Monthly Archives: Sep 2025

Articles

Tianshan Tiantze – Permata Surgawi di Tengah Pegunungan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tianshan Tiantze – Permata Surgawi di Tengah Pegunungan.

Perjalanan kali ini membawa saya ke sebuah tempat yang begitu indah, hingga sulit dilukiskan dengan kata-kata: Tianshan Tiantze, yang juga dikenal sebagai Heavenly Lake. Nama itu memang tidak berlebihan, karena danau ini seakan-akan merupakan potongan kecil dari surga yang diturunkan ke bumi.

Sejak awal perjalanan, saya dibuat kagum oleh keseriusan pemerintah Tiongkok dalam mengelola destinasi wisata ini. Jalan raya yang membentang mulus bagaikan karpet panjang, disiapkan agar setiap wisatawan dapat mencapai lokasi dengan nyaman. Bus-bus modern, besar, dan bersih pun berjejer menunggu. Kami menaikinya, lalu meluncur sekitar 40 menit melewati hamparan pegunungan yang menjulang megah.

Sepanjang perjalanan, mata saya dimanjakan oleh pemandangan hijau yang menyejukkan. Gunung-gunung Tianshan berdiri anggun, sebagian puncaknya masih tertutup salju, kontras dengan pepohonan pinus yang rindang di bawahnya. Konon, puncak Tianshan dipercaya menjulang begitu tinggi hingga seakan-akan menyentuh langit. Saat mendongak, saya bisa memahami mengapa legenda itu lahir. Ada kesan agung yang membuat manusia merasa kecil di hadapan keperkasaan alam.

Di sepanjang jalan, kami juga melihat batu-batu besar yang tampak seperti pahatan seni. Padahal bentuk itu tercipta alami, hasil tiupan angin yang mengikisnya selama ratusan tahun. Pemandangan itu membuat saya tertegun. Betapa sabarnya alam bekerja, tanpa tergesa, namun menghasilkan karya yang mempesona.

Setibanya di kawasan danau, kami bersiap menaiki perahu.
Pemandangan di sekitar danau itu sungguh menakjubkan. Airnya jernih, memantulkan langit biru dan pepohonan pinus yang berbaris di sekeliling. Di antara batu-batu gunung yang mengitari danau, kadang terselip hamparan rumput hijau, menghadirkan sentuhan lembut di tengah kokohnya bebatuan. Angin sepoi membelai wajah, menghadirkan rasa damai yang tak ternilai.

Untuk keselamatan, semua penumpang diwajibkan mengenakan pelampung. Saat itulah kami harus melepas tas, ponsel, dan barang bawaan. Entah bagaimana, di tengah kesibukan berganti pelampung dan semangat hendak berfoto, saya lupa di mana meletakkan ponsel utama saya.

Awalnya saya baru menyadari saat berada di atas kapal, ketika selesai berfoto ria, barulah menyadari ponsel itu tidak ada. Hati saya tercekat. Mencoba mencarinya, tapi ga ada. Segera saya melapor ke tour leader dan mereka diarahkan untuk membuat laporan polisi. Barulah setelah itu, kami bisa diminta melihat rekaman CCTV bersama polisi. Sungguh menakjubkan, kamera tersebar hampir di setiap sudut. Dari rekaman terlihat jelas aktivitas kami, dan kemungkinan besar ponsel itu terjatuh saat saya berfoto di tepi danau.

Ada rasa sedih, tentu. Namun di sisi lain saya juga belajar menerima. Sambil berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa sebagai solusinya, untuk menemukannya kembali.

Teringat kata-kata Viktor Frankl dalam bukunya “Man’s Search for Meaning.”

“Between stimulus and response, there is a space. In that space is our power to choose our response. In our response lies our growth and our freedom.”

“Di antara stimulus dan respons, di situ ada ruang. Di ruang itulah kekuatan kita untuk memilih respons. Dalam respons itulah terletak pertumbuhan dan kebebasan kita.”

Respon apa yang hendak saya ambil?
Apakah saya bisa tetap percaya, beriman dan bersyukur kepada-Nya?
Apakah damai sejahtera-Nya tetap menguasai hati ini? Atau justru panik, marah dan kecewa.

Sambil menatap danau yang jernih, saya berbisik lirih:
“Apa pun yang terjadi, saya Memilih percaya kepada Tuhan. Ini keteledoran saya sendiri dan saya yang bertanggung jawab. Fondasinya, tetap percaya, God is good all the time….”*

Setelah keputusan ditetapkan, “All is well, O my soul – Semua baik-baik saja, wahai jiwaku….”

Maafkan teman-teman … perjalanan terlambat karena mencari HP.
Terimakasih untuk kasih, pengertian dan kebersamaan teman-teman semua, P. Anton & P. Samsul.

Setelah menikmati keindahan danau, kami menuju restoran tak jauh dari sana. Hidangan lokal tersaji di atas meja, dan yang membuat suasana semakin berkesan adalah tarian tradisional yang ditampilkan. Gerakan lincah penuh keceriaan seolah menyampaikan pesan bahwa hidup ini, meski kadang kehilangan, tetap pantas dirayakan.

Saya menyadari betapa pentingnya setiap bangsa menjaga dan merawat kebudayaannya. Sama seperti pemerintah Tiongkok yang rela berinvestasi besar demi membangun akses, menyediakan transportasi yang nyaman, serta menjaga kelestarian alam di Tianshan Tiantze. Semua itu bukan hanya demi mendatangkan wisatawan, tetapi juga untuk menghargai warisan berharga yang dipercayakan kepada mereka.

Pengalaman di Tianshan Tiantze bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi juga pelajaran kehidupan. Dari jalan raya yang rapi, saya belajar bahwa setiap pencapaian indah selalu didahului dengan persiapan yang baik. Dari perahu yang mengelilingi danau, saya diingatkan bahwa hidup adalah perjalanan—terkadang tenang, terkadang berombak, bahkan kadang kehilangan sesuatu di tengah jalan. Dari batu-batu yang dibentuk angin, saya belajar bahwa waktu, sekalipun terasa keras, bisa menghasilkan keindahan yang tak disangka.

Dalam perjalanan pulang, kami melewati sabana,padang gurun dengan rumput-rumput keringnya. Kadang terlihat di sana sini ada menjangan atau kancil yang tengah merumput. Dan kincir angin besar…
Cantiknya….. lengkap!

Semua ini akan selalu menjadi pengingat, ada hal-hal agung yang membuat manusia belajar merendah, bersyukur, dan tak berhenti mengagumi karya Sang Pencipta.

“In every walk with nature one receives far more than he seeks.” – John Muir.

“Dalam setiap langkah bersama alam, manusia menerima jauh lebih banyak daripada yang ia cari.” – – John Muir.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Pesona Xinjiang: Antara Salju, Sungai Zamrud, dan Sentuhan Kasih Tuhan”


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Pesona Xinjiang: Antara Salju, Sungai Zamrud, dan Sentuhan Kasih Tuhan”

Beberapa bulan lalu, Xinjiang membuka bandara baru ..
Begitu landing… wow sungguh memukau. Jauh lebih modern daripada Beijing International Airport, resmi beroperasi sejak April 2025.
Toko-toko cantik berderet sepanjang jalan…. sungguh mengggoda.

Sekilas, ini terdengar seperti kemudahan perjalanan dan pintu masuk baru ke wilayah yang luas dan kaya budaya. Terkenal sebagai Swiss-nya China. Seperti biasa, jalan bareng Anton Thedy -TX Travel.

Tapi Xinjiang bukan sembarang daerah. Di sini, keamanan diperketat, polisi dan tentara bisa melakukan pemeriksaan berulang kali, dan setiap langkah terasa diawasi. Demikian infonya. Karena daerah Xinjiang selatan terutama, sempat ingin merdeka.

Sukunya Uighur, sebagian besar penduduknya muslim. Ketika perang dunia 1, ada orang-orang Rusia yang lari ke Xinjiang. Mereka sebagian kecil orang Kristen di sini.

