Pahlawan yang Terlihat Bodoh, tapi Dipakai Tuhan dengan Cara yang Jenius
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Pahlawan yang Terlihat Bodoh, tapi Dipakai Tuhan dengan Cara yang Jenius
Tidak semua pahlawan berotot dan berseragam gagah. Kadang, pahlawan sejati tampil dengan cara yang membuat orang salah paham — bahkan tampak bodoh.
Itulah kisah Douglas Hegdahl, pelaut muda berusia dua puluh tahun yang tanpa sengaja jatuh ke laut saat kapal perangnya berlayar di Laut Cina Selatan. Arus membawanya ke pantai Vietnam, dan di sanalah ia ditangkap serta dijadikan tawanan perang.
Ketika para penjaga menginterogasinya, Doug terlihat kebingungan. Ia tidak tahu harus menjawab apa, dan tak punya kisah heroik untuk diceritakan. Mereka pun menertawakannya dan menjulukinya “The Incredibly Stupid One.”
Lucunya, Doug tidak membantah. Ia malah membiarkan mereka percaya bahwa dirinya memang bodoh.
Bagi manusia, itu mungkin tampak seperti menyerah. Tapi bagi Tuhan, bisa jadi itu strategi.
Tuhan sering bekerja melalui kelemahan — agar kuasa-Nya nyata, bukan karena kehebatan manusia, tetapi karena kebijaksanaan yang melampaui akal.
Doug berpura-pura kikuk dan tidak berbahaya. Para penjaga merasa kasihan sekaligus geli melihatnya. Mereka memberinya tugas-tugas ringan di luar sel, sementara tawanan lain disiksa dan diisolasi.
Tapi di balik wajah polosnya, Doug menyusun rencana besar. Ia menaburkan pasir ke tangki bahan bakar truk, melonggarkan baut mesin, dan melakukan sabotase kecil tanpa menimbulkan kecurigaan.
Namun tugas terpentingnya bukan di luar sel, melainkan di hati yang tetap hidup di balik jeruji.
Doug tahu banyak keluarga di Amerika tidak tahu apakah orang yang mereka kasihi masih hidup. Musuh menyembunyikan nama-nama tawanan, dan tak seorang pun punya daftar resmi. Maka di tengah penjara yang suram itu, Doug membuat keputusan sederhana tapi heroik:
Ia akan mengingat setiap nama tawanan yang ditemuinya.
Satu nama, satu nyawa, satu keluarga yang berhak tahu kebenaran.
Tidak ada pena, tidak ada kertas. Hanya ingatan — dan lagu anak-anak yang ia ubah menjadi alat penyelamat.
Ia memilih lagu “Old MacDonald Had a Farm” — lagu yang polos, sederhana, tapi punya ritme yang mudah diingat.
Setiap nama dan tanggal penangkapan ia nyanyikan dalam hati mengikuti irama lagu itu.
Hari demi hari, ia menambah satu nama baru. Kadang ia mengulanginya saat berjalan, kadang saat menyapu halaman, atau saat pura-pura linglung di depan penjaga.
Sementara musuh menertawakan kebodohannya, Doug sedang menulis sejarah di dalam pikirannya.
Ketika akhirnya dibebaskan tahun 1969, ia membawa keluar 256 nama tawanan — lengkap dengan pangkat, tanggal penangkapan, dan kondisi mereka. Ia mengucapkannya satu per satu dengan tepat, tanpa catatan, tanpa kesalahan.
Ratusan keluarga menangis haru mendengar kabar bahwa orang yang mereka cintai masih hidup.
Dan semua itu terjadi karena satu anak muda memilih untuk tidak membalas ejekan, tapi menggunakan akal sehat dan hati yang tenang.
Kisah Doug mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak berisik.
Kadang Tuhan memakai strategi yang dunia sebut “bodoh” untuk mempermalukan kebijaksanaan manusia.
Doug membiarkan dirinya diremehkan, tapi justru dari posisi terendah itulah Tuhan bisa memakainya untuk menyelamatkan banyak jiwa.
Bukankah Yesus juga menunjukkan hal yang sama?
Ia tidak melawan dengan pedang, tapi dengan kasih.
Ia menang bukan dengan kekuatan dunia, tapi dengan pengorbanan.
Doug Hegdahl menjadi contoh hidup bahwa ketulusan dan kebijaksanaan bisa berjalan beriringan.
Ia cerdik seperti ular, tapi tetap tulus seperti merpati. Ia menggunakan kelemahannya sebagai tameng, dan kasihnya sebagai alasan untuk bertahan.
Kadang hidup menuntut kita melakukan hal yang sama — tidak membuktikan siapa kita dengan suara keras, tapi dengan buah dari tindakan kita.
Karena ketika hati kita murni dan tujuan kita benar, Tuhan bisa memakai bahkan “orang yang dianggap bodoh” untuk membawa terang di tempat paling gelap.
Dan di sanalah letak keajaiban iman:
bahwa ketika dunia menertawakan, Tuhan sedang menyiapkan kemenangan yang tak seorang pun duga.
“When a train goes through a tunnel and it gets dark, you don’t throw away the ticket and jump off. You sit still and trust the engineer.” – Corrie ten Boom.
“Ketika kereta masuk terowongan dan menjadi gelap, kita tidak membuang tiket lalu melompat keluar. Kita diam dan percaya pada masinisnya.” – Corrie ten Boom.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama








