pasti lancar.
Tapi cara kerja Tuhan bukan begitu!
Kadang kita memperlakukan Tuhan seperti ‘jimat rohani.’
Ke gereja bukan lagi karena mengasihi Tuhan atau mau bertumbuh, tetapi karena berharap hidup menjadi lancar. Gereja dipakai sebagai alat untuk mengejar hasil, bukan tempat untuk mengenal Dia.
Yang lebih ironis lagi, ada orang yang malas belajar, malas berpikir, malas membangun bisnisnya dengan benar, tetapi sangat aktif dalam kegiatan rohani. Seolah-olah aktivitas rohani bisa menggantikan tanggung jawab praktis yang seharusnya ia kerjakan.
Lalu partner dipilih sembarangan.
Kongsi tanpa check and recheck.
Masuk usaha tanpa perhitungan.
Tidak paham pasar.
Tidak punya sistem.
Tidak mengerti arus uang.
Tapi ketika gagal…
Tuhan yang disalahkan.
Gubraaaaakkk….
Padahal kalau kita jujur, seringkali masalahnya bukan di Tuhan.
Masalahnya ada pada cara kita berpikir, cara kita memilih, dan cara kita bekerja.
Benarkah Tuhan adalah sumber berkat kita?
Seratus persen betul.
Tetapi kita perlu mengerti satu hal yang sangat penting: ada The Will of God (Kehendak Tuhan), dan ada juga The Way of God (Cara Tuhan).
Banyak orang suka bagian “kehendak Tuhan”, tetapi tidak suka belajar “cara Tuhan”.
Kita suka mendengar bahwa Tuhan mau memberkati, menyembuhkan, memberi damai, sukacita, hikmat, kepandaian, dan kemakmuran kepada anak-anak-Nya. Itu benar. Karena Kristus sendiri tinggal di dalam roh kita.
Tetapi persoalannya adalah:
bagaimana cara Tuhan mewujudkan itu semua dalam kehidupan nyata kita?
Di sinilah banyak orang Kristen tersandung.
Ulangan 8:18 berkata bahwa Tuhan memberi kita kuasa untuk memperoleh kekayaan.
Perhatikan baik-baik. Tuhan tidak memberi uang yang jatuh dari langit.
Seringkali yang Tuhan beri justru berupa ide, kemampuan, kejelian, koneksi, hikmat, peluang, ketepatan membaca musim, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan mengelola.
Jadi, berkat Tuhan dalam bisnis sering muncul dalam bentuk kapasitas, bukan sekadar hasil instan.
Itulah sebabnya, untuk sukses dalam bisnis, kita tidak cukup hanya berdoa, berpuasa, dan menghafalkan ayat.
Kita juga harus belajar.
Kita harus belajar tentang strategi, manajemen, produk, branding, marketing, pelayanan, sistem, arus kas, positioning, kualitas, dan banyak hal lainnya. Semua itu harus dipelajari, dipraktikkan, dikerjakan, lalu dievaluasi supaya kita bisa mengambil keputusan yang tepat.
Kita perlu bertanya dengan jujur:
Apakah produk kita memang benar-benar dibutuhkan oleh pasar?
Apa kelebihan dan keunikannya dibanding produk sejenis?
Sudah punya identitas yang jelas atau belum?
Cara memasarkannya bagaimana? Online? Offline? Atau kombinasi keduanya?
Apakah partner kita memang orang yang tepat?
Semua itu adalah bagian kita.
Ilmu pengetahuan ada di mana-mana.
Belajarlah.
Jangan cuma rajin berdoa, tetapi malas berpikir.
Jangan cuma hafal ayat, tetapi tidak tahu bagaimana cara menerapkannya dalam mengambil keputusan nyata.
Tuhan memang yang memberkati dan melipatgandakan.
Tetapi kita tetap harus mengerjakan bagian yang natural, lalu Tuhan akan memberkatinya secara supernatural.
Ini prinsip yang sangat sederhana, tetapi sangat sering diabaikan.
Kita perlu mengenal Tuhan, tahu kehendak-Nya, lalu membangun hubungan yang intim dengan-Nya. Kita perlu peka saat Tuhan berbicara dan menuntun langkah kita, supaya kita bisa menjalani hidup ini bersama-Nya, bukan sekadar membawa Tuhan masuk ke dalam rencana kita.
Karena seringkali kita maunya begini:
kita jalan dulu sesuai keinginan sendiri, lalu di tengah jalan baru minta Tuhan memberkati.
Padahal,
yang Allah itu Tuhan, bukan kita.
Jadi, kita yang harus nurut.
Saya teringat pada kisah Andrew Wommack, founder Charis Bible College dan Andrew Wommack Ministries.
Beliau adalah pelayan Tuhan yang luar biasa. Sangat setia, pelopor grace & faith, pengajarannya memberkati begitu banyak orang di seluruh dunia. Bahkan ia telah menyembuhkan banyak orang sakit dan beberapa kali membangkitkan orang mati.
Tetapi tahukah Anda, ada masa ketika pelayanannya nyaris bangkrut?
Mengapa?
Bukan karena Tuhan meninggalkannya.
