Wat Phra That Doi Suthep: Ikon Chiang Mai yang Sarat Sejarah.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Wat Phra That Doi Suthep: Ikon Chiang Mai yang Sarat Sejarah.
Chiang Mai bisa diartikan sebagai “kota baru”.
Nama ini diberikan ketika kota ini didirikan pada tahun 1296 oleh Raja Mengrai, sebagai ibu kota baru menggantikan Chiang Rai (yang berarti “kota tua”). Meski artinya “kota baru”, sekarang Chiang Mai adalah salah satu kota tertua dan paling bersejarah di Thailand bagian utara.
Chiang Mai memang punya banyak sisi menarik, tapi satu tempat yang nyaris selalu masuk daftar kunjungan adalah Wat Phra That Doi Suthep. Terletak di atas bukit dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter, kuil ini bukan hanya bangunan tua yang cantik, tapi juga menyimpan sejarah panjang dan legenda yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Menurut cerita, kuil ini dibangun pada abad ke-14 di masa Raja Keu Naone dari Kerajaan Lanna. Yang membuat kisahnya menarik adalah bagaimana lokasi kuil ini dipilih. Konon, relik suci yang dipercaya sebagai bagian dari tubuh Buddha diletakkan di punggung seekor gajah putih. Gajah itu dilepas begitu saja ke hutan dan akhirnya berhenti di sebuah titik di Doi Suthep. Di sanalah ia berlutut, mengeluarkan suara tiga kali, lalu mati. Raja melihat ini sebagai pertanda, dan memerintahkan kuil dibangun tepat di lokasi tersebut.
Wat Phra That Doi Suthep sejak saat itu menjadi tempat penting bagi masyarakat setempat. Selain sebagai tempat ibadah, lokasi ini juga jadi simbol budaya dan sejarah. Gaya arsitekturnya khas Lanna, lengkap dengan stupa emas yang mencolok dan berbagai ukiran detail. Meski bukan bagian dari kepercayaan saya pribadi, saya tetap bisa menghargai kerumitan karya seninya dan betapa terawatnya bangunan ini selama ratusan tahun.
Menuju kuil ini ada dua pilihan: naik cable car, – lebih tepatnya furnicular, – atau menapaki 306 anak tangga yang dihiasi ornamen naga berwarna-warni. Bagi yang suka sensasi wisata fisik, naik tangga bisa jadi pengalaman seru—walau ngos-ngosan, pemandangan dan atmosfer di atas cukup membayar usaha.
Begitu sampai, pemandangan kota Chiang Mai terbentang luas di kejauhan. Banyak pengunjung berhenti sejenak untuk menikmati angin sejuk dan berfoto. Area kompleks kuil cukup luas, dengan banyak sudut menarik—baik untuk penggemar fotografi maupun yang ingin sekadar duduk santai sambil menikmati suasana.
Hal menarik lainnya adalah kisah di balik akses jalan menuju kuil ini. Sebelum tahun 1935, satu-satunya cara menuju Doi Suthep adalah mendaki. Lalu seorang tokoh agama lokal, Khruba Sri Wichai, memimpin ribuan warga membangun jalan sepanjang 11 km secara gotong royong, tanpa bantuan pemerintah. Jalan itu selesai hanya dalam beberapa bulan dan masih digunakan hingga hari ini. Sebuah catatan sejarah yang memberi gambaran tentang semangat komunitas di masa lalu.
Meski kuil ini ramai dikunjungi wisatawan, suasananya tetap tenang. Orang-orang berbicara pelan, suasana dibuat tertib, dan ada aturan berpakaian yang cukup ketat—tidak boleh memakai celana pendek atau baju tanpa lengan. Bagi yang tidak membawa pakaian sopan, tersedia kain sarung gratis di pintu masuk.
Wat Phra That Doi Suthep bukan tempat yang dikunjungi karena alasan religius bagi semua orang, tapi sebagai wisata budaya dan sejarah, tempat ini sangat layak disambangi. Di balik kemegahannya, tersimpan banyak kisah menarik, baik dari sisi legenda, arsitektur, maupun peran pentingnya dalam kehidupan masyarakat Chiang Mai.
Jadi kalau sedang berada di kota ini, luangkan waktu setengah hari untuk naik ke atas dan menikmati salah satu warisan budaya paling penting di Thailand Utara. Bukan hanya karena lokasinya yang Instagramable, tapi juga karena pengalaman yang terasa berbeda: sejuk, tenang, dan penuh cerita.
Dari puncaknya, kita bisa menikmati kota Chiangmai dengan airportnya.
Jepret… jepret…jepret… kami pun berfoto ria.
Di Chiangmai banyak buah-buahan. Durian, mangga, kelengkeng, rambutan, srikaya dll….
Wuih … asyiknya.
Yang unik sekali ada buah salak kecil, bulunya panjang, sedikit tajam.
Rasanya?
Jauh lebih enak Salak Pondoh sich, manis. Tapi ini unik…
O ya ada minuman bunga kelapa pandan, manis rasanya….
Malam ke Night Market… tinggal pilih mau makan apa? Banyak baju dan berbagai souvenir dijual di sama.
Hhhmmm…. liburan selalu menyenangkan.
“Budaya sebuah bangsa terletak di hati dan jiwa rakyatnya.” – Jawaharlal Nehru.
“The culture of a nation resides in the hearts and in the soul of its people.” – Jawaharlal Nehru.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama