KELAPARAN ROHANI Belajar dari “Roti Sapi”
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
KELAPARAN ROHANI
Belajar dari “Roti Sapi”
Ada satu kisah sederhana, tapi menohok hati, tentang seorang pria bernama John G. Lake, yang berjalan puluhan mil di tengah salju tebal di Sault Sainte Marie, Michigan. Salju saat itu bisa setinggi empat sampai lima kaki. Ia berjalan dengan sepatu salju, tubuh lelah, tenaga terkuras, dan perut kosong.
Saat akhirnya tiba di rumah, tak ada siapa pun. Istrinya pergi. Rumah saudaranya juga kosong.
Ia benar-benar kelaparan.
Di dapur, ia menemukan sebuah kue besar, hangat, baunya harum, mirip roti jagung. Tanpa pikir panjang, ia memakannya sampai habis. Rasanya aneh, ada gumpalan-gumpalan yang tidak biasa, tapi karena lapar, semuanya terasa bisa diterima.
Tak lama kemudian, saudaranya pulang dan berkata,
“John… kamu tidak makan itu, kan?”
“Itu apa?” tanyanya.
“Itu roti untuk sapi. Kami menggiling tongkol jagungnya. Itu makanan ternak.”
Terlambat. Sudah habis.
Cerita ini lucu, tapi juga sangat dalam. Karena di situlah kita belajar satu kebenaran besar: lapar mengubah cara seseorang menilai makanan.
Saat seseorang benar-benar lapar, yang biasanya tidak layak dimakan pun bisa terasa enak.
Dan di situlah pelajaran rohaninya dimulai.
Yesus berkata,
*“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”*
(Matius 5:6)
Perhatikan, Yesus tidak berkata “berbahagialah orang yang tahu banyak,” atau “yang rajin ibadah,” atau “yang punya pelayanan.”
Ia berkata: *yang lapar dan haus*.
Karena lapar itu bukan soal pengetahuan.
Lapar adalah dorongan dari dalam.
Lapar adalah kesadaran bahwa aku butuh Tuhan, bukan sekadar tahu tentang Tuhan.
Masalahnya hari ini, banyak orang tidak lapar.
Bukan karena Tuhan tidak tersedia, tapi karena hati sudah terlalu kenyang oleh hal-hal lain.
Kenyang oleh aktivitas.
Kenyang oleh rutinitas rohani.
Kenyang oleh pengetahuan.
Kenyang oleh kesibukan.
Padahal, rasa lapar rohani adalah anugerah.
John G. Lake pernah berkata bahwa kelaparan adalah salah satu kekuatan terbesar yang ia kenal. Bangsa-bangsa bisa dikendalikan ketika lapar. Tetapi saat kelaparan mencapai puncaknya, akan muncul dorongan yang tak bisa dihentikan.
Begitu juga secara rohani.
Orang yang benar-benar lapar akan Tuhan tidak akan pilih-pilih.
Firman sederhana pun bisa mengubahkan hidupnya.
Doa singkat pun bisa menggetarkan hatinya.
Ibadah yang biasa pun bisa menjadi perjumpaan ilahi.
Sebaliknya, orang yang tidak lapar bisa duduk dalam ibadah yang penuh urapan, namun tetap kosong.
Yesus tidak menjanjikan kepuasan bagi orang yang sekadar hadir.
Ia menjanjikannya bagi mereka yang lapar dan haus.
Dan kelaparan rohani itu mencakup segalanya.
Lapar akan kebenaran-Nya.
Lapar akan hadirat-Nya.
Lapar akan kehendak-Nya.
Lapar akan hidup yang benar, bukan sekadar terlihat benar.
Kebenaran Allah bukan hanya untuk roh kita.
Ia ingin memenuhi pikiran kita.
Mengatur emosi kita.
Menuntun keputusan kita.
Menguduskan relasi kita.
Mengalir dalam pekerjaan dan bisnis kita.
Di situlah hidup menjadi utuh.
Kadang kita berpikir, “Mengapa aku tidak mengalami kepuasan rohani?”
Jawabannya sederhana: mungkin karena kita belum cukup lapar.
Tuhan tidak pelit.
Ia tidak menahan diri-Nya.
Yang sering terjadi, kita terlalu kenyang oleh hal lain.
Dan menariknya, Tuhan tidak pernah memaksa kita lapar.
Ia hanya berjanji satu hal:
Jika kamu lapar dan haus akan kebenaran, kamu pasti dipuaskan.
Bukan mungkin.
Bukan semoga.
Tapi pasti.
Jadi pertanyaannya bukan lagi,
“Apakah Tuhan mau mengenyangkan aku?”
Tetapi,
“Seberapa lapar aku akan Dia?”
Mari kita merenungkan dan menjawabnya.
“God will pass over a thousand people just to touch one who is hungry.” – Smith Wigglesworth.
Tuhan bisa melewati seribu orang hanya untuk menjamah satu orang yang lapar akan Dia.- Smith Wigglesworth.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
