Articles

Carilah Dahulu Kerajaan Allah – Jejak Tangan Tuhan di Balik Pintu yang Tak Terduga”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Carilah Dahulu Kerajaan Allah – Jejak Tangan Tuhan di Balik Pintu yang Tak Terduga”

Cerita Daniel dan Kristin ternyata belum selesai.
Ada sahabat saya, B. Silvy, seorang wanita berhati lembut yang gemar mengajak teman-teman gereja berlibur atau “healing” ke rumah sahabatnya di Solo — bergantian, dua atau tiga orang setiap kali.

Suatu hari, ia terpikir untuk mengundang Daniel dan Kristin.
Namun, mereka tidak langsung mengiyakan.
Mereka mempertimbangkan jadwal, harus izin kerja lebih dulu, memastikan tanggung jawab di tempat tugas beres.
Itu hal kecil, tapi mencerminkan karakter — orang yang tahu menempatkan diri dan menjaga kepercayaan.

Setibanya di Solo, mereka diajak menikmati keindahan Perbukitan Menoreh. Dalam obrolan santai, B. Silvy terenyuh mendengar bahwa pasangan ini belum pernah berbulan madu selama 15 tahun menikah.
Ketika melihat foto rumah kontrakan mereka yang sederhana dan sering kebanjiran saat hujan, hatinya pun tersentuh.

Ia lalu bertanya tentang harga rumah di daerah itu.
Setelah tahu angkanya, ia berkata dalam hati, “Aku ingin membelikan rumah untuk mereka.”
Ketika ia menceritakan niat itu kepada anak-anaknya, mereka menjawab ringan,
“Toh, Mami tidak akan tambah kaya atau miskin kalau membeli rumah itu.”

Luar biasa. Like mother, like son.

Yang menarik, sebenarnya B. Silvy tidak mengenal dekat Daniel dan Kristin. Tapi ia peka terhadap suara Tuhan.
Ketika saya bertanya,
“Kenapa mereka yang dibelikan rumah, bukan yang lain?”
Ia hanya tersenyum dan berkata,
“Entahlah, aku merasa Tuhan mendorong… jadi aku nurut saja.”

Menakjubkan.
Dan di situlah letak keindahan ketaatan — ia tidak menghitung untung-rugi, hanya mengikuti tuntunan Roh Kudus.

B. Silvy bukan tipe yang hanya pandai berkata-kata tentang firman, tapi kehidupannya sendiri menjadi khotbah yang hidup.
Ia pelaku firman sejati.
Tak heran, berkat seperti mengejar hidupnya.
Ia adalah bendahara Kerajaan Allah yang setia.
Tuhan tahu setiap berkat yang dipercayakan kepadanya tidak akan berhenti di tangannya, melainkan mengalir untuk memberkati banyak orang.

Hidupnya membuktikan prinsip sederhana namun pasti:
*Apa yang ditabur, itu pula yang dituai.*
Kalau tidak menabur benih, rasanya tidak adil kalau berharap panen, bukan?

B. Silvy menabur dalam ketaatan, kasih, dan kemurahan hati — dan menuainya dalam sukacita saat melihat kehidupan orang lain dipulihkan.

Lebih indah lagi, Daniel dan Kristin tidak bersikap aji mumpung.
Mereka mencari rumah yang sederhana, menawar dengan hati-hati agar tidak membebani.
Mereka bahkan memberikan perincian setiap rupiah yang digunakan.
Setelah transaksi selesai, ayah Kristin menelpon mengucapkan terima kasih sambil bercerita tentang rencana merenovasi rumah itu — pekerjaannya memang tukang renovasi.
Keluarga yang tahu berterima kasih, dan itu nilai-nilai yang semakin langka hari ini.

Beberapa waktu kemudian, saya kembali terkejut.
Kristin ingin mengembalikan modal kecil yang dulu pernah dipinjam — tanpa ada yang menagih.
Mereka menabung sedikit demi sedikit sampai bisa melunasinya.
Ketika saya bercerita pada B. Silvy, ia tersenyum dan berkata,

“Pantesan Tuhan bela mereka…”

Benar juga.
Tuhan tidak memberkati dengan menjatuhkan uang dari langit.
Ia memakai manusia — tetapi hanya mereka yang hidupnya pantas dipercaya yang akan Tuhan gerakkan untuk menjadi saluran berkat.

Integritas dan kerendahan hati Daniel serta Kristin memancarkan wibawa Allah.
Mereka tidak berusaha menarik simpati, tapi iman dan harapan mereka terlihat jelas dalam tindakan dan sikap hidup.

Saya sempat berpikir, masuk akal juga…
Kalau seseorang hidupnya menyulitkan, tidak jujur, suka memanfaatkan keadaan, atau bersikap seenaknya, “mbencekno” kata Orang Surabaya — siapa yang akan tergerak untuk menolong?
Manusia mungkin melihat tampilan luar, tapi sikap hati seseorang selalu terpancar lewat perbuatannya.
Dan sering kali, itulah tanda yang Tuhan pakai untuk menggerakkan bendahara-bendahara surgawi-Nya.

Tuhan melihat hati, tapi manusia melihat yang tampak.
Ketika hati kita benar di hadapan Tuhan, sikap dan tindakan kita mencerminkan kasih-Nya — dan itu yang membuka jalan bagi berkat-Nya mengalir.

Seperti Daniel dan Kristin, mereka sungguh-sungguh mencari dahulu Kerajaan Allah, dan Tuhan sendiri yang menambahkan semuanya — bahkan dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan.

Tuhan tidak menurunkan uang dari langit.
Ia menggerakkan hati manusia.
Namun, hanya mereka yang hidupnya mencerminkan kasih dan integritas Kristus yang dapat dipercaya, yang menjadi wadah berkat itu.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini?
Tunggu kelanjutannya di artikel berikutnya: “Hikmat yang Tersembunyi…”


“Character is how you treat those who can do nothing for you.”— Malcolm Forbes.

“Karakter sejati tampak dari cara seseorang memperlakukan orang yang tak bisa memberi imbalan apa pun.” — Malcolm Forbes

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Rhema Part 3 – TERUS MEMPERKATAKAN
Asuransi VS Iman, Perlukah Punya Asuransi?
From Garage to the World (Part 3) – Indah Rencana-Mu: Saat Tuhan Memberi Kesempatan Kedua.