Monthly Archives: Oct 2025

Articles

Pelayanan Itu Panggilan, Bukan Sekadar Pilihan

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Pelayanan Itu Panggilan, Bukan Sekadar Pilihan

Banyak orang berpikir pelayanan adalah pilihan karier. Seperti memilih profesi lain, selama punya hati yang baik dan motivasi tulus, ya sah-sah saja melayani. Tetapi kebenarannya, pelayanan bukanlah profesi, melainkan panggilan. Bukan sekadar soal niat baik, melainkan mandat ilahi yang diberikan langsung oleh Tuhan.

Paulus tidak pernah mencalonkan diri sebagai rasul. Ia tidak ikut “program pelatihan pelayanan” lalu lulus ujian jadi rasul. Ia dipanggil secara langsung dan supranatural oleh Tuhan. Begitu Allah memanggil, saat itu juga dia menjadi rasul. Bukan nanti, bukan sambil belajar dulu. Panggilan Tuhan bukan trial and error. Begitu Tuhan tetapkan, selesai.

Sama seperti Sostenes, mantan kepala rumah ibadat orang Yahudi di Korintus. Dulu ia menentang Paulus, tapi kemudian bertobat dan justru menjadi rekan sepelayanan Paulus. Tidak ada sekolah teologi mana pun yang bisa mengubah hati seperti itu. Itu murni karya Roh Kudus melalui panggilan Tuhan.

Di dunia, seseorang bisa jadi pemimpin lewat pencapaian atau pemilihan.
Tapi di Kerajaan Allah, seorang pemimpin rohani tidak boleh menetapkan dirinya sendiri. Hanya Tuhan yang berhak memanggil dan menetapkan. Mengapa? Karena hanya panggilan Tuhan yang disertai pengurapan supranatural.
Dan hanya pengurapan itu yang mampu memerdekakan orang dari belenggu dosa, ketakutan, dan kepahitan hidup.

Sering terdengar ungkapan, “Saya sedang belajar jadi pendeta.” Secara Alkitabiah, ini rancu. Kita memang bisa belajar komunikasi, leadership, atau manajemen jemaat supaya pelayanan lebih efektif.
Tapi menjadi hamba Tuhan bukanlah hasil belajar. Itu buah panggilan. Kita bisa menangkap panggilan Tuhan dan meresponsnya, tetapi tidak bisa “menciptakan” panggilan itu lewat ambisi pribadi.

Sayangnya, ada orang-orang dengan niat tulus masuk pelayanan padahal tidak pernah menerima panggilan dari Tuhan. Mereka ingin menolong, ingin mengubah hidup orang lain, ingin jadi terang. Semuanya mulia. Tetapi niat baik saja tidak cukup. Jika tidak dipanggil, pelayanan akan terasa berat, kering, dan penuh frustrasi.

Melayani tanpa panggilan ibarat mencoba menyalakan api tanpa bahan bakar. Mungkin menyala sebentar, tetapi cepat padam. Sebaliknya, ketika seseorang sungguh dipanggil Tuhan, di tengah tekanan, tantangan, bahkan pengkhianatan, ia tetap bertahan. Bukan karena kuatnya pribadi, tetapi karena pengurapan Tuhan yang menopangnya.

Panggilan bukan soal gelar. Banyak orang punya titel rohani, tetapi tidak membawa kuasa. Ada juga orang sederhana, tidak terkenal, tapi ketika bicara, kuasa Tuhan mengalir dan menyentuh hati. Itu bukan karena mereka hebat, melainkan karena mereka benar-benar dipanggil.

Ketika seseorang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, saat ia berbicara, mengajar, atau bersaksi, kuasa Tuhan akan mengalir. Kristus memang sudah tinggal dalam roh setiap orang percaya, tetapi seberapa besar kuasa itu bekerja tergantung seberapa intim kita dengan-Nya dan seberapa besar kita memberi ruang bagi Tuhan untuk berkarya melalui hidup kita. Tuhan memberi manusia kehendak bebas, dan Dia menghargainya.

Jadi, pelayanan itu bukan profesi yang bisa dipelajari lalu dipromosikan. Itu urusan panggilan—dan hanya bisa ditangkap lewat hubungan pribadi dengan Tuhan. Kalau Tuhan yang memanggil, Dia juga yang melengkapi, mengurapi, dan menyertai. Kalau bukan Tuhan yang memanggil, sehebat apa pun, hasilnya hanya akan melelahkan dan merusak.

Mari kita doakan dan dukung mereka yang sungguh-sungguh dipanggil Tuhan dalam pelayanan. Dan bagi kita yang sedang mencari panggilan hidup, jangan buru-buru loncat ke mimbar. Duduklah lebih dulu di kaki Tuhan. Dengarkan suara-Nya. Kalau Dia memanggil, tidak ada pintu yang tertutup. Tapi kalau Dia belum memanggil, lebih baik setia dulu di tempat kita sekarang. Kesetiaan di perkara kecil seringkali adalah ujian sebelum panggilan besar datang.

Pelayanan itu panggilan. Dan jika benar dari Tuhan, akan terasa seperti napas—mengalir alami, tidak dibuat-buat, dan membawa dampak nyata.

God does not call the qualified, He qualifies the called.” – Oswald Chambers.

“Tuhan tidak memanggil orang yang sudah layak, tetapi Dia melayakkan orang yang Dia panggil.” – Oswald Chambers.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Lebih Kuat dari Pedang: Seni Menang tanpa Perang”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Lebih Kuat dari Pedang: Seni Menang tanpa Perang”

Saya menerima kiriman video pendek apik dari Prof. Ir. Edy Djuwito. Ini kisahnya.

Saya tidak tahu nama gadis cantik dalam video ini, yang bercerita sambil memegang 2 bilah kayu dari Kuil Liu Bei di Cheng Du yang bertuliskan:

Neng gong xin ze fan ce zi xiao, cong gu zhi bing fei hao zhan.

Artinya, “Jika mampu menyerang hati musuh, maka perlawanan akan lenyap dengan sendirinya. Sejak zaman dahulu, orang bijak tahu bahwa tentara yang baik bukanlah yang gemar berperang.”

Konon setiap kali memiliki kabinet baru, Mao Tze Dong meminta mereka pergi ke Kuil Liu Bei, merenungkan kalimat ini.

Dalam video itu diceritakan kisah Liu Bei menghadapi seorang kepala suku yang terus menerus memberontak. Berkali-kali ditangkap, bukannya dibunuh, tetapi berkali-kali pula dilepaskan.
Bukan sekali atau dua kali, tetapi sampai tujuh kali! Hingga akhirnya kepala suku itu menyerah dengan sukarela.

Mengapa Liu Bei melakukan hal ini?
Jika kepala suku itu dibunuh, akan muncul kepala suku-kepala suku lain yang menggantikannya.
Polanya sama, bahkan bisa semakin banyak dan lebih berbahaya. Tetapi dengan menaklukkan hatinya, perlawanan berhenti total. Hati yang ditaklukkan tidak lagi berontak, melainkan memilih setia.

Ini sejalan dengan strategi klasik Tiongkok, seperti yang juga diajarkan dalam Sun Zi Bing Fa atau Seni Perang Sun Tzu. Menang bukan dengan pedang, tetapi dengan hati. Menyerang hati lebih kuat daripada menyerang fisik. Ketika moral musuh goyah, ketika pikirannya berubah, perlawanan akan lenyap tanpa darah tumpah. Filosofi ini jauh lebih dalam daripada sekadar “soft power” yang kita kenal sekarang.

Filosofi kuno itu juga menekankan bahwa peperangan terakhir sesungguhnya adalah perang batin. Kemenangan sejati bukanlah menghancurkan musuh, melainkan membuat mereka tidak lagi ingin melawan.

Sun Tzu berkata, “Seni perang tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa bertempur.”
Betapa dalam kebijaksanaan ini!

Maka orang bijak tidak mencari perang. Senjata hanyalah jalan terakhir. Pemimpin besar bukanlah yang gemar bertarung, melainkan yang pandai mendamaikan, mempengaruhi, dan membangun relasi.

Itulah sebabnya Mao Zedong meminta kabinet barunya merenungkan kalimat ini. Ia tahu, memimpin negara bukan semata soal senjata, melainkan soal hati rakyat. Jika hati rakyat ditaklukkan, stabilitas akan terjaga.
Pemimpin yang hanya mengandalkan kekerasan bisa menang sesaat, tetapi pemimpin yang bisa memenangkan hati akan bertahan lama.

Lalu apa maknanya untuk kita hari ini? Dalam kepemimpinan, mengelola tim bukan dengan ancaman, melainkan dengan membangun kepercayaan, loyalitas, dan rasa memiliki.

Dalam keluarga, menang argumen belum tentu memenangkan hati. Suami-istri sering terjebak ingin selalu benar, padahal yang terpenting adalah kasih tetap terjaga.

Dalam kehidupan sosial, pengaruh terbesar bukanlah dari kata-kata keras atau tekanan, melainkan dari teladan, karakter, dan kemampuan menyentuh hati orang lain.

Firman Tuhan pun mengajarkan prinsip yang sama. Lebih baik mengalah demi damai, daripada memenangkan perdebatan tetapi kehilangan kasih.

Tuhan sendiri berkata bahwa berkat-Nya turun atas orang yang membawa damai, bukan yang gemar mencari perselisihan. Kasih mampu menutupi banyak kesalahan, bahkan musuh pun bisa berubah menjadi sahabat jika kita memilih untuk mengasihi daripada membalas. Menaklukkan hati dengan kasih jauh lebih kuat daripada menaklukkan dengan kekerasan.

Sesungguhnya kemenangan sejati bukan ketika lawan tersungkur, melainkan ketika hati mereka disentuh dan diubahkan. Pemimpin sejati bukanlah pecinta perang, melainkan pembawa damai yang mencerminkan hati Bapa di surga.

“Love is the only force capable of transforming an enemy into a friend.” – Martin Luther King Jr.

“Kasih adalah satu-satunya kekuatan yang sanggup mengubah musuh menjadi sahabat.”

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas

Read More
Articles

Berani Berdiri di Atas Kebenaran.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Berani Berdiri di Atas Kebenaran.

Franca Viola, seorang gadis muda dari Sisilia, Italia, bukanlah tokoh terkenal ketika dunia mulai memperhatikannya. Ia hanya seorang remaja berusia 17 tahun yang menghadapi tekanan luar biasa karena berani menolak sesuatu yang tidak adil. Pada tahun 1965, ia diculik dan diperkosa oleh seorang mafia lokal bernama Filippo Melodia—laki-laki yang sebelumnya telah melamarnya, dan ditolak.

Pada masa itu, hukum Italia membiarkan kejahatan ini ditutup dengan satu cara: jika pelaku bersedia menikahi korban, maka semua dianggap selesai. Istilahnya matrimonio riparatore, atau “perkawinan perbaikan.” Ini bukan soal cinta, bukan soal keadilan. Ini tentang menjaga apa yang disebut “kehormatan perempuan,” yang seolah nilainya lebih rendah daripada nama baik keluarga di mata masyarakat.

Tapi Franca berkata: tidak!

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.” – Edmund Burke.

“Satu-satunya hal yang dibutuhkan agar kejahatan menang adalah ketika orang-orang baik memilih untuk diam.” – Edmund Burke.

Penolakan itu bukan hal kecil. Itu artinya dia menantang mafia, keluarga, budaya, bahkan hukum negaranya sendiri. Dia dan keluarganya hidup dalam ketakutan, tapi mereka tetap berdiri. Mereka tahu kebenaran tidak bisa dibeli kompromi. Dan akhirnya, Filippo dihukum penjara, dan pada tahun 1981 hukum matrimonio riparatore dihapuskan dari Italia.

Franca tidak hanya membela dirinya. Keberaniannya menjadi mercusuar bagi banyak perempuan setelahnya. Ia membuka jalan.
Tapi yang paling penting, dia mengajarkan kita satu pelajaran penting: lebih baik menderita karena kebenaran, daripada tenang dalam kepalsuan.

Kita hidup di dunia yang menekan kita untuk ikut arus. Budaya, lingkungan, dan suara mayoritas kadang lebih lantang daripada suara hati nurani. Kita sering tahu mana yang benar, tapi takut melakukannya karena risiko yang menanti.

Tapi ingat, satu tindakan berdiri di atas kebenaran bisa mengguncang sistem yang rusak.
Satu keputusan kecil, satu “tidak” yang jelas, bisa membuat terang menembus kegelapan.
Satu langkah melawan ketidakadilan, bisa memutar arah sejarah.

Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk jadi populer. Dia memanggil kita untuk jadi setia.
Dan kesetiaan kepada kebenaran sering kali menuntut keberanian.
Kita tidak diciptakan untuk hidup sebagai korban, mengikuti arus yang merusak, menyetujui hal yang keliru hanya karena semua orang melakukannya.

Firman Tuhan berkata, seperti orang berpikir dalam hatinya, demikianlah ia.
Jika kita percaya kebenaran, maka kita juga harus mengucapkannya dan melakukannya.
Keberanian itu tidak datang dari kekuatan sendiri, tetapi dari kesadaran bahwa kita tidak sendiri. Tuhan menyertai orang yang berdiri di pihak-Nya.

Hidup kita hari ini adalah hasil dari banyak keputusan kecil.
Dan dunia kita berubah bukan karena teriakan massa, tapi karena keberanian satu orang yang berdiri saat yang lain diam.

Franca Viola mungkin tidak pernah berniat menjadi simbol nasional. Tapi ketika dia menolak menyerahkan hidupnya pada kebohongan budaya, dia sedang memuliakan kebenaran yang lebih tinggi—dan akhirnya memuliakan Tuhan yang adalah sumber segala kebenaran itu.

Dalam hidup kita pun, mungkin tidak akan ada kamera, tidak akan ada pemberitaan besar. Tapi setiap kali kita memilih berkata jujur ketika dusta lebih aman, memilih kasih ketika benci lebih mudah, memilih pengampunan ketika dendam lebih masuk akal—di situlah kita sedang berdiri di atas batu yang teguh.

Dunia tidak butuh lebih banyak orang pintar. Dunia butuh lebih banyak orang berani—yang berani memilih benar, meski sendiri. Yang berdiri teguh, karena tahu bahwa di balik setiap keputusan benar, ada Tuhan yang mendukungnya.

Seruput Kopi Cantik hari ini, mari kita renungkan:
Kita tidak dipanggil untuk jadi bagian dari mayoritas, tapi jadi terang di tengah gelap.
Dan keberanian untuk hidup benar… selalu menyisakan jejak yang kekal.

“We must always take sides. Neutrality helps the oppressor, never the victim.” – Elie Wiesel.

“Kita harus selalu mengambil sikap. Bersikap netral membantu penindas, bukan korban.” – Elie Wiesel.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Kretek-Kretek” dan Nubuat yang Kita Pilih.

 

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Kretek-Kretek” dan Nubuat yang Kita Pilih.

Cuplikan yang dikirimkan Prof. Edy Djuwito sangat manis dan reflektif.

Suatu pagi yang cerah di Jakarta, di sebuah kafe kecil beraroma kenangan, empat sahabat lanjut usia duduk melingkar. Secangkir kopi mengepul di tangan masing-masing, hangat mengisi jeda obrolan pagi.

Bu Lisa menyentuh pipinya sambil terkekeh,
“Duh… kerutan di wajah saya ini seperti peta dunia.
Kalau ditarik garisnya, bisa sampai Eropa.”

Pak Budi ikut tertawa, lalu menepuk lututnya,
“Ah, kamu tetap cantik, Lis. Kerutan masih bisa dandan.
Saya ini kalau naik tangga, lututnya bunyi ‘kretek-kretek’ kayak pintu gudang tua.”

Obrolan yang renyah, jujur, dan polos. Tapi tanpa sadar, mereka sedang menubuatkan nasib mereka sendiri.
Bukan dalam pengertian mistis, tapi dalam hukum rohani yang sangat nyata: setiap kata adalah benih. Apa yang kita ucapkan, itulah yang kita izinkan untuk tumbuh dalam hidup kita.

Tuhan menciptakan dunia dengan firman-Nya. Dan kita, manusia, diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya.
Itu sebabnya, kita pun diberi kuasa untuk mencipta melalui pikiran dan ucapan.
Seperti orang berpikir dalam hatinya, demikianlah ia.

Artinya, kita ini bukan korban situasi. Kita punya kehendak bebas—diberi hak untuk memilih apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan, dan akhirnya… apa yang kita alami.

*Ayub pernah berkata, “Apabila engkau memutuskan berbuat sesuatu, maka akan tercapai maksudmu, dan cahaya terang menyinari jalan-jalanmu.”*

Jadi bukan menunggu nasib, tapi kita memutuskan!
Kita yang memilih. Dan keputusan itu dibuktikan melalui ucapan kita.

Saat seseorang sedang sakit, lalu berdoa minta kesembuhan dan percaya bahwa Tuhan sudah menjawab, tapi setelah itu dia berkata, “Kayaknya makin parah deh…” — maka dia sedang membatalkan doanya sendiri.

Kalau kita betul-betul percaya kesembuhan sedang dikerjakan,
kita akan menjaga ucapan kita selaras dengan iman itu.

Bukan munafik atau sok kuat, tapi memilih untuk berkata sesuai kebenaran, bukan sesuai gejala.
Karena lidah kita sedang mengarahkan ke mana hidup kita bergerak.

Hal ini juga berlaku dalam kasih.
Kasih yang sejati—kasih ilahi—juga bukan soal perasaan, tapi keputusan.
Kita memilih untuk mengasihi, bahkan saat emosi sedang tidak sejalan.
Karena kasih ilahi bukan berdasarkan perlakuan orang, melainkan berdasarkan Tuhan yang menjadi sumbernya.

Kasih manusia itu reaktif:
Kalau kamu baik, aku balas baik.
Kalau kamu kasar, ya aku menjauh.

Tapi kasih Tuhan mengalir karena kita memilih untuk menarik dari-Nya.
Bukan karena orang lain layak, tapi karena Tuhan baik.
Sama seperti kuasa perkataan, kasih pun harus dipilih dulu, baru kemudian kita bisa merasakannya.
Bukan tunggu hati adem dulu, baru mengampuni.
Tapi ampuni dulu, karena itu keputusan iman. Maka damai akan menyusul.

Hidup kita adalah hasil dari gabungan antara apa yang kita pikirkan, kita ucapkan, dan kita pilih.
Kalau hari-hari kita terasa berat, coba cek:
Apa isi pikiran kita?
Apa yang keluar dari mulut kita tiap hari?
Dan apa yang kita izinkan untuk menetap di hati?

Kita tidak bisa mengontrol semua situasi, tapi kita bisa mengontrol respons kita.
Kita tidak bisa mengatur orang lain, tapi kita bisa memilih apa yang kita percayai dan kita ucapkan.
Dan itu cukup untuk mengubah arah hidup kita.

Tuhan sudah memberi kuasa itu.
Tinggal kita mau pakai atau tidak.

Seruput Kopi Cantik kita……
Mari kita perkatakan masa depan yang ingin kita tuai.
Dan memilih kasih… walau tidak selalu terasa.
Karena yang kita pilih dengan sadar, itulah yang membentuk siapa kita sebenarnya.

“Faith will never rise above the words of your mouth.” – Kenneth Hagin.

“Iman tidak akan pernah melampaui kata-kata yang keluar dari mulutmu.” – Kenneth Hagin.

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

 

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Name it, Claim it!

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

Name it, Claim it!

Kebanyakan orang langsung pasang alis ketika mendengar frasa ini. Name it, claim it! Wah… itu sih teologi kemakmuran! Ajaran sesat! Katanya begitu.

Tapi tunggu dulu…
Tahukah kita, bahwa setiap orang percaya yang lahir baru sebenarnya sudah menjalani prinsip ini?

Mari kita lihat dari awal. Saat seseorang percaya kepada Yesus, lalu mengakuinya sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia diselamatkan. Itu bukan karena usaha, bukan karena ritual tertentu, bukan pula karena hasil kerja keras. Kita cukup percaya dalam hati, dan mengaku dengan mulut — dan selamat!
Nah, bukankah itu sama dengan ‘Name it, Claim it’?

Istilah “Name it, Claim it” sering dipakai untuk menggambarkan iman yang salah kaprah: seolah-olah cukup menyebut sesuatu, maka otomatis kita berhak memilikinya. Banyak yang mengkritik karena dipahami seperti “sulap rohani” atau “keinginan daging dibungkus iman.”

Namun kalau kita luruskan sesuai Firman Tuhan, maknanya bukan sembarangan klaim, melainkan: “Deklarasikan janji Tuhan dan terimalah dengan iman.”

Tuhan sudah menawarkan keselamatan itu dalam Perjanjian Baru. Dan kita tinggal mengklaim dengan iman.
Bukan kita yang menciptakan janji itu. Tuhan yang lebih dulu menyediakannya.
Kita hanya percaya dan mengambilnya.

Dalam hal keselamatan, orang Kristen hampir tidak pernah protes.
Tapi giliran menyangkut kesembuhan, damai sejahtera, kecukupan, perlindungan, sukacita, hikmat, dan semua janji lainnya yang sudah dinamai oleh Tuhan dalam penebusan Kristus — langsung jadi kontroversi.

Padahal, prinsipnya sama.
Kalau Tuhan sudah menjanjikan dan menyediakannya, artinya kita boleh menerimanya.
Kita tidak sedang memaksa Tuhan. Kita hanya menerima apa yang sudah Dia sediakan.

Yesus sudah menang di salib. Artinya, semua manfaat dari penebusan — keselamatan, kesehatan, berkat, kedamaian, kemenangan atas dosa dan iblis — itu semua sudah jadi milik kita.
Ibarat rekening bank, isinya sudah ada. Tinggal kita ambil sesuai kebutuhan.
Tetapi banyak orang hidup seperti pengemis rohani.
Sudah punya warisan, tapi tidak pernah dicairkan. Sudah punya janji, tapi tidak pernah diklaim.

Kenapa?
Karena kita belum paham. Atau takut dikira serakah. Atau diajari bahwa Tuhan hanya memberi kepada orang-orang tertentu.
Padahal, Firman Tuhan berkata, “Segala janji Allah dalam Kristus adalah ‘ya’ dan ‘amin.’” (2 Korintus 1:20)
Artinya, boleh! Bahkan harus!
Itu bukan arogansi. Itu iman.

Tapi…
Bukan berarti kita bisa seenaknya menamai apa yang kita mau, lalu mengklaim seenaknya juga.
Bukan berarti kita bisa asal “speak – asal menyebutkan” mobil mewah, rumah megah, dan pasangan idaman tanpa dasar Firman.
Tuhan tidak menjanjikan semua keinginan kita.

Yang bisa kita klaim adalah apa yang sudah disediakan dalam penebusan Kristus.
Kita perlu tahu identitas, panggilan, dan tujuan hidup kita.
Iman itu bekerja kalau selaras dengan kehendak Tuhan — bukan sekadar menuruti hawa nafsu.

Ada batas yang jelas antara iman dan ambisi pribadi.

Karena itu penting bagi kita untuk belajar dan mengenal isi perjanjian yang sudah Tuhan berikan kepada kita.
Semakin kita tahu siapa kita di dalam Kristus, semakin berani kita hidup dalam otoritas anak-anak Allah.
Tuhan senang kalau kita percaya penuh kepada-Nya. Dia tidak pelit. Dia Bapa yang baik.

Kalau kita tidak berani percaya dan mengklaim, bukan karena Tuhan tidak mengasihi kita.
Seringkali karena kita tidak tahu bahwa janji itu sebenarnya milik kita.
Iblis suka menipu. Membuat kita merasa tidak layak, minder, atau ragu-ragu.
Padahal justru iman yang percaya kepada janji Tuhan itulah yang membuat kita menang.

Jadi…
Apakah kita masih takut dibilang ikut teologi “name it, claim it”?
Biarlah orang berkata apa saja.
Yang penting, kita tahu siapa identitas kita di dalam Kristus. Kita tahu apa yang sudah Tuhan sediakan. Dan kita berani mengambilnya dalam iman.

Bersyukurlah karena Tuhan kita bukan Tuhan yang pelit.
Dia sudah siapkan segalanya. Sekarang tinggal kita… name it… and claim it!

“Faith only appropriates what God has already provided by grace.” – Andrew Wommack.

“Iman hanya mengambil apa yang sudah Allah sediakan melalui kasih karunia” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 3 4 5