Sudah Dalam Kristus, Mengapa Hidup Masih Berat?
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Sudah Dalam Kristus, Mengapa Hidup Masih Berat?
Beberapa waktu ini saya merenungkan sesuatu yang sangat sederhana… tapi diam-diam menentukan arah hidup kita.
Identitas.
Bukan identitas di KTP.
Bukan peran sebagai ibu, istri, pemimpin, atau pelayan Tuhan.
Tapi identitas kita di dalam Kristus.
“In Christ.”
Kalimat ini sering kita dengar.
Tapi sering kita masih hidup seolah-olah di luar.
Padahal sejak lahir baru, posisi kita sudah berubah.
Kita tidak lagi berdiri di luar, berusaha mendekat kepada Tuhan.
Kita sudah ditempatkan di dalam Dia.
Artinya:
Bukan lagi hidup untuk mendapatkan penerimaan,
tapi hidup dari penerimaan.
Bukan lagi berusaha supaya diberkati,
tapi hidup dari berkat.
Ini seperti pindah sistem kehidupan.
Dulu kita hidup dari:
usaha
ketakutan
pembuktian diri
Sekarang kita hidup dari:
union
kelimpahan
keamanan identitas
Namun seringkali, meskipun posisi kita sudah berubah, cara hidup kita belum.
Kita masih berpikir seperti dulu.
Masih merasa harus melakukan sesuatu supaya hasil berubah.
Di sinilah saya mulai melihat hukum tabur tuai dengan cara yang lebih sehat.
Bukan sebagai transaksi.
Tapi sebagai arah hidup.
Saya teringat kisah Warren Buffett.
Ia bukan orang yang menjadi kaya karena “mengejar uang”.
Sejak muda, ia menabur satu hal:
nilai.
Ia membaca, belajar, membangun cara berpikir yang benar tentang investasi.
Ia menabur:
disiplin
kesabaran
hikmat
Hasilnya?
Ia menuai keuangan dalam skala luar biasa.
Bukan karena ia menabur uang terlebih dahulu dalam jumlah besar.
Tapi karena ia menabur kehidupan yang tepat.
Sebaliknya, banyak orang punya uang, menabur uang, tapi tetap tidak menuai kekayaan.
Karena yang ditabur sebenarnya adalah:
ketakutan
emosi
keputusan impulsif
Hidup menuai apa yang ditanam, bukan sekadar apa yang diberikan.
Di dalam Kristus, kita sudah diberkati.
Itu posisi.
Tapi apa yang kita tabur setiap hari menentukan pengalaman kita.
Kita selalu menabur.
Lewat pikiran.
Lewat kata-kata.
Lewat respon.
Saat kita menabur kekhawatiran, kita menuai gelisah.
Saat kita menabur syukur, kita menuai damai.
Bukan karena Tuhan berubah.
Tapi karena arah hidup kita berubah.
Tabur tuai bukan mesin rohani.
Bukan:
beri lalu mendapat.
Ini tentang kehidupan yang kita lepaskan.
Seperti air.
Air selalu mengalir.
Tapi arah alirannya menentukan ke mana ia pergi.
Mengalir saja tidak cukup.
Kalau arahnya ke bawah, ia tidak akan naik.
Saya juga teringat Mother Teresa.
Ia tidak menabur uang.
Ia menabur kasih.
Ia menabur pelayanan.
Ia menabur kepedulian.
Apa yang ia tuai?
Favor – Perkenanan, dunia.
Dukungan global.
Sumber daya yang terus mengalir.
Keuangan datang… bukan karena ia mengejarnya.
Tetapi karena kehidupan yang ia lepaskan menciptakan dampak.
Di dalam Kristus, sumber kita sudah benar.
Kita tidak menabur supaya Tuhan memberkati.
Kita menabur karena kita hidup dari sumber yang diberkati.
Dan apa yang kita lepaskan setiap hari akan membentuk realitas yang kita alami.
In Christ bukan berarti hidup tanpa konsekuensi.
Tapi hidup dari posisi yang benar, sehingga taburan kita mengalir dari kelimpahan, bukan dari kekurangan.
Dan dari situlah kehidupan mulai bertumbuh…
bukan karena kita mengejar hasil,
tetapi karena kita hidup dari sumber yang benar.
“Sow a thought, reap an action; sow an action, reap a habit; sow a habit, reap a character; sow a character, reap a destiny.” – Stephen Covey.
“Taburlah pikiran, tuailah tindakan; taburlah tindakan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah masa depan” – Stephen Covey.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan