Monthly Archives: Dec 2025

Articles

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Robert Liardon, seorang penulis yang dikenal lewat seri God’s Generals, pernah bercerita dengan gaya lugas dan penuh warna tentang pengalamannya bersama Oral Roberts. Ia berkata bahwa Oral Roberts memiliki karunia kesembuhan yang unik—dan hanya bekerja melalui tangan kanannya. Tangan kirinya biasa saja, seperti tangan pada umumnya. Banyak pengkhotbah datang kepadanya, lalu berdebat, mempertanyakan, mencoba mencari-cari rumus bagaimana karunia itu bekerja. Seolah-olah kalau diperas cukup lama, mereka bisa menemukan formula yang bisa direplikasi.

Robert Liardon memilih jalan yang berbeda. “Saya belajar sejak muda,” katanya sambil tertawa, “kalau Anda berada di dekat orang besar, tutup mulut dan ikut saja. Kepala kamu mungkin tidak nangkep, teologi kamu mungkin belum cocok, tapi kalau mereka jalan ke sana, ikut.”

Sadarlah, selalu ada yang mengenal Tuhan lebih baik dari kita. Jangan sok tahu, ikuti saja.. kira-kira demikian.

Dan karena tahu karunia itu mengalir dari tangan kanan Oral Roberts, setiap kali ia berkunjung, Robert akan duduk sedekat mungkin di sisi kanan. Kalau tangan itu mulai bergetar, ia yang kena duluan. “Nenek saya bilang, pukulan pertama itu yang paling dahsyat,” cerita Robert. Praktis, cerdik, dan tidak banyak teori—saya suka sekali gaya seperti itu.

Oral Roberts dan Billy Graham adalah dua figur yang mendefinisikan kekristenan global antara tahun 1950 sampai 2000. Mereka dipakai luar biasa oleh Tuhan tanpa pernah sepenuhnya dimengerti oleh manusia. Dan di sini saya sering tersenyum melihat pola umat Kristen: begitu ada hal supranatural, kita langsung ingin membuat rumusnya. Seolah-olah kalau kita bisa memerasnya sampai kering, kita akan menemukan cara kerja Roh Kudus yang bisa dimasukkan ke dalam “manual book”. Padahal otak kita cuma sebesar cangkir kopi, sementara pikiran Allah seluas samudra Atlantik. Tetap saja kita mencoba memasukkan samudra itu ke dalam cangkir kecil kita.

Guuuuubbrraaaakkk….

Mengapa kuasa kesembuhan Oral Roberts hanya bekerja melalui tangan kanan dan bukan kiri? Jujur saja: saya tidak tahu. Dan kita tidak perlu tahu. Yang jelas, kuasa itu nyata. Orang-orang sembuh. Mujizat terjadi. Dibanding sibuk merumuskan teori yang tak ada habisnya, saya jauh lebih suka sikap Robert Liardon: duduk saja di tempat yang tepat. Kalau Tuhan bergerak, saya mau di posisi yang kena duluan.

Saya sendiri lebih percaya pada buah dan bukti dibanding sekadar janji atau teori.
Saya suka bukti, bukan janji! Itu jargon saya.

Teologi itu penting, tentu saja. Tapi pengalaman pribadi bersama Tuhanlah yang mengubah hidup. Kita bisa hafal banyak ayat, tapi kalau tidak pernah mencicipi hadirat-Nya, semuanya terasa kering. Firman itu untuk dilakukan, bukan cuma diperdebatkan. Kadang kita harus melangkah dulu, mengimani dulu, taat dulu meski belum sepenuhnya paham. Karena terbukti berkali-kali: ketika firman ditaati, apa yang dijanjikan-Nya termanifestasi dalam hidup kita.

Buat apa berputar-putar dalam teori kalau Tuhan menawarkan pengalaman nyata? Roh Kudus hadir untuk menuntun, mengajar, dan menyingkapkan. Bagian kita sederhana: buka hati, lakukan firman, dan melangkah. Nanti Tuhan sendiri yang menunjukkan bahwa Ia setia. Dan bukankah itu yang terpenting?

Menurut saya, iman sejati tidak membutuhkan semua jawaban. Iman berjalan sambil percaya. Seperti Robert Liardon duduk di sisi kanan, siap menerima apa pun yang Tuhan lakukan. Praktis, sederhana, dan efektif. Kadang, justru itu cara paling bijak untuk mengalami Tuhan.

We know the truth, not only by reason, but by the heart.” – Blaise Pascal

“Kita mengenal kebenaran bukan hanya lewat logika, tetapi melalui hati.” – Blaise Pascal

YennyIndra

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGAl
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Benarkah Uang Bisa Membeli Segalanya?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Benarkah Uang Bisa Membeli Segalanya?

“Apa sih yang gak bisa dibeli dengan uang?”

Kalimat itu sering terdengar gagah, penuh percaya diri, bahkan sedikit menantang dunia.

“kalau ada masalah, tinggal “tampar” pakai uang. Pasti beres.”, lanjutnya jumawa.

Saya malah tertawa kecil setiap dengar kalimat itu.
Bukan sinis, tapi karena hidup sudah cukup mengajar saya satu hal: dunia tidak sesederhana itu.

Beberapa waktu lalu, saya dengar cerita tentang seseorang yang hartanya luar biasa.
Aset di mana-mana. Bisnis jalan di beberapa kota. Duit banyak, koneksi luas.
Tapi waktu mau ikut tour bersama Pak Anton Thedy – TX Travel, dia ditolak.

Why?
Bukan karena uangnya kurang.
Bukan karena kuota penuh.
Bukan karena ribet.

Alasannya sederhana:
Karena gak sehat.

Sudah beberapa kali ikut perjalanan, tapi selalu berakhir masuk rumah sakit dan mengganggu rombongan. Jalan sendiri gak happy…. Gak ada teman!

Gubbrrraaaaak!

Di titik itu, uang benar-benar tidak berdaya.
Bisa beli tiket kelas bisnis or first class, tapi tidak bisa beli tubuh yang sehat.
Bisa bayar rumah sakit mahal, tapi tidak bisa membeli kesehatan dan kualitas hidup.

Dari sini saya belajar:
Uang itu kuat, tapi bukan Tuhan.
Dia punya batas.

Bagi banyak orang, kemakmuran diukur dari jumlah di rekening.
Semakin banyak, semakin dianggap sukses.
Semakin tinggi aset, semakin dianggap diberkati.

Tapi menurut Barry Bennett, salah satu guru favorit saya, itu terlalu dangkal.

Orang bisa sangat kaya, tapi:
– jiwanya kosong
– pikirannya penuh kecemasan
– tubuhnya rusak karena stres
– relasinya dingin
– emosinya berantakan
– rohnya kering

Itu bukan kemakmuran.
Itu cuma angka yang besar, tapi hidup yang kecil.

Barry pernah menjelaskan, uang hanyalah perpanjangan dari hati.
Kalau hati tidak diberkati, uang justru memperbesar kekacauan.

Dan di sinilah saya mau menambahkan satu hal yang sangat penting:

Berkat itu bukan pertama-tama uang. Berkat itu Firman Tuhan yang diperkatakan.

Firman itu bukan teori.
Firman itu bukan motivasi kosong.
Firman itu adalah Allah sendiri.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Firman itu roh,
Firman itu hidup,
Firman itu berkuasa,
dan Firman sanggup menciptakan apa yang tidak ada menjadi ada.

Waktu Firman bukan hanya kita baca, tapi kita ucapkan, percayai, dan dihidupi, alam mulai bergerak menyesuaikan dengan kebenaran itu.

Dan waktu hidup kita dipenuhi God’s Favor – perkenanan Tuhan, sesuatu yang indah terjadi:
Bukan kita yang mengejar kebutuhan,
tapi kebutuhan yang mengejar kita.

Bukan karena kita hebat.
Bukan karena uang kita banyak.
Tapi karena kita berjalan dalam rencana-Nya.

Bahkan sebelum kita sadar butuh, Tuhan sudah menyiapkan.
Sebelum kita minta, Dia sudah menyediakan.

Tuhan telah pergi ke masa depan kita untuk mempersiapkan jalan,
dan kebaikan Tuhan mengikuti di belakang kita untuk menyelamatkan kita dari bahaya masa lalu kita.
Dengan tangan kasih-Nya, Tuhan memberkati kita senantiasa”
, nyanyian Raja Daud.

Inilah kemakmuran sejati:
Bukan cuma kaya materi, tapi hidup dalam aliran perkenanan Allah.
Di mana kita tidak berjuang sendirian, tapi berjalan bersama Sang Sumber Segalanya.

Dan orang itu, yang ditolak ikut tour?
Dia bukan miskin.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia beli:
Tubuh yang sehat, damai di dalam, dan hidup yang selaras dengan Firman.

What a loss!

Karena itu, sebelum kita sibuk mengejar uang, keamanan, atau segala hal duniawi, Tuhan sudah memberi satu kunci sederhana:
Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Ini bukan janji kosong, tapi prinsip hidup.

Saat fokus kita lurus kepada Tuhan, saat Firman-Nya jadi arah, bukan sekadar hiasan, hidup kita masuk ke dalam tatanan ilahi. Bukan kita yang kelelahan mengejar segala sesuatu, tetapi segala sesuatu itu akan ditambahkan sesuai waktu dan cara Tuhan. Bukan karena kita hebat, tapi karena kita memilih sumber yang benar.

It’s all about God, not us.

Siap praktik? Yuuuk….

“The greatness of a man’s power is the measure of his surrender.”- AW Tozer.

“Besar kecilnya kuasa seseorang ditentukan oleh besar kecilnya penyerahannya.” – AW Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Ketika Tuhan Bukan Doktrin, Semua Perdebatan Berakhir….

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Tuhan Bukan Doktrin, Semua Perdebatan Berakhir….

Yohanes 10:24–25 selalu mengingatkan saya pada dinamika hubungan manusia dengan Tuhan. Orang-orang Yahudi mengelilingi Yesus, menuntut kepastian. “Kalau Engkau Mesias, bilang terus terang!” Dan Yesus menjawab dengan sederhana, “Aku sudah bilang, tapi kalian tidak percaya. Pekerjaan-pekerjaan-Ku itulah kesaksiannya.”

Ayat ini seperti cermin untuk zaman kita. Banyak orang sibuk mencari rumus tentang doa, lalu berdebat panjang soal Word of Faith. Ada yang pro, ada yang kontra, masing-masing merasa punya kebenaran. Padahal inti persoalannya bukan pada teknik, tetapi pada hubungan. Ketika Tuhan hanya diperlakukan sebagai konsep teologis, orang cenderung memperjuangkan rumus. Tapi ketika Ia dikenal sebagai Pribadi, cara mendekat kepada-Nya menjadi alami.

Word of Faith pada dasarnya adalah meyakini bahwa iman bergerak lewat kata-kata, dan bahwa janji Tuhan dihidupi, bukan hanya disimpan di kepala. Tapi sebagian orang menyalahgunakannya untuk memenuhi ambisi pribadi. Di sisi lain, ada yang menolaknya sama sekali karena takut terlihat seperti “memaksa Tuhan”. Dua ekstrem ini muncul karena Tuhan dianggap objek debat, bukan Pribadi yang mau ditemui dan diikuti.

Kathryn Kuhlman pernah berkata, “I never met the Holy Spirit as a doctrine. I met Him as a person, and He changed my life forever.”
“Saya tidak pernah menemui Roh Kudus sebagai doktrin. Saya bertemu Dia sebagai pribadi, dan Dia mengubah hidup saya selamanya.”

Itu sangat mengena buat saya. Semakin saya menyadari betapa baiknya Tuhan, semakin saya menyerahkan hidup pada tuntunan-Nya, dan semakin ringan hidup saya. Hidup kalau dijalani bersama Tuhan, bukan sekadar teori tentang Tuhan—hasilnya selalu berbeda.

Beberapa hari lalu, Elisa menyarankan papanya membeli baju merk tertentu, seperti yang ia belikan saat di luar negeri. Katanya, merk itu sudah masuk Indonesia. Kami tidak tahu tokonya di mana. Saya hanya berkata, “Tolong ya Tuhan, tunjukkan.”

Kami tiba di mal, masuk dari pintu tertentu, dan langsung melihat tokonya tepat di depan kami. Semua terasa pas. Parkir pas. Pintu masuk pas. Saya tersenyum—Tuhan memang peduli pada hal-hal kecil yang penting buat kita.

Kadang saya meminta secara spesifik. Kadang saya mengajak-Nya berdiskusi sambil minta arahan. Kadang saya menyerahkan kekhawatiran kepada-Nya, sesuai 1 Petrus 5:7. Setiap hari bentuk hubungan itu berbeda-beda. Hidup bersama Tuhan itu hidup, bukan prosedur.

Begitu pula dengan empat anak kami. Cara mereka meminta sesuatu tidak sama. Ada yang langsung. Ada yang bercerita dulu. Ada yang memberi kode. Tapi saya mengerti semuanya. Kalau itu baik dan mereka siap, saya memberikannya. Hubungan yang membuat saya memahami hati mereka, bukan format permintaannya.

Kalau orang tua manusia saja bisa fleksibel, mengapa Tuhan—yang jauh lebih mengasihi—harus dibatasi oleh formula tertentu?

Di bagian inilah banyak orang salah paham tentang Word of Faith, terutama soal berkat dan berkelimpahan. Apakah Tuhan ingin kita hidup berkelimpahan? Tentu. Kita punya Bapa yang baik. Tetapi kelimpahan itu bukan untuk memanjakan ego atau memenuhi ambisi pribadi. Kelimpahan diberikan supaya kita menjadi pengelola yang bijaksana. Diberkati agar bisa menjadi berkat bagi orang lain. Bukan untuk memuaskan keinginan diri, tetapi untuk memperluas kerajaan-Nya melalui hidup yang memuliakan Dia.

Melakukan Word of Faith? Ya. Bahkan kadang sambil sikat gigi di depan cermin. Saya suka mengingatkan diri saya tentang identitas saya di dalam Kristus sesuai Filemon 1:6. Itu bukan ritual semata, tetapi ucapan syukur yang mengalir dari hati yang tahu kepada siapa ia terhubung. Siapa saya di dalam Kristus – In Christ – dengan DNA & identitas yang baru.

Ketika Tuhan bukan lagi doktrin yang harus diperdebatkan, tetapi Pribadi yang kita kenal, semua perdebatan berhenti. Yang tersisa hanya perjalanan bersama Bapa yang baik, yang tahu kebutuhan kita, memahami keinginan kita, dan memampukan kita menjalani hidup yang berarti.

Christianity is not a religion. It is a relationship.” – Billy Graham

“Kekristenan itu bukan agama. Kekristenan adalah hubungan.” – Billy Graham

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

NOISE…..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

NOISE…..

Beberapa hari terakhir, drama tumbler Tuku yang tertinggal di KRL membuat jagat maya ribut besar. Masalahnya sederhana, tapi hebohnya membesar seperti bola salju. Orang berdebat, berspekulasi, emosinya naik—padahal intinya cuma satu barang yang tertinggal. *Ini contoh paling segar tentang bagaimana noise bekerja: hal kecil dibesarkan sampai menutup hal besar yang sebenarnya jauh lebih penting.*

Noise itu membuat kita kesulitan mendengar suara Tuhan. Sama seperti sinyal HP yang putus-putus, pesan yang masuk jadi kabur. Kita salah baca situasi, salah mengerti maksud, akhirnya salah ambil keputusan. Noise bukan sekadar ribut-ribut; dia melelahkan pikiran dan menguras energi. Kita burn out, tapi tidak sadar apa penyebabnya.

Yang lebih ironis, ketika sudah jenuh dan ingin istirahat, apa yang kita lakukan? Buka HP, scroll media sosial. Kita pikir itu “hiburan,” padahal yang masuk justru informasi baru yang belum tentu benar, penuh opini, penuh drama. Yang seharusnya jadi waktu tenang, malah menambah butek di kepala. Noise double…. hahaha….
Aneh tapi nyata!

Kita juga tidak terbiasa duduk diam. Tidak terbiasa berhenti berpikir. Tidak terbiasa menenangkan diri. Padahal Tuhan berbicara lewat ketenangan, bukan keributan. Suara-Nya lembut. Kalau hati penuh suara lain, bagaimana kita bisa menangkap suara-Nya?

Tujuan noise sangat penting untuk dipahami: mendistraksi kita dari isu yang sebenarnya. Noise dibuat semakin keras supaya kita begitu kewalahan sampai akhirnya lupa apa inti persoalannya. Sampai muncul pertanyaan polos, “Eh… sebenarnya kita ribut soal apa sih tadi?” Itu tujuan utamanya: membuat kita kehilangan fokus.

Guuubbrrrraaak…..

Noise bisa mengacaukan semua sektor hidup. Tapi garis besarnya tetap sama: distraksi dari hal yang penting, yang nyata, yang substansial. Noise membuat kita sibuk dengan hal-hal kecil sampai hal-hal besar—yang justru menentukan hidup—tidak lagi kita lihat. Kita terjebak pada yang remeh. Fokus kita tercecer.

Dalam hubungan keluarga saja, ini terasa sekali. Berantem dengan pasangan, mulainya karena hal kecil—ada komentar, ada nada suara, ada salah paham. Tetapi begitu noise ikut bermain, emosi meninggi, perdebatan melebar, dan ujung-ujungnya kita lupa akar masalah yang sebenarnya. “Lho, tadi kenapa kita berantem ya?”

Noise mengalihkan perhatian kita dari inti, sampai kita kehilangan arah.

Tuhan berkata, “Yang hatinya teguh, Kau jagai dengan damai sejahtera.”.
Hati teguh itu hati yang mau berhenti dari noise, mau diam sebentar, mau mendengar. Dalam keheningan itulah Tuhan menjaga kita dengan damai yang tidak bisa diberikan dunia.

Saya semakin sadar: bukan Tuhan yang sulit didengar. Kitalah yang terlalu banyak memberi tempat bagi suara lain. Begitu kita memilih tenang, menutup pintu bagi keributan, suara Tuhan langsung terasa lebih jelas. Bukan karena Dia berteriak lebih keras, tetapi karena kita mengurangi gangguan.

Kasus tumbler itu mungkin hanya drama kecil. Tapi pelajarannya dalam: noise bisa membuat hidup kita ribut tanpa arah. Kita bisa lupa apa yang penting. Lupa apa inti persoalan. Lupa mendengar Tuhan.

Makanya hari ini, mari pilih keheningan. Dunia boleh ribut, tapi hati kita tetap bisa damai. Di situlah suara Tuhan terdengar paling jelas. Dalam tinggal TENANG dan percaya, disitulah terletak kekuatanmu.

Mau? Yuk praktik….

“In the midst of movement and chaos, keep stillness inside of you.” – Deepak Chopra

“Di tengah gerak dan kekacauan, peliharalah keheningan di dalam dirimu.” – Deepak Chopra

YennyIndra
www.yennyyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.

Pernahkah kita merasa sulit memberi karena takut kekurangan? Pikiran logis manusia selalu berkata: kalau memberi, berarti berkurang. Tetapi Firman Tuhan mengajarkan hal yang berbeda. Memberi bukan membuat kita kekurangan, tetapi justru membuka jalan bagi Tuhan untuk mengalirkan berkat-Nya.

Paulus menulis, “Barangsiapa menabur sedikit, akan menuai sedikit juga. Barangsiapa menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6). Ini bukan peribahasa rohani. Ini hukum Tuhan—setegas hukum menabur dan menuai dalam pertanian.

Seorang petani tidak pernah berharap panen tanpa menabur. Ia rela menanam sebagian hasilnya ke tanah, karena tahu benih itu tidak hilang. Benih itu hanya “ditanam”—untuk kembali dalam bentuk panen yang berlipat. Begitu pula dengan memberi. Uang yang kita taburkan di tangan Tuhan bukan lenyap; itu sedang ditanam dalam ladang rohani, menghasilkan panen—baik di dunia ini maupun dalam kekekalan.

Masalahnya, banyak orang ingin menuai besar tetapi tidak pernah menabur. Mereka ingin diberkati tanpa mau memberi. Itu seperti petani yang berharap panen padi tanpa menanam satu butir pun. Prinsip Tuhan selalu dimulai dari tindakan iman: kita memberi dulu, baru menerima. Tuhan tidak bisa memberkati sesuatu yang tidak kita lepaskan.

Namun sangat penting mengerti: Tuhan tidak melihat nominal, tetapi hati.

Andrew Wommack menegaskan, seorang miliuner bisa memberi satu juta dolar dan tetap pelit, sementara orang sederhana yang memberi seribu rupiah bisa dianggap murah hati. Karena Tuhan menilai motivasi, bukan angka.

Ada orang memberi hanya karena ingin diberkati. Mereka menabur bukan karena kasih, tetapi karena ingin menuai. Memberi dengan tujuan mengharapkan imbalan seratus kali lipat bukanlah iman yang murni, melainkan bentuk rohani dari keserakahan. Inilah akar teologi kemakmuran—mengutamakan berkat, bukan Pemberi Berkat.

Kita tidak memberi untuk memanipulasi Tuhan. Kita memberi sebagai respons kasih dan ucapan syukur. Tuhan tidak bisa ditipu dengan “strategi rohani.” Ia melihat kedalaman hati kita.

Seperti anak yang berkata “Aku cinta Mama,” padahal niatnya minta hadiah. Kata-katanya benar, tetapi motivasinya salah. Tuhan ingin kita memberi karena cinta kepada-Nya, bukan karena kalkulasi.

Karena itu Paulus mengingatkan, “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan. Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7).
Kata “sukacita” berasal dari hilaros—akar kata hilarious. Tuhan menyukai pemberian yang lahir dari kegembiraan yang tulus.

Nancy Dufresne pernah berkata, “Memberi bukan tindakan emosi, melainkan keputusan iman yang dipimpin Roh Kudus.”

Berkat Tuhan selalu terdiri dari dua bagian: benih dan roti.
Benih untuk ditabur, roti untuk dimakan.
Artinya, tidak semua yang kita terima harus diberikan. Ada bagian untuk kebutuhan, ada bagian untuk kembali ditaburkan. Hikmat terletak pada membedakan mana benih, mana roti.

Karena itu, bijaksana kalau kita mulai melatih diri menyisihkan bagian untuk memberi:

– untuk gereja tempat kita bertumbuh,
– untuk menolong orang yang membutuhkan,
– untuk misi dan pelayanan Injil,
– untuk keluarga dan kebutuhan pribadi.

Memberi bukan reaksi sesaat karena provokasi, tetapi keputusan yang lahir dari doa, persekutuan dengan Tuhan, dan pimpinan Roh Kudus.

Saat memberi lahir dari kasih, selalu ada damai sejahtera. Tidak ada ketakutan akan kekurangan. Sebab kita tahu: tangan yang memberi selalu dijaga Tuhan. Andrew berkata, “Kalau Tuhan bisa mengalirkan uang lewat kita, Ia akan mengirimkannya kepada kita.”

Tuhan mencari saluran, bukan waduk.
Jika setiap kali diberkati kita menyalurkannya kembali untuk pekerjaan Tuhan dan menolong orang lain, Ia akan mempercayakan lebih banyak kepada kita—karena alirannya tetap bersih dan tidak mandek di tangan kita.

Memberi yang cerdas bukan hanya memberi “perbuatan baik,” tetapi memberi sesuatu yang berdampak kekal. Itu sebabnya saya suka membagikan buku-buku rohani yang membangun. Satu buku bisa mengubah kualitas hidup seseorang. Dan perubahan itu masuk kategori “buah kekekalan”—yang tidak bisa hilang.

Hukum memberi dan menerima dalam kerajaan Allah sangat berbeda dari cara dunia. Dunia berkata, kalau memberi berarti kehilangan. Tetapi Tuhan berkata, memberi dengan hati benar justru membuat kita berkelimpahan.

“Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepadamu, supaya kamu senantiasa memiliki segala kecukupan dalam segala hal dan berkelimpahan dalam setiap pekerjaan baik.” (2 Korintus 9:8)

Guru saya, Greg Mohr, selalu berkata: Tuhan ingin kita berkelimpahan—artinya cukup untuk diri sendiri dan ada extra untuk memberkati orang lain. Bukan supaya kita hidup mewah, tetapi supaya kita mampu memberi lebih banyak. Kita diberkati untuk menjadi berkat.

Ketika kebutuhan kita tercukupi dan kita tetap murah hati, banyak orang akan memuji Tuhan. Itulah tujuan berkat: memuliakan Allah. Tuhan tidak menilai berapa banyak yang kita beri, tetapi seberapa banyak kasih yang terkandung di dalamnya.

Dan ketika kasih menjadi alasan kita memberi, berkat akan datang bukan karena kita mengejarnya—tetapi karena Tuhan melihat bahwa kita bisa dipercaya menjadi saluran berkat-Nya.

“As God is exalted to the right place in our lives, a thousand problems are solved all at once- including why and how we give.” – A.W. Tozer.

“Ketika Allah ditinggikan pada tempat yang benar dalam hidup kita, seribu masalah terselesaikan sekaligus-termasuk mengapa dan bagaimana kita memberi.” – A.W. Tozer.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3