Articles

Preparation Time Yusuf: Proses yang Menentukan Takhta

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Preparation Time Yusuf: Proses yang Menentukan Takhta

Sekolah Yusuf Bernama “Malapetaka”
Kisah Yusuf itu sangat familiar. Begitu familiar sampai kita sering merasa tidak ada lagi hal baru yang bisa dipelajari darinya. Alurnya sudah hafal. Dijual saudara, jadi budak, difitnah, dipenjara, lalu naik pangkat jadi orang nomor dua di Mesir. Selesai.

Namun firman Tuhan tidak pernah kehabisan makna. Selalu ada pewahyuan baru bagi hati yang mau belajar. Dan justru di situlah saya dibuat terdiam.

Selama ini saya menganggap apa yang Yusuf alami sebagai rangkaian malapetaka. Seolah hidupnya penuh ketidakadilan sebelum akhirnya Tuhan “mengganti rugi” dengan jabatan tinggi.

Sampai saya sadar satu hal penting: rumah Potifar bukan musibah. Itu sekolahnya Yusuf.

Potifar bukan orang sembarangan. Tercatat ia adalah seorang perwira tinggi Firaun, kepala pengawal istana. Orang kepercayaan kerajaan. Yusuf ditempatkan di rumah seorang pemimpin besar, bukan secara kebetulan.

Di sanalah Yusuf belajar budaya Mesir, sistem kerja, kepemimpinan, dan manajemen. Potifar memiliki banyak anak buah. Yusuf melihat langsung bagaimana seorang pemimpin mengatur orang, sumber daya, dan tanggung jawab.

Dan dicatat sesuatu yang sangat penting: Potifar melihat bahwa Tuhan menyertai Yusuf.Apa pun yang Yusuf jerjakan, dibuat Tuhan berhasil dan beruntung.

Bukan Yusuf yang mempromosikan diri. Bukan Yusuf yang sibuk membela nasibnya. Kualitas hidupnya berbicara. Keintimannya dengan Tuhan membuahkan hikmat yang membuatnya outstanding.

Sebagai hasilnya, Potifar pun mempercayakan seluruh hartanya tidak hanya yang di rumah tetapi juga di ladang-ladangnya.
Yusuf dipercaya mengurus seluruh milik Potifar, bukan hanya urusan rumah, tetapi juga ladang-ladangnya. Ini bukan detail kecil. Di sinilah Yusuf belajar mengelola aset besar. Tanpa ia sadari, dia sedang dipersiapkan untuk memanage sesuatu yang jauh lebih besar.

Saya pernah membaca, ada orang-orang yang rela membayar sejumlah besar uang hanya untuk Lunch dengan Warren Buffett, orang terkaya nomor 3 di dunia.
Mereka ingin belajar rahasia suksesnya.

Yusuf tidak hanya lunch, tetapi tinggal di rumah Potifar, ‘dimentori’ sampai sedemikian terampil dan sukses mengelola seluruh kekayaan Potifar, meski statusnya sebagai budak.

Lalu datanglah ujian karakter. Godaan dari istri Potifar. Yusuf menolak. Tegas. Bersih. Tidak kompromi.

Akibatnya?
Difitnah dan dipenjara.
Namun Yusuf tidak membela diri. Tidak mengasihani diri. Tidak memosisikan diri sebagai korban. Dia masuk penjara kerajaan, dan di sanalah “sekolah” itu berlanjut.

Pola yang sama terjadi. Yusuf setia. Yusuf melayani. Yusuf bertanggung jawab. Dan Yusuf sudah punya skill dan pengalaman yang mumpuni. Terbukti hasilnya.

Sampai kepala penjara mempercayakan seluruh urusan penjara kepadanya. Lagi-lagi, *setia dalam perkara kecil, dipercaya dalam perkara yang lebih besar.*

Di penjara, Yusuf menafsirkan mimpi kepala juru minuman dan kepala juru roti Firaun. Mimpinya tepat. Satu dipulihkan, satu dihukum mati. Yusuf hanya minta satu hal kecil: “Ingatlah aku.”

Namun dicatat, sesuatu yang menyakitkan tapi jujur: kepala juru minuman itu melupakan Yusuf. Dua tahun lamanya.
Bayangkan. Sudah benar. Sudah setia. Sudah menolong. Tapi dilupakan. Yusuf tetap menjaga hati bebas dari kepahitan. Tetap beriman menanti waktu Tuhan.

Sampai suatu malam, Firaun bermimpi. Bukan mimpi biasa. Mimpi yang membuatnya gelisah. Tujuh lembu gemuk dimakan tujuh lembu kurus. Tujuh bulir gandum baik ditelan tujuh bulir kering. Tidak ada seorang pun yang bisa menafsirkan mimpi itu.

Di titik itulah, ingatan yang terkubur selama dua tahun muncul kembali. Kepala juru minuman berkata, “Ada seorang Ibrani di penjara…”
Dan Yusuf dipanggil.

Yusuf bukan hanya menafsirkan mimpi. Dia *memberi solusi.* Dia menjelaskan krisis tujuh tahun kelimpahan dan tujuh tahun kelaparan, lalu mengusulkan sistem pengelolaan nasional. Penyimpanan, distribusi, dan pengawasan.

Ini bukan ide spontan. Ini buah dari tahun-tahun panjang belajar tanpa panggung.
Firaun melihatnya.
“Adakah orang seperti ini, yang penuh dengan Roh Allah?”

Dalam satu hari, Yusuf diangkat menjadi orang nomor dua di Mesir.
Tidak ada sukses mendadak. Yang ada adalah proses panjang yang tidak disia-siakan Tuhan.

Tentu BUKAN Tuhan yang merancangkan malapetaka tetapi saudara-saudara Yusuf yang iri hati.
Namun rancangan buruk itu diubah Tuhan menjadi kebaikan.

Yusuf tidak mudah tersinggung. Tidak berhenti karena ketidakadilan. Tidak keluar dari proses sebelum waktunya. Dan karena itulah, ketika tanggung jawab besar datang, Yusuf siap.

Seandainya Yusuf tersinggung, memilih bermalas-malasan, tentunya saat kesempatan datang, Yusuf akan gagal.

Pelajarannya sederhana tapi tajam:
Jangan remehkan masa persiapan. Jangan mudah offended.
Preparation time is never wasted time.

Tuhan tahu persis sekolah apa yang kita butuhkan, sebelum Dia mempercayakan perkara besar kepada kita.

Siap praktik? Yuuuk

“Character is not built in moments of comfort, but in seasons of challenge.”
– Unknown

“Karakter tidak dibangun dalam masa nyaman, tetapi dalam musim penuh tantangan.” – – Unknown.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Bagaimana Saya Bisa Sembuh Dari AutoImun? (Healing Part 4)
Harapan Dunia VS Harapan Allah.
Rhema Part 1