Monthly Archives: Oct 2025

Articles

Carilah Dahulu Kerajaan Allah…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Carilah Dahulu Kerajaan Allah…

Ayat yang sangat akrab di telinga kita:
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33).

Kita hafal di luar kepala, tapi sering bertanya: bagaimana ayat ini bisa nyata dalam kehidupan sehari-hari?
Saya pun baru benar-benar mengerti setelah menyaksikan kisah nyata ini.

Pasangan muda ini, P. Oktavianus Danniel dan istrinya, B. Kristin Susanti, hidup seperti banyak keluarga masa kini: terjerat utang kartu kredit dan pinjol.
Jumlahnya?
Tidak tanggung-tanggung — lebih dari sepuluh kartu kredit, ditambah pinjaman online.

Gubbrraaaakkk… Alamak!
Dengarnya saja saya nyaris pingsan. Banyak amat!

Danniel bekerja sebagai staf biasa, sementara Kristin guru les, dan mereka memiliki dua anak.
Ketika mereka mulai bergabung di TLW, gereja kami, saya sempat berpikir,
“Secara logika, hutang ratusan juta ini tidak mungkin bisa lunas.”

Syukurlah ada B. Vei, seorang pengacara di jemaat, yang membantu menutup kartu kredit agar bunganya tidak makin menumpuk. Sebagian bunga dihapus, sebagian lagi tetap harus dibayar.
Debt collector masih datang silih berganti — berat, tapi mereka tetap berkomitmen mencicil.

Ketika ramai berita di TikTok bahwa hutang pinjol bisa diabaikan dan dilaporkan ke polisi, B. Kristin justru berkata dengan tenang,

“Saya tetap bayar, Bu. Saya tidak mau orangtua saya terganggu karena debt collector datang.”

Sederhana, tapi menunjukkan integritas yang luar biasa.

Dengan sedikit modal pinjaman, ia mulai berjualan apa saja. Ia berjanji tidak akan menyentuh uang pokok, hanya mengambil keuntungan.
Awalnya rajin melapor hasil jualannya, lama-lama tidak lagi. Saya tidak terlalu mengikuti, tapi bisa melihat, ada sesuatu yang mulai berubah.
Mereka mulai sungguh-sungguh belajar firman dan melakukannya.

Danniel pun semakin aktif melayani. Dalam doa volunteer, ia sering membawakan renungan firman yang penuh wibawa dan kuasa. Itu bukan hasil latihan berbicara, tapi buah dari kehidupan yang sungguh intim dengan Tuhan.
Renungannya menyentuh karena ia sendiri menghidupinya.

Kini Danniel juga melayani di sebuah gereja di Tangerang.
Sementara Kristin, yang dulu bercita-cita menjadi singer tapi gagal audisi, dengan rendah hati menerima arahan untuk melayani di Sekolah Minggu.
Ternyata di sanalah panggilannya. Anak-anak diberkati melalui pelayanannya yang penuh kasih dan kesabaran.

Beberapa waktu kemudian, saya mendengar kabar: Kristin bekerja di sekolah internasional untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Hidup mereka makin stabil, makin baik.

Semuanya dimulai dari satu keputusan sederhana: mencari dahulu Kerajaan Allah.
Bukan dengan doa instan agar hutang dihapus, tapi dengan membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, belajar firman, dan menjadi pelaku firman.
Dan seperti janji Tuhan sendiri, ketika mereka mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya — semuanya ditambahkan kepada mereka.

Ketika kita sibuk membangun Kerajaan Tuhan, Tuhanlah yang membangun hidup kita.
Kadang kita baru sungguh mengenal Tuhan bukan lewat doa yang langsung dijawab, tetapi lewat perjalanan panjang yang tampak mustahil.
Di situlah kita melihat tangan-Nya bekerja dengan cara yang menakjubkan.

Suatu hari, Kristin bercerita tentang percakapan di kantornya.
Temannya, Eka, berkata bahwa ia akan pindah rumah karena selama ini tinggal di rumah inventaris keluarga. Dengan semangat, Eka menambahkan bahwa kakaknya baru saja membeli rumah di Kotabumi, Tangerang, dengan cara kredit.

Tanpa berpikir panjang, Kristin menjawab,
“Saya juga bakal punya rumah, tapi saya nggak mau beli.”

Eka menatap heran dan spontan berkata,
“Hari gini pengen punya rumah tapi nggak mau beli? Mana ada? Siapa yang mau kasih?”

Kristin tersenyum lembut dan menjawab,
“Tuhan saya sanggup, Eka. Mungkin bagi kita mustahil, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.”
Eka pun terdiam.

Mendengar kisah ini, saya bertanya dalam hati, Bisakah Daniel dan Kristin benar-benar mendapatkan rumah dari Tuhan?

Kita lihat… apakah janji Tuhan itu hanya teori, atau sungguh nyata bagi mereka yang mencari Dia lebih dulu.

Tunggu kisah selanjutnya di artikel: “Jejak Tangan Tuhan di Balik Pintu yang Tak Terduga”

When we put God first, all other things fall into their proper place.”— Ezra Taft Benson.

“Ketika kita mendahulukan Tuhan, segala sesuatu akan berada pada tempat yang seharusnyanya.”— Ezra Taft Benson”.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

From Garage to the World (Part 3) – Indah Rencana-Mu: Saat Tuhan Memberi Kesempatan Kedua.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

From Garage to the World (Part 3) –
Indah Rencana-Mu: Saat Tuhan Memberi Kesempatan Kedua.

Ada kalanya hidup menekan kita sampai ke titik nadir, ketika semua kekuatan seolah lenyap, dan yang tersisa hanyalah napas serta doa yang lirih. Di saat seperti itu, Tuhan sering kali turun tangan — bukan dengan suara gemuruh, tetapi lewat bisikan lembut: “Anakku, Aku beri engkau kesempatan kedua.”

Itulah yang dialami Vincent Lianto. Pengusaha yang memulai langkahnya dari sebuah garasi kecil di Denpasar ini telah menembus banyak batas keberhasilan. Namun pandemi datang membawa badai yang tidak bisa diatasi oleh uang, jabatan, atau pengaruh siapa pun. Ia berhadapan dengan maut.

Ketika tubuhnya melemah dan napasnya nyaris habis, ia tidak lagi berdoa dengan kata-kata panjang. Hanya satu kalimat lirih yang keluar dari hatinya, “Tuhan, tolong saya…” Dan di saat tak berdaya itu, keajaiban terjadi. Dalam ketidaksadaran, ia melihat sinar terang dan mendengar suara yang begitu lembut, tapi tegas: “Anakku, Aku berikan hidup baru untukmu.” Saat terbangun dari ventilator, air matanya mengalir—bukan karena takut, tapi karena sadar betapa rapuh hidup ini dan betapa besar kasih Tuhan yang memulihkannya.

Di ICU, kasih hadir dalam bentuk sederhana namun nyata. Doa istrinya dan anak-anak, pesan semangat dari sahabat, suster yang membisikkan doa di telinga, dan dokter yang berdoa sebelum tindakan. Semua menjadi saluran kasih Tuhan yang bekerja di balik peralatan medis dan dinding rumah sakit. Lianto menyadari, mujizat bukan hanya soal sembuh dari sakit, melainkan menemukan kembali kasih yang menopang saat manusia tak lagi mampu berbuat apa-apa. Tuhan bekerja melalui banyak tangan manusia.

Saat akhirnya ia bisa berjalan lagi, menaiki tangga, bahkan kembali menyetir mobilnya sendiri, Lianto tahu, ia tidak hanya disembuhkan secara fisik. Ia dipulihkan secara makna. Kesempatan hidup kedua membuatnya memandang segala sesuatu dengan kacamata baru. Bisnis, jabatan, dan pencapaian tidak lagi menjadi pusat hidupnya. “Tuhan memberi saya hidup baru. Saya tidak mau menyia-nyiakannya. Saya ingin hidup saya berarti — menjadi berkat bagi orang lain,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Ia mulai menurunkan tempo kerja, memberi waktu lebih banyak untuk keluarga, mendukung pelayanan, dan menolong siapa pun yang datang kepadanya. Ia menemukan kebahagiaan bukan dari angka dan target, tetapi dari memberi dan mengasihi. Dari situ, hidupnya benar-benar berubah arah: dari sekadar mengejar sukses menjadi membagikan berkat.

Suatu hari ia merenungi persahabatan masa SMA-nya yang masih terjalin hangat hingga kini. Bersama sahabat-sahabat lamanya yang menamakan diri BHG Group – Bahagia Group, mereka menjadi seperti keluarga rohani yang saling menopang. Mereka sering berkumpul, tertawa, bermain pingpong, dan berdoa bersama. Nana bercerita tentang bagaimana Lianto dengan tulus mengantar hospital bed untuk ibunya yang sakit tanpa mau dibayar. Anto mengenang kerendahan hatinya yang tak berubah meski sudah begitu sukses. Lenna berkata lembut, “Vincent itu bukan hanya teman, tapi terang bagi kami.”

Melalui mereka, Lianto kembali belajar arti kasih yang sesungguhnya: hadir bagi sesama, mendengar dengan hati, dan memberi tanpa pamrih. Ia menemukan wajah Tuhan bukan di altar megah, melainkan di hati yang peduli.

Kini, ketika menatap ke belakang, ia menyadari bahwa setiap kegagalan, air mata, dan peristiwa yang dulu terasa pahit, ternyata hanyalah bagian kecil dari mosaik besar rancangan Tuhan. Dari garasi kecil di Denpasar hingga ekspor alat medis ke luar negeri, dari tabung oksigen di ICU hingga napas baru yang Tuhan tiupkan, semua terjalin dalam satu desain ilahi. “Tuhanlah yang memiliki rancangan. Saya hanya alat kecil dalam rencana besar-Nya. Sungguh, indah rencana-Mu,” ucapnya pelan.

Hidup yang diberi kesempatan kedua bukan sekadar hidup kembali, melainkan hidup dengan kesadaran baru. Bahwa waktu adalah anugerah. Bahwa setiap orang yang hadir di hidup kita adalah saluran kasih Tuhan. Dan…. keberhasilan sejati tidak diukur dari berapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa dalam kita mengasihi.

Kini Vincent Lianto tidak lagi berlari mengejar dunia, melainkan berjalan perlahan bersama Tuhan — langkah demi langkah, dalam syukur.

“We make a living by what we get, but we make a life by what we give.”
— Winston Churchill

“Kita mencari nafkah dari apa yang kita dapat, tapi kita membangun kehidupan dari apa yang kita berikan.”— Winston Churchill

Hhmmm….Seruput Kopi Cantik kita…?
Hidup bukan sekadar bertahan, tetapi menemukan makna di balik setiap napas yang Tuhan beri. Dan ketika hati kita belajar berkata, “Terima kasih, Tuhan, untuk kesempatan kedua ini,” hidup pun berubah menjadi persembahan syukur yang indah.

“In the middle of every difficulty lies opportunity.” — Albert Einstein

“Di tengah setiap kesulitan, tersimpan sebuah kesempatan.” — Albert Einstein

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

From Garage to the World (Part 2)

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

From Garage to the World (Part 2)

Kadang Tuhan menumbuhkan kita justru lewat ketidaknyamanan yang panjang. Itulah yang saya rasakan saat membaca perjalanan Lianto—dari seorang pemasar sederhana yang memulai lagi dari nol, bekerja dari garasi mungil, sampai akhirnya menembus negeri seberang. Ada satu benang merah yang terasa hangat: ketika kita memilih setia, Tuhan menata langkah—pelan tapi pasti.

Ketika bisnis lamanya berhenti, Lianto tidak duduk meratapi nasib. Ia bangkit, menerima pekerjaan apa pun yang ada, dan selalu memberi lebih dari yang diminta. Hari pertama menjadi sales AC, ia langsung berhasil menjual. Dari sana ia belajar dua hal sederhana yang jadi fondasi hidupnya: ketulusan membuka pintu, dan disiplin menjaga kepercayaan. Ia tidak menunggu dunia ramah, tapi melangkah dulu—dan dunia kemudian mengikuti.

Saat krisis 1998 mengguncang, ia dan Nia, istrinya, mengambil langkah iman: pindah ke Bali dan memulai usaha dari garasi kecil di rumah kontrakan. Ruang tamu dijadikan kantor, dapur jadi gudang, Nia menulis invoice dan melayani pelanggan sambil tetap menjaga semangat keluarga. Tidak ada yang mewah, tapi semuanya dijalani dengan jujur. Dari titik nol itu lahir nilai-nilai yang kelak menjadi DNA DV Medika: kerja rapi, janji ditepati, pelanggan diperlakukan sebagai sahabat.

Suatu hari, DV Medika mengalami ujian besar. Saat mengirim CT Scan ke RS BaliMed, unit besar itu pecah. Situasi seperti itu bisa membuat siapa pun panik dan mencari alasan. Tetapi Lianto memilih tanggung jawab penuh. Tanpa banyak bicara, ia mengirim unit pengganti, memastikan rumah sakit tetap bisa melayani pasien tanpa penundaan. Kerugian memang besar, tapi reputasi dan nama baik, jauh lebih mahal. Ia pernah berkata, “Kalau ada masalah, biar saya yang susah; pelanggan jangan ikut repot.” Keputusan yang tampak “merugikan” itu justru menjadi batu penjuru kepercayaan. Orang bisa lupa harga, tapi tidak pernah lupa sikap.

Integritas yang diuji dalam gelap itu menjadi dasar semua keberhasilan berikutnya. Dari distributor yang setia, DV Medika naik kelas menjadi produsen alat kesehatan lokal berstandar internasional. Lianto membangun pabrik sendiri, menanamkan nilai kejujuran dan kemauan belajar pada timnya. Ia yakin, bisnis bukan sekadar mencari untung, tapi memberi manfaat bagi banyak orang. Tuhan memberkati kerja keras itu lewat hal yang paling membahagiakan: ekspor pertama ke Malaysia. Di Kendal, kendi dipecahkan sebagai tanda syukur, lima kontainer hospital bed buatan Indonesia berlayar meninggalkan dermaga. Bukan sekadar kiriman barang, tetapi surat cinta dari tangan anak bangsa kepada dunia. Bukankah ini cara Tuhan menulis cerita? Ia mulai dari garasi sempit, menguji lewat CT Scan yang pecah, lalu memuliakan lewat kontainer yang berangkat. Semua berawal dari kesetiaan pada perkara kecil.

Kini, setelah melalui banyak tahap, Lianto semakin sadar bahwa bisnis hanyalah panggung untuk melayani dan memuliakan Tuhan. Ia belajar berhenti sejenak, menghirup udara pegunungan, dan mengingat bahwa setiap keberhasilan bukan hasil kekuatan manusia, melainkan kasih karunia Tuhan. Ia mengajarkan kita bahwa semakin tinggi kita naik, semakin dalam kita harus berakar dalam kerendahan hati.

Itulah yang mendorong lahirnya Dusun Bedugul Asri—tempat di mana Lianto menanam kembali harapan. Bedugul bukan sekadar mencari keuntungan, namun Lianto memiliki tujuan lain, bahwa hidup kita harus berarti bagi orang lain. Itu jauh lebih bermakna. Bagaimana caranya memberdayakan petani lokal, membuka pasar mingguan, membantu mereka menjual hasil bumi tanpa perantara, bahkan melatih masyarakat untuk mengelola penginapan dan wisata edukatif. Ia ingin warga desa merasakan kebanggaan dan kemandirian, bukan belas kasihan. Di sana, bisnis bertemu kasih, dan iman berbuah dalam tindakan nyata.

Ketika saya mendengar kisahnya, saya teringat satu kebenaran sederhana: Tuhan tidak menilai seberapa tinggi kita mendaki, tetapi seberapa banyak kehidupan yang disentuh oleh langkah kita. Dari garasi kecil di Denpasar sampai kebun hijau di Bedugul, Lianto menulis kisah tentang kesetiaan, tanggung jawab, dan kasih yang bekerja melalui iman.

Mari kita pun bekerja dengan hati yang sama. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa besar perusahaan yang kita bangun yang menjadi warisan sejati, tetapi seberapa banyak orang yang diberkati melalui kehadiran kita. Karena produk terbaik yang bisa kita kirim ke dunia bukan sekadar barang—melainkan karakter, kasih, dan kehidupan yang memuliakan Tuhan.

“Try not to become a person of success, but rather try to become a person of value.” – Albert Einstein

“Janganlah berusaha menjadi orang sukses, tapi jadilah pribadi yang bernilai.”– Albert Einstein

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Belajar Mengasihi dari Lukas, Si Anak Autis.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Belajar Mengasihi dari Lukas, Si Anak Autis.

Lukas adalah seorang anak laki-laki kecil dengan autisme yang tinggal di New York City. Ia senang sekali mengoleksi boneka-boneka empuk, plushies. Suatu hari, keluarganya melihat Lukas membawa beberapa bonekanya ke luar rumah. Mereka penasaran, lalu mengikutinya. Ternyata Lukas sedang meletakkan boneka-boneka itu di pinggir jalan, tepat di depan rumah mereka.

Bukan tanpa alasan. Itu adalah hadiah dari Lukas untuk anak-anak miskin di lingkungan tempat tinggalnya. Tanpa banyak bicara, tanpa perlu pengakuan, ia membagikan apa yang ia punya kepada mereka yang tidak memiliki.

Tak ada yang menyuruhnya. Tak ada yang mengajarinya melakukan itu. Ia hanya mengikuti isi hatinya. Lukas mengasihi dengan cara yang sederhana tapi tulus.

Kisah ini langsung menyentuh hati saya. Terbayang betapa polos dan murninya kasih sayang seorang anak yang oleh banyak orang dianggap tidak normal. Padahal justru dari dia, kita bisa belajar tentang kepedulian yang tulus—yang mungkin jarang kita temui di tengah masyarakat yang sibuk mengejar status, kesuksesan, dan pengakuan.

Tuhan tidak pernah salah menciptakan seseorang. Dia tidak membuat manusia secara massal seperti pabrik mencetak barang. Setiap orang adalah ciptaan yang unik, istimewa, dan limited edition. Tidak ada yang persis sama. Kita dibentuk menurut rancangan-Nya, dengan tujuan khusus yang hanya kita yang bisa menggenapinya.

Wuih…. kerennya….

Masalahnya, kita sering lebih percaya pada standar dunia daripada rancangan Tuhan. Dunia punya definisi sendiri tentang apa itu berhasil, layak, penting, bahkan “normal”. Lalu tanpa sadar, kita mulai menuntut orang-orang di sekitar kita untuk mengikuti pola itu. Kita ingin anak-anak bertindak sesuai harapan kita, pasangan harus cocok dengan standar kita, bahkan teman sepelayanan pun kita ukur dengan ukuran pribadi.

Begitu seseorang bertindak berbeda, kita mudah curiga, menilai, atau bahkan menghindar. Kita lupa bahwa kasih sejati tidak bersyarat. Kasih yang dari Tuhan tidak memandang rupa, tidak memperhitungkan kekurangan, dan tidak tergantung pada performa.

“Our differences are not something to be tolerated. They are something to be celebrated.” – Rev. William Sloane Coffin.

“Perbedaan kita bukanlah sesuatu yang sekadar harus ditoleransi. Itu sesuatu yang patut dirayakan.” – Rev. William Sloane Coffin.

Bayangkan jika semua orang berpikir dan bertindak sama. Dunia ini akan terasa datar, membosankan, dan tanpa warna. Justru karena ada perbedaan, dunia menjadi lebih kaya. Kita butuh orang-orang seperti Lukas—yang tidak dibentuk oleh tekanan sosial, tapi berani mengikuti suara hatinya.

Saat Lukas diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri, kasih Tuhan mengalir melalui tindakannya. Ia tidak berpikir panjang soal status sosial, citra diri, atau balasan. Ia hanya membagikan yang ia punya dengan hati yang tulus.

Dan ironisnya, anak-anak miskin yang menerima boneka dari Lukas itu—sering kali justru diabaikan oleh orang-orang “normal” yang merasa lebih tahu, lebih penting, lebih sibuk.

Mungkin ini saatnya kita berhenti sejenak dan merenung. Jangan-jangan kita terlalu sibuk membenahi orang lain, menuntut perubahan, atau mengajarkan nilai-nilai… sampai lupa menghidupi kasih yang paling dasar: peka terhadap kebutuhan sesama.

Sering kali Tuhan memakai orang yang menurut dunia tidak penting untuk menyampaikan pesan kasih-Nya. Lukas adalah salah satu contohnya. Lewat tindakannya, kita diingatkan bahwa kasih sejati itu nyata. Tidak selalu rapi, tidak harus masuk akal, dan tidak perlu diumumkan. Tapi justru karena itulah, kasih itu murni.

Apa yang kita anggap sebagai kelemahan, bisa jadi adalah saluran Tuhan untuk mengalirkan kasih-Nya. Lukas mungkin tak bisa menyampaikan isi hatinya seperti anak lain, tapi ia mendengarkan suara kasih di dalam dirinya, dan bertindak.

Tuhan tidak melihat seperti manusia melihat. Manusia memandang penampilan luar, tetapi Tuhan melihat hati. Dan hati Lukas… begitu menyerupai hati-Nya.

Maukah kita belajar dari Lukas? Bukan hanya belajar memberi, tapi belajar untuk tidak menghakimi. Belajar membuka ruang bagi perbedaan. Belajar memberi tempat bagi orang lain menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan salinan dari kita.

Karena kasih sejati bukan tentang menjadikan orang lain seperti kita, tapi menerima mereka sebagaimana Tuhan menciptakan mereka. Jika Lukas bisa melakukannya, kenapa kita tidak?

Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” – Albert Einstein.

“Setiap orang adalah jenius. Tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani hidupnya dengan keyakinan bahwa dirinya bodoh.” – Albert Einstein.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Belajar Bekerja Sama dengan Hukum-Hukum Allah

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Belajar Bekerja Sama dengan Hukum-Hukum Allah

Beberapa tahun lalu, saya baru sungguh-sungguh memahami satu kebenaran besar: Tuhan tidak akan melanggar hukum-hukum-Nya sendiri.
Dan karena dunia ini diciptakan berdasarkan hukum-hukum itu, kita tidak bisa sekadar berdoa tanpa mengerti cara kerja-Nya.

Sama seperti hukum gravitasi yang berlaku bagi semua orang, hukum rohani juga tetap — siapa pun yang menaatinya akan mengalami hasilnya.
Tuhan sudah menetapkan caranya, dan sekarang giliran kita untuk menyesuaikan diri agar kuasa-Nya bisa bekerja dalam hidup kita.

Saya dulu sering berpikir, kalau saya berdoa sungguh-sungguh, Tuhan pasti bergerak. Tapi kenyataannya, banyak doa yang tak kunjung dijawab.
Bukan karena Tuhan tidak mau, tapi karena saya tidak mengerti bagaimana hukum rohani itu bekerja.

Firman Tuhan berkata, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, menurut kuasa yang bekerja di dalam kita.” (Efesus 3:20).
Perhatikan bagian akhirnya — menurut kuasa yang bekerja di dalam kita.
Tuhan memang Mahakuasa, tapi Ia tidak bekerja secara otomatis. Kuasa itu perlu diaktifkan lewat iman dan tindakan kita yang sesuai dengan Firman.

Andrew Wommack menjelaskan, “Allah tidak akan bergerak tanpa kerja sama Anda. Kehendak bebas Anda adalah sesuatu yang tidak akan Dia langgar.”
Artinya, tanggung jawabnya di tangan kita. Tuhan sudah memberi kuasa, tapi kita harus menyalakannya dengan iman.

Mazmur 107:20 berkata, “Disampaikan-Nya firman-Nya, dan disembuhkan-Nya mereka.”
Amsal 4:22 menambahkan, “Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.”

Firman Allah adalah resep dari Dokter Agung.
Kalau dokter memberikan obat tapi pasiennya tidak meminumnya, tentu tidak ada hasilnya. Begitu pula dengan Firman Tuhan — kalau kita tidak ‘meminumnya’ setiap hari lewat perenungan, pengakuan, dan tindakan iman, maka “obat rohani” itu tidak akan bekerja.

Saya mulai menyadari, kunci kesembuhan, damai, dan berkat bukan pada doa panjang atau air mata, tetapi pada ketaatan terhadap hukum-hukum Allah.
Firman-Nya adalah benih kehidupan. Dan setiap benih akan menghasilkan buah kalau ditanam, disiram, dan dijaga.

Kita tidak bisa berdoa minta damai, lalu tetap membiarkan pikiran dipenuhi kekhawatiran.
Tidak bisa minta kesembuhan, tapi setiap hari mengucapkan, “Aduh, sakitku makin parah.”
Hidup kita akan selalu bergerak ke arah pikiran yang dominan.

Amsal 23:7 berkata, “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia.”

Artinya, kita menjadi seperti yang kita pikirkan.
Kalau pikiran kita penuh ketakutan, hasilnya adalah kecemasan.
Kalau pikiran kita tertuju pada Tuhan, hasilnya adalah damai sejahtera.

Roma 8:6 menegaskan, “Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”

Jadi sebenarnya, hidup ini berjalan sesuai arah pikiran kita — bukan karena Tuhan menentukan segalanya, tapi karena kita memberi izin lewat apa yang kita percayai dan pikirkan.

Yang paling mengubah saya adalah kesadaran ini:
Sayalah masalahnya, bukan Tuhan.

Dulu saya sering bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau tidak menolong?”
Sampai akhirnya saya sadar, Tuhan tidak pernah berubah. Firman-Nya tetap sama, tapi sayalah yang perlu belajar bagaimana hukum-hukum-Nya bekerja.

Ketika saya menyesuaikan diri dengan Firman, segalanya mulai berubah.
Hidup saya jadi lebih tenang, iman bertumbuh, dan doa-doa saya lebih sering “terjawab” — bukan karena Tuhan baru mendengar, tapi karena saya baru tahu caranya.

Kebenarannya sederhana:
Tuhan sudah menyediakan semuanya.
Ia sudah memberi kuasa, berkat, dan kesembuhan.
Namun, Ia tidak bisa melanggar hukum-Nya sendiri hanya karena kita tidak tahu cara kerjanya.

Kalau kita mau hasil yang berbeda, kita perlu berpikir berbeda.
Isi pikiran kita dengan Firman, bukan dengan kekhawatiran.
Arahkan hati pada kebenaran, bukan pada ketakutan.
Dan biarkan kuasa Allah bekerja melalui iman kita.

Hukum-hukum Tuhan itu tetap — tapi begitu kita belajar berjalan bersamanya, hidup kita tidak akan pernah sama lagi.

Siap praktik? Yuuuk…..

“God doesn’t change His will to fit your plans; He invites you to adjust your life to His will.” – Henry Blackaby.

“Tuhan tidak mengubah kehendak-Nya untuk menyesuaikan rencanamu; la mengundangmu menyesuaikan hidupmu dengan kehendak-Nya – Henry Blackaby.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 5