Articles

“Bukan Aku. Itu Tuhan.”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Bukan Aku. Itu Tuhan.”

Pada hari-hari terakhir Januari 2026, sesuatu terjadi di lepas pantai Australia Barat yang membuat banyak orang terdiam. Apa yang seharusnya menjadi rekreasi keluarga yang sederhana berubah menjadi ujian keberanian yang sama sekali tidak mereka duga.

Austin Appelbee baru berusia 13 tahun.
Kebanyakan anak seusianya memikirkan sekolah, permainan, atau makan malam apa nanti. Namun pada Jumat, 30 Januari, Austin memikirkan satu hal: bertahan hidup.

Sore itu, ia bersama keluarganya—ibunya Joanne (47 tahun), adiknya Beau (12 tahun), dan Grace (8 tahun)—berangkat dari sebuah pantai dekat Quindalup, Geographe Bay, untuk bersantai menggunakan satu kayak dan dua papan dayung tiup.

Awalnya tenang. Lalu semuanya berubah.
Angin kencang dan ombak yang meninggi mendorong mereka semakin jauh ke tengah laut. Kayak mereka mulai kemasukan air. Tak lama kemudian, mereka sadar bahwa mereka sudah terlalu jauh dari pantai. Saat-saat yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi ketakutan.

Joanne tahu peluang mereka untuk terlihat sangat kecil. Tidak ada kapal di sekitar. Tidak ada orang lain di pantai. Angin terus membawa mereka semakin menjauh. Menjelang sore, ia mengambil keputusan yang kelak ia sebut sebagai “salah satu keputusan tersulit dalam hidup saya.”

Ia meminta anak sulungnya berenang ke pantai untuk mencari pertolongan.
Bagi kebanyakan dari kita, ini sulit dibayangkan. Seorang ibu mengirim anaknya ke dalam bahaya. Tetapi Joanne tahu, itulah satu-satunya kesempatan mereka. Dan Austin tidak ragu.

Selama empat jam, Austin melawan laut. Awalnya ia mencoba bertahan bersama kayak, tetapi terlalu tidak stabil, jadi ia melepaskannya. Di satu titik, ia bahkan melepaskan pelampungnya karena membuatnya sulit berenang di air yang bergelombang. Ia menggunakan setiap gaya renang yang ia bisa—gaya bebas, dada, punggung—apa pun, asal terus bergerak.

Dan di sinilah bagian yang paling menyentuh.
Austin berdoa sepanjang waktu.
Ia berkata kemudian bahwa ia terus berbicara kepada Tuhan. Ia tahu ini di luar kemampuannya. Ia merasa bukan dirinya yang menopang tubuhnya di air, melainkan Tuhan yang menahannya tetap hidup.

“Aku tidak merasa itu aku,” katanya kemudian. “Itu Tuhan sepanjang waktu.”

Ketika tubuhnya lelah dan pikirannya hampir menyerah, ia terus berdoa. Ia memikirkan hal-hal baik, hal-hal sederhana, agar pikirannya tetap tenang. Ada saat-saat ia takut—bahkan ada laporan hiu di wilayah itu beberapa hari sebelumnya—tetapi ia terus berkata pada dirinya sendiri, “Terus berenang. Terus berenang.”

Sekitar pukul 6 sore, Austin akhirnya mencapai pantai. Ia jatuh tersungkur di pasir, kelelahan. Tetapi perjuangannya belum selesai. Ia bangkit dan berlari hampir dua kilometer menuju tempat mereka menginap, mengambil ponsel keluarga, dan menghubungi layanan darurat.

Panggilan itu memicu operasi penyelamatan besar. Helikopter dan tim laut menyisir perairan. Sekitar pukul 8:30 malam, mereka menemukan Joanne bersama Beau dan Grace, berpegangan pada pelampung tiup, sekitar 14 kilometer dari pantai, dalam kondisi laut yang semakin dingin dan kasar. Mereka telah berada di air hampir sepuluh jam.

Semua selamat.
Saat mendengar kisah ini, satu hal menjadi jelas: ini bukan kebetulan. Bukan keberuntungan semata. Ini adalah keberanian, ketekunan, dan ketenangan hati—dan bagi Austin sendiri, ini adalah pertolongan Tuhan.

Yang membuat kisah ini lebih dari sekadar berita utama adalah betapa nyatanya cerita ini. Austin bukan atlet terlatih. Ia bahkan bukan perenang hebat. Beberapa minggu sebelumnya, ia kesulitan berenang 350 meter tanpa berhenti di sekolah. Namun ketika segalanya dipertaruhkan, ia menemukan kekuatan yang bahkan banyak orang dewasa mungkin tidak miliki.

Ada pelajaran besar di sini. Keberanian tidak selalu terlihat heroik dan dramatis. Kadang keberanian adalah terus melangkah ketika tubuh lelah, ketika hati takut, dan ketika satu-satunya pegangan hanyalah doa.

Pada usia 13 tahun, Austin menunjukkan bahwa keberanian bukan soal umur. Ini soal hati. Dan kadang, seperti yang ia sendiri akui, itu bukan kita—itu Tuhan yang menopang kita sepanjang jalan.
Dia Allah yang tidak pernah membiarkan atau meninggalkan kita.

Pertanyaannya:
Bersediakah kita mengijinkan-Nya memimpin hidup kita seperti Austin?

“Faith is only real when there is obedience. Only he who believes is obedient, and only he who is obedient believes.” – Dietrich Bonhoeffer.

“Iman hanya nyata ketika ada ketaatan. Hanya orang yang percaya yang taat, dan hanya orang yang taat yang benar-benar percaya.” – Dietrich Bonhoeffer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Apakah Anda Haus?”
Kuatir Itu Melelahkan… Memangnya Itu Tugas Kita?
Rahasia Sembuh Dari Tiroid & Penyakit Lainnya.