Articles

Slender West Lake & Baisui Palace.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Slender West Lake & Baisui Palace.

Dari Nanjing, kami melanjutkan perjalanan menuju Yang Chow dengan bus. Begitu mendengar nama “Yang Chow”, spontan yang terlintas di kepala adalah Nasi Goreng! Yess… siapa sih yang tidak kenal Nasi Goreng Yang Chow? Tapi sebelum sampai ke bagian itu, pagi kami diisi dengan kunjungan ke tempat yang sangat cantik — Slender West Lake.

Disebut Slender karena bentuknya panjang dan ramping seperti pita air yang berliku lembut di antara taman bunga, jembatan, dan pagoda-pagoda kuno. Di seluruh Tiongkok, ada 36 danau bernama West Lake, Slender West Lake inilah yang paling langsing. Tidak seluas West Lake di Hangzhou, tetapi pesonanya terletak pada kelembutan lanskapnya—seperti lukisan klasik yang hidup.

Udara pagi terasa sejuk dan segar. Di tepi danau, pohon-pohon yangliu menjuntai lembut, rantingnya seperti tirai hijau yang bergoyang mengikuti irama angin. Air danau jernih memantulkan langit biru, pepohonan, serta bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang jalan setapak. Warna ungu, merah muda, putih, dan kuning saling berpadu, seolah taman itu ingin menampilkan seluruh palet warna yang dimilikinya. Para turis berjalan pelan, menikmati keindahan ciptaan Tuhan.

Sungguh tempat yang menenangkan hati. Rasanya ingin duduk lebih lama di sana, menyeruput teh hangat sambil memandangi air yang berkilau diterpa sinar matahari pagi. Suasana damai itu membuat hati terasa ringan — seperti diingatkan kembali bahwa di tengah kesibukan hidup, kita tetap butuh waktu untuk diam, menikmati keindahan, dan bersyukur atas setiap napas yang diberikan Tuhan.

Menjelang siang, kami dibawa ke restoran lokal untuk menikmati makan siang khas Yang Chow. Tak tanggung-tanggung, 18 macam hidangan disajikan berturut-turut! Satu per satu datang: dari sup, daging, sayuran, hingga seafood. Tapi yang paling ditunggu tentu saja menu ke-17 — Nasi Goreng Yang Chow. Setelah itu, buah segar menutup jamuan sebagai hidangan ke-18.

Namun ternyata, rasanya agak di luar dugaan. Tidak se-wow yang kami bayangkan. Entah memang rasanya yang kurang pas di lidah kami, atau mungkin karena perut sudah terlalu kenyang setelah 16 menu sebelumnya. Kami tidak tahu pasti, tapi tetap tertawa bersama sambil menatap piring nasi goreng yang hanya disantap sedikit. Mungkin bukan nasi gorengnya yang salah… tapi perut kami yang menyerah duluan!

Sore harinya, kami kembali ke kapal Century Legend, satu-satunya river cruise yang berlayar dari Shanghai menuju Chongqing. Kapal ini termasuk mewah, dengan pelayanan ramah dan fasilitas lengkap. Semua minuman — bahkan wine dan alkohol — gratis, padahal biasanya di international cruise berbayar. Rasanya benar-benar istimewa.

Kami sempat berpikir tak perlu makan malam, masih kenyang setelah menikmati 18 menu tadi.
Ah, ke ruang dinner sekedar icip-icip saja, pikir saya.

Sang chef tersenyum ramah dan mengundang kami mencicipi Nasi Goreng ala Kaisar Nanjing. Kali ini sungguh luar biasa! Nasi gorengnya dicampur ketan hitam dan di atasnya ditaburi telur kepiting oranye yang harum menggugah selera.
Alamak… nikmatnya luar biasa! Semua langsung semangat makan lagi. Di meja tersaji berbagai snack, dessert, bebek rebus kebanggaan sang chef.

Teringat saat hari pertama di kapal, begitu memikat dengan steak yang lembutnya benar-benar meleleh di mulut plus kepiting berbulu yang membuat teman-teman seolah ‘kalap’. Bahkan Bu Rita makan 9 kepiting…. wkwkwk…
Dan menu selalu ganti, tidak ada yang diulang!

Hari ini pun di kapal berakhir sempurna — dari Slender West Lake yang memikat, Nasi Goreng Yang Chow yang tak sesuai ekspektasi, hingga Nasi Goreng Kaisar yang lezatnya tak terlupakan.

Keesokan harinya, kapal berlabuh di Chizhou, kota yang dikenal dengan julukan Kota 99 Gunung dan 99 Kelokan. Kami berkunjung ke Baisui Palace, sebuah vihara tua yang berdiri anggun di lereng gunung Ciu Hua San. Hujan turun lembut, dan kabut putih menyelimuti pegunungan — seolah kami sedang melangkah di negeri awan.

Yang paling menarik adalah kisah tentang pendeta asal Korea yang mengabdikan hidupnya di tempat ini. Ia sesungguhnya seorang calon raja di negerinya. Namun hidupnya berubah ketika ibunya dihukum secara tidak adil. Rasa kecewa dan kepahitan membuatnya menolak takhta, memilih jalan pertapaan, dan mengabdikan hidupnya di Baisui Palace hingga usia 126 tahun. Karena itulah vihara ini dikenal sebagai tempat yang melambangkan umur panjang.

Tubuh sang biksu dibalut emas dan disimpan dalam kotak kaca — simbol penghormatan atas kesetiaan dan pengabdiannya. Namun di dalam vihara, pengunjung tidak diizinkan mengambil foto.
Btw, lunch kami vegetarian food. Enak lho!
Terima kasih Tuhan untuk kesempatan berlibur dan melihat sisi dunia yang lain, bersama-Mu….

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.” – Marcel Proust

“Perjalanan sejati bukanlah tentang mencari pemandangan baru, tetapi tentang melihat dengan mata yang baru.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Mengenal Dia (Knowing God)
Tuhan Yang Membereskan Masalah Kita! Wow….
Cantik & Pengetahuan… Apa Hubungannya?