Local guide kami bernama Saleh tapi matanya sipit.
Bahkan restonya bergaya timur tengah. Cakep hingga plafondnya yang diberi lampu kecil-kecil bak bintang di langit. Suasana hingga musiknya, serasa di Timur Tengah, bukan China.
Nach inilah hebatnya pemerintah China, pembangunan merata hingga ke pedalaman. Jika rakyat makmur, siapa yang mau memberontak lagi?

Pertama kami menuju taman kota Urumqi, Hongshan Park. Berfoto ria tentunya sambil melemaskan kaki.
Tuhan baik.
Ramalan cuaca hujan tetapi hujan sudah turun semalaman. Jadilah cerah dan sejuk…. wuih senangnya.

Selanjutnya, bayangkan ini: kita berdiri di antara tebing batu merah raksasa, menjulang tinggi dengan bentuk-bentuk alami yang unik—seperti kastil dan menara raksasa yang diukir angin selama jutaan tahun. Itulah Tianshan Grand Canyon di Xinjiang,tempat di mana alam menunjukkan kekuatannya dalam diam.

Di kejauhan, Pegunungan Tianshan membentang megah, puncaknya diselimuti salju abadi yang berkilau di bawah matahari. Di lerengnya, hutan pinus tumbuh rapat—memberi kontras hijau yang menenangkan di tengah warna coklat kemerahan tebing.

Tak jauh dari sana, mengalir sungai hijau jernih, tenang tapi dalam, membelah ngarai seperti pita zamrud. Airnya begitu bersih, sampai kita bisa melihat bebatuan di dasarnya.

Perpaduan antara tebing merah, gunung bersalju, hutan pinus, dan air yang jernih menciptakan pemandangan yang luar biasa—seolah Swiss bertemu Grand Canyon, tapi dengan sentuhan eksotis khas Xinjiang.

Air sungai yang mengalir dari ketinggian hingga ke tempat yang lebih rendah melewati elevasi bebatuan yang bertingkat-tingkat bak air terjun cantik yang membentuk tirai nan indah memukau….

Kami pun menuju spot yang lebih ke atas lagi.
Di puncak Pegunungan Tianshan, tersembunyi sebuah permata alam yang tenang dan memikat: Danau Goose (Goose Lake)
Tempat tinggal angsa hitam yang terkenal.

Danau ini bukan hanya indah, tapi juga seperti tempat di mana waktu berhenti. Suasananya sunyi, damai, dan menyegarkan jiwa-seperti dunia kecil yang tak terjamah hiruk-pikuk manusia.

Tempat ini bukan cuma cantik, tapi bikin hati terdiam. Alam sedang berkhotbah, tanpa kata.

Dan….. Tuhan begitu baik. Kami datang di musim yang terbaik. Daun-daun mulai menguning … tidak hanya itu, hingga pukul 8 malam langit masih terang.
Konon ini hanya terjadi di bulan September hingga awal Oktober.

Saat kami tengah asyik berfoto-ria, turun hujan salju di bulan September… bayangkan…
Bukankah itu *”Love – Gift”* dari Tuhan?

Wow…. kami bersuka ria menikmati keindahan alam, meski sedikit salah kostum… ternyata suhu turun hingga 3? Celcius…
Bbbrrrrr…. dinginnya.
Padahal kemarin di Beijing masih 24?.
Kami pun beramai-ramai beli baju dingin dadakan….
Travelling selalu meninggalkan kesan yang tak terlupakan.

Berada di tengah megahnya ciptaan Tuhan—pegunungan bersalju, sungai jernih, danau sunyi, dan hujan salju yang turun tak terduga—membuat kita tersadar: hidup ini terlalu indah untuk dilewati dengan terburu-buru.
Setiap langkah, setiap momen, adalah hadiah kasih yang tak ternilai.

Xinjiang bukan hanya destinasi, tapi pengalaman yang menyentuh hati dan membuka mata.

Perjalanan hari ini ditutup dengan dinner di kebun cantik, diiringi tarian tradisional yang apiiik.

