From Garage to the World (Part 1)
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
From Garage to the World (Part 1)
Vincentius Lianto kehilangan ayahnya di usia sembilan tahun. Sejak itu, keluarga mereka seperti kapal kecil yang harus tetap berlayar meski ombak mengguncang keras. Ibu, Suyani (Soen Jang Nio), bangun setiap pagi buta membuat kue, lalu menitipkannya ke warung-warung di Tangerang. Tanpa banyak bicara, ia mengajarkan keteguhan, kerja keras, dan kasih yang nyata dalam tindakan.
Lianto kecil membantu sebisanya—mengantar kue sebelum sekolah di SD Strada St. Franciscus dan mengambil hasil penjualan sepulangnya. Dari situ, ia belajar menghargai setiap rupiah dan mengerti makna tanggung jawab. “Itu pelajaran pertama saya tentang bisnis dan nilai sebuah uang,” ujarnya.
Kesempatan pertamanya datang saat seorang sepupu ayahnya yang memiliki peternakan ayam menawarkan pekerjaan kecil: menjadi agen telur. Ia berkeliling mengantar telur ke warung-warung, melayani pelanggan dengan ramah. Bisnis kecil itu akhirnya kalah oleh pesaing besar, tapi Lianto tidak gentar. “Lebih baik berusaha dan gagal daripada berdiam diri tanpa mencoba,” begitu katanya.
Masa remaja diisi dengan bekerja paruh waktu di toko Anyar Toserba. Dari situ ia belajar kejujuran dan ketekunan, hingga pemilik toko berkomentar, “Kalau semua anak muda seperti Lianto, saya ingin membantunya lagi nanti.” Pujian sederhana, tapi meneguhkan: integritas adalah modal utama hidup.
Cita-citanya menjadi arsitek harus ditunda karena keadaan. Dengan realistis, ia memilih kuliah sambil bekerja di STMIK Budi Luhur jurusan Komputerisasi Akuntansi. Ia membantu ekonomi keluarga tanpa banyak mengeluh. Di masa itu, kakak tertua, Agus Supandi, ikut menopang keluarga dengan bekerja di dealer mobil. Kakak perempuan, Cendrawati, Irma dan adiknya Loknie — semua ikut berjuang. Mereka membuat kue, membantu Ibu, dan saling menguatkan. Keluarga ini bukan hanya bertahan, tapi tumbuh dalam kasih dan kebersamaan.
Perjalanan Lianto berubah arah saat kakaknya memperkenalkannya kepada Setiawan, pemilik perusahaan dempul mobil Otosan. Melihat semangat dan kejujurannya, Setiawan memberinya kesempatan menjadi sales. Siang hari Lianto keliling bengkel menawarkan produk, malamnya kuliah. Ia membangun relasi dengan pelanggan, bekerja keras, dan selalu menepati janji. Prinsipnya sederhana: “Ambil untung sedikit tak apa, asal pelanggan banyak dan percaya.”
Bisnis berjalan baik hingga suatu hari pabrik Otosan berhenti produksi. Semua hasil jerih payah seolah sirna, tapi ia tidak menyerah. “The show must go on,” ujarnya tenang. Ia belajar bahwa yang penting bukan menghindari badai, tapi terus berlayar meski badai datang.
Di setiap fase hidupnya, Tuhan selalu mengutus orang-orang baik. Ia berterima kasih kepada Iwan Tee, sahabat yang menjulukinya Bulldozer karena semangatnya menembus segala rintangan. Julukan lain, Si Sisir, muncul karena kebiasaannya membawa sisir di saku belakang — simbol rapi, siap, dan percaya diri. Iwan adalah sahabat yang selalu mendorongnya untuk terus maju, terutama saat Lianto mulai ragu akan kemampuannya.
Tapi tokoh paling penting dalam kisah hidup Lianto adalah istrinya, Nia. Ia bukan hanya pendamping hidup, tapi rekan seperjalanan sejati. Ketika keadaan sulit, Nia berdiri di sisinya — menyiapkan sarapan, mencatat pesanan, membantu administrasi, dan menjaga semangat keluarga. Ia meninggalkan karier mapan di bank tanpa ragu, karena percaya pada visi suaminya. “Kita lakukan bagian kita, Tuhan akan lakukan bagian-Nya,” ucap Nia, kalimat yang menjadi jangkar di setiap badai hidup mereka.
Dari pernikahan ini lahirlah anak-anak yang menjadi sumber kekuatan dan kebanggaan: Ivana, Cynthia dan Jonathan. Mereka tumbuh dalam suasana sederhana namun hangat. Saat kecil, mereka membantu menempel label, menghitung stok, bahkan ikut mendoakan papa setiap kali hendak berangkat kerja. “Tuhan, tolong papa,” doa polos yang membuat hati Lianto bergetar. Dari merekalah ia belajar bahwa keluarga bukan beban, tetapi alasan untuk berjuang lebih keras.
Lianto juga berterima kasih pada Henny dan Denny, dua staf setia yang menemaninya sejak awal. Mereka bukan hanya karyawan, tapi bagian dari keluarga besar yang ikut membangun mimpi dari bawah. Begitu juga para pelanggan pertama, yang percaya pada produk yang masih baru, dan mentor-mentor yang memberinya arah saat ia bimbang.
“Kalau saya berdiri di sini hari ini,” katanya dengan mata berkaca-kaca, “itu karena banyak tangan yang menopang di balik layar. Ibu saya, saudara-saudara saya, Setiawan yang membuka pintu pertama, sahabat-sahabat seperti Iwan, istri saya Nia yang tidak pernah lelah, anak-anak saya yang jadi pengingat arah, dan tim yang bekerja dengan hati.”
Kesuksesan bukanlah milik satu orang, melainkan hasil dari banyak kasih dan kerja sama. Dari dapur kecil di Tangerang, dari garasi sempit di Denpasar, Tuhan menulis cerita besar lewat tangan-tangan yang setia bekerja. Sebelum “to the world”, selalu ada “from home” — tempat di mana cinta dan karakter ditempa.
“Alone we can do so little; together we can do so much.” — Helen Keller
“Sendirian kita hanya bisa melakukan sedikit; bersama-sama kita bisa melakukan begitu banyak.” — Helen Keller
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama








