Articles

“Menjejak Hemu: Dari Scenery Road hingga Ski Resort di Atap Empat Negara”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Menjejak Hemu: Dari Scenery Road hingga Ski Resort di Atap Empat Negara”

Perjalanan pagi ini menuju Hemu Village dimulai melalui jalur baru yang dibuka pada Juni lalu, yang diberi julukan *Scenery Road.* Nama itu memang tepat. Di sebelah kiri, tampak gunung berbatu dengan puncak yang masih tertutup salju. Sementara di kanan, deretan pohon birch mulai menguning, berpadu dengan hijau segar yang masih bertahan. Pemandangan ini sederhana namun menawan.

Semakin jauh, jalan makin dikelilingi gunung bersalju pada ketinggian sekitar 2.700 meter. Ada hal menarik: sebagian pohon pinus berubah kuning sepenuhnya, sebagian tetap hijau, dan ada juga yang bercampur keduanya. Kontras warna ini membuat suasana perjalanan terasa berbeda. Nantinya, daun-daun itu akan memerah lalu gugur. Itulah mengapa September hingga awal Oktober disebut sebagai musim terbaik untuk berkunjung ke Xinjiang—pemandangannya berubah seperti kalender hidup yang terus berganti halaman.

Dari jalur ini, perjalanan dilanjutkan dengan cablecar yang bergerak perlahan di atas hutan pinus dan lembah. Suasananya tenang, memberi waktu untuk menikmati pemandangan tanpa tergesa. Cablecar ini membawa kami menuju *Hemu Ski Resort,* destinasi musim dingin populer di kawasan Altai. Dari ketinggian, seharusnya bisa terlihat perbatasan empat negara sekaligus: China, Mongolia, Rusia, dan Kazakhstan.

Namun saat kami tiba di puncak, sekitar 2.800 meter di atas permukaan laut, hujan salju kembali turun. Udara begitu dingin hingga menusuk tulang, dan kabut tebal membuat pandangan terbatas. Meski demikian, suasana tetap terasa istimewa. Di sana tidak ada kafe modern, tetapi jajanan sederhana seperti ubi bakar panas dan jagung rebus banyak dijual, dan cepat ludes karena menjadi pilihan favorit wisatawan yang kedinginan.

Area ski resort ini juga dilengkapi dengan spot-spot foto yang ditata rapi, sehingga pengunjung mudah menemukan sudut menarik untuk mengabadikan perjalanan mereka. Saat ini, pembangunan hotel berbintang 4 dan 5 serta jalur cablecar baru sedang berlangsung. Semua ini menunjukkan bahwa kawasan ini sedang dipersiapkan menjadi destinasi wisata berskala internasional. Penerintah Tiongkok benar-benar serius mempersiapkannya.

Dari ketinggian ski resort, pandangan mengarah ke bawah menuju desa tradisional Hemu. Desa ini dikenal sebagai salah satu yang terindah di China, dikelilingi hutan birch, pegunungan Altai, dan sering diselimuti kabut tipis di pagi hari. Hemu dihuni oleh suku Tuwa (Tuva), komunitas kecil yang sejak lama hidup sebagai penggembala dan peternak kuda. Mereka tinggal di rumah kayu sederhana dan menjaga tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Perubahan zaman membawa pengaruh besar. Hemu kini menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi. Rumah-rumah kayu tradisional masih berdiri, namun desa telah ditata ulang agar lebih mudah diakses wisatawan. Jalan-jalan desa dipenuhi pengunjung yang ingin merasakan kehidupan etnis Tuwa dari dekat.

Berbagai makanan tradisional dijual di sana. Sate kambing menjadi makanan favorit yang terkenal mahal dibandingkan sapi dan ayam.

Di sepanjang jalan ada kambing-kambing kecil cantik yang sudah didandani, dengan pita, kalung, bunga untuk diajak foto oleh para wisatawan. Tentu ada tarifnya.

Dan menarik sekali. Di beberapa tempat terlihat orang yang sedang menari dengan mengenakan baju traditional.

Bunga matahari, bunga Adonis annua, yang menurut Kristina, semerah darah tentara yang meninggal saat berperang, dan berbagai bunga lain tumbuh berkembang di halaman rumah kayu traditional itu menambah asri suasana di sana. Beberapa spot mirip suasana rumah kayu di Jepang.

Meski interaksi dengan dunia luar semakin banyak, identitas budaya mereka tetap menjadi daya tarik utama. Tradisi lama tetap dijalankan, meski perlahan berpadu dengan modernitas.

Kombinasi inilah yang membuat Hemu berbeda. Di satu sisi, kita bisa merasakan kehidupan tradisional yang sederhana, dan di sisi lain terlihat jelas bagaimana pariwisata membawa perubahan dan peluang baru. Hemu kini menjadi simbol harmoni—antara alam, budaya, dan perkembangan zaman.
Unik ya?

Rumi pernah berkata:
“Wherever you stand, be the soul of that place.”
“Di mana pun engkau berdiri, jadilah jiwa dari tempat itu.”

Hemu seakan mengajarkan hal ini—setiap tempat memiliki jiwanya sendiri. Dan saat kita hadir dengan hati terbuka, kita pun bisa ikut merasakan denyut kehidupan yang ada di dalamnya.
Dan membuat kita makin terpesona dengan kebesaran Tuhan yang menciptakannya.

“The mountains are calling and I must go.” – John Muir.

“Gunung-gunung memanggil, dan aku harus pergi.” – John Muir.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Di Mana Berkat Tuhan Tersimpan?
Kekuatan Pengaruh Sebuah Keraguan
SAAT DIKHIANATI…..