Monthly Archives: Aug 2025

Articles

“Menelusuri Jejak Budaya Chiang Rai: Panas, Penuh Warna, dan Penuh Cerita”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Menelusuri Jejak Budaya Chiang Rai: Panas, Penuh Warna, dan Penuh Cerita”

Perjalanan hari ini dimulai dengan mampir ke Hot Spring Thaweb Sin Chiang Rai. Meskipun bukan kolam pemandian besar, tempat ini punya daya tarik tersendiri. Air panas menyembur dari tanah membentuk pancuran kecil, dikelilingi kios oleh-oleh dan jajanan lokal. Ada juga telur puyuh dan ayam yang bisa direbus langsung di air panas alami. Lucu juga, makan telur rebus sambil melihat asap mengepul dari bumi. Rasanya seperti di dapur alam Tuhan.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Longneck Village—desa suku Karen, tepatnya sub-suku Padaung. Ini salah satu highlight hari ini, karena begitu berbeda dari kehidupan yang biasa kami lihat.

Begitu sampai, kami disambut perempuan-perempuan dengan leher yang dilingkari cincin kuningan. Sebagian dari mereka sudah lanjut usia, dan lehernya tampak jauh lebih panjang karena jumlah cincin yang dikenakan lebih banyak.
Katanya, leher mereka jadi panjang karena tumpukan gelang itu-meski sebenarnya bukan lehernya yang memanjang, melainkan bahu yang ditekan ke bawah.

Ternyata, tradisi ini dimulai sejak usia sekitar 5 tahun, dan setiap tahun, gelang leher diganti dengan ukuran yang lebih panjang. Harganya? Bisa mencapai 3.000 baht per set gelang atau sekitar 1.35 juta rupiah, tergantung panjang dan jumlahnya.

Saya sempat berbincang dan riset, apa yang diceritakan salah satu ibu yang sudah mengenakan cincin lebih dari 30 tahun. Ia tersenyum tenang. Katanya, dulu sempat sakit di awal-awal, tapi sekarang sudah terbiasa. Baginya, ini bukan sekadar hiasan, tapi identitas.

Ada sesuatu yang menyentuh saat melihat mereka duduk tenang di pondok bambu, menjual kerajinan tangan sambil sesekali mengajak pengunjung berfoto.
Tidak lupa kami pun segera berfoto dengan mereka.
Duh…. uniknya!

Yang menyentuh hati, mereka tidak meminta sesuatu dari kami. Jika diberi tip, diterima dengan senang hati.
Tidak pun, mereka tetap tersenyum tulus….
Manisnya….. !
Bukan karena ingin dikasihani, tapi karena mereka tahu nilai tradisi mereka—dan mereka bangga.

Dari sana, perjalanan berlanjut ke Blue Temple (Wat Rong Suea Ten). Begitu turun dari mobil, warna biru menyala langsung menyapa mata. Kuil ini benar-benar unik—biru tua berpadu dengan emas cerah, dan di bagian dalam ada patung Buddha putih duduk dalam sikap tenang, menciptakan kontras yang indah.

Yang menarik, kuil ini dibangun oleh murid dari seniman White Temple, dan baru selesai tahun 2016. Detil ukirannya rumit, atapnya menjulang dengan bentuk khas arsitektur Thailand Utara, dan suasananya bersih serta tertib. Meski banyak turis, tempat ini tetap terasa tenang.

Saya pribadi suka bagian dinding-dinding dalam kuil yang dilukis penuh warna. Rasanya seperti masuk ke dunia dongeng dengan sentuhan spiritualitas yang dalam. Bukan karena saya mengikuti keyakinan di balik bangunannya, tapi karena saya menghargai usaha manusia untuk mengekspresikan keindahan dan nilai hidup lewat seni.

Setelah makan siang, tibalah kami di tempat paling ikonik hari itu: White Temple (Wat Rong Khun). Ini bukan kuil biasa—lebih seperti galeri seni yang dibangun dalam bentuk kuil. Warnanya putih bersih, penuh kaca kecil yang memantulkan cahaya, memberi kesan memukau. Tidak berlebihan kalau banyak yang menyebutnya kuil terindah di Thailand.

Setiap sudut diatur dengan cermat. Ada jembatan kecil yang harus diseberangi untuk masuk, dengan tangan-tangan yang menjulur dari bawah—simbol dari penderitaan manusia sebelum mencapai pencerahan. Tapi jujur saja, saya lebih sibuk menikmati keindahan dan keunikan bentuk bangunannya daripada menganalisis makna simboliknya.

Senimannya, Chalermchai Kositpipat, membangun kuil ini dengan dana pribadinya sebagai karya hidup. Sampai sekarang, pembangunan dan perluasannya masih berlangsung. Ini menunjukkan dedikasi yang luar biasa—membangun sesuatu bukan untuk mencari keuntungan, tapi untuk meninggalkan warisan budaya yang bisa dinikmati banyak orang.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini, berjalan santai, mengambil foto, dan menikmati detail demi detail yang tak habis-habis. Rasanya seperti berjalan di lukisan yang hidup.

Hari ini bukan hanya perjalanan wisata biasa, tapi perjalanan melihat wajah-wajah budaya yang beragam, penuh warna dan cerita. Dari air panas yang sederhana, gelang leher yang penuh makna, hingga kuil-kuil yang memukau mata—semuanya meninggalkan kesan tersendiri.

Perjalanan bukan cuma soal tempat, tapi soal hati yang terbuka untuk melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang baru. Dan hari ini, hati kami benar-benar diperkaya.

“Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness.” – Mark Twain.

“Perjalanan itu mematikan prasangka, fanatisme, dan pikiran yang sempit – Mark Twain.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Wat Phra That Doi Suthep: Ikon Chiang Mai yang Sarat Sejarah.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Wat Phra That Doi Suthep: Ikon Chiang Mai yang Sarat Sejarah.

Chiang Mai bisa diartikan sebagai “kota baru”.
Nama ini diberikan ketika kota ini didirikan pada tahun 1296 oleh Raja Mengrai, sebagai ibu kota baru menggantikan Chiang Rai (yang berarti “kota tua”). Meski artinya “kota baru”, sekarang Chiang Mai adalah salah satu kota tertua dan paling bersejarah di Thailand bagian utara.

Chiang Mai memang punya banyak sisi menarik, tapi satu tempat yang nyaris selalu masuk daftar kunjungan adalah Wat Phra That Doi Suthep. Terletak di atas bukit dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter, kuil ini bukan hanya bangunan tua yang cantik, tapi juga menyimpan sejarah panjang dan legenda yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Menurut cerita, kuil ini dibangun pada abad ke-14 di masa Raja Keu Naone dari Kerajaan Lanna. Yang membuat kisahnya menarik adalah bagaimana lokasi kuil ini dipilih. Konon, relik suci yang dipercaya sebagai bagian dari tubuh Buddha diletakkan di punggung seekor gajah putih. Gajah itu dilepas begitu saja ke hutan dan akhirnya berhenti di sebuah titik di Doi Suthep. Di sanalah ia berlutut, mengeluarkan suara tiga kali, lalu mati. Raja melihat ini sebagai pertanda, dan memerintahkan kuil dibangun tepat di lokasi tersebut.

Wat Phra That Doi Suthep sejak saat itu menjadi tempat penting bagi masyarakat setempat. Selain sebagai tempat ibadah, lokasi ini juga jadi simbol budaya dan sejarah. Gaya arsitekturnya khas Lanna, lengkap dengan stupa emas yang mencolok dan berbagai ukiran detail. Meski bukan bagian dari kepercayaan saya pribadi, saya tetap bisa menghargai kerumitan karya seninya dan betapa terawatnya bangunan ini selama ratusan tahun.

Menuju kuil ini ada dua pilihan: naik cable car, – lebih tepatnya furnicular, – atau menapaki 306 anak tangga yang dihiasi ornamen naga berwarna-warni. Bagi yang suka sensasi wisata fisik, naik tangga bisa jadi pengalaman seru—walau ngos-ngosan, pemandangan dan atmosfer di atas cukup membayar usaha.

Begitu sampai, pemandangan kota Chiang Mai terbentang luas di kejauhan. Banyak pengunjung berhenti sejenak untuk menikmati angin sejuk dan berfoto. Area kompleks kuil cukup luas, dengan banyak sudut menarik—baik untuk penggemar fotografi maupun yang ingin sekadar duduk santai sambil menikmati suasana.

Hal menarik lainnya adalah kisah di balik akses jalan menuju kuil ini. Sebelum tahun 1935, satu-satunya cara menuju Doi Suthep adalah mendaki. Lalu seorang tokoh agama lokal, Khruba Sri Wichai, memimpin ribuan warga membangun jalan sepanjang 11 km secara gotong royong, tanpa bantuan pemerintah. Jalan itu selesai hanya dalam beberapa bulan dan masih digunakan hingga hari ini. Sebuah catatan sejarah yang memberi gambaran tentang semangat komunitas di masa lalu.

Meski kuil ini ramai dikunjungi wisatawan, suasananya tetap tenang. Orang-orang berbicara pelan, suasana dibuat tertib, dan ada aturan berpakaian yang cukup ketat—tidak boleh memakai celana pendek atau baju tanpa lengan. Bagi yang tidak membawa pakaian sopan, tersedia kain sarung gratis di pintu masuk.

Wat Phra That Doi Suthep bukan tempat yang dikunjungi karena alasan religius bagi semua orang, tapi sebagai wisata budaya dan sejarah, tempat ini sangat layak disambangi. Di balik kemegahannya, tersimpan banyak kisah menarik, baik dari sisi legenda, arsitektur, maupun peran pentingnya dalam kehidupan masyarakat Chiang Mai.

Jadi kalau sedang berada di kota ini, luangkan waktu setengah hari untuk naik ke atas dan menikmati salah satu warisan budaya paling penting di Thailand Utara. Bukan hanya karena lokasinya yang Instagramable, tapi juga karena pengalaman yang terasa berbeda: sejuk, tenang, dan penuh cerita.

Dari puncaknya, kita bisa menikmati kota Chiangmai dengan airportnya.
Jepret… jepret…jepret… kami pun berfoto ria.

Di Chiangmai banyak buah-buahan. Durian, mangga, kelengkeng, rambutan, srikaya dll….
Wuih … asyiknya.

Yang unik sekali ada buah salak kecil, bulunya panjang, sedikit tajam.
Rasanya?
Jauh lebih enak Salak Pondoh sich, manis. Tapi ini unik…
O ya ada minuman bunga kelapa pandan, manis rasanya….

Malam ke Night Market… tinggal pilih mau makan apa? Banyak baju dan berbagai souvenir dijual di sama.
Hhhmmm…. liburan selalu menyenangkan.

“Budaya sebuah bangsa terletak di hati dan jiwa rakyatnya.” – Jawaharlal Nehru.

“The culture of a nation resides in the hearts and in the soul of its people.” – Jawaharlal Nehru.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kasih Sahabat Sejati, yang Mengangkat Prajurit yang Terluka.

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Kasih Sahabat Sejati, yang Mengangkat Prajurit yang Terluka.

Dua nama besar—Jim Bakker dan Jimmy Swaggart—pernah berdiri di puncak pelayanan. Ribuan jiwa datang kepada Tuhan melalui mereka. Tapi, seperti Petrus yang menyangkal Yesus, keduanya pernah jatuh dalam dosa yang membuat dunia menghakimi dan meninggalkan mereka. Namun dalam saat-saat tergelap itulah, kasih Kristus yang sejati diperlihatkan—bukan lewat khotbah, tapi lewat tindakan nyata dari seorang pria yang namanya identik dengan Injil: Billy Graham.

Jim Bakker sedang di penjara. Bukan lagi sebagai penginjil yang dielu-elukan, melainkan sebagai narapidana yang tengah membersihkan toilet ketika Billy Graham datang. Tanpa basa-basi, tanpa kamera atau publikasi, beliau memeluk Jim dan berkata pelan, “Jim, I love you.”
Di titik terendah hidupnya, pelukan itu menjadi pernyataan ilahi: Kamu belum habis. Tuhan belum selesai denganmu.

Dan lebih dari itu, anak Billy—Franklin Graham—berulang kali datang ke penjara untuk mengunjungi dan berbicara di kapel, menyemangati Jim dan para tahanan lainnya. Ia menyebut Jim temannya, dulu dan sekarang, dan siap membela hubungan itu di depan siapa pun.

Setelah dibebaskan, Jim tinggal di halfway house. Minggu pertamanya bebas, Ruth Graham menelepon dan memintanya duduk bersama keluarga Graham di gereja. Ketika dia datang, Ruth sudah duduk menunggu. Ia menepuk kursi di sebelahnya dan berkata,
“Aku ingin kamu duduk di sini.”

Sebuah tindakan kecil, tapi maknanya sangat besar. Dunia boleh menolak, tapi keluarga Graham berdiri sebagai representasi kasih Kristus—mereka berkata dengan tindakan: kamu masih berharga. Setelah ibadah, Ruth bahkan mengundangnya makan malam di rumah mereka. Jim datang dengan amplop yang ia pakai sebagai dompet karena di penjara dompet dilarang. Ruth kembali dari ruang pribadi dan memberikan salah satu dompet Billy Graham, sambil berkata, “Billy tidak membutuhkan ini sekarang, kamu pakai saja.” Tidak berhenti di situ, Franklin bahkan menolong Jim secara praktis: menyediakan rumah, memberi mobil, dan mendampingi secara pribadi agar Jim bisa membangun kembali hidupnya dengan martabat.

Sementara itu, Jimmy Swaggart juga mengalami kejatuhan yang besar. Lebih dari 500.000 jemaat meninggalkannya. Media menghancurkan reputasinya. Ia dicap “pendeta palsu.” Para pemimpin gereja pun menjadikan kisahnya sebagai contoh kegagalan di mimbar mereka.

Namun di tengah badai penghakiman itu, ketika Billy Graham ditanya tentang Swaggart, jawabannya mengguncang publik.
“Jika ini bisa terjadi pada Jimmy Swaggart, bisa juga terjadi padaku. Ia sudah terluka—jangan kita selesaikan dia. Mari kita sembuhkan dan angkat kembali prajurit kita.” Jawaban ini tidak hanya penuh kasih, tapi mencerminkan kerendahan hati yang dalam. Billy Graham tahu, tidak ada yang kebal dari godaan. Namun yang terpenting adalah, apakah kita ikut melempar batu, atau kita memilih jadi tangan yang mengangkat?

Karena sikap kasih dan penerimaan dari keluarga Graham—yang tidak hanya menyentuh secara emosional tapi juga praktis—kedua prajurit ini bangkit kembali. Jim Bakker hari ini masih memberitakan Injil dengan kerendahan hati yang dalam, dan pelayanan Jimmy Swaggart kembali dipenuhi dengan kuasa. Tanda-tanda heran dan mujizat kembali menyertai pelayanannya, membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah mencabut panggilan-Nya.

Kita sering begitu cepat menilai dan meninggalkan orang saat mereka gagal, padahal yang Tuhan cari bukan siapa yang benar atau salah, tapi siapa yang mau memulihkan.

Billy, Ruth, dan Franklin Graham menjadi contoh langka—mereka tidak bersaing, tidak memanfaatkan kegagalan orang lain untuk naik. Justru mereka hadir sebagai keluarga rohani sejati. Mereka tidak sibuk menjaga citra, tapi sibuk menjaga hati sesama prajurit Kristus.

Dunia ini butuh lebih banyak orang seperti keluarga Graham. Yang berani berkata, “Aku tidak malu berdiri di samping orang yang sedang bangkit dari lumpur,” karena itulah kasih Kristus.

Dan pada akhirnya, bukan soal siapa yang paling sukses, tapi siapa yang jadi saluran pemulihan bagi mereka yang terjatuh. Seperti kata Ruth Graham: “Tak ada yang bisa melarangku mencintai orang yang Tuhan kasihi.” Dan itulah Injil yang hidup.

Sebagai penutup, Billy Graham itu terkenal jika sedang berada di lift sendiri, lalu ada wanita yang masuk, beliau memilih keluar. Billy menjaga dirinya sedemikian rupa agar tidak ada gossip atau celah di mana iblis bisa menjatuhkannya. Jauh lebih mudah untuk naik ke puncak kesuksesan