Terlalu Cepat Memutuskan, Terlambat Mendengar Tuhan
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Terlalu Cepat Memutuskan, Terlambat Mendengar Tuhan
Saya merasa ditegur Tuhan ketika belajar dari pengalaman Ps. Lester Sumrall yang tidak meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh berdoa mencari kehendak Tuhan.
Tanpa disadari, saya pun sering melakukan hal yang sama. Mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan logika, pengalaman masa lalu, bahkan perasaan yang tampaknya masuk akal. Padahal, kalau jujur, itu adalah keputusan yang didominasi oleh jiwa. Oleh pikiran, emosi, dan kehendak pribadi.
Sementara kebenaran sejati, suara Tuhan yang murni, tidak datang dari jiwa. Ia datang dari roh. Dari roh itulah kemudian mempengaruhi pikiran kita. Bukan sebaliknya.
Di sinilah saya merasa diingatkan kembali lewat kisah Ps. Lester Sumrall.
Ia menceritakan bagaimana suatu kali sebuah gereja di South Bend memintanya menjadi gembala. Tanpa banyak pertimbangan rohani, ia langsung menolak. Alasannya masuk akal. Ia merasa sudah punya arah pelayanan sendiri, dan kota itu pun tidak menarik baginya. Secara logika, keputusannya benar.
Namun Tuhan tidak berhenti di situ.
Gereja itu kembali menghubunginya. Mereka berdoa dan berpuasa. Tetap ia menolak. Sampai akhirnya mereka berkata, “Kami yakin Anda belum sungguh-sungguh berdoa.” Kalimat itu menusuk. Dan benar. Setelah ia benar-benar berdoa, Tuhan mengubah hatinya. Ia menerima panggilan itu.
Bertahun-tahun kemudian, situasi hampir sama terulang. Kali ini ia lebih dewasa. Ia tidak gegabah. Ia tidak mengandalkan pengalaman lama. Ia berlutut. Ia berdoa. Ia menunggu sampai roh memberi kesaksian. Dan keputusan yang diambil itulah yang kemudian menjadi titik penting dalam pelayanannya.
Saya belajar satu hal penting di sini:
Banyak keputusan salah bukan karena kita jahat, tapi karena kita terburu-buru.
Bukan karena tidak rohani, tapi karena terlalu percaya diri dengan logika sendiri.
Sering kali kita berkata, “Ini masuk akal kok.”
“Aturannya begini.”
“Pengalaman saya dulu seperti ini.”
Padahal Tuhan tidak berbicara lewat pengalaman masa lalu. Ia berbicara lewat roh kita, di saat kita tenang, diam, dan mau mendengar.
Di sinilah perbedaan antara orang yang hidup dipimpin Roh dan orang yang hidup dipimpin jiwa.
Jiwa ingin cepat.
Roh mengajak menunggu.
Jiwa ingin kepastian instan.
Roh mengajak percaya, bahkan ketika belum melihat.
Jiwa berkata, “Aku tahu yang terbaik.”
Roh berkata, “Tanya dulu Tuhan.”
Sering kali kita tidak salah memilih, hanya saja kita memilih terlalu cepat. Kita belum memberi ruang bagi Tuhan untuk menyelaraskan hati kita dengan kehendak-Nya.
Saya pribadi belajar, setiap keputusan besar seharusnya melewati satu proses penting: dibawa ke hadapan Tuhan sampai ada damai sejahtera yang menjaga hati. Bukan sekadar tenang karena sudah memutuskan, tapi damai yang lahir karena roh kita berkata, “Ini benar.”
Dan menariknya, seperti yang dialami Ps. Lester Sumrall, doa bukan hanya mengubah keputusan. Doa juga mengubah sikap hati. Ada kalanya setelah berdoa, kita justru semakin yakin untuk melangkah. Bukan karena tekanan, tapi karena ada keyakinan rohani yang dalam.
Itulah indahnya hidup dipimpin Tuhan.
Doa bukan alat untuk memaksa Tuhan setuju dengan rencana kita.
Doa adalah sarana agar kita selaras dengan rencana-Nya.
Dan sering kali, keputusan terbaik dalam hidup tidak lahir dari kepintaran, relasi, atau pengalaman panjang…
melainkan dari satu hal sederhana:
kerendahan hati untuk berhenti sejenak, berlutut, dan berkata,
“Tuhan, apa kehendak-Mu?”
*”When we work, we work. But when we pray, God works.” – Hudson Taylor*
*”Ketika kita bekerja, kita yang bekerja. Tetapi ketika kita berdoa, Tuhan yang bekerja.” – Hudson Taylor*
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