Bukan karena ia kurang berdoa.
Bukan karena kurang firman.
Jawabannya sederhana, tetapi sangat penting:
mismanagement.
Di atas kertas, kondisinya hampir habis.
Pelajaran ini sangat besar bagi saya.
Ternyata, bahkan pelayanan sebesar itu pun tetap bisa goyah kalau tidak dikelola dengan benar.
Artinya apa?
Doa tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan pengelolaan yang benar.
Firman Tuhan tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan tanggung jawab praktis.
Andrew kerap melayani di gereja milik Ps. Greg Mohr. Di sanalah Tuhan mempertemukannya dengan Paul Milligan, yang saat itu menjadi salah satu leader di gereja tersebut.
Paul dikenal sangat kuat di bidang business systems dan financial stewardship, yaitu dalam membangun sistem bisnis dan penatalayanan keuangan. Ia sukses membangun berbagai bisnis dan juga membantu mengembangkan micro-enterprise business ventures di beberapa negara seperti Kenya, Polandia, Bulgaria, Sri Lanka, Meksiko, dan lain-lain.
Tuhan menuntun Paul Milligan untuk menolong pelayanan Andrew.
Akhirnya Paul menjadi CEO di pelayanan Andrew selama beberapa tahun. Ia tidak hanya membenahi manajemen, tetapi Tuhan juga membimbingnya untuk membuka Business School di Charis Bible College.
Coba perhatikan indahnya cara Tuhan bekerja.
Tuhan tidak menyelesaikan masalah Andrew dengan uang yang tiba-tiba turun dari langit.
Tuhan menyelesaikannya dengan mempertemukan dia dengan orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan keahlian yang tepat.
Melalui Greg Mohr, Tuhan membuka jalan sampai kepada Paul Milligan.
Dan semua itu bisa terjadi karena Andrew dan Paul sama-sama merespons dengan benar.
Beberapa tahun kemudian, Paul menyerahkan jabatan CEO kepada Billy Epperhart, mantan pastor sekaligus founder WealthBuilders dan Tricord Global, seorang pengusaha sukses yang cinta Tuhan.
Billy lalu mengembangkan AWM dan CBC dengan menggandeng Dean Radtke sebagai board/advisor, karena latar belakangnya sangat kuat di bidang leadership, strategic planning, dan organizational turnaround.
Dean tidak hanya membantu memodernisasi, merapikan, dan mengembangkan sistem di AWM dan CBC, tetapi juga memperkuat arah, struktur, dan kepemimpinan organisasi.
Paul Milligan, Billy Epperhart, dan Dean Radtke adalah guru-guru kami di Charis Bible College level 3. Dan sungguh, kami sangat bangga bisa belajar dari orang-orang hebat seperti mereka.
Yang sangat menarik bagi saya: strategi bisnis dan sistem yang diajarkan oleh guru-guru ini ternyata banyak diambil dari Kitab Amsal dan berbagai prinsip firman Tuhan lainnya, yang sudah “diterjemahkan” ke dalam bentuk yang bisa langsung diterapkan.
Jadi sebenarnya, banyak strategi bisnis yang hari ini dianggap “sekuler” ternyata justru berakar dari hikmat Alkitab.
Firman Tuhan itu tidak pernah hanya untuk didengar di mimbar.
Firman Tuhan harus bisa turun ke meja kerja, ke ruang rapat, ke pembukuan, ke keputusan bisnis, ke cara kita memilih partner, ke cara kita memimpin tim, dan ke cara kita mengelola uang.
Dengan dibantu oleh tokoh-tokoh bisnis yang handal dan berpengalaman ini, AWM dan Charis mengalami pertumbuhan pelayanan yang sangat pesat dan mendunia.
Ini membuktikan satu hal yang sangat penting:
untuk sukses, tidak cukup hanya hafal ayat kata demi kata.
Bahkan orang sekelas Andrew Wommack pun tetap perlu dibantu oleh orang-orang yang tahu bagaimana cara menerapkan firman Tuhan secara nyata di dalam bisnis dan organisasi.
Jadi bagi kita pun sama.
Tidak cukup hanya berdoa dan membaca firman.
Untuk berhasil, kita butuh tindakan nyata. Kita perlu mempraktikkan prinsip-prinsip Tuhan itu dalam hidup dan bisnis yang sesungguhnya.
Barulah keberhasilan itu benar-benar tercipta dan bisa dinikmati secara sehat, nyata, dan bertahan.
Karena itu, kita tidak hanya perlu tahu The Will of God – Kehendak Tuhan, tetapi kita juga wajib mengerti The Way of God – jalan dan cara Tuhan merealisasikan kehendak-Nya dalam kehidupan kita.
Dan seringkali,
cara Tuhan itu jauh lebih praktis daripada yang kita kira.
Makes sense?
Mari kita praktikkan.
“Risk comes from not knowing what you’re doing.” – Warren Buffett.
“Risiko muncul ketika kita tidak benar-benar tahu apa yang sedang kita kerjakan.” – Warren Buffett.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
*MPOIN PLUS & PIPAKU*
*SVRG*
*SWEET O’ TREAT*
*AESTICA ID*
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan