Benarkah Uang Bisa Membeli Segalanya?
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Benarkah Uang Bisa Membeli Segalanya?
“Apa sih yang gak bisa dibeli dengan uang?”
Kalimat itu sering terdengar gagah, penuh percaya diri, bahkan sedikit menantang dunia.
“kalau ada masalah, tinggal “tampar” pakai uang. Pasti beres.”, lanjutnya jumawa.
Saya malah tertawa kecil setiap dengar kalimat itu.
Bukan sinis, tapi karena hidup sudah cukup mengajar saya satu hal: dunia tidak sesederhana itu.
Beberapa waktu lalu, saya dengar cerita tentang seseorang yang hartanya luar biasa.
Aset di mana-mana. Bisnis jalan di beberapa kota. Duit banyak, koneksi luas.
Tapi waktu mau ikut tour bersama Pak Anton Thedy – TX Travel, dia ditolak.
Why?
Bukan karena uangnya kurang.
Bukan karena kuota penuh.
Bukan karena ribet.
Alasannya sederhana:
Karena gak sehat.
Sudah beberapa kali ikut perjalanan, tapi selalu berakhir masuk rumah sakit dan mengganggu rombongan. Jalan sendiri gak happy…. Gak ada teman!
Gubbrrraaaaak!
Di titik itu, uang benar-benar tidak berdaya.
Bisa beli tiket kelas bisnis or first class, tapi tidak bisa beli tubuh yang sehat.
Bisa bayar rumah sakit mahal, tapi tidak bisa membeli kesehatan dan kualitas hidup.
Dari sini saya belajar:
Uang itu kuat, tapi bukan Tuhan.
Dia punya batas.
Bagi banyak orang, kemakmuran diukur dari jumlah di rekening.
Semakin banyak, semakin dianggap sukses.
Semakin tinggi aset, semakin dianggap diberkati.
Tapi menurut Barry Bennett, salah satu guru favorit saya, itu terlalu dangkal.
Orang bisa sangat kaya, tapi:
– jiwanya kosong
– pikirannya penuh kecemasan
– tubuhnya rusak karena stres
– relasinya dingin
– emosinya berantakan
– rohnya kering
Itu bukan kemakmuran.
Itu cuma angka yang besar, tapi hidup yang kecil.
Barry pernah menjelaskan, uang hanyalah perpanjangan dari hati.
Kalau hati tidak diberkati, uang justru memperbesar kekacauan.
Dan di sinilah saya mau menambahkan satu hal yang sangat penting:
Berkat itu bukan pertama-tama uang. Berkat itu Firman Tuhan yang diperkatakan.
Firman itu bukan teori.
Firman itu bukan motivasi kosong.
Firman itu adalah Allah sendiri.
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Firman itu roh,
Firman itu hidup,
Firman itu berkuasa,
dan Firman sanggup menciptakan apa yang tidak ada menjadi ada.
Waktu Firman bukan hanya kita baca, tapi kita ucapkan, percayai, dan dihidupi, alam mulai bergerak menyesuaikan dengan kebenaran itu.
Dan waktu hidup kita dipenuhi God’s Favor – perkenanan Tuhan, sesuatu yang indah terjadi:
Bukan kita yang mengejar kebutuhan,
tapi kebutuhan yang mengejar kita.
Bukan karena kita hebat.
Bukan karena uang kita banyak.
Tapi karena kita berjalan dalam rencana-Nya.
Bahkan sebelum kita sadar butuh, Tuhan sudah menyiapkan.
Sebelum kita minta, Dia sudah menyediakan.
Tuhan telah pergi ke masa depan kita untuk mempersiapkan jalan,
dan kebaikan Tuhan mengikuti di belakang kita untuk menyelamatkan kita dari bahaya masa lalu kita.
Dengan tangan kasih-Nya, Tuhan memberkati kita senantiasa”, nyanyian Raja Daud.
Inilah kemakmuran sejati:
Bukan cuma kaya materi, tapi hidup dalam aliran perkenanan Allah.
Di mana kita tidak berjuang sendirian, tapi berjalan bersama Sang Sumber Segalanya.
Dan orang itu, yang ditolak ikut tour?
Dia bukan miskin.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia beli:
Tubuh yang sehat, damai di dalam, dan hidup yang selaras dengan Firman.
What a loss!
Karena itu, sebelum kita sibuk mengejar uang, keamanan, atau segala hal duniawi, Tuhan sudah memberi satu kunci sederhana:
Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Ini bukan janji kosong, tapi prinsip hidup.
Saat fokus kita lurus kepada Tuhan, saat Firman-Nya jadi arah, bukan sekadar hiasan, hidup kita masuk ke dalam tatanan ilahi. Bukan kita yang kelelahan mengejar segala sesuatu, tetapi segala sesuatu itu akan ditambahkan sesuai waktu dan cara Tuhan. Bukan karena kita hebat, tapi karena kita memilih sumber yang benar.
It’s all about God, not us.
Siap praktik? Yuuuk….
“The greatness of a man’s power is the measure of his surrender.”- AW Tozer.
“Besar kecilnya kuasa seseorang ditentukan oleh besar kecilnya penyerahannya.” – AW Tozer.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

