Seni Debat Socrates: Menang Tanpa Harus Marah…
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Seni Debat Socrates: Menang Tanpa Harus Marah…
Di sebuah sore yang agak gerah, aku duduk di sudut kedai kopi kecil sambil menyeruput latte favoritku. Di meja sebelah, dua anak muda sedang berdebat. Topiknya entah apa, tapi volume suara yang meninggi dengan nada ketus, percakapan mereka cukup menyita perhatian.
Sampai akhirnya salah satu dari mereka berdiri dan pergi begitu saja. Sisa percakapan yang tertinggal hanya suara hati yang menggumam lirih, “Kenapa debat harus jadi pertengkaran, ya?”
Di zaman serba cepat ini, diskusi sering jadi ajang unjuk kekuatan, bukan pertukaran pikiran. Kita lebih sibuk menyiapkan bantahan daripada mendengarkan. Padahal, ada cara yang lebih bijak. Cara yang pernah dipraktikkan oleh seorang filsuf Yunani kuno bernama Socrates.
Socrates tidak berteriak. Ia bertanya.
Ia tidak menyerang. Ia menggali.
Ia tidak memaksakan. Ia mengundang orang berpikir.
Dikisahkan bahwa Socrates lebih suka duduk di pasar, berbincang dengan orang asing, menanyakan hal-hal sederhana seperti: Apa itu keadilan? Apa makna keberanian? Apa arti hidup yang baik?
Tapi justru dari pertanyaan-pertanyaan itu, ia menyingkap kebijaksanaan.
Aku teringat suatu nasihat lama yang mengatakan bahwa “kata-kata yang lembut dapat mematahkan tulang”. Bukan karena kerasnya suara, tapi karena tepatnya hati. Ada kekuatan dalam ketenangan, dalam sikap tidak reaktif, dalam mendengar tanpa buru-buru menyela.
Socrates percaya, ketika kita menghadapi pendapat berbeda, kita tidak sedang berhadapan dengan musuh. Kita sedang duduk bersama sesama pencari kebenaran.
Kita bukan hakim. Kita hanya penanya yang tulus.
Dalam salah satu perdebatan, Socrates tidak mengatakan, “Kamu salah!”
Ia malah bertanya, “Apakah menurutmu pandangan itu berlaku dalam semua situasi? Jika tidak, mungkinkah ada hal yang terlewat?”
Pertanyaannya tidak menjatuhkan, tapi menggugah. Dan yang paling penting, ia tetap tenang.
Sikap itu mengajarkan pada kita sesuatu: tidak semua argumen harus dimenangkan hari ini. Kadang, cukup menanam benih dalam pikiran seseorang. Besok, minggu depan, atau bahkan tahun depan, benih itu bisa bertumbuh.
Dan siapa tahu, ketika benih itu tumbuh, ia akan ingat bahwa kita yang menanamnya—bukan dengan marah, tapi dengan hormat.
Serupa dengan saat kita membagikan benih kebenaran, tidak harus tumbuh sekarang. Yang penting, tabur, lalu sirami dengan kasih, pemahaman, serta keteladanan. Biarkan dia melihat demonstrasi kebaikan-kebaikan Tuhan melalui kehidupan kita.
Saya percaya, suara hati yang lembut sering kali lebih dekat pada kebijaksanaan Tuhan daripada teriakan yang dipenuhi ego. Ketika kita mendebat dengan damai, kita sebenarnya sedang menyerahkan ego dan memberi ruang bagi terang Tuhan untuk bekerja—dalam diri kita, maupun dalam lawan diskusi kita.
Sebab yang sejati tidak perlu dipaksakan.
Yang benar akan berdiri sendiri, meski pelan-pelan. Dan kebenaran yang ditemukan dengan sadar jauh lebih kuat daripada yang dipaksakan dengan keras.
Ada waktu untuk berbicara, dan ada waktu untuk diam. Tetapi dalam semua itu, jagalah hati. Jangan sampai perdebatan yang tujuannya mencari terang malah meredupkan cahaya dalam diri kita.
Hari ini, ketika kita tergoda untuk membalas komentar tajam, cobalah berhenti sejenak. Tarik napas. Tanya dalam hati: Apakah ini tentang mencari kebenaran, atau hanya mempertahankan harga diri?
Jika kita memilih untuk tenang, bukan berarti kita lemah. Kita sedang mempercayai bahwa Tuhan bisa bekerja lebih baik lewat kedewasaan kita, daripada lewat amarah kita.
Dan kalaupun lawan tetap keras kepala, tak mengapa.
Bukan tugas kita untuk mengubah semua orang. Tapi kita bisa menjadi contoh kecil, bahwa perbedaan pendapat tidak harus berarti permusuhan.
Socrates tidak pernah menulis buku. Tapi warisan hidupnya menjadi pengingat: kebenaran sejati tidak perlu berteriak. Ia hanya perlu ruang untuk didengar.
Jadi mari belajar, bukan untuk selalu menang. Tapi untuk tetap waras, tetap lembut, dan tetap jadi terang—bahkan di tengah diskusi paling panas sekalipun.
Raise your words, not your voice. It is rain that grows flowers, not thunder.”- Jalaluddin Rumi.
“Tinggikanlah kata-katamu, bukan suaramu. Hujanlah yang menumbuhkan bunga, bukan guntur.” – Jalaluddin Rumi.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

