Monthly Archives: Oct 2025

Articles

From Garage to the World (Part 1)

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

From Garage to the World (Part 1)

Vincentius Lianto kehilangan ayahnya di usia sembilan tahun. Sejak itu, keluarga mereka seperti kapal kecil yang harus tetap berlayar meski ombak mengguncang keras. Ibu, Suyani (Soen Jang Nio), bangun setiap pagi buta membuat kue, lalu menitipkannya ke warung-warung di Tangerang. Tanpa banyak bicara, ia mengajarkan keteguhan, kerja keras, dan kasih yang nyata dalam tindakan.

Lianto kecil membantu sebisanya—mengantar kue sebelum sekolah di SD Strada St. Franciscus dan mengambil hasil penjualan sepulangnya. Dari situ, ia belajar menghargai setiap rupiah dan mengerti makna tanggung jawab. “Itu pelajaran pertama saya tentang bisnis dan nilai sebuah uang,” ujarnya.

Kesempatan pertamanya datang saat seorang sepupu ayahnya yang memiliki peternakan ayam menawarkan pekerjaan kecil: menjadi agen telur. Ia berkeliling mengantar telur ke warung-warung, melayani pelanggan dengan ramah. Bisnis kecil itu akhirnya kalah oleh pesaing besar, tapi Lianto tidak gentar. “Lebih baik berusaha dan gagal daripada berdiam diri tanpa mencoba,” begitu katanya.

Masa remaja diisi dengan bekerja paruh waktu di toko Anyar Toserba. Dari situ ia belajar kejujuran dan ketekunan, hingga pemilik toko berkomentar, “Kalau semua anak muda seperti Lianto, saya ingin membantunya lagi nanti.” Pujian sederhana, tapi meneguhkan: integritas adalah modal utama hidup.

Cita-citanya menjadi arsitek harus ditunda karena keadaan. Dengan realistis, ia memilih kuliah sambil bekerja di STMIK Budi Luhur jurusan Komputerisasi Akuntansi. Ia membantu ekonomi keluarga tanpa banyak mengeluh. Di masa itu, kakak tertua, Agus Supandi, ikut menopang keluarga dengan bekerja di dealer mobil. Kakak perempuan, Cendrawati, Irma dan adiknya Loknie — semua ikut berjuang. Mereka membuat kue, membantu Ibu, dan saling menguatkan. Keluarga ini bukan hanya bertahan, tapi tumbuh dalam kasih dan kebersamaan.

Perjalanan Lianto berubah arah saat kakaknya memperkenalkannya kepada Setiawan, pemilik perusahaan dempul mobil Otosan. Melihat semangat dan kejujurannya, Setiawan memberinya kesempatan menjadi sales. Siang hari Lianto keliling bengkel menawarkan produk, malamnya kuliah. Ia membangun relasi dengan pelanggan, bekerja keras, dan selalu menepati janji. Prinsipnya sederhana: “Ambil untung sedikit tak apa, asal pelanggan banyak dan percaya.”

Bisnis berjalan baik hingga suatu hari pabrik Otosan berhenti produksi. Semua hasil jerih payah seolah sirna, tapi ia tidak menyerah. “The show must go on,” ujarnya tenang. Ia belajar bahwa yang penting bukan menghindari badai, tapi terus berlayar meski badai datang.

Di setiap fase hidupnya, Tuhan selalu mengutus orang-orang baik. Ia berterima kasih kepada Iwan Tee, sahabat yang menjulukinya Bulldozer karena semangatnya menembus segala rintangan. Julukan lain, Si Sisir, muncul karena kebiasaannya membawa sisir di saku belakang — simbol rapi, siap, dan percaya diri. Iwan adalah sahabat yang selalu mendorongnya untuk terus maju, terutama saat Lianto mulai ragu akan kemampuannya.

Tapi tokoh paling penting dalam kisah hidup Lianto adalah istrinya, Nia. Ia bukan hanya pendamping hidup, tapi rekan seperjalanan sejati. Ketika keadaan sulit, Nia berdiri di sisinya — menyiapkan sarapan, mencatat pesanan, membantu administrasi, dan menjaga semangat keluarga. Ia meninggalkan karier mapan di bank tanpa ragu, karena percaya pada visi suaminya. “Kita lakukan bagian kita, Tuhan akan lakukan bagian-Nya,” ucap Nia, kalimat yang menjadi jangkar di setiap badai hidup mereka.

Dari pernikahan ini lahirlah anak-anak yang menjadi sumber kekuatan dan kebanggaan: Ivana, Cynthia dan Jonathan. Mereka tumbuh dalam suasana sederhana namun hangat. Saat kecil, mereka membantu menempel label, menghitung stok, bahkan ikut mendoakan papa setiap kali hendak berangkat kerja. “Tuhan, tolong papa,” doa polos yang membuat hati Lianto bergetar. Dari merekalah ia belajar bahwa keluarga bukan beban, tetapi alasan untuk berjuang lebih keras.

Lianto juga berterima kasih pada Henny dan Denny, dua staf setia yang menemaninya sejak awal. Mereka bukan hanya karyawan, tapi bagian dari keluarga besar yang ikut membangun mimpi dari bawah. Begitu juga para pelanggan pertama, yang percaya pada produk yang masih baru, dan mentor-mentor yang memberinya arah saat ia bimbang.

“Kalau saya berdiri di sini hari ini,” katanya dengan mata berkaca-kaca, “itu karena banyak tangan yang menopang di balik layar. Ibu saya, saudara-saudara saya, Setiawan yang membuka pintu pertama, sahabat-sahabat seperti Iwan, istri saya Nia yang tidak pernah lelah, anak-anak saya yang jadi pengingat arah, dan tim yang bekerja dengan hati.”

Kesuksesan bukanlah milik satu orang, melainkan hasil dari banyak kasih dan kerja sama. Dari dapur kecil di Tangerang, dari garasi sempit di Denpasar, Tuhan menulis cerita besar lewat tangan-tangan yang setia bekerja. Sebelum “to the world”, selalu ada “from home” — tempat di mana cinta dan karakter ditempa.

“Alone we can do so little; together we can do so much.” — Helen Keller

“Sendirian kita hanya bisa melakukan sedikit; bersama-sama kita bisa melakukan begitu banyak.” — Helen Keller

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kalau Mimpi Belum Terjadi, Apa Tuhan Lupa?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kalau Mimpi Belum Terjadi, Apa Tuhan Lupa?

Menyalakan kembali mimpi terdengar indah. Tapi kenyataannya?
Sering kali jauh dari kata mudah. Aku pun belum melihat hasil dari beberapa doa dan mimpi yang sudah lama tertanam di hati. Tapi anehnya, justru di masa penantian itu, aku mulai merasakan iman yang bangkit kembali. Bukan karena sesuatu terjadi. Tapi karena aku belajar percaya… sekali lagi.

Kita sering berpikir iman itu soal menerima jawaban. Tapi kenyataannya, iman justru paling nyata ketika belum ada hasil apa pun. Ketika kita tetap percaya, padahal belum ada perubahan. Di situlah iman diuji—dan dimurnikan.

While you’re waiting for God to change your situation, He’s changing you.

Saat Anda menunggu Tuhan mengubah situasi Anda, Dia mengubah Anda.

Masa tunggu membuat kita bertanya ulang: apa sebenarnya yang jadi sandaran hidupku? Apakah aku sungguh berharap kepada Tuhan? Atau diam-diam aku menaruh harapan pada pasangan, anak, pekerjaan, pelayanan, atau hal-hal lain yang bisa lenyap sewaktu-waktu?

Kadang kita baru sadar setelah mimpi itu gagal total. Harapan seakan dicabut dari tangan kita. Tapi justru di titik itu, Tuhan sedang menunjukkan, harapan kita perlu diarahkan kembali. Bukan pada apa yang bisa Tuhan lakukan, tapi pada siapa Dia. Sesungguhnya, Tuhan sendirilah harta dan tujuan kita. Bukan hasil. Bukan pencapaian. Bukan pengakuan.

Aku juga sempat bertanya dalam hati: mimpi ini sebenarnya buat siapa? Untuk membuktikan aku bisa? Supaya orang kagum? Atau mimpi ini memang datang dari Tuhan, dan hanya bisa terjadi kalau aku hidup untuk menyenangkan Dia?

Waktu tunggu sering jadi cermin. Tuhan menunjukkan sisi-sisi diriku yang masih harus dibentuk. Masih terlalu banyak “aku”-nya. Ambisi pribadi. Ingin cepat. Ingin terlihat berhasil. Kalau saat itu mimpi langsung jadi kenyataan, bisa-bisa aku malah rusak sendiri.

Dan memang, dalam banyak hal, aku melihat bagaimana Tuhan tidak menjawab doa-doaku saat aku ingin—karena Dia sedang bekerja di area yang tidak aku lihat. Di balik layar. Sambil juga bekerja dalam diriku. Memurnikan niat, mengubah fokus, dan mengajarkanku untuk percaya, bukan karena keadaan baik, tapi karena Dia baik.

Yang sering luput kita sadari adalah: bentuk akhir dari mimpi itu bisa sangat berbeda dari ekspektasi kita. Tapi waktu itu tiba, kita akan sadar—ini jauh lebih baik. Bukan cuma lebih indah, tapi juga lebih kuat dan tahan lama. Karena mimpi yang lahir dari proses bersama Tuhan punya akar yang dalam. Bukan euforia sesaat.

Teringat kisah Yusuf. Dapat mimpi besar dari Tuhan. Tapi malah dijual, dijebak, dipenjara. Rasanya seperti hidup yang salah arah. Tapi ternyata, justru lewat semua itu Tuhan sedang mempersiapkannya. Bukan hanya untuk posisi tinggi, tapi untuk menjadi seseorang yang sanggup mengampuni dan menyelamatkan orang banyak. Prosesnya panjang. Tapi hasilnya abadi.

Aku juga punya mimpi. Menulis. Tapi dulu aku merasa nggak layak. Nggak punya latar belakang yang berhubungan dengan tulis-menulis Tapi Tuhan tuntun langkah demi langkah. Bahkan membawaku masuk ke sekolah Charis. Butuh waktu sampai bisa benar-benar melangkah. Penuh liku. Penuh keraguan. Bahkan sempat merasa, “Mungkin aku salah mendengar Tuhan…”

Tapi hari ini aku bisa berkata: penantian itu penting. Karena Tuhan lebih peduli pada menjadi siapa aku, bukan hanya apa yang aku lakukan. Dan ketika waktu-Nya tiba, kita akan tahu… ini bukan hasil kerja keras kita. Tapi karya kasih-Nya.

“Sometimes God will slow you down so that the evil ahead of you will pass before you get there. Your delay could mean your protection.” – Tony Gaskins

“Terkadang Tuhan memperlambat langkahmu supaya kejahatan yang ada di depanmu berlalu lebih dulu. Penundaanmu bisa jadi perlindunganmu.” – Tony Gaskins

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Jangan Biarkan Luka Orang Lain Merusak Cahayamu..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Biarkan Luka Orang Lain Merusak Cahayamu..

Seorang pemuda bernama *Howard Schultz*, yang kemudian dikenal sebagai sosok di balik kesuksesan Starbucks. Tapi sebelum semua itu, Howard hanyalah anak dari keluarga sederhana yang tinggal di kompleks perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah di Brooklyn, New York.

Ayahnya bekerja sebagai sopir truk pengantar barang. Bukan di perusahaan besar, tapi perusahaan kecil tanpa tunjangan kesehatan. Suatu hari, sang ayah mengalami cedera saat bekerja, dan langsung diberhentikan tanpa pesangon, tanpa perlindungan. Hanya luka… dan rasa kecewa yang mendalam.

Howard tumbuh dalam suasana rumah yang penuh tekanan dan ketidakpastian. Ia kerap mendengar kata-kata pahit dari ayahnya. “Orang-orang kaya itu tamak.” “Kita ini orang kecil, tak akan bisa ke mana-mana.” Kata-kata yang menyakitkan, tapi sebenarnya bukan berasal dari niat jahat. Itu keluar dari hati yang lelah dan terluka.

Namun menariknya, Howard tidak menjadikan luka itu sebagai batas. Ia tidak membiarkan luka orang lain meracuni pandangannya. Ia memilih untuk melihat lebih dalam: bahwa kata-kata ayahnya lahir dari pengalaman pahit dan rasa tidak berdaya. Bukan karena Howard tidak layak. Tapi karena sang ayah belum sembuh.

Bertahun-tahun kemudian, saat Starbucks mulai berkembang, Howard menetapkan satu keputusan penting: semua karyawan, bahkan pekerja paruh waktu, harus mendapatkan tunjangan kesehatan. Sebuah kebijakan revolusioner di Amerika Serikat kala itu.

Ia berkata, “Saya ingin membangun tempat kerja yang dulu diimpikan ayah saya.”
Bukan untuk balas dendam, tapi sebagai bentuk pemulihan—bagi dirinya, dan bagi banyak orang.

“Hurting people hurt people.”
“Orang yang terluka cenderung melukai orang lain.”
– Rick Warren

Kita pun sering mengalami hal yang serupa. Disalahpahami. Diperlakukan kasar. Dikecilkan oleh orang yang bahkan belum mengenal kita dengan baik.
Bahkan ada orang yang sedemikian bangga bisa menemukan kesalahan-kesalahan dalam hal-hal yang sangat kecil, seolah dia manusia sempurba dan standar kebenaran yang sehati.
Dan biasanya, kita buru-buru menyalahkan diri sendiri.

“Apa aku kurang baik?”
“Kenapa mereka memperlakukanku seperti ini?”
“Haruskah aku berubah agar diterima?”

Lalu kita mulai meragukan diri sendiri. Padahal, bisa jadi masalahnya bukan pada kita. Mereka yang menyerang, bisa jadi sedang memproyeksikan luka lama mereka. Orang yang bahagia tidak akan sibuk merendahkan orang lain. Orang yang damai tidak merasa perlu memenangkan harga diri lewat menjatuhkan.

“Kritik yang tajam seringkali bukan cermin kebenaran, tapi pantulan dari jiwa yang belum pulih.”
– Yenny Indra

Ketika seseorang memperlakukan kita dengan buruk, itu mencerminkan masalahnya sendiri, bukan nilai diri kita. Orang yang sehat secara emosional tidak akan menjatuhkan orang lain.

Di dunia ini, kita akan selalu bertemu dengan dua macam manusia: yang membangun, dan yang merobohkan. Yang pertama akan mendorong kita untuk tumbuh, yang kedua mungkin akan menyakiti, bahkan tanpa sadar. Tapi kita bisa memilih: apakah akan menyerap racun itu, atau tetap menjaga cahaya kita tetap menyala.

Seperti pepatah bijak mengatakan: *Ada waktu untuk bicara, dan ada waktu untuk diam. Tapi dalam segala waktu, jagalah hatimu, karena dari sanalah terpancar kehidupan.*

Ketika seseorang memperlakukanmu dengan tidak hormat, jangan buru-buru larut dalam luka. Ingat: kita diciptakan dengan nilai dan tujuan yang unik. Kita berharga bukan karena validasi manusia, tetapi karena kehadiran kita membawa makna.

Kita bukan hasil dari opini orang lain.

Kita adalah karya Tuhan yang diciptakan dengan kasih. Dan kasih itu tak berubah hanya karena seseorang tidak mampu melihatnya.
Justru semestinya terang kita yang menyalurkan kasih Tuhan melalui kitalah yang menerangi kegelapan dalam hidup orang lain.

Saya belajar, ketika kasih Tuhan memenuhi bahkan melimpah melalui kita, maka pendapat negatif atau kritikan orang lain, tidak bisa melukai kita. Kasih-Nya lebih dari cukup. Bahkan kita sadar, Promosi itu datang dari Tuhan!

Jadi ketika ada orang yang mencoba menjatuhkan kita, berdirilah tegak. Anggap itu bukan serangan, melainkan pengakuan bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang menyilaukan kegelapan mereka.

Teruslah bersinar.

Jangan padam hanya karena ada yang silau. Biarkan mereka berdamai dengan lukanya sendiri, sementara kita terus melangkah dalam terang.

“Jadilah cahaya yang tetap menyala, meski dunia tak selalu ramah.”
– Yenny Indra

Siap praktik? Yuuuk….

Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.”- Plato.

“Bersikaplah baik, sebab setiap orang yang kamu temui sedang berjuang dalam pertempuran yang berat.”- Plato.

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Kalau Tuhan Itu Baik, Kenapa Ada Perintah Menghancurkan?”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Kalau Tuhan Itu Baik, Kenapa Ada Perintah Menghancurkan?”

Tulisan ini tidak sedang membenarkan kekerasan. Justru sebaliknya. Saya ingin kita melihat satu sisi yang sering dilupakan: betapa baiknya Tuhan itu, penuh kesabaran, dan tidak semena-mena dalam menghakimi.

Saat membaca ayat seperti Ulangan 20:16, di mana Tuhan memerintahkan Israel untuk membinasakan seluruh penduduk Kanaan tanpa sisa, jujur saja, kita bisa merasa bingung, bahkan terganggu. “Mengapa Tuhan yang penuh kasih bisa mengeluarkan perintah seperti itu?” Tapi kalau kita hanya membaca satu ayat dan menarik kesimpulan dari situ, kita akan kehilangan konteks besar dari cerita dan karakter Tuhan.

Mari kita lihat lebih dalam. Pertama, tidak semua orang Kanaan dimusnahkan. Tuhan bukanlah sosok kejam yang langsung menghabisi tanpa pandang bulu. Ada orang-orang Kanaan yang memilih percaya kepada Tuhan, dan mereka disambut—bukan dibunuh. Contoh paling terkenal adalah Rahab, seorang perempuan di Yerikho, yang menyelamatkan pengintai Israel dan menyatakan imannya kepada Tuhan Israel. Apa yang terjadi? Dia diselamatkan bersama keluarganya dan bahkan masuk dalam garis keturunan Yesus. Kita juga mengenal Uria orang Het, seorang prajurit setia yang hidup di zaman Daud. Ia pun berasal dari suku Kanaan. Artinya, pintu pertobatan selalu terbuka bagi siapa pun, termasuk orang Kanaan.

Kedua, penghakiman Tuhan tidak terjadi secara tiba-tiba. Tidak seperti manusia yang gampang meledak emosinya, Tuhan sangat sabar. Ketika Tuhan berbicara kepada Abraham, Ia sudah tahu bahwa Kanaan sedang menuju kejahatan yang dalam, tapi Ia berkata bahwa keturunannya harus tinggal di Mesir selama 400 tahun. Kenapa? Karena “kesalahan orang Amori itu belum sampai puncaknya” (Kejadian 15:16). Tuhan memberi waktu 600 tahun penuh—dari saat Abraham menerima janji sampai bangsa Israel masuk tanah Kanaan. Enam abad! Itu bukan Tuhan yang mudah tersinggung. Itu Tuhan yang menunggu, terus memberi kesempatan, walau mereka terus menolak.

Namun, ketika bangsa Kanaan akhirnya benar-benar melampaui batas, situasinya sudah gawat. Mereka tidak hanya berdosa, tapi sudah hidup dalam penyembahan berhala ekstrem, mempersembahkan anak-anak mereka sebagai korban bakaran, praktik okultisme, dan kekerasan yang mengakar. Tuhan tidak membenci orang Kanaan—Tuhan membenci kejahatan yang menguasai mereka. Jika dibiarkan, kejahatan itu akan menggerogoti Israel dari dalam. Tuhan bukan sedang melakukan pembersihan etnis. Ia sedang menyelamatkan umat-Nya dari pengaruh yang mematikan.

Kita semua tahu, dosa tidak bisa diajak kompromi. Kalau tidak dibinasakan, ia akan membinasakan kita. Tuhan tahu bahwa jika Israel tidak menguasai Kanaan, justru Israel yang akan dikuasai. Dan itulah yang sering kali terjadi di kemudian hari, ketika mereka gagal menaati perintah Tuhan sepenuhnya. Mereka mulai menyembah berhala, mengikuti praktik keji orang Kanaan, dan menuai kehancuran karena ketidaktaatan mereka sendiri.

Saat membaca kisah ini, kita harus belajar satu hal penting: Tuhan panjang sabar, penuh kasih, tapi juga adil. Ia tidak pernah menghukum tanpa alasan. Ia tidak bertindak tanpa peringatan. Ia tidak membinasakan tanpa kesempatan untuk bertobat. Ia adalah Tuhan yang sabar—bahkan sangat sabar. Tapi ketika manusia dengan sengaja memilih untuk menolak-Nya berkali-kali, ada titik di mana Tuhan bertindak untuk melindungi kebenaran dan umat-Nya.

Hari ini, kita hidup di era kasih karunia. Tuhan tetap panjang sabar dan tidak menghendaki seorang pun binasa. Tapi jangan salah. Kasih Tuhan bukan berarti kita bisa mempermainkan kebenaran. Jangan tunggu sampai waktunya habis. Jangan tunda sampai pintu tertutup. Kalau hari ini Tuhan menegur atau memanggil kita, itu tanda bahwa kasih-Nya masih bekerja.

Karena Tuhan yang sama yang sabar menanti orang Kanaan bertobat selama 600 tahun… adalah Tuhan yang juga sabar menanti kita. Tapi jangan salah paham—kesabaran bukan berarti kelemahan. Itu kasih yang menanti dengan harapan. Jangan sia-siakan.

“God’s mercy is so great that you may sooner drain the sea of its water, or deprive the sun of its light, or make space too narrow, than diminish the great mercy of God.” – Charles Spurgeon

“Kasih setia Tuhan begitu besar, hingga kita lebih mungkin mengeringkan lautan, memadamkan matahari, atau menyusutkan alam semesta, daripada mengurangi belas kasih-Nya.” – Charles Spurgeon

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kuasa Kata-Kata

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kuasa Kata-Kata

Pagi ini dalam doa pagi BBL, kami membahas tentang “Kuasa Kata-Kata.”
Ari, seorang youth leader, berbagi pengalaman yang sangat menyentuh.

“Banyak anak muda di pelayanan saya mengalami masalah mental health,” ujarnya.
“Setelah saya dekati, ternyata penyebab utamanya adalah perkataan negatif dari orang tua. Ucapan meremehkan, membandingkan, atau menyalahkan, yang mungkin dimaksudkan agar anak berubah, ternyata justru melukai hati mereka. Akibatnya, anak merasa tertolak, tidak percaya diri, bahkan ada yang depresi.”

Ari pun menasihati para orang tua ini agar berhenti mengucapkan kata-kata yang menghancurkan. Ia mengajarkan untuk mengganti perkataan kematian dengan firman Tuhan yang membangun. Mengubah keluhan menjadi ucapan syukur, dan mulai menubuatkan hal-hal baik bagi anak-anaknya. Saat Ari mendoakan mereka, banyak orang tua menangis. Firman Tuhan menyentuh hati mereka. Perlahan-lahan, bukan hanya anak yang dipulihkan, tetapi orang tuanya juga ikut bertumbuh.

Wow… benih yang ditabur Ari sungguh luar biasa!

Beberapa waktu lalu, Angelin,saya dan teman-teman sempat berlibur ke Chiang Mai & Chiang Rai. Begitu tiba, Pak Rudi, salah satu pemilik tur, sudah jatuh sakit. Esoknya masih lemah. Kami sepakat berdoa, memerintahkan kesembuhan, dan terus memperkatakan bahwa ia sudah sembuh. Hasilnya? Pak Rudi sendiri yang bersaksi: tubuhnya langsung segar hingga kembali ke Jakarta.

Di saat yang sama, Indonesia sedang ramai dengan demo besar. Berita simpang siur membuat suasana tidak nyaman. Namun, karena terbiasa doa pagi BBL, kami memilih memperkatakan firman:
“Seribu rebah di sisiku, sepuluh ribu di sebelah kananku, tetapi itu tidak akan menimpa aku.”

Kabar boleh heboh, tapi hati tetap tenang. Kami pun bisa menikmati liburan.

Menjelang pulang, berita makin panas. Banyak yang menyarankan kami jangan pulang dulu. Namun setelah berdoa, kami memutuskan tetap kembali ke Jakarta. Kalau situasi di bandara tidak kondusif, kami siap menginap di hotel bandara.

Ada satu kejadian lucu. Kristina, teman kami, trauma duduk di kursi tengah karena repot kalau mau ke toilet. Pagi itu saat check in online, semua kursi penuh, yang tersisa hanya di tengah. Bahkan sempat terpikir upgrade ke bisnis class, tapi biayanya hampir sama dengan harga tur! Kami akhirnya sepakat berdoa minta mujizat.

Di bandara, awalnya petugas menyarankan tetap pindah ke bisnis. Tetapi setelah dicek ulang, ternyata ada satu kursi aisle di baris belakang, dengan dua kursi kosong di sebelahnya. Wow… Tuhan sungguh baik!

Lucunya lagi, saya dan Angelin duduk bersebelahan. Saya di aisle, Angelin di tengah. Lalu Angelin bertanya,
“Bu Yenny, siapa ya yang duduk di window?”

Saya spontan menjawab,
“Ya sudah, kita perintahkan saja biar kosong.”

Tiba-tiba pramugari di belakang kami nyeletuk, “Alamaak… perintahkan!”
Dan betul saja… kursi window itu kosong sampai pesawat terbang.

Pelajarannya jelas: Perkataan kita punya Kuasa.
Situasi bisa berubah hanya karena kita memperkatakan janji Tuhan, bukan berita simpang siur. Hati yang tadinya gelisah menjadi tenang, karena kita tahu, “Jika Allah di pihak kita, siapa dapat melawan kita?”

Sering kali kita tahu otoritas yang Tuhan beri, tetapi lupa mempraktikkannya. Padahal saat dengan iman kita memerintahkan halangan pergi, jawaban doa nyata kita alami.

Firman Tuhan berkata:
“As a man thinks in his heart, so is he. – Seperti seorang pria berpikir dalam hatinya, begitu juga dia.”

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Apa yang kita pikirkan dan ucapkan menentukan hasilnya. Jika sungguh percaya Tuhan, maka kata-kata kita akan selaras dengan iman. Seperti pohon dikenal dari buahnya, demikian pula hidup kita.

Maka mari berhati-hati dengan apa yang keluar dari mulut kita.
Ucapan kita bisa menjadi doa, nubuat, dan benih yang menumbuhkan mujizat.

Setuju?

“Kind words can be short and easy to speak, but their echoes are truly endless.” – Mother Teresa.

“Kata-kata yang penuh kasih bisa singkat dan mudah diucapkan, tetapi gaungnya akan terus terdengar tanpa akhir.” – Bunda Teresa.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4 5