Monthly Archives: Feb 2026

Articles

“Hei … Mungkin Anda Sedang Memfitnah Tuhan….”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Hei … Mungkin Anda Sedang Memfitnah Tuhan….”

Dalam Kisah Para Rasul pasal 3, kita membaca kisah Petrus dan Yohanes yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Ketika mereka mendekati Bait Allah, mereka bertemu dengan seorang lumpuh yang sedang meminta-minta. Petrus berkata,

“Apa yang kupunyai, itu yang kuberikan kepadamu: demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis. 3:6)

Iman Petrus tergerak oleh kebutuhan orang itu. Sebagai wakil Yesus Kristus, *Petrus membawa kesembuhan kepada seseorang yang sama sekali tidak mengharapkan kesembuhan*. Kemudian, ketika Petrus diperiksa oleh para pemimpin agama tentang mujizat itu, ia mengatakan sesuatu yang menarik:
“Kalau kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik yang dilakukan kepada seorang sakit…” (Kis. 4:9–10)

Petrus menyebut mujizat kesembuhan itu sebagai “perbuatan baik yang dilakukan kepada seorang yang tidak berdaya.”

Dalam kisah ini kita melihat kebaikan Allah, kasih karunia-Nya yang tidak layak kita terima. Petrus tidak menyinggung iman orang lumpuh itu. Ia menyinggung kebaikan Allah.
“Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat. 5:45)

Kebanyakan dari kita, secara sadar atau tidak sadar, memandang Allah sebagai Pribadi yang sewenang-wenang dan menuntut. Kita jarang merasa layak menerima sesuatu yang baik dari-Nya. Kita tahu kelemahan dan kegagalan kita. Kita berusaha memiliki iman, tetapi sering kali kita merasa iman kita tidak cukup.
Tahukah Anda bahwa setiap hal baik yang terjadi di dunia ini, kepada siapa pun itu terjadi, berasal dari Sumber yang sama?
Allah sedang menunjukkan belas kasihan kepada semua orang, baik yang layak maupun yang tidak. Kebaikan-Nya itulah yang dimaksudkan untuk menuntun manusia kepada pertobatan (Rm. 2:4).

Bagaimana jika kita mengizinkan sebuah pengenalan yang baru tentang Allah masuk ke dalam hati kita? Bagaimana jika kita membiarkan kebaikan-Nya menenggelamkan semua keraguan kita?

“Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” (Mzm. 145:9)

“Sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Luk. 6:35)

“Yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuasa, Dia yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” (Kis. 10:38)

“Sembuhkanlah orang sakit; tahirkanlah orang kusta; bangkitkanlah orang mati; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Mat. 10:8)

Jika kita membiarkan pewahyuan tentang kebaikan Allah ini menenggelamkan rasa bersalah dan kelemahan kita, saya percaya kita akan melihat jauh lebih banyak kesembuhan, pemulihan, dan hidup yang diubahkan. Allah ada di pihak Anda, tetapi Anda perlu mempercayainya. Iman Anda tidak akan pernah lebih besar daripada pengertian Anda tentang kebaikan-Nya.

Barry Bennett

—————

Pelajaran dari Barry Bennett ini sungguh membukakan pemahaman, berkata Tuhan itu Allah yang penuh kasih, yang tidak diminta pun Tuhan beri.
Wow….. amazing!

Sementara di sisi lain, ada satu kebiasaan manusia yang sangat rohani di permukaan, tapi sebenarnya tidak jujur di akar.
Kebiasaan itu adalah menyalahkan Tuhan atas akibat dari pilihan sendiri, lalu membungkusnya dengan kata-kata seperti nasib, takdir, atau kehendak Tuhan.

Barry Bennett pernah berkata dengan sangat lugas, dan saya kutip apa adanya:
“Not everything that happens is God’s will. Many things happen because of the choices people make.”

“Tidak semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Banyak hal terjadi karena pilihan yang dibuat orang itu sendiri.”

Kalimat ini sederhana, tapi menghancurkan banyak mitos rohani yang selama ini nyaman kita pelihara.
Masalahnya, banyak orang tidak siap mendengar ini.
Karena kalau ini benar, maka satu hal ikut benar:
kita yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Mari kita jujur lewat contoh sederhana.
Toni suka berfoya-foya.
Gaya hidupnya besar pasak daripada tiang.
Penghasilan pas-pasan, tapi selera kelas atas.
Tidak ada disiplin. Tidak ada pengendalian diri. Tidak ada perencanaan.
Secara matematika saja sudah jelas.
Kalau yang masuk lebih kecil dari yang keluar, itu tinggal menunggu waktu sampai habis. Bahkan minus.
Dan benar saja, akhirnya Toni bangkrut.

Lalu apa yang dikatakan Toni? “Ya mau bagaimana lagi, ini kehendak Tuhan.”
Istrinya menambahkan dengan nada rohani, “Ini cobaan dari Tuhan.”
Lho… tunggu dulu.
Sejak kapan ketidakmampuan mengendalikan keinginan berubah menjadi rencana ilahi?
Sejak kapan Tuhan yang disalahkan karena seseorang tidak mau hidup berdasarkan kebutuhan, tapi terus memuaskan keinginan?

Di titik inilah Tuhan sering difitnah secara halus.
Kata nasib, takdir, dan kehendak Tuhan sering dipakai bukan untuk memuliakan Tuhan, tapi untuk lari dari tanggung jawab.
Dengan kata-kata itu, seseorang bisa tampil sebagai korban, terlihat rohani, sekaligus bebas dari keharusan berubah.
Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan iman yang mematikan tanggung jawab pribadi.

Firman Tuhan berkata dengan sangat jelas:
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
(Galatia 6:7)

Ini bukan ayat penghukuman.
Ini ayat kejujuran.

Alkitab juga berkata:
“Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia.”
(Amsal 23:7)

Artinya, hidup kita berjalan mengikuti cara berpikir dan pilihan kita.
Lalu bagaimana kalau sudah terlanjur salah?
Jawabannya bukan drama.
Jawabannya pertobatan.
Dan pertobatan dalam Alkitab bukan sekadar minta ampun sambil mengulang pola lama.
Pertobatan berarti berbalik dari jalan yang salah menuju jalan Tuhan.

Berbalik dari:
Pola pikir lama
Cara hidup lama
Kebiasaan lama
Dan kembali kepada apa yang Tuhan ajarkan.

Firman Tuhan berkata:
“Berubahlah oleh pembaruan budimu.”
(Roma 12:2)

Pertobatan sejati selalu melibatkan perubahan cara berpikir, bukan sekadar perasaan menyesal.
Tuhan tidak mencari korban.
Tuhan membesarkan anak-anak yang dewasa.
Anak yang dewasa berani berkata, “Aku salah memilih. Aku mau belajar. Aku mau berubah.”
Dan di situlah kasih karunia bekerja paling indah.
Bukan untuk membenarkan kesalahan, tetapi untuk memberi kekuatan menjalani perubahan.
Berhentilah menyalahkan Tuhan atas apa yang sebenarnya bisa kita pelajari.
Beranilah bertanggung jawab.

Pertumbuhan dimulai bukan ketika kita mencari kambing hitam rohani, tetapi ketika kita berani bertanggung jawab di hadapan Tuhan.
Dan Tuhan tidak pernah menolak orang yang jujur dan mau berubah.

You cannot escape the responsibility of tomorrow by evading it today.” – Abraham Lincoln.

“Kita tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya hari ini.” – Abraham Lincoln.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Chuck Feeney: Ketika Tuhan Bertanya, “Apa yang Masih Kau Pegang?”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Chuck Feeney: Ketika Tuhan Bertanya, “Apa yang Masih Kau Pegang?”

Ada satu pertanyaan yang jarang kita doakan, tapi sering Tuhan bisikkan pelan-pelan di dalam hati:
apa yang masih kau pegang terlalu erat?
Bukan dosa besar.
Bukan kejahatan.
Sering kali justru sesuatu yang sah, baik, bahkan diberkati.
Dan justru di situlah ujiannya.

Chuck Feeney hidup di dunia yang memuja akumulasi. Dunia yang mengajarkan: simpan, lindungi, wariskan, amankan. Ia melakukan semua itu dengan sangat sukses. Ia adalah miliarder. Bisnis global. Akses tak terbatas.

