Monthly Archives: Feb 2026

Articles

Preparation Time Yusuf: Proses yang Menentukan Takhta

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Preparation Time Yusuf: Proses yang Menentukan Takhta

Sekolah Yusuf Bernama “Malapetaka”
Kisah Yusuf itu sangat familiar. Begitu familiar sampai kita sering merasa tidak ada lagi hal baru yang bisa dipelajari darinya. Alurnya sudah hafal. Dijual saudara, jadi budak, difitnah, dipenjara, lalu naik pangkat jadi orang nomor dua di Mesir. Selesai.

Namun firman Tuhan tidak pernah kehabisan makna. Selalu ada pewahyuan baru bagi hati yang mau belajar. Dan justru di situlah saya dibuat terdiam.

Selama ini saya menganggap apa yang Yusuf alami sebagai rangkaian malapetaka. Seolah hidupnya penuh ketidakadilan sebelum akhirnya Tuhan “mengganti rugi” dengan jabatan tinggi.

Sampai saya sadar satu hal penting: rumah Potifar bukan musibah. Itu sekolahnya Yusuf.

Potifar bukan orang sembarangan. Tercatat ia adalah seorang perwira tinggi Firaun, kepala pengawal istana. Orang kepercayaan kerajaan. Yusuf ditempatkan di rumah seorang pemimpin besar, bukan secara kebetulan.

Di sanalah Yusuf belajar budaya Mesir, sistem kerja, kepemimpinan, dan manajemen. Potifar memiliki banyak anak buah. Yusuf melihat langsung bagaimana seorang pemimpin mengatur orang, sumber daya, dan tanggung jawab.

Dan dicatat sesuatu yang sangat penting: Potifar melihat bahwa Tuhan menyertai Yusuf.Apa pun yang Yusuf jerjakan, dibuat Tuhan berhasil dan beruntung.

Bukan Yusuf yang mempromosikan diri. Bukan Yusuf yang sibuk membela nasibnya. Kualitas hidupnya berbicara. Keintimannya dengan Tuhan membuahkan hikmat yang membuatnya outstanding.

Sebagai hasilnya, Potifar pun mempercayakan seluruh hartanya tidak hanya yang di rumah tetapi juga di ladang-ladangnya.
Yusuf dipercaya mengurus seluruh milik Potifar, bukan hanya urusan rumah, tetapi juga ladang-ladangnya. Ini bukan detail kecil. Di sinilah Yusuf belajar mengelola aset besar. Tanpa ia sadari, dia sedang dipersiapkan untuk memanage sesuatu yang jauh lebih besar.

Saya pernah membaca, ada orang-orang yang rela membayar sejumlah besar uang hanya untuk Lunch dengan Warren Buffett, orang terkaya nomor 3 di dunia.
Mereka ingin belajar rahasia suksesnya.

Yusuf tidak hanya lunch, tetapi tinggal di rumah Potifar, ‘dimentori’ sampai sedemikian terampil dan sukses mengelola seluruh kekayaan Potifar, meski statusnya sebagai budak.

Lalu datanglah ujian karakter. Godaan dari istri Potifar. Yusuf menolak. Tegas. Bersih. Tidak kompromi.

Akibatnya?
Difitnah dan dipenjara.
Namun Yusuf tidak membela diri. Tidak mengasihani diri. Tidak memosisikan diri sebagai korban. Dia masuk penjara kerajaan, dan di sanalah “sekolah” itu berlanjut.

Pola yang sama terjadi. Yusuf setia. Yusuf melayani. Yusuf bertanggung jawab. Dan Yusuf sudah punya skill dan pengalaman yang mumpuni. Terbukti hasilnya.

Sampai kepala penjara mempercayakan seluruh urusan penjara kepadanya. Lagi-lagi, *setia dalam perkara kecil, dipercaya dalam perkara yang lebih besar.*

Di penjara, Yusuf menafsirkan mimpi kepala juru minuman dan kepala juru roti Firaun. Mimpinya tepat. Satu dipulihkan, satu dihukum mati. Yusuf hanya minta satu hal kecil: “Ingatlah aku.”

Namun dicatat, sesuatu yang menyakitkan tapi jujur: kepala juru minuman itu melupakan Yusuf. Dua tahun lamanya.
Bayangkan. Sudah benar. Sudah setia. Sudah menolong. Tapi dilupakan. Yusuf tetap menjaga hati bebas dari kepahitan. Tetap beriman menanti waktu Tuhan.

Sampai suatu malam, Firaun bermimpi. Bukan mimpi biasa. Mimpi yang membuatnya gelisah. Tujuh lembu gemuk dimakan tujuh lembu kurus. Tujuh bulir gandum baik ditelan tujuh bulir kering. Tidak ada seorang pun yang bisa menafsirkan mimpi itu.

Di titik itulah, ingatan yang terkubur selama dua tahun muncul kembali. Kepala juru minuman berkata, “Ada seorang Ibrani di penjara…”
Dan Yusuf dipanggil.

Yusuf bukan hanya menafsirkan mimpi. Dia *memberi solusi.* Dia menjelaskan krisis tujuh tahun kelimpahan dan tujuh tahun kelaparan, lalu mengusulkan sistem pengelolaan nasional. Penyimpanan, distribusi, dan pengawasan.

Ini bukan ide spontan. Ini buah dari tahun-tahun panjang belajar tanpa panggung.
Firaun melihatnya.
“Adakah orang seperti ini, yang penuh dengan Roh Allah?”

Dalam satu hari, Yusuf diangkat menjadi orang nomor dua di Mesir.
Tidak ada sukses mendadak. Yang ada adalah proses panjang yang tidak disia-siakan Tuhan.

Tentu BUKAN Tuhan yang merancangkan malapetaka tetapi saudara-saudara Yusuf yang iri hati.
Namun rancangan buruk itu diubah Tuhan menjadi kebaikan.

Yusuf tidak mudah tersinggung. Tidak berhenti karena ketidakadilan. Tidak keluar dari proses sebelum waktunya. Dan karena itulah, ketika tanggung jawab besar datang, Yusuf siap.

Seandainya Yusuf tersinggung, memilih bermalas-malasan, tentunya saat kesempatan datang, Yusuf akan gagal.

Pelajarannya sederhana tapi tajam:
Jangan remehkan masa persiapan. Jangan mudah offended.
Preparation time is never wasted time.

Tuhan tahu persis sekolah apa yang kita butuhkan, sebelum Dia mempercayakan perkara besar kepada kita.

Siap praktik? Yuuuk

“Character is not built in moments of comfort, but in seasons of challenge.”
– Unknown

“Karakter tidak dibangun dalam masa nyaman, tetapi dalam musim penuh tantangan.” – – Unknown.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Ketika Kesembuhan Membutuhkan Pemulihan Kedua

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Kesembuhan Membutuhkan Pemulihan Kedua

Di awal abad ke-20, ada seorang dokter yang dihormati dunia medis bukan karena ia paling banyak meresepkan obat, tetapi karena ia paling banyak mengingatkan agar dokter tidak sembarangan menggunakannya.

Namanya Sir William Osler.
Osler adalah salah satu pendiri Johns Hopkins Hospital dan dikenal sebagai bapak kedokteran modern.

Ironisnya, justru dari orang inilah muncul peringatan yang terasa sangat relevan hari ini: bahwa pengobatan bisa menjadi masalah baru, jika dilakukan tanpa kebijaksanaan.

Ada sebuah kalimat yang sering dikaitkan dengan Osler, kurang lebih berbunyi begini:

seseorang yang minum obat sering kali perlu sembuh dua kali, sekali dari penyakitnya dan sekali dari obatnya.

Kalimat ini mungkin bukan kutipan literal, tetapi pemikirannya sangat Osler. Ia berkali-kali mengingatkan bahaya overmedikalisasi dan kebiasaan mengobati angka tanpa memahami manusia di baliknya.