Terima kasih Tuhan, untuk kesempatan menikmati keindahan ini.
God is good… all the time!

“Travel makes one modest. You see what a tiny place you occupy in the world.” – Gustave Flaubert

“Melancong membuat kita rendah hati. Kita sadar betapa kecilnya tempat kita di dunia.” – Gustave Flaubert.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

The Power of Kindness – Dunia Butuh Lebih Banyak Malaikat Seperti Kita.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

The Power of Kindness – Dunia Butuh Lebih Banyak Malaikat Seperti Kita.

Ketika Conan O’Brien dipecat dari The Tonight Show pada tahun 2009, dunia mengira dia akan baik-baik saja. Ia figur publik, lucu, cerdas, dan terkenal. Tapi di balik layar, hatinya remuk. Perasaan gagal, ditolak, dan dibuang begitu saja menyelimuti hari-harinya.

Di masa-masa seperti itu, kita semua bisa mengerti. Ada saat dalam hidup di mana semuanya terasa gelap. Doa seolah tidak dijawab. Orang-orang menjauh. Kita terpuruk, merasa sendiri, bahkan ditinggalkan oleh mereka yang kita pikir akan tetap ada.

Namun justru dalam momen paling gelap itu, kasih Tuhan bisa hadir… lewat cara yang paling tak terduga.

Di tengah kepedihannya, Conan mendapat telepon dari seseorang yang tidak terlalu dekat dengannya: Robin Williams.
Dia artis yang sangat tenar.
Conan bahkan tidak tahu dari mana Robin bisa mendapatkan nomor pribadinya. Tapi Robin menelepon dan memintanya datang ke sebuah toko sepeda di Santa Monica.

Setibanya di sana, Conan mendapati sebuah sepeda Colnago mewah berwarna hijau cerah yang sudah dibayar penuh atas nama Robin. Tanpa banyak kata, Robin berkata, “Kamu bakal suka sepeda itu, Chief. Keliling aja—kamu bakal merasa lebih baik.”

Terdengar aneh, ya? Tapi saat Conan melihat sepeda itu, ia tertawa. Bukan karena harganya. Tapi karena hatinya disentuh. Ia merasa dilihat. Dihargai. Disayangi. Dan ketika ia mulai mengayuh sepeda itu di udara pantai California, hatinya mulai pulih.

Itulah kuasa kebaikan. The power of kindness.

Tuhan sering bekerja dalam diam. Ia tidak selalu mengirim kilat atau gemuruh. Tapi Dia hadir lewat seseorang yang mau taat pada dorongan lembut di hati. Robin mungkin tidak tahu dampak dari sepeda itu. Tapi kebaikannya menjadi bentuk nyata dari kasih Tuhan—yang menjangkau Conan di saat ia nyaris putus asa.

Kita pun bisa ada di dua sisi.

Di satu sisi, ketika kita berada di lembah hidup, terpuruk dan merasa ditinggalkan, tetaplah buka hati. Jangan tenggelam dalam kepahitan. Jangan tutup diri. Fokuskan hati pada Tuhan, meski tidak ada hal yang terasa masuk akal. Karena di saat kita berpikir semuanya sudah selesai, Tuhan sedang menggerakkan seseorang—entah dari mana—untuk datang membawa penghiburan, harapan, bahkan tawa.

Di sisi lain, ketika Tuhan menggerakkan hati kita untuk melakukan sesuatu, walau tampaknya sepele, aneh, atau tidak masuk akal—lakukan saja. Kirim pesan. Telepon seseorang. Belikan kopi. Dengarkan tanpa menghakimi. Atau bahkan… belikan sepeda hijau terang. Siapa tahu, kita sedang menjadi “malaikat” yang dikirim Tuhan untuk menjawab doa orang lain.

Seringkali kita berpikir, untuk dipakai Tuhan harus punya panggung, punya suara besar, atau punya banyak uang. Padahal Tuhan hanya butuh satu hal: hati yang mau peka dan taat. Karena kasih-Nya bekerja lewat tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan besar.