Namun di satu titik, hidupnya seperti disergap oleh satu kesadaran yang tajam dan tidak bisa dihindari:
hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi dari seberapa taat kita melepaskan ketika diminta.
Feeney tidak banyak berbicara. Ia bertindak.

Ia memilih hidup sederhana bukan karena anti-kekayaan, tetapi karena ia menolak dikendalikan olehnya. Apartemen sewaan. Jam murah. Terbang ekonomi. Semua itu bukan simbol asketisme rohani, melainkan pernyataan batin yang jelas:
aku pemilik uang, bukan hamba uang.

Lalu ia melangkah lebih jauh.
Ia memberi selagi hidup.
Bukan menunggu nanti.
Bukan menunggu aman.
Bukan menunggu nama dikenang.
Prinsip hidupnya sederhana namun radikal: Giving While Living.
Wow…..
Baginya, menunda memberi ketika kebaikan bisa dilakukan sekarang adalah bentuk ketidaktaatan yang halus.

Yang jarang diketahui orang, selama hampir lima belas tahun, dunia bahkan tidak tahu bahwa Feeney adalah donor di balik aliran dana miliaran dolar itu. Ia memberi secara anonim melalui The Atlantic Philanthropies.
Tanpa plakat. Tanpa gedung bernama dirinya. Tanpa panggung.
Lebih dari 8 miliar dolar dialirkan ke pendidikan, kesehatan, perdamaian, dan pemulihan martabat manusia di berbagai belahan dunia.

Dan ia melakukannya dalam kesunyian.
Seolah ia memahami satu prinsip Kerajaan yang sering kita dengar tapi jarang kita hidupi:
ketika kita memberi demi sorotan, upahnya berhenti di sorotan itu juga.

Yang membuat kisah ini luar biasa bukan jumlah uangnya, tetapi ketaatannya yang konsisten. Ia tidak memberi sekali lalu berhenti. Ia mengosongkan hidupnya sedikit demi sedikit. Dengan sadar. Dengan damai. Tanpa drama.

Ia melihat perang.
Ia melihat kematian.
Ia melihat betapa rapuhnya hidup dan betapa timpangnya dunia.
Pengalaman itu membentuk kepekaan batin yang tajam:
hidup terlalu singkat untuk ditimbun, terlalu berharga untuk dihabiskan demi rasa aman palsu.

Puncaknya sangat mengguncang, bahkan bagi dunia filantropi sendiri.
Ia menutup yayasannya secara resmi.
Bukan karena gagal.
Bukan karena krisis.
Tetapi karena selesai.
Uangnya habis sesuai rencana.
Misinya tuntas.
Tidak ada yang diwariskan demi kemegahan nama.
Ia tidak mati sebagai miliarder.
Ia mati sebagai seseorang yang taat sampai akhir.

Dan di sinilah kisah ini berhenti menjadi cerita tentang orang lain, lalu berubah menjadi cermin bagi kita.
Karena hidup yang profetik, yang menyatakan kehendak Tuhan, hampir selalu mengganggu kenyamanan.

Apa itu profetik?
Profetik adalah ketika Tuhan memberi makna ilahi pada sesuatu untuk membawa kita selaras dengan rencana-Nya.

Hidup Feeney memaksa kita bertanya:
apakah kita sedang mempersiapkan hidup,
atau sedang menunda ketaatan?
Apakah kita menyimpan karena takut,
atau menahan karena belum percaya sepenuhnya?
Apakah kita berkata, “Tuhan pakai hidupku,”
tetapi tetap mengunci bagian-bagian tertentu dengan rapat?

Chuck Feeney seperti suara sunyi yang berdiri di tengah kebisingan zaman ini dan berkata:
hidup yang berdampak tidak lahir dari niat baik saja, tetapi dari keberanian berkata ya ketika Tuhan mengundang kita melangkah lebih jauh.

Tidak semua orang dipanggil memberi miliaran.
Tetapi semua orang dipanggil untuk taat tanpa syarat.
Dan sering kali, kebangunan tidak dimulai dari mujizat besar,
melainkan dari satu keputusan sunyi:
melepaskan apa yang paling kita andalkan
dan mempercayakannya kembali ke tangan Tuhan.

Bagaimana dengan keluarganya?
Ini bagian yang penting, dan sering ditanyakan.

Chuck Feeney menikah dan memiliki anak. Ia tidak meninggalkan warisan kekayaan besar bagi mereka. Keputusan itu bukan tanpa percakapan, bukan tanpa proses, dan bukan tanpa harga emosional.

Ia percaya bahwa meninggalkan nilai hidup, integritas, dan teladan jauh lebih penting daripada meninggalkan harta. Ia tidak ingin anak-anaknya hidup tergantung pada apa yang tidak mereka bangun sendiri.

Ini bukan model yang harus ditiru secara harfiah oleh semua orang. Tetapi ini menunjukkan satu hal yang sangat jelas:
ketaatan sejati sering kali menuntut kesepakatan keluarga dan keberanian menghadapi ketidaknyamanan relasional.
Ketaatan tidak selalu terlihat heroik dari luar.

Bukan soal siapa yang paling “melihat jauh”, melainkan siapa yang paling setia menyampaikan kebenaran dengan jujur dan bertanggung jawab.

Pesan yang berasal dari Tuhan tidak pernah berdiri sendiri.
la selalu selaras dengan Firman, membangun manusia, dan memuliakan Tuhan. Di titik itulah pesan rohani berhenti menjadi sensasi,
dan kembali menjadi sarana Allah untuk menuntun, menegur, dan memulihkan.
Sungguh kisah yang sangat langka di jaman ini!

“The truth will set you free, but first it will make you uncomfortable.” – Gloria Steinem.

“Kebenaran akan memerdekakan, tetapi sering kali terlebih dulu mengguncang – Gloria Steinem.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Mintalah, Maka Kamu… Jangan Berhenti di Situ

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mintalah, Maka Kamu… Jangan Berhenti di Situ

“Mintalah, maka kamu akan menerima.”
Janji Tuhan ini sangat populer. Banyak orang mengutipnya. Banyak yang mengaminkannya. Banyak yang berdoa dengan penuh semangat berdasarkan ayat ini.

Masalahnya bukan pada kalimatnya. Masalahnya pada cara kita memahaminya.
Tuhan tidak berhenti di kata mintalah. Ia melanjutkan, carilah, dan ketoklah. Tiga kata ini bukan pilihan, melainkan satu rangkaian. Satu kesatuan. Tidak bisa dipisah-pisahkan.

Namun dalam praktiknya, kebanyakan orang hanya berhenti di tahap meminta.
Kita meminta terobosan.
Meminta kesembuhan.
Meminta peningkatan.
Meminta jawaban.

Tetapi kita lupa mencari. Dan sering kali kita juga malas mengetuk.
Lalu kita bingung, “Tuhan kok belum jawab?”
Padahal mungkin pintunya sudah ada di depan mata.
Pertanyaannya, mencari apa?
Bukan mencari Tuhan secara fisik, karena Tuhan tidak pernah jauh. Yang perlu kita cari adalah jalan Tuhan. God’s ways.

Dalam Kerajaan Allah, segala sesuatu bekerja dengan prinsip. Ada cara. Ada pola. Ada sistem rohani yang Tuhan tetapkan. Anugerah memang gratis, tetapi pengoperasiannya perlu pengertian.

Bayangkan ini. Di depan kita ada sebuah pintu terobosan. Pintu itu nyata. Bukan ilusi. Tuhan sudah menyediakannya. Tetapi pintu itu tidak terbuka.

Kenapa?
Karena tidak semua pintu dibuka dengan cara yang sama.

Ada pintu geser. Untuk membukanya, kita harus mendorong ke samping. Kalau kita dorong ke depan sekeras apa pun, pintu itu tidak akan terbuka. Bahkan bisa bikin frustasi.

Ada pintu rolling door. Itu tidak ditarik ke depan, tetapi ditarik ke atas. Salah cara, hasilnya nol.
Demikian juga dengan pintu-pintu terobosan Tuhan. Tanpa mengetahui cara mengoperasikannya, kita bisa berdiri tepat di depan berkat, namun tetap tidak masuk ke dalamnya.

Di sinilah pentingnya mencari.
Mencari apa kata Firman.
Mencari prinsipnya.
Mencari bagaimana Tuhan bekerja dalam kasus serupa.

Firman Tuhan bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dipahami dan diterapkan. Di sanalah kita menemukan cara kerja Tuhan. Cara iman bekerja. Cara berkat mengalir. Cara kesembuhan dilepaskan. Cara damai sejahtera dijaga.

Banyak orang berdoa minta berkat keuangan, tetapi tidak pernah mencari prinsip keuangan Kerajaan Allah. Tidak mau belajar soal menabur dan menuai. Tidak mau dibentuk dalam integritas. Tidak mau taat dalam hal kecil.
Mereka meminta, tetapi tidak mencari jalan Tuhan.

Lalu Tuhan berkata, “Ketoklah.”
Mengetuk itu berbicara tentang ketekunan. Konsistensi. Tidak menyerah saat pintu belum langsung terbuka. Mengetuk berarti kita sudah menemukan pintunya, tahu ini dari Tuhan, lalu dengan iman kita terus merespons.

Mengetuk bukan tindakan pasif. Mengetuk itu aktif. Ada suara. Ada gerakan. Ada keberanian.
Banyak orang berhenti terlalu cepat. Baru mengetuk sekali, lalu pergi. Padahal mungkin pintu itu tinggal satu ketukan lagi untuk terbuka.

Mintalah. Itu berbicara tentang hubungan.
Carilah. Itu berbicara tentang pengertian.
Ketoklah. Itu berbicara tentang ketekunan iman.

Ketiganya harus berjalan bersama.
Tuhan bukan pelit. Tuhan bukan menunda dengan sengaja. Tetapi Ia adalah Allah yang rapi, teratur, dan konsisten dengan Firman-Nya sendiri.
Jika kita hanya meminta tanpa mau mencari jalan-Nya, kita akan lelah. Jika kita mencari tetapi tidak mau mengetuk dengan tekun, kita akan berhenti di tengah jalan.

Namun ketika kita meminta dengan benar, mencari dengan rendah hati, dan mengetuk dengan iman yang bertindak, pintu itu pasti terbuka.

Karena Tuhan setia pada janji-Nya.
Dan pintu terobosan itu, sering kali, sebenarnya sudah ada lebih dekat dari yang kita kira.

“God’s promises are not automatic; they are activated by obedience and understanding.” – John C. Maxwell.

“Janji Tuhan tidak berjalan otomatis; janji itu diaktifkan melalui ketaatan dan pengertian.” – John C. Maxwell.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Saat Pikiran Ingin Menguasai Hari Esok…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Saat Pikiran Ingin Menguasai Hari Esok…

Kita hidup di zaman ketika logika dipuja-puja. Orang bangga berkata, “Aku realistis.” “Aku pakai logika.”
Seolah-olah kemampuan mengontrol segala kemungkinan adalah tanda kecerdasan tertinggi. Padahal, diam-diam, di balik kebanggaan itu, banyak jiwa yang kelelahan, cemas, dan stres.

Pemikiran ini sejalan dengan apa yang sering disampaikan oleh *Caroline Leaf* PhD , seorang ahli dalam _Communication Pathology_, dengan spesialisasi _neuropsikologi kognitif dan metakognitif_.
Ia mengatakan, anxiety bukan terutama soal masa depan, melainkan tentang pikiran manusia yang berusaha mengontrol sesuatu yang belum terjadi. Pikiran berlari lebih cepat daripada kenyataan. Kita memutar semua kemungkinan, skenario terburuk, dan “bagaimana kalau…” tanpa henti.
Tubuh pun ikut merespons.
Nafas menjadi pendek.
Otot menegang.
Hati terasa tercekik.

Ironisnya, semua itu sering kita sebut sebagai “berpikir logis”.
Padahal logika yang tidak ditempatkan dengan benar justru berubah menjadi alat penindas jiwa. Kita ingin memastikan semuanya aman, terkendali, terprediksi. Kita ingin memegang kendali atas besok, minggu depan, tahun depan. Dan ketika kita gagal mengontrolnya, kita menyalahkan diri sendiri. Di situlah kecemasan lahir.

Tuhan berbicara sangat berbeda. Ia tidak mengajarkan murid-murid-Nya untuk mengendalikan hidup, melainkan memercayakan hidup.
“Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Kalimat ini sederhana, tetapi radikal. Artinya Tuhan tidak pernah meminta kita memikul beban esok, pada hari hari ini.

Masalahnya, pikiran kita tidak mau berhenti di hari ini. Kita menyeret hari esok ke dalam hari ini, lalu bertanya mengapa jiwa kita sesak.

Ilustrasi yang sangat menenangkan: burung pipit. Makhluk kecil, tanpa gudang, tanpa tabungan, tanpa strategi lima tahun. Namun dipelihara Bapa. Bukan karena mereka pintar mengatur hidup, tetapi karena mereka hidup dalam desain pemeliharaan Tuhan. Jika burung pipit diperhatikan, apalagi kita.

Firman Tuhan juga berkata dengan jelas:
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”
Menariknya, firman ini tidak berkata, “Pikirkanlah lebih keras,” atau “Susunlah rencana lebih detail.”
Yang diminta adalah menyerahkan, bukan mengendalikan.

Di sinilah benturan besar terjadi. Pikiran manusia ingin memegang kendali. Roh Kudus mengajak kita untuk percaya.
Pikiran berkata, “Kalau aku tidak mengatur, semuanya bisa berantakan.” Tuhan berkata, “Justru karena kamu mencoba mengatur semuanya, jiwamu berantakan.”

Dr. Caroline Leaf menegaskan bahwa ketika pikiran kita terus berlari ke depan dan memutar kemungkinan yang belum terjadi, tubuh akan mengikuti. Kecemasan bukan hanya di kepala, tetapi menjalar ke seluruh sistem tubuh. Itulah sebabnya banyak orang merasa tegang, lelah, sulit tidur, dan cepat panik, meski hidup mereka tampak “baik-baik saja”.

Kabar baiknya, kecemasan tidak harus diusir dengan kepura-puraan. Kecemasan dilemahkan dengan kesadaran dan penyerahan. Kita belajar menghentikan pikiran yang berlari terlalu jauh. Kita menariknya kembali ke hari ini. Ke napas hari ini. Ke anugerah hari ini.

Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa tantangan. Tetapi Ia berjanji menyertai hari ini. Bukan besok. Bukan kemungkinan terburuk yang belum tentu terjadi.

Ketika kita berhenti menyebut kecemasan sebagai “logika”, dan mulai melihatnya sebagai beban yang bukan untuk kita pikul, di situlah jiwa mulai bernafas lagi. Logika tetap berguna, tetapi bukan sebagai tuan. Ia hanya alat, bukan penguasa.

Damai tidak datang dari kontrol yang sempurna. Damai lahir dari kepercayaan yang sederhana: hari ini ada di tangan Tuhan, dan itu sudah cukup.
Dan sering kali, cukup itu merupakan awal dari kesembuhan.

“The trouble is not that God does not care, but that we try to take control instead of trusting Him.” – Andrew Murray.

“Masalahnya bukan karena Tuhan tidak peduli, tetapi karena kita ingin mengendalikan, bukan mempercayakan”- Andrew Murray.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Bukan Aku. Itu Tuhan.”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Bukan Aku. Itu Tuhan.”

Pada hari-hari terakhir Januari 2026, sesuatu terjadi di lepas pantai Australia Barat yang membuat banyak orang terdiam. Apa yang seharusnya menjadi rekreasi keluarga yang sederhana berubah menjadi ujian keberanian yang sama sekali tidak mereka duga.

Austin Appelbee baru berusia 13 tahun.
Kebanyakan anak seusianya memikirkan sekolah, permainan, atau makan malam apa nanti. Namun pada Jumat, 30 Januari, Austin memikirkan satu hal: bertahan hidup.

Sore itu, ia bersama keluarganya—ibunya Joanne (47 tahun), adiknya Beau (12 tahun), dan Grace (8 tahun)—berangkat dari sebuah pantai dekat Quindalup, Geographe Bay, untuk bersantai menggunakan satu kayak dan dua papan dayung tiup.

Awalnya tenang. Lalu semuanya berubah.
Angin kencang dan ombak yang meninggi mendorong mereka semakin jauh ke tengah laut. Kayak mereka mulai kemasukan air. Tak lama kemudian, mereka sadar bahwa mereka sudah terlalu jauh dari pantai. Saat-saat yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi ketakutan.

Joanne tahu peluang mereka untuk terlihat sangat kecil. Tidak ada kapal di sekitar. Tidak ada orang lain di pantai. Angin terus membawa mereka semakin menjauh. Menjelang sore, ia mengambil keputusan yang kelak ia sebut sebagai “salah satu keputusan tersulit dalam hidup saya.”

Ia meminta anak sulungnya berenang ke pantai untuk mencari pertolongan.
Bagi kebanyakan dari kita, ini sulit dibayangkan. Seorang ibu mengirim anaknya ke dalam bahaya. Tetapi Joanne tahu, itulah satu-satunya kesempatan mereka. Dan Austin tidak ragu.

Selama empat jam, Austin melawan laut. Awalnya ia mencoba bertahan bersama kayak, tetapi terlalu tidak stabil, jadi ia melepaskannya. Di satu titik, ia bahkan melepaskan pelampungnya karena membuatnya sulit berenang di air yang bergelombang. Ia menggunakan setiap gaya renang yang ia bisa—gaya bebas, dada, punggung—apa pun, asal terus bergerak.

Dan di sinilah bagian yang paling menyentuh.
Austin berdoa sepanjang waktu.
Ia berkata kemudian bahwa ia terus berbicara kepada Tuhan. Ia tahu ini di luar kemampuannya. Ia merasa bukan dirinya yang menopang tubuhnya di air, melainkan Tuhan yang menahannya tetap hidup.

“Aku tidak merasa itu aku,” katanya kemudian. “Itu Tuhan sepanjang waktu.”

Ketika tubuhnya lelah dan pikirannya hampir menyerah, ia terus berdoa. Ia memikirkan hal-hal baik, hal-hal sederhana, agar pikirannya tetap tenang. Ada saat-saat ia takut—bahkan ada laporan hiu di wilayah itu beberapa hari sebelumnya—tetapi ia terus berkata pada dirinya sendiri, “Terus berenang. Terus berenang.”

Sekitar pukul 6 sore, Austin akhirnya mencapai pantai. Ia jatuh tersungkur di pasir, kelelahan. Tetapi perjuangannya belum selesai. Ia bangkit dan berlari hampir dua kilometer menuju tempat mereka menginap, mengambil ponsel keluarga, dan menghubungi layanan darurat.

Panggilan itu memicu operasi penyelamatan besar. Helikopter dan tim laut menyisir perairan. Sekitar pukul 8:30 malam, mereka menemukan Joanne bersama Beau dan Grace, berpegangan pada pelampung tiup, sekitar 14 kilometer dari pantai, dalam kondisi laut yang semakin dingin dan kasar. Mereka telah berada di air hampir sepuluh jam.

Semua selamat.
Saat mendengar kisah ini, satu hal menjadi jelas: ini bukan kebetulan. Bukan keberuntungan semata. Ini adalah keberanian, ketekunan, dan ketenangan hati—dan bagi Austin sendiri, ini adalah pertolongan Tuhan.

Yang membuat kisah ini lebih dari sekadar berita utama adalah betapa nyatanya cerita ini. Austin bukan atlet terlatih. Ia bahkan bukan perenang hebat. Beberapa minggu sebelumnya, ia kesulitan berenang 350 meter tanpa berhenti di sekolah. Namun ketika segalanya dipertaruhkan, ia menemukan kekuatan yang bahkan banyak orang dewasa mungkin tidak miliki.

Ada pelajaran besar di sini. Keberanian tidak selalu terlihat heroik dan dramatis. Kadang keberanian adalah terus melangkah ketika tubuh lelah, ketika hati takut, dan ketika satu-satunya pegangan hanyalah doa.

Pada usia 13 tahun, Austin menunjukkan bahwa keberanian bukan soal umur. Ini soal hati. Dan kadang, seperti yang ia sendiri akui, itu bukan kita—itu Tuhan yang menopang kita sepanjang jalan.
Dia Allah yang tidak pernah membiarkan atau meninggalkan kita.

Pertanyaannya:
Bersediakah kita mengijinkan-Nya memimpin hidup kita seperti Austin?

“Faith is only real when there is obedience. Only he who believes is obedient, and only he who is obedient believes.” – Dietrich Bonhoeffer.

“Iman hanya nyata ketika ada ketaatan. Hanya orang yang percaya yang taat, dan hanya orang yang taat yang benar-benar percaya.” – Dietrich Bonhoeffer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 3 4 5 6