Osler percaya satu hal penting: dengarkan pasien, bukan hanya penyakitnya.

Sayangnya, di zaman sekarang, kita sering terbalik.
Kita hidup di era di mana obat bekerja cepat. Tekanan darah bisa ditekan. Gula darah bisa dikontrol. Nyeri bisa diredam. Secara klinis, itu kemajuan besar.

Namun di balik keberhasilan itu, sering ada cerita sunyi yang tidak masuk rekam medis: tubuh yang makin lelah, pencernaan yang rusak perlahan, berat badan yang naik tanpa sebab jelas, emosi yang tidak stabil, dan daftar obat yang terus bertambah.
Bukan karena obatnya jahat.
Tetapi karena tubuh manusia tidak pernah diciptakan untuk diperlakukan seperti mesin.
Obat menekan gejala.

Tubuh sedang berbicara.
Setiap gejala sebenarnya adalah pesan.

Tubuh memberi alarm ketika ada yang tidak selaras. Masalahnya, kita sering sibuk mematikan alarm tanpa bertanya mengapa alarm itu berbunyi.

Pola makan yang salah dianggap biasa.
Stres kronis dianggap normal.
Kurang tidur dianggap wajar.
Peradangan ringan dibiarkan bertahun-tahun.
Akhirnya obat menjadi solusi jangka panjang untuk percakapan yang tidak pernah terjadi.

Inilah yang dulu diingatkan Osler. Bahwa pengobatan tanpa kebijaksanaan akan menciptakan lingkaran:
satu obat menimbulkan efek samping, efek samping itu melahirkan diagnosis baru, diagnosis baru melahirkan resep baru. Tubuh pun bekerja ekstra, bukan untuk sembuh, tetapi untuk bertahan.

Saya tidak sedang menentang dunia medis. Kita bersyukur untuk dokter, rumah sakit, dan obat-obatan. Banyak nyawa tertolong karenanya.

Obat adalah anugerah.
Tetapi obat bukan netral.
Dan bukan solusi tunggal.

Kesembuhan sejati selalu melibatkan lebih dari satu lapisan: pilihan hidup, disiplin harian, keberanian mengubah kebiasaan, dan kerendahan hati untuk mendengarkan tubuh yang selama ini kita abaikan.

Tubuh menyimpan catatan. Selalu.
Ia ingat apa yang kita makan.
Ia ingat stres yang kita tekan.
Ia ingat emosi yang tidak pernah diproses.
Cepat atau lambat, tubuh akan menagih perhatian. Bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan.

Kesembuhan terbaik bukan yang paling cepat, tetapi yang paling utuh.
Yang tidak menciptakan masalah baru untuk diselesaikan.
Yang memulihkan, bukan menumpuk.

Mungkin inilah hikmat lama yang perlu kita dengar kembali. Bahwa menyembuhkan bukan hanya soal menghilangkan gejala, tetapi memulihkan keseimbangan:
Antara tubuh dan pikiran.
Antara iman dan akal.
Antara teknologi dan kebijaksanaan.

Menurut Carl Jung, tubuh adalah media ekspresi dari hal-hal yang tidak disadari oleh pikiran sadar.

Artinya sederhana tapi dalam:

*Apa yang tidak kita akui, tidak kita pahami, atau tidak kita sadari di pikiran, sering muncul lewat tubuh.*

Karena tujuan kita bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi hidup lebih selaras.
Dan kesembuhan yang baik tidak pernah meminta kita sembuh dua kali.

Bagaimana pendapat Anda?

*”The good physician treats the disease; the great physician treats the patient who has the disease.” – Sir William Osler.*

*”Dokter yang baik mengobati penyakitnya; dokter yang besar mengobati manusia yang memiliki penyakit itu – Sir William Osler.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Badai Tidak Menentukan Akhir Cerita

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Badai Tidak Menentukan Akhir Cerita

Kadang hidup terasa seperti badai besar yang tak kunjung reda. Angin masalah datang dari segala arah, petir persoalan menyambar tanpa henti, dan hati pun lelah menanggung semuanya. Pikiran mulai sibuk dengan seribu “bagaimana kalau” — bagaimana kalau gagal, bagaimana kalau tidak selesai, bagaimana kalau semua ini sia-sia?

Itulah jebakan pikiran negatif. Mereka seperti pencuri yang masuk diam-diam, mencuri damai sejahtera dari hati kita. Tapi seperti kata Lisa Osteen, “When negative thoughts bombard your mind, let this be your declaration of faith: It may not look well, but with God’s help — all will go well with the righteous.” Artinya, sekalipun keadaan tampak kacau, selama kita berjalan bersama Tuhan, akhirnya akan berakhir baik.

Masalahnya, di tengah badai hidup, ada begitu banyak suara yang ingin kita dengar.
Suara ketakutan berkata, “Sudahlah, menyerah saja.”
Suara masa lalu mengingatkan, “Kamu pernah gagal, pasti begitu lagi.”
Suara dunia menekan, “Lihat realita, keadaanmu takkan berubah.”

Namun di antara semua suara itu, ada satu suara lembut yang menenangkan: “Jangan takut, Aku menyertai engkau.”
Dan di titik ini, kita punya pilihan — mau mendengarkan suara yang mana?

Kita sering berpikir, baru bisa percaya kalau semua sudah jelas dan pasti. Padahal iman tidak menunggu penjelasan. Iman melangkah dulu, baru melihat mujizat terjadi.

Seperti Petrus di tengah badai. Saat Yesus berjalan di atas air, Petrus berkata, “Tuhan, suruh aku datang kepada-Mu.” Dan Yesus hanya menjawab satu kata: “Datanglah.” Tidak ada jaminan, tidak ada teori cara berjalan di air. Hanya satu kata — datanglah. Petrus melangkah. Selama ia menatap Yesus, ia berjalan di atas air. Tapi ketika fokusnya beralih ke ombak, ia tenggelam.

Kita pun sama. Kalau fokus kita pada masalah, kita tenggelam dalam kekhawatiran. Tapi kalau fokus kita pada Tuhan, kita berjalan di atas badai itu. Rahasia kemenangan hidup orang percaya hanya satu: It’s all about God, not us.

Bukan tentang seberapa kuat atau pintarnya kita, tapi tentang siapa yang menyertai kita. Daud mengalahkan Goliat bukan karena ia ahli perang, tapi karena ia datang “dalam nama Tuhan semesta alam”. Daniel selamat dari gua singa bukan karena singanya jinak, tapi karena Tuhan mengutus malaikat menutup mulut mereka. Semua pahlawan iman tidak berfokus pada kemampuan sendiri, tapi pada kuasa Tuhan yang bekerja melalui mereka.

Jadi ketika pikiran negatif menyerang, ubah menjadi deklarasi iman:
“Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku.”
“Aku lebih dari pemenang oleh Dia yang mengasihi aku.”
“Apa yang mustahil bagi manusia, mungkin bagi Allah.”

Katakan dengan suara iman, bahkan ketika hati masih berat: “All will go well with the righteous.” Percaya dulu, baru lihat hasilnya.

Hidup beriman seperti berjalan di atas tali — kuncinya fokus. Jika pandangan kita ke bawah, ke masalah, kita goyah. Tapi jika mata kita tetap pada Tuhan, kita melangkah dengan mantap.

Hari ini, apa pun badai yang sedang kamu hadapi, ingat: hidup ini bukan tentang kita, tapi tentang Tuhan. Dia yang memulai, Dia yang akan menyelesaikan. Dia yang membuka jalan, Dia pula yang akan menuntun kita sampai akhir.

Karena dengan Tuhan, akhir cerita kita selalu sama: kemenangan.

“God will pass over a million people just to find someone who will believe Him.”— Smith Wigglesworth.

Tuhan akan melewati sejuta orang hanya untuk menemukan satu yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. — Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

Read More