Kasih Tuhan itu nyata. Ia tahu persis kapan dan bagaimana menjangkau anak-anak-Nya yang sedang terluka. Dan ketika Dia ingin menyampaikan kasih-Nya, Dia sering memakai kita—yang bersedia.

Jangan remehkan satu tindakan baik. Jangan anggap sepele satu dorongan dari Roh Kudus yang muncul tiba-tiba di hati kita. Bisa jadi, itulah momen yang menyelamatkan hari seseorang. Bahkan menyelamatkan hidupnya.

Dan saat kita sedang di titik rendah, ingatlah… Tuhan tidak pernah jauh. Dia akan menemukan cara untuk menunjukkan bahwa Dia peduli. Bisa lewat siapa saja. Bisa lewat apa saja.

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

Mungkin hari ini, kita sedang menunggu ‘Robin Williams’-kita.

Atau… mungkin justru kita yang sedang dipanggil untuk menjadi Robin bagi orang lain.

Who knows
Yuuuuk taat…..

“Do your little bit of good where you are; it’s those little bits of good put together that overwhelm the world.” – Desmond Tutu.

“Lakukanlah kebaikan kecil di tempatmu berada; karena kumpulan kebaikan kecil itulah yang mampu mengubah dunia – Desmond Tutu.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Keaslian yang Mengalir dari Sumber Kehidupan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Keaslian yang Mengalir dari Sumber Kehidupan.

Identitas diri itu mahal harganya. Di dunia yang sering kali memuja keseragaman—entah dalam cara berpikir, berpakaian, berbicara, bahkan dalam cara bermedia sosial—menjadi diri sendiri terasa seperti tindakan yang radikal. Kita hidup di tengah tekanan untuk cocok, untuk sesuai, untuk dianggap bagian dari “yang normal.”

Dunia mengajarkan: jangan meniru orang lain, tapi jadilah berbeda. Kedengarannya bagus. Tapi izinkan saya menawarkan sudut pandang yang lebih dalam.

Sebagai anak-anak Tuhan, kita memang seharusnya berbeda. Tetapi bukan sekadar berbeda demi terlihat unik. Bukan hanya demi “menjadi diri sendiri” tanpa arah. Kita berbeda karena hidup kita berpijak pada kebenaran yang kekal. Dunia bisa berubah. Standar moral bisa bergeser. Yang dulunya salah, kini bisa jadi benar hanya karena opini mayoritas. Tapi kebenaran Tuhan tidak pernah berubah: dahulu, sekarang dan selama-lamanya Dan di situlah kita berdiri.

Berani hidup sesuai kebenaran Tuhan bukan perkara gampang. Dunia sering menilai kita aneh. Prinsip hidup yang mengedepankan kasih, pengampunan, kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri seringkali dianggap lemah atau ketinggalan zaman. Bahkan dianggap bodoh!
Tapi justru karena kita mengikuti Tuhan, kita tidak berjalan berdasarkan sorak-sorai dunia. Kita tahu arah kita, karena kita mengikuti Pribadi yang menjadi Sumber Kehidupan itu sendiri.

Kita tidak mengcopy manusia. Kita mengcopy Tuhan.

As He is so are we in this world – Seperti Dia ada begitu juga kita di dunia ini.

Apa yang kita lihat dari Tuhan, itulah yang kita tiru. Ketika Dia menunjukkan kasih tanpa syarat, kita belajar memberi tanpa menghitung untung rugi. Saat Dia bersabar, kita pun memilih menahan diri meskipun mudah untuk membalas.

*Tuhan adalah teladan yang tidak pernah salah. Dan semakin kita mengenal-Nya, semakin kita dibentuk menjadi seperti Dia*. Bukan karena kita hebat, tetapi karena Dia hidup dalam kita dan mengalir melalui kita.
*It’s all about God, not us – Ini semua tentang Tuhan, bukan kita.*

Bayangkan kita seperti bejana tanah liat. Saat kita sendiri biasa saja, bahkan rapuh. Tapi smketika diisi dengan sesuatu yang mulia, bejana itu menjadi saluran yang membawa pengaruh besar. Kita pun seperti itu. Hidup kita bukan untuk dipamerkan, tapi untuk mengalirkan kasih-Nya, hikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan kepedulian-Nya bagi orang-orang di sekitar kita.

Ibarat pena di tangan penulis. Pena tidak bisa menulis dengan sendirinya. Tapi ketika Tuhan yang memegang pena hidup kita, maka setiap tindakan, perkataan, dan keputusan kita bisa menjadi sesuatu yang membangun, menginspirasi, dan membawa terang bagi dunia yang gelap. Kata-kata kita bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menguatkan. Kehadiran kita bukan untuk bersaing, tapi untuk menghidupkan. Karena Tuhanlah penulis sejatinya—kita hanya alat-Nya.

Menjadi asli dalam Tuhan bukan soal mempertahankan ego atau karakter lama. Justru sebaliknya. Kita meninggalkan yang lama supaya bisa menjadi ciptaan yang baru. Keaslian kita bukan hasil dari melawan dunia demi pemberontakan. Tapi karena kita berjalan sesuai rancangan-Nya—dan itu membuat kita berbeda secara alami.

Dunia tidak butuh lebih banyak salinan – copyan. Dunia butuh pribadi yang sungguh-sungguh hidup dalam keaslian yang berasal dari Tuhan. Karena hanya dengan begitu, hidup kita punya dampak yang kekal.

Dan ketika orang melihat hidup kita, harapan kita sederhana: semoga mereka tidak melihat kita, tetapi melihat Tuhan yang bekerja melalui kita.

Jadi, jika hari ini kita merasa tertantang karena berbeda, jangan takut. Itu pertanda baik. Jangan buru-buru menyesuaikan diri hanya demi diterima. Tetaplah jadi pena yang menuliskan kebaikan. Tetaplah jadi bejana yang setia mengalirkan kehidupan. Karena saat kita hidup seturut dengan Tuhan, kita tidak hanya menjadi berbeda. Kita menjadi terang…

Siap praktik? Yuuuk….

*”The Believer is like a mirror reflecting the light of God.” – Corrie ten Boom.*

“Orang yang percaya Tuhan itu seperti cermin yang memantulkan terang Tuhan.” – Corrie ten Boom

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Mintalah, Maka Kamu Akan Menerima.

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

Mintalah, Maka Kamu Akan Menerima.

“Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Lukas 11:9)

Ini janji Yesus sendiri. Bukan pendapat orang. Bukan karangan motivator. Tapi anehnya, banyak orang Kristen berdoa, tapi tidak menerima. Lalu mulai mencari-cari alasan: mungkin belum waktunya, mungkin Tuhan tidak mau.

Padahal, kalau Yesus sudah berkata setiap orang yang meminta akan menerima, berarti masalahnya bukan di Tuhan. Mungkin ada yang salah dalam cara kita berdoa atau cara kita menerima.

Yakobus 4:3 bilang, “Kamu berdoa juga, tetapi tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa.”
Artinya, bukan sekadar minta, tapi kita perlu tahu apa yang sudah dijanjikan Tuhan dalam Firman-Nya. Kalau yang diminta adalah bagian dari penebusan Kristus — pengampunan, damai, kesembuhan, hikmat, pemulihan, jodoh, anak, keuangan — semua itu sudah disediakan. Tinggal bagaimana kita percaya dan menerima.

Kita butuh iman. Ibarat listrik sudah terpasang di rumah, tapi lampu tetap gelap kalau tidak ada yang menyalakan saklar. Firman itu janjinya. Perkataan kita adalah saklarnya. Iman menyalakan kuasa Tuhan. Dan konsistensi adalah kuncinya.

Ini bukan teori. Saya ingin bagikan kisah nyata yang luar biasa — yang tidak hanya terjadi di Amerika, tapi juga sampai Afrika. Karena Firman Tuhan bekerja di mana pun, termasuk di Indonesia!

Tahun 1981, Dodie Osteen didiagnosis kanker hati metastasis. Dokter hanya memberi waktu hidup beberapa minggu. Tapi Dodie memilih percaya pada Firman, bukan vonis dokter. Ia pulang ke rumah, menempelkan ayat-ayat kesembuhan di seluruh rumah, memperkatakan janji Tuhan setiap hari, menolak takut, tetap memasak, tetap bergerak sebagai wujud iman bahwa ia disembuhkan. Ia bahkan berdiri secara harfiah di atas Alkitab, menegaskan bahwa hidupnya berdiri di atas Firman. Tidak instan. Tapi beberapa bulan kemudian, tubuhnya bebas kanker — dokter pun tidak bisa menjelaskan secara medis.

Mengapa Dodie begitu beriman?
Sebelumnya, putrinya Lisa lahir dengan tali pusat melilit leher, tidak bisa minum, duduk, atau menelan. Dokter bilang kemungkinan besar Lisa tidak akan berjalan. Tapi John dan Dodie memilih percaya. Mereka mengucap syukur seperti Lisa sudah sembuh, setiap hari. Secara bertahap Lisa berkembang. Sebelum usia 1 tahun, Lisa sudah bisa berjalan. Kini Lisa sehat, cantik, dan aktif melayani Tuhan.

Pengalaman bersama Tuhan ini membuat Dodie memiliki iman yang terlatih.

Pastor Robert Kayanja dari Uganda pernah datang ke rumah John dan Dodie Osteen, tidak hanya disambut secangkir kopi dan doa. Waktu itu dia belum menikah. Dodie mendoakan dan tak lama dia menikah dengan Jessica. Lalu selama 5 tahun mereka belum punya anak. Dodie mendoakan terus sampai lahir anak pertama, lalu disusul anak kembar.

Saat salah satu putrinya didiagnosis kanker dan divonis hidup 3 bulan, Robert kembali mengingat kesaksian Dodie. Ia berdoa setiap hari, berdiri atas Firman. Dalam kunjungannya ke Amerika, Dodie memberikan sapu tangan yang sudah diurapi untuk ditumpangkan pada anaknya. Hasilnya? Anaknya sembuh total.
Hari ini, Pastor Robert menyebut dirinya Black Osteen, saking bersyukurnya.

Kisah lain yang menggetarkan hati tentang George Müller, penginjil dari Inggis, yang berdoa setiap hari untuk lima orang temannya agar mereka diselamatkan.

Orang pertama bertobat setelah beberapa bulan.
Orang kedua, setelah beberapa tahun.
Orang ketiga, setelah 10 tahun.
Orang keempat, 25 tahun kemudian, sesaat sebelum Müller meninggal.
Orang kelima, bertobat setelah kematian Müller, lebih dari 50 tahun sejak Müller mulai berdoa.

Selama puluhan tahun, Müller tidak pernah berhenti mendoakan mereka, meskipun belum melihat hasilnya. Ia percaya bahwa Tuhan akan menjawab doanya — dan benar, semuanya akhirnya menerima Kristus.
Doa Terjawab!

Apa kunci dari semua ini?
Bukan karena suara Tuhan terdengar, mimpi, penglihatan, atau nubuatan.
Hanya satu: berdiri di atas Firman.
Konsisten. Tidak goyah. Tidak peduli berapa lama atau apa pun keadaannya.
Fakta bisa berubah. Firman Tuhan tidak.

Mintalah, maka kamu akan menerima.
Dan jika Firman ini nyata di Amerika dan Afrika, Firman yang sama bekerja juga di Indonesia.

“Ketika kamu kembali kepada Tuhan, tidak ada yang bisa mengalahkanmu.” — Smith Wigglesworth

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” — Yakobus 4:8

Jadi… Siap berdiri di atas Firman dan menerima apa yang sudah dijanjikan-Nya?

God will pass over a million people just to find someone who believes Him.” – Smith Wigglesworth.

“Tuhan akan melewati sejuta orang hanya untuk menemukan satu orang yang sungguh percaya kepada-Nya.” – Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiFirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4