Monthly Archives: Aug 2025

Articles

Apa yang Tetap Bernilai Saat Semua Sorotan Padam?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Apa yang Tetap Bernilai Saat Semua Sorotan Padam?

Denzel Washington pernah berkata,
“Man gives the award. God gives the reward. On my last day, Oscars won’t do me any good.”

“Manusia memberikan penghargaan. Tuhan memberikan hadiahnya. Pada hari terakhirku, Oscar tidak akan membantuku.”

Kalimat ini sederhana tapi menghantam tepat di hati. Di tengah dunia yang terobsesi pada pengakuan, gelar, likes, views, dan popularitas, kita sering lupa: hidup bukan soal tampil gemilang di panggung, tetapi tentang dampak yang kita tinggalkan setelah lampu sorot padam.

Ada begitu banyak orang yang mati-matian membuktikan diri, mengejar validasi, bekerja sampai lupa hidup, hanya demi disebut sukses.

Padahal, seringkali yang terlihat hebat di luar, belum tentu damai di dalam. Kita bisa punya rumah besar tapi hati kosong. Bisa punya nama terkenal tapi relasi hancur. Bisa disanjung di media sosial, tapi kesepian saat pulang ke rumah.

Denzel menegaskan, manusia hanya bisa memberi award, penghargaan dari luar. Tapi reward sejati—upah yang bermakna, yang abadi—datangnya dari Tuhan. Karena Dia melihat hati. Bukan sekadar hasil, tapi motivasi dan kesetiaan dalam proses.

Saya jadi teringat, pernah suatu kali saya merasa gagal. Usaha sudah maksimal, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Rasanya ingin menyerah. Tapi dalam keheningan doa, saya merasakan Tuhan berkata, “Aku tidak melihat keberhasilan seperti manusia melihat. Aku melihat kesetiaanmu – konsistenmu dalam mengerjakan talenta yang Aku titipkan padamu.”

Gubraaaaakkk…..

Itulah yang membangkitkan kembali semangat saya. Dunia bisa mengabaikan kita. Tapi Tuhan tidak. Dan itu cukup.

Kita tidak dipanggil untuk menjadi viral, kita dipanggil untuk setia. Tidak semua orang akan mengerti jalan kita, tapi Tuhan tahu. Bahkan secangkir air yang diberikan dengan tulus tidak akan sia-sia di hadapan-Nya.

Hidup yang benar bukan tentang impressing others – memukau orang lain, tetapi tentang pleasing God – menyukakan hati Tuhan.

Hidup dengan integritas, kasih, dan tujuan. Menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Menjadi teladan bagi anak-anak. Menolong saat bisa. Menguatkan saat diminta. Mengampuni saat disakiti.

Itu tidak akan masuk headline berita. Tapi tercatat di surga.

Dan saat hari terakhir tiba, seperti kata Denzel, Oscars tidak ada gunanya. Yang kita bawa bukan CV, sertifikat, atau medali. Tapi hati yang penuh kasih, jiwa yang pernah terluka tapi memilih mengasihi, dan jejak kebaikan yang menempel di hidup orang lain.
Hidup orang lain yang menjadi lebih baik karena mengenal kita itulah persembahan yang bisa kita bawa kepada-Nya.

Dari situlah kita bisa berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik. Aku telah mencapai garis akhir. Dan aku tetap setia.”

Itulah reward yang sejati.

Maka hari ini, kita punya pilihan: mengejar pengakuan dari dunia yang berubah-ubah, atau hidup untuk menyenangkan Tuhan yang tidak pernah berubah.

Kerjakan bagian kita. Bukan untuk dipuji, tapi karena itu benar. Bukan supaya terlihat baik, tapi karena kita sudah menerima kasih yang besar. Kita hidup bukan untuk membuktikan apa-apa—kita hidup untuk membagikan apa yang sudah kita terima dari-Nya.

“Try not to become a man of success. Rather become a man of value.” – Albert Einstein

Cobalah untuk tidak menjadi orang yang sukses, tetapi jadilah pribadi yang bernilai – Albert Einstein.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Musuh Terbesarmu Bukan Setan, Tapi Pikiran Lama yang Belum Diperbarui”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Musuh Terbesarmu Bukan Setan, Tapi Pikiran Lama yang Belum Diperbarui”

“Spiritual warfare is not fighting demons, it’s fighting wrong thinking.”
— Gregory Dickow

“Peperangan rohani bukanlah melawan iblis, melainkan melawan pemikiran yang salah.”
– Gregory Dickow.

Perang rohani bukan soal berteriak-teriak mengusir setan. Perang rohani sejati terjadi di medan yang jauh lebih sunyi: di dalam pikiran kita sendiri. Saat kita masih percaya kebohongan, hidup kita akan terus dibelenggu walaupun kita sudah lahir baru. Bukan karena kita tidak cukup rohani. Tapi karena pikiran kita belum diperbarui.

Masalah utama kita sering kali bukan roh, karena saat kita lahir baru, Tuhan tidak menyembuhkan roh lama kita—Dia menggantinya dengan roh yang baru. Namun, pikiran dan tubuh kita tetap sama. Dan bagian itu, Tuhan tidak akan mengubahkan untuk kita. Itu tugas kita. Kita diberi roh yang baru, tapi kita sendirilah yang harus memperbarui pikiran kita agar selaras dengan roh baru itu.

Firman Tuhan adalah alatnya. Firman bukan sekadar kumpulan ayat. Firman adalah pikiran Allah, iman Allah, bahkan Allah sendiri tinggal di dalam Firman-Nya. Ketika kita mengisi pikiran kita dengan Firman, kita sebenarnya sedang memasukkan pikiran-Nya ke dalam diri kita. Dan saat pikiran-Nya menjadi cara berpikir kita, hidup mulai berubah—bukan dari luar, tapi dari dalam.

Sayangnya, banyak orang yang sudah lahir baru tetap hidup dengan pola pikir lama. Itu sebabnya hidup mereka tidak mencerminkan siapa mereka sebenarnya di dalam Kristus. Mereka punya roh yang baru, tetapi tetap menoleransi pikiran lama, perasaan lama, dan cara hidup lama. Padahal, pikiran lama itu seperti virus—diam-diam mencuri, membatasi, dan merampok berkat yang sebenarnya sudah jadi milik kita.

Pikiran seperti “Aku tidak cukup. Aku tidak bisa bebas. Aku ini produk masa lalu. Sudah terlambat untukku,” bukan sekadar pikiran negatif. Itu stronghold—benteng yang dibangun iblis di dalam kepala kita untuk membatasi langkah kita. Itu sebabnya kita perlu bicara kepada diri sendiri dengan kebenaran Firman Tuhan: “Aku adalah karya agung Allah,” “Yang Anak itu bebaskan, sungguh-sungguh bebas,” “Kutuk sudah dipatahkan,” “Kasih setia Tuhan baru setiap pagi.”

Kebohongan kehilangan kuasanya saat kebenaran mengambil tempatnya.

Yakobus menulis, “Terimalah dengan lemah lembut Firman yang tertanam dalam kamu, yang sanggup menyelamatkan jiwamu.”

Ia menulis kepada orang percaya, artinya meskipun rohnya sudah selamat, jiwanya belum. Jiwa—pikiran, kehendak, dan emosi—harus terus diperbarui agar selamat secara penuh. Itulah tugas seumur hidup kita: memperbaharui pikiran agar hidup kita mencerminkan siapa kita di dalam Kristus.

Yesus memberi kita teladan. Setiap kali iblis muncul dalam pelayanan-Nya, siapa yang pergi lebih dulu?
Bukan Yesus. Tapi iblis.

Karena Yesus tahu otoritas-Nya, dan Dia tidak pernah meninggalkan tempat di mana iblis masih aktif.
Kita pun seharusnya hidup seperti itu—tidak membiarkan iblis tidak dijaga dalam hidup kita. Kita tidak membiarkan dia diam-diam menguasai pikiran kita, rumah tangga kita, bahkan tubuh kita. Kita punya otoritas, dan kita harus memakainya.

Kita bukan hanya duduk bersama Kristus di tempat surgawi—kita duduk di kursi yang sama. Karena kepala dan tubuh tidak mungkin duduk terpisah.
Apa artinya?
Kita memiliki otoritas yang sama, dan itu bukan karena kita hebat, tapi karena kita ada di dalam Kristus. Saat kita sadar siapa kita di dalam Kristus, hidup tidak akan sama lagi. Kita tidak lagi takut, tidak lagi minder, dan tidak lagi dikuasai masa lalu.

Perubahan sejati tidak terjadi karena kita mencoba lebih keras. Tapi karena kita mulai berpikir seperti Kristus, berbicara seperti Kristus, bertindak seperti Kristus.
Saat kebenaran tentang siapa kita di dalam Kristus memenuhi hati dan pikiran kita, semua rasa tidak aman, rendah diri, dan kebiasaan lama akan hilang dengan sendirinya. Mereka tidak bisa bertahan di tempat yang dipenuhi terang.

Kita tidak mencoba menjadi orang yang baru. Kita sudah baru.
Yang perlu kita lakukan adalah berhenti berpikir seperti yang lama.

Dan itu dimulai sekarang. Saat ini.
Ucapkan kebenaran. Penuhi pikiran dengan Firman.
Dan lihat bagaimana seluruh hidupmu—secara otomatis—mengikutinya.
Siap praktik? Yuuuuk….

Watchman Nee

“You must learn to see yourself as God sees you, not as you see yourself.” – Watchman Nee.

“Engkau harus belajar melihat dirimu sebagaimana Allah melihatmu, bukan sebagaimana engkau melihat dirimu sendiri.” – Watchman Nee.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Jangan Mati Gaya Hanya Karena Sekali jatuh.”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Jangan Mati Gaya Hanya Karena Sekali jatuh.”

Pernah nggak, kita mengawali sesuatu dengan penuh semangat, lalu gagal… dan tiba-tiba semua energi langsung hilang? Yang sebelumnya yakin, sekarang jadi ragu. Padahal baru gagal satu kali.

Dr. Charisse Nixon, profesor psikologi di Pennsylvania State University, pernah melakukan eksperimen sosial yang sederhana tapi sangat mengena.

Satu hari, beliau masuk ke kelas, membagikan secarik kertas kepada setiap mahasiswa. Mereka diminta untuk tidak langsung membalikkan kertasnya.

“Ini adalah anagram. Silakan susun huruf-huruf ini menjadi sebuah kata. Harusnya mudah,” kata Dr. Nixon.

Mahasiswa pun mulai mengerjakan.

Di sisi kanan ruangan, beberapa mahasiswa langsung tersenyum. Tangan mereka terangkat, tanda sudah menyelesaikan teka-teki. Mereka dapat soal seperti “back” dan “lemon”—memang mudah.

Tapi di sisi kiri ruangan, wajah-wajah mulai tegang. Tangan mereka tetap di meja, kepala menunduk penuh frustrasi. Mereka mencoba keras, tapi huruf-huruf itu seperti nggak masuk akal.

Apa yang mereka tidak tahu adalah: Dr. Nixon memang membagikan dua jenis soal.

Satu kelompok diberi anagram yang bisa diselesaikan. Kelompok lainnya diberi dua anagram pertama yang sengaja dibuat mustahil untuk dipecahkan.

Keduanya baru mendapat soal ketiga yang sama persis, yaitu “cinerama”—yang bisa disusun ulang menjadi “American.”

Tapi anehnya, kelompok yang sejak awal berhasil, langsung menyelesaikan soal ketiga ini.

Sementara kelompok yang sebelumnya gagal dua kali, tetap tidak bisa menyelesaikannya. Mereka sudah kalah duluan sebelum mencoba.

Lima menit berlalu. Ruangan sunyi di satu sisi, dan penuh percaya diri di sisi lain.

Saat itulah Dr. Nixon menjelaskan bahwa semua ini adalah eksperimen. Ia lalu bertanya kepada kelompok yang mendapat soal mustahil, “Apa yang kalian rasakan tadi?”

Beberapa mahasiswa mulai terbuka:
“Aku merasa bodoh.”
“Aku merasa kalah.”
“Aku bingung kenapa yang lain bisa, aku tidak.”
“Aku frustrasi.”

Lalu Dr. Nixon bertanya, “Kenapa kalian tidak bisa menjawab soal ketiga yang sebenarnya bisa diselesaikan?”

Jawaban seorang mahasiswa langsung mengena:
“Karena rasa percaya diriku sudah hancur.”

Itu yang disebut learned helplessness—ketidakberdayaan yang dipelajari. Saat kita gagal, otak merekam: “Aku memang nggak bisa.” Dan perasaan itu terbawa ke langkah-langkah berikutnya, bahkan untuk hal yang sebenarnya bisa kita lakukan.

Banyak orang yang gagal bangkit bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka percaya bahwa mereka tidak mampu.

Dan masalahnya, ini bukan cuma terjadi di ruang kelas. Tapi juga di kehidupan sehari-hari.

Kita pernah coba bisnis—gagal—lalu gak mau coba lagi.
Pernah percaya sama orang—dikhianati—akhirnya menutup hati.
Pernah pelayanan, pekerjaan —dihina—lalu gak mau terlibat lagi.

Padahal kegagalan itu bukan akhir, hanya bagian dari proses belajar.

Sayangnya, kita sering terlalu cepat menyimpulkan bahwa kegagalan sama dengan “aku memang gak bisa.” Itu kesimpulan keliru.

Bangkit lagi setelah gagal jauh lebih penting daripada tidak pernah gagal sama sekali.

Percaya bahwa kita bisa mencoba lagi, membuka jalan bagi kemenangan.

“Fall down seven times stand up eight” -Jatuh tujuh kali berdiri delapan kali.”

Tuhan gak pernah menuntut kita harus selalu berhasil. Tapi Dia ingin kita terus maju, terus melangkah, dan gak menyerah.

Jangan izinkan satu kegagalan hari ini mencuri semua potensi yang Tuhan siapkan untuk hari esok.

Kadang, bukan dunia yang menjatuhkan kita—tapi pikiran kita sendiri.

Mari kita lawan ketidakberdayaan yang dipelajari dengan keberanian untuk mencoba lagi.
Karena kemenangan tidak datang kepada orang yang tidak pernah jatuh,
tapi kepada mereka yang terus memilih untuk bangkit!

“Failure is simply the opportunity to begin again, this time more intelligently.” – Henry Ford.

“Kegagalan hanyalah kesempatan untuk memulai kembali-kali ini dengan lebih cerdas.” – Henry Ford.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Dunia Krisis? Anak Tuhan Hidupnya Tetap Berbeda!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Dunia Krisis? Anak Tuhan Hidupnya Tetap Berbeda!

Wow! Dunia sedang gonjang-ganjing. Ekonomi tak menentu, harga barang melonjak, ancaman PHK di mana-mana. Banyak orang panik dan takut, bahkan yang punya tabungan pun merasa tak aman. Tapi… anak-anak Tuhan beda!

Kenapa?
Karena yang jadi sumber hidup kita bukan dunia, tapi Tuhan sendiri—Sumber segala kelimpahan!

Yes, dunia boleh krisis, tetapi anak Tuhan tidak hidup dari sistem dunia, melainkan dari janji-janji Tuhan yang kekal.

Mari kita lihat Nehemia. Ia hidup di masa paling sulit dalam sejarah bangsanya. Bangsa Israel dalam pembuangan, dijajah dan kehilangan tanah air. Tapi Nehemia? Wow… hidup di istana raja Persia! Ia bukan budak di dapur belakang, tapi juru minuman raja—orang kepercayaan yang posisinya sangat dekat dan strategis.

Why? Mengapa, di tengah krisis bangsanya, Nehemia bisa berada di tempat terhormat seperti itu?

Karena Tangan Tuhan menyertainya. Nehemia hidup takut akan Tuhan, setia, dan bisa dipercaya. Dalam masa krisis, justru kemurnian hati dan integritasnya membuatnya menonjol. Bukan karena koneksi, tapi karena favor alias perkenanan ilahi.

Prinsipnya jelas:

“Gusti Allah mboten sare.” – Tuhan tidak tidur

Saat dunia tertidur dalam kegelapan, Tuhan bekerja dengan cara yang tidak kelihatan untuk meninggikan anak-anak-Nya.

Nehemia taat pada kehendak Tuhan. Bahkan saat ia sudah nyaman di istana, hatinya tetap peduli pada Yerusalem yang hancur. Ia bukan hanya diberkati, tapi jadi saluran berkat bagi bangsanya.

Kuncinya? Ia tidak terseret arus dunia, tapi hidup dalam sistem Kerajaan Allah.

Dunia bilang:
Cari aman!
Simpan sebanyak-banyaknya!
Jangan ambil risiko!

Tapi Tuhan berkata:
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.”

Wow! Tuhan tidak berkata “akan diganti”, tapi ditambahkan. Artinya, hidup kita bukan bertahan, tapi berkelimpahan!

Dan tujuan kelimpahan itu, diberkati supaya menjadi berkat bagi sesama.

Hidup dalam Krisis?
Ini Prinsip Anak Tuhan:

– Fokus pada panggilan, bukan tekanan.
Nehemia tidak hanya fokus pada posisinya, tapi pada panggilannya untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Memikirkan kesejahteraan bangsanya.

– Hidup dalam integritas.
Dunia boleh kacau, tapi hati yang murni akan menemukan jalan naik. Nehemia dihormati bukan karena pintar bicara, tapi karena hidupnya bisa dipercaya.

– Dekat dengan Raja di atas segala raja.
Nehemia dekat dengan raja Persia, tapi lebih penting lagi, ia dekat dengan Tuhan. Ia selalu berdoa sebelum mengambil langkah.

Peribahasa Jawa bilang:
“Sapa sing nandur, bakal ngundhuh.”- Siapa yang menanam, dia akan menuai.

Nehemia menanam dalam ketaatan, menuai dalam kelimpahan. Bahkan dalam masa kelaparan rohani dan ekonomi, ia dipakai Tuhan untuk memulihkan bangsanya.

Jadi, bagaimana dengan kita hari ini?
Jangan ikut panik!
Krisis bukan halangan bagi Tuhan untuk memberkati. Justru sering kali, di masa krisislah Tuhan menunjukkan siapa anak-anak kesayangan-Nya.

Ingat, berkat Tuhan tidak tergantung kurs dolar, IHSG, atau situasi global. Itu tergantung hubungan kita dengan-Nya.

“Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku.”

Dunia boleh krisis, tapi anak Tuhan tetap bercahaya.
Nehemia bukan hanya selamat, tapi hidup di tengah istana, membawa pengaruh dan pemulihan.

Wow! Hidup dalam kelimpahan bukan soal saldo, tapi soal hubungan dan arah hati.
Kita anak Raja—hidup kita harus mencerminkan Kerajaan!

Tetap pegang janji Tuhan. Jangan turun ke sistem dunia. Tuhan kita tidak pernah krisis!
Setuju?

“God’s work done in God’s way will never lack God’s supply.” – Hudson Taylor.

“Pekerjaan Tuhan yang dilakukan dengan cara Tuhan, tidak akan pernah kekurangan persediaan dari Tuhan.” – Hudson Taylor.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Menang dengan Cara Tuhan: Tambahkan Terang Positif, Gelap Pun Lenyap”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Menang dengan Cara Tuhan: Tambahkan Terang Positif, Gelap Pun Lenyap”

Hidup itu seperti matematika. Kalau mau menghapus angka, caranya dengan menambahkan kebalikannya. Positif dibatalkan dengan negatif yang sama nilainya. Perkalian dibatalkan dengan membaginya. Begitu rumusnya di dunia hitung-hitungan. Menariknya, prinsip yang sama juga berlaku di dunia rohani. Tuhan berkata, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” Artinya, kita tidak cukup hanya menghindari atau melawan kejahatan secara pasif. Kita perlu secara aktif menambahkan kebaikan, agar kejahatan itu batal, nilainya jadi nol.

Bayangkan, seseorang berkata kasar kepada kita. Reaksi alami manusia adalah membalas dengan nada yang sama, atau minimal ngedumel di hati. Tetapi Tuhan mengajarkan cara yang berbeda: tambahkan berkat untuk membatalkan kutuk. Itu bisa berarti kita membalas dengan kata yang lembut, atau cukup mengucap syukur kepada Tuhan, daripada mengunyah-ngunyah rasa sakit di pikiran. Saat kita menambahkan positif ke negatif, luka itu kehilangan kekuatannya. Nilainya jadi nol. Dan kalau kita lakukan ini terus-menerus, daftar kesalahan orang lain terhadap kita akan selalu kosong.

Bahkan Tuhan berkata, saat kita berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat pada kita, itu seperti menaruh bara di atas kepalanya. Bara itu membakar rasa bersalahnya dan membuat hati nuraninya terusik. Bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk menundukkan kejahatan dengan cara Tuhan. Dengan cara demikian, karakter kita dibentuk semakin menyerupai Dia. Kita belajar sabar, rendah hati, dan berfokus pada kebaikan, bukan pada luka.

Kegelapan tidak bisa diusir dengan kegelapan. Kalau kita membalas benci dengan benci, kita hanya menambah pekatnya suasana. Tetapi begitu Terang datang, gelap otomatis hilang. Tidak perlu diusir, tidak perlu didoakan secara khusus. Cukup hadirkan terang, dan gelap akan mundur dengan sendirinya. Begitu pula saat kita menghadirkan kebaikan, kasih, dan pengampunan. Atmosfer berubah, hati menjadi lega, dan damai sejahtera kembali.

Tuhan sudah memberi contoh. Kita semua awalnya punya “saldo dosa” yang sangat besar, tak mungkin kita bayar sendiri. Lalu Tuhan menambahkan “positif”-Nya — pengorbanan Yesus di kayu salib — untuk membatalkan semua “negatif” kita. Seketika, rekening dosa kita jadi nol. Tidak ada lagi catatan pelanggaran, semuanya dihapus. Lalu Tuhan meminta kita memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.

Kuncinya bukan sekadar menahan diri supaya tidak marah, tetapi menggantinya dengan tindakan positif sesuai Firman Tuhan. Kalau hatimu mulai panas karena ucapan orang, langsung tambahkan ucapan syukur. Kalau kamu dirugikan, segera cari cara untuk menabur kebaikan. Tidak selalu mudah, tapi setiap kali kita memilih cara ini, kita sedang membangun kebiasaan baru. Lama-lama, ini menjadi gaya hidup: membalas negatif dengan positif, bukan untuk membenarkan orang itu, tapi untuk membebaskan hati kita sendiri.

Saat karakter kita dibentuk, kita sebenarnya sedang naik level. Dan setiap kenaikan level selalu diiringi promosi dari Tuhan. Kepercayaan dan tanggung jawab besar hanya bisa diberikan kepada orang yang sudah terbentuk di level tertentu. Tuhan tidak akan menaruh beban besar di pundak orang yang belum siap. Jadi, setiap kali kita memilih untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, bukan hanya hati kita yang terjaga, tetapi kita sedang memposisikan diri untuk menerima kepercayaan dan tanggung jawab yang lebih besar dari-Nya.

Dunia mengajarkan: “Balas setimpal.”
Tuhan mengajarkan: “Balas dengan kasih.”
Dunia bilang: “Jangan mau direndahkan.”
Tuhan bilang: “Rendahkan dirimu, dan Aku yang akan meninggikanmu.” Kalau kita paham prinsip ini, kita akan sadar, kemenangan sejati bukan saat kita “menang debat” atau “membalas dendam,” tapi saat hati kita tetap tenang, bebas dari kepahitan.

Jadi, setiap kali negatif datang — entah dalam bentuk kata, perlakuan, atau sikap orang — jangan biarkan dia menetap. Tambahkan positif. Ucapkan berkat, nyatakan kasih, lakukan kebaikan.
Seperti matematika, nilai negatif itu akan dibatalkan. Dan seperti terang, begitu hadir, gelap akan pergi tanpa perlawanan. Inilah hidup yang Tuhan mau kita jalani: menang, bukan dengan memukul balik, tapi dengan menghadirkan terang di tengah gelap.
Wow… ternyata rahasianya sesederhana itu, tapi dampaknya luar biasa.

The best way to destroy an enemy is to make him a friend.” – Abraham Lincoln

“Cara terbaik menghancurkan musuh adalah menjadikannya teman.” – Abraham Lincoln.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4