Monthly Archives: Jan 2026

Articles

Da Lian, Kota Pertama Rangkaian Menuju Harbin.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Da Lian, Kota Pertama Rangkaian Menuju Harbin.

Landing di Dalian sudah malam. Kelihatannya biasa saja. Tapi keesokan paginya… wow. Kami langsung terpukau. Kota di sekitar hotel cantik sekali. Rasanya seperti bukan di China, tapi di Rusia. Bangunan-bangunannya rapi, elegan, dan bikin mata betah.

Di Dalian, Provinsi Liaoning, kami mengunjungi monumen Singa Siberia yang terkenal. Sekilas tampak megah. Tapi makin diperhatikan, makin terasa maknanya. Di kompleks ini bukan satu patung, melainkan lima singa dewasa dan satu singa kecil di belakangnya. Bukan kebetulan.

Lima singa melambangkan kekuatan, perlindungan, keberanian, stabilitas, dan kewaspadaan. Lima sisi hidup yang perlu dijaga seimbang, bukan dipamerkan. Lalu singa kecil itu berbicara pelan tapi kuat tentang kelanjutan, generasi, dan warisan. Kekuatan sejati tidak berhenti di kita. Ia diteruskan lewat hidup yang konsisten. Iman, karakter, dan nilai tidak diwariskan lewat ceramah, tapi lewat teladan sehari-hari.

Selain itu ada satu jembatan yang bukan cuma panjang, tapi penuh cerita: Xinghai Bay Bridge. Jembatan ini membentang belasan kilometer di atas laut. Pemandangannya luas, tenang, dan jujur indah.

Orang lokal menyebutnya jembatan romantis. Bukan karena hiasan berlebihan, tapi karena suasananya. Angin laut, langit terbuka, dan langkah kaki yang panjang bikin orang otomatis melambat. Memang cantik. Di laut, batu-batu tampak mirip Twelve Apostles di Melbourne.

Banyak pasangan berjalan berdua di sini. Ngobrol hal kecil sampai hal besar. 14 kilometer saat sedang dimabuk cinta terasa dekat.

Ada cerita yang sering beredar. Konon, kalau pasangan suami istri bertengkar dan salah satunya “kabur”, mereka akan dicari ke jembatan ini. Bukan dramatis. Tapi karena tempat ini dianggap aman untuk menenangkan diri. Di atas laut, emosi panas biasanya turun sendiri. Kita jadi berpikir lebih jernih. Entah benar atau urban legend, yang jelas jembatan ini seperti ruang jeda. Kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban cepat, tapi jarak yang cukup luas untuk mendengar hati sendiri.

Kami lalu berdiri di Xinghai Square, alun-alun kota terbesar di Asia. Dibangun dari reklamasi, luasnya disebut sekitar 110 hektar, bahkan ada yang menyebut hingga 176 hektar.

Wow…..Cantik, bersih, rapi.

Luasnya bikin orang otomatis diam sebentar. Bukan karena capek jalan, tapi karena tempat ini terasa “bercerita”.
Ada area terkenal bernama 1000 jejak kaki. Instalasi “1000 footprints” ini berisi jejak dari berbagai usia warga Dalian, dari generasi awal hingga seratus tahun kemudian.

Wuih… uniknya. Inilah kayanya travelling. Setiap tempat punya cerita yang tidak bisa disalin.

Rasanya seperti diingatkan: hidup ini memang soal melangkah. Tidak semua jejak sama, tapi semua bergerak. Tidak ada yang berdiri diam.

Yeeeayy, ternyata resto lunch kami persis menghadap “1000 footprints”. Double berkat. Lunch lezat, pemandangan penuh makna. Praise the Lord!

Mata lalu tertarik ke dua patung anak kecil. Bukan pahlawan. Bukan raja. Anak-anak. Pesannya jujur: masa depan tidak ditaruh di tangan kekuasaan, tapi di generasi muda yang hari ini sedang dibentuk.

Ada juga patung buku yang bisa dibaca bolak-balik. Seolah berbisik, “belajarlah dari masa lalu, tapi jangan hidup di sana.” Arah hidup tetap ke depan.

Dan… dua tiang biru menjulang seperti sumpit biru yang hendak menyumpit bulan. Simbol mimpi besar. Terlihat mustahil, tapi tetap diarahkan ke langit. Seolah berkata, bersama Tuhan, tidak ada yang mustahil.

Teringat kutipan Norman Vincent Peale:
“Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars.”

Tembaklah ke bulan. Sekalipun meleset, kamu akan mendarat di antara bintang-bintang.

Pokoknya, jangan takut bermimpi. Lalu realisasikan.

Xinghai Square tidak pamer ukuran. Ia mengajak kita berpikir: sejauh apa kita melangkah, dan setinggi apa kita berani bermimpi.

Di ujung alun-alun, laut terbentang dengan ribuan burung camar beterbangan. Kami berebut memikat mereka dengan roti di tangan. Di video tentu saja. Rasanya seperti nunggu lotre… hahaha…

Jepret… saat camar mematuk roti di tangan P. Indra yang terjulur ke atas. Yeaaaayyyy…..

Di sisi kanan, ada rumah seperti kado dengan pita merah besar dan teddy bear di depannya. Wuih… menariknya. Serasa jadi anak kecil lagi.

Life is good. Thank You, Lord.

“The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.”* – Eleanor Roosevelt.

“Masa depan milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi.” -Eleanor Roosevelt.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Apakah Tuhan yang Membunuh Ananias dan Safira?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Apakah Tuhan yang Membunuh Ananias dan Safira?

Melihat Kisah Ini dari Kacamata Yesus
Banyak orang jujur berkata, “Saya takut membaca kisah Ananias dan Safira.”
Takut karena terlihat seolah-olah Tuhan langsung menghukum mati orang yang berbohong. Takut karena muncul kesan: salah sedikit, mati.

Pertanyaannya sederhana tapi penting: benarkah itu wajah Allah yang Yesus perkenalkan?

Kalau kita membaca Alkitab hanya dari satu peristiwa, tanpa melihat Yesus, kita bisa salah mengenal Bapa.

Yesus sendiri berkata dengan sangat jelas,
“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
Artinya, Yesus adalah standar tertinggi untuk mengenal siapa Allah itu.
Bukan Musa. Bukan hukum Taurat. Bukan satu kisah yang berdiri sendiri. Tetapi Yesus.

Sekarang mari jujur.
Dalam Injil, apakah kita pernah melihat Yesus membunuh orang karena dosa?
Perempuan yang tertangkap basah berzina? Tidak dibunuh.
Petrus yang menyangkal Dia tiga kali? Tidak dibunuh.
Murid-murid yang sering salah paham, keras kepala, bahkan rebutan posisi? Tidak dibunuh.
Orang Farisi yang munafik dan penuh kebohongan? Ditegur keras, ya. Dibunuh? Tidak.

Yesus tidak pernah memperkenalkan Bapa sebagai Pribadi yang reaktif, mudah tersinggung, lalu menghukum mati orang di tempat.

Lalu apa yang terjadi dengan Ananias dan Safira?
Masalah utama mereka bukan sekadar “tidak memberi seluruh uang”.
Petrus sendiri berkata: tanah itu milikmu, uangnya juga milikmu. Tidak ada kewajiban memberi semuanya.
Masalahnya adalah kemunafikan yang disengaja, kepura-puraan rohani, hidup dalam dusta sambil ingin terlihat kudus.
Dan dusta, sejak awal, selalu berhubungan dengan si pendusta itu sendiri.

Yesus berkata dengan jelas:
“Iblis adalah pembunuh sejak semula… dan bapa segala dusta.”

Perhatikan ini baik-baik.
Yesus tidak pernah mengaitkan kematian dengan Bapa.
Yesus mengaitkannya dengan dosa dan dusta yang memberi ruang bagi kuasa kegelapan.

Dalam Injil, Yesus selalu datang sebagai Pemberi hidup, Pemulih, Penyembuh, Penyelamat.

Bahkan saat menghadapi dosa, Yesus memulihkan manusia, bukan melenyapkannya.

Maka membaca kisah Ananias dan Safira tanpa kacamata Yesus akan membuat kita takut.

Tetapi membaca dengan kacamata Yesus membuat kita sadar:
Allah itu kudus, tetapi Dia bukan algojo.
Allah itu terang, dan siapa yang memilih hidup dalam gelap, sedang bermain di wilayah yang berbahaya.
Kisah ini bukan untuk membuat kita takut pada Tuhan.

Justru untuk mengingatkan: jangan bermain-main dengan kepura-puraan rohani. Jangan hidup ganda. Jangan berdamai dengan dusta.

Bukan karena Tuhan ingin menghukum,
tetapi karena di luar terang, tidak ada perlindungan. Saat berdosa, kita keluar dari perlindungan Tuhan. tidak ada perlindungan.

Dan kabar baiknya?
Yesus sudah membuka jalan agar kita hidup di dalam terang itu.
Tanpa topeng. Tanpa sandiwara. Tanpa ketakutan.

Allah yang kita kenal melalui Yesus adalah Bapa yang memberi hidup.
Dan hidup itu aman, ketika kita berjalan jujur di hadapan-Nya.

“God is not proud. He will have us even though we have shown that we prefer everything else to Him.” – C. S. Lewis.

“Allah tidak sombong. Dia tetap menerima kita, sekalipun kita berkali-kali membuktikan bahwa kita memilih hal lain dibanding Dia.- C. S. Lewis.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Melihat Kisah Ayub dari Kacamata Perjanjian Baru.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Melihat Kisah Ayub dari Kacamata Perjanjian Baru.

Beberapa waktu lalu saya kembali merenungkan Kitab Ayub, kali ini sambil mengingat pengajaran A. R. Bernard tentang satu hal penting: Yesus adalah pusat dan kacamata terakhir untuk membaca seluruh Alkitab.

Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya besar. Karena selama ini, jujur saja, Kitab Ayub sering membuat kita bingung, bahkan takut. Orang benar bisa kehilangan segalanya. Allah seolah diam. Iblis seperti diberi ruang. Lalu muncul kesimpulan diam-diam di hati banyak orang Kristen: “Kalau Tuhan izinkan penderitaan ini, ya pasti ada maksud-Nya.”

Pertanyaannya, apakah itu cara Yesus memperkenalkan Allah?

Ayub adalah kisah sebelum Yesus

Hal pertama yang perlu kita sadari, Kitab Ayub ditulis jauh sebelum Yesus datang.

– Belum ada salib.
– Belum ada kebangkitan.
– Belum ada pewahyuan tentang Allah sebagai Bapa.

Ayub adalah orang saleh, tulus, dan jujur. Tapi ia hidup di zaman ketika manusia belum mengenal Allah seperti yang Yesus nyatakan. Maka wajar jika banyak perkataan dalam kitab ini adalah ungkapan kebingungan, pergumulan, dan pencarian makna. Itu jujur, tapi bukan standar iman Perjanjian Baru.

Ini penting.

Tidak semua yang tertulis di Alkitab adalah pengajaran yang harus ditiru. Banyak yang dicatat sebagai cerita pergumulan manusia, bukan definisi final tentang karakter Allah.

Yesus tidak pernah mengajar seperti Ayub

Coba kita bandingkan dengan hidup dan pelayanan Yesus Kristus.
Dalam Injil:
Yesus tidak pernah berkata penderitaan berasal dari Bapa.
Yesus tidak pernah menyuruh orang sakit untuk “bertahan supaya imannya diuji”.
Yesus tidak pernah memuliakan penderitaan.

Yang Yesus lakukan justru sebaliknya. Ia menyembuhkan yang sakit. Ia membebaskan yang terikat. Ia memulihkan yang hancur. Ketika murid-murid bertanya tentang penderitaan, Yesus mengarahkan mereka bukan ke teori, tapi ke pekerjaan Allah yang memulihkan.

Yesus berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Jadi kalau gambaran Allah yang kita tangkap dari Ayub terasa keras, jauh, dan membingungkan, kita perlu berani berkata jujur: itu bukan gambaran final tentang Allah.

Salib mengubah cara kita memahami penderitaan

Ayub bertanya, “Mengapa orang benar menderita?”

Yesus tidak menjawab dengan diskusi panjang. Ia menjawab dengan salib dan kebangkitan.
Di salib, kita melihat Allah yang tidak duduk jauh di surga sambil menguji manusia. Kita melihat Allah yang masuk ke dalam penderitaan manusia dan mengalahkannya.*
Kebangkitan Yesus menyatakan bahwa penderitaan bukan alat Allah, tapi musuh yang telah ditaklukkan.

Dari kacamata Perjanjian Baru, penderitaan bukan sesuatu yang harus dimaknai untuk dimengerti, tetapi sesuatu yang harus ditaklukkan di dalam Kristus.
Ayub berakhir dengan perjumpaan, bukan jawaban

Menariknya, di akhir kitab, Ayub tidak mendapat penjelasan logis. Ia mendapat hadirat Allah. Dan itu mengubah segalanya.

Di Perjanjian Baru, kita mendapat lebih dari hadirat. Kita mendapat Kristus yang diam di dalam kita. Artinya, posisi kita hari ini jauh lebih kuat daripada posisi Ayub saat itu.

Ayub bertahan.
Kita dipanggil untuk berdiri.
Ayub menunggu pemulihan.
Kita bergerak dalam otoritas Kristus.

Membaca Ayub dari kacamata Yesus menolong kita berhenti menyalahkan Allah atas hal-hal yang Yesus datang untuk menghancurkannya. Kita tidak hidup dengan iman pasrah, tapi dengan iman yang mengenal Bapa.

Kita punya otoritas dan kuasa untuk mengalahkan musuh.
As He is so are we in this world.
Sama seperti Yesus, kita ada di dunia ini.
Apa yang Yesus lakukan, kita bisa melakukannya bahkan lebih lagi.

Dan itu membuat Injil benar-benar menjadi kabar baik.

“Faith does not deny the problem. Faith denies the problem the right to dominate.”- Kenneth E. Hagin.

“Iman tidak menyangkal masalah, tetapi menolak masalah itu berkuasa” – Kenneth E. Hagin.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Tahu Banyak Firman, Tapi Kehilangan Yesus.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Tahu Banyak Firman, Tapi Kehilangan Yesus.

Beberapa waktu terakhir ini saya merenung.

Saya punya teman yang sangat tahu firman. Ayat hafal. Tafsiran kuat. Argumen tajam. Tapi entah kenapa, makin lama justru makin kaku, mudah marah, dan sulit diajak berdialog. Seolah-olah kebenaran harus selalu dimenangkan, meski kasih hilang di tengah jalan.

Di sisi lain, ada juga teman yang lain. Ia justru bingung karena terlalu banyak doktrin. Satu ajaran berkata begini, yang lain berkata begitu. Akhirnya ia berkata pelan, “Aku capek. Aku jadi tidak tahu lagi mana yang benar. Bahkan aku jadi ragu pada Yesus.”

Dua ekstrem yang berbeda, tapi akarnya sama:
*Yesus tidak lagi menjadi pusat.*

Di titik itulah saya mendengarkan pengajaran A. R. Bernard. Dan jujur, saya seperti mendapatkan kacamata baru.

Bukan pewahyuan yang rumit. Justru sangat sederhana. Tapi sederhana yang menampar dengan lembut.

Orang Kristen Itu Pengikut Pribadi, Bukan Sistem – Pribadi Yesus.

Satu kalimat dari pengajaran itu tertancap kuat di hati saya:

Kita bisa mengikuti Alkitab, tapi tidak sungguh-sungguh mengikuti Yesus.

Ini terdengar aneh, tapi nyata.
Alkitab itu Firman Allah, ya. Sangat berharga.
Tapi Alkitab bukan tujuan akhir. Yesus adalah tujuan akhirnya.

Ketika firman dipisahkan dari Pribadi Yesus, firman bisa berubah menjadi:

– alat pembenaran diri
– senjata untuk menghakimi
– beban yang memberatkan
– bahkan sumber ketakutan

Dan di situlah lahir orang Kristen yang “gila doktrin”.
Bukan karena terlalu cinta firman, tapi karena kehilangan wajah Yesus di dalam firman itu sendiri.

Injil dan Surat-Surat: Sekarang Saya Mengerti Bedanya

Di sini saya benar-benar tercerahkan.
Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) menunjukkan:

– siapa Yesus
– bagaimana Dia berbicara
– bagaimana Dia bersikap
– bagaimana Dia mengasihi
– bagaimana Dia merespons dosa, penderitaan, dan kekuasaan

Di Injil, kita melihat Yesus hidup.

Yohanes 14:9 (TB) Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;

Sedangkan surat-surat (epistles), seperti tulisan Paulus:

– menjelaskan makna karya Yesus
– membangun kerangka iman
– menolong gereja bertumbuh secara sehat

Masalah muncul ketika:
– kita membaca surat-surat tanpa Injil
– kita membangun teologi tanpa melihat karakter Yesus
– kita sibuk menjelaskan iman, tapi lupa meneladani Pribadi-Nya

Akhirnya iman jadi konsep, bukan relasi.

Yesus Adalah Lensa

Ini kunci terbesarnya.

Semua hal harus dilihat melalui Yesus:

– ayat Alkitab
– ajaran
– doktrin
– sikap hidup
– bahkan pendapat rohani

Bukan:
“Ayat ini berkata begini, jadi sah.”

Tetapi:

“Apakah ini selaras dengan hati, karakter, dan cara Yesus?”

Jika sebuah ajaran:
– membuat kita lebih keras
– lebih sombong
– lebih mudah menghakimi
– lebih jauh dari kasih

Maka patut berhenti sejenak dan bertanya:
apakah ini benar-benar Yesus?

Orang Kristen Sejati Itu Sehat

Pengikut Kristus yang sehat bukan orang yang tahu segalanya, tapi orang yang:

– hatinya lembut
– pikirannya berakar
– tidak mudah diombang-ambingkan
– tidak panik dengan perbedaan
– tidak kehilangan kasih saat berbeda pendapat

Ia tidak anti doktrin, tapi juga tidak diperbudak doktrin.

Ia menghormati Alkitab, tapi menempatkan Yesus di atas semuanya.

Hhmm…sekarang saya mengerti.

Mengapa ada orang yang tahu firman tapi kehilangan damai. Mengapa ada yang justru menjauh dari Yesus karena bingung doktrin.

Masalahnya bukan pada firman. Masalahnya bukan pada ajaran. Masalahnya adalah kita bisa sibuk membela kebenaran, tapi lupa mengikuti Sang Kebenaran itu sendiri.

Dan bagi saya, pencerahan ini sederhana tapi membebaskan:

Jika iman membuat kita makin mirip Yesus, kita sedang di jalan yang benar.
Jika iman membuat kita kehilangan kasih, mungkin kita sedang mengikuti ajaran — bukan Pribadi.

Kolose 2:6 (AMPC)
Karena itu, sebagaimana kamu telah menerima Kristus-Yesus sebagai Tuhan-hidup dan aturlah seluruh tingkah lakumu dalam kesatuan dengan Dia dan sesuai dengan Dia.

Yesus tidak pernah mengundang kita untuk menjadi ahli sistem. Dia mengundang kita untuk mengikut Dia.

Dan di sanalah iman menjadi sehat.

“If you believe what you like in the Gospels, and reject what you don’t like, it is not the Gospel you believe, but yourself.”- Augustine of Hippo.

“Jika kita percaya bagian Injil yang kita sukai dan menolak yang tidak kita sukai, yang kita percaya bukan Injil, melainkan diri kita sendiri.” – Augustine of Hippo.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Doa Dijawab, Bukan Karena Kerasnya Suara, Tapi Karena Selarasnya Hati


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Doa Dijawab, Bukan Karena Kerasnya Suara, Tapi Karena Selarasnya Hati

Ada satu kalimat yang sejak lama sering saya dengar:
“Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka tidak sepakat?”

Dulu saya mengartikannya secara sederhana. Kalau dua orang punya pemikiran berbeda, tentu sulit berjalan bersama. Akan ada benturan, perdebatan, bahkan perpisahan. Itu terasa masuk akal.

Namun pemahaman saya berubah ketika Wendell Parr, salah satu mentor rohani saya, menjelaskan makna kalimat ini dari sudut yang lebih dalam. Ia berkata bahwa berjalan bersama Tuhan bukan soal seberapa sering kita berdoa, tetapi seberapa selaras hati kita dengan apa yang Tuhan percayai.

Dan di situlah saya mulai tersentak.

Sering kali kita berkata percaya, tetapi di dalam pikiran kita justru tersimpan ketakutan. Kita berdoa minta kesembuhan, tetapi setelah berdoa kita membaca artikel medis yang membuat hati makin ciut. Kita meminta berkat, tetapi di dalam hati terus terbayang kegagalan. Kita berkata “Tuhan sanggup”, namun pikiran kita sibuk membayangkan yang terburuk.

Tanpa sadar, kita tidak sedang berjalan bersama Tuhan.
Kita berjalan bersama ketakutan.

Padahal iman tidak bekerja di mulut, melainkan di pikiran dan hati.

Wendell pernah berkata, apa yang paling sering kita lihat dalam pikiran, itulah yang akhirnya kita alami. Jika pikiran kita penuh kecemasan, maka kecemasan itulah yang kita panen. Bukan karena Tuhan tidak mau memberkati, tetapi karena kita sendiri tidak sepakat dengan-Nya.

Di sinilah perkataan Lawson Perdue menjadi sangat bermakna:
“If you want to receive more, you have to believe more.”
Jika ingin menerima lebih banyak, kita harus percaya lebih dalam.

Percaya bukan sekadar berharap. Percaya adalah kondisi batin yang tenang, yakin, dan tidak goyah meski keadaan belum berubah.

Banyak orang berdoa, tetapi di saat yang sama membayangkan kegagalan. Mereka meminta kesembuhan, tetapi membayangkan sakit bertambah parah. Mereka meminta kelimpahan, tetapi melihat diri mereka selalu kekurangan. Tanpa disadari, mereka sedang berjalan berlawanan arah dengan doa mereka sendiri.

Di sinilah letak persoalannya:
kita tidak sepakat dengan Tuhan.

Padahal iman bekerja ketika hati, pikiran, dan perkataan berada dalam satu arah. Ketika kita bisa melihat dalam pikiran apa yang Tuhan janjikan, sebelum itu terwujud di dunia nyata.

Bill Winston pernah berkata:
“Your feet will never take you where your mind has never been.”

Kaki kita tidak akan membawa kita ke tempat yang belum pernah kita lihat di dalam pikiran.

Itu sebabnya, sebelum kesembuhan nyata terjadi, kita perlu melihat diri kita sembuh.
Sebelum berkat nyata datang, kita perlu melihat diri kita hidup berkecukupan.
Sebelum jawaban doa terwujud, kita perlu sepakat bahwa Tuhan sudah bekerja.

Iman bukan menunggu bukti. Iman justru mendahului bukti.

Dan ketika kita sepakat dengan Tuhan, sesuatu yang indah terjadi.
Yang rohani mulai memengaruhi yang jasmani.
Yang supranatural mulai mengalir ke dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah rahasia doa yang dijawab.
Bukan karena panjangnya doa.
Bukan karena indahnya kata-kata.
Tetapi karena keselarasan hati.

Kini saya mengerti, jika saya ingin menerima lebih banyak, saya harus percaya lebih dalam. Saya harus memilih untuk tidak hidup dalam ketakutan, tetapi dalam keyakinan bahwa Tuhan setia pada janji-Nya.

Dan pilihan itu ada di tangan kita setiap hari.

Apakah kita mau berjalan bersama Tuhan…
atau berjalan sendiri dengan rasa khawatir?

“There is nothing impossible with God. All the impossibility is with us when we measure God by the limitations of our unbelief.”- Smith Wigglesworth.

“Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Yang membatasi hanyalah ketidakpercayaan kita sendiri.”- Smith Wigglesworth.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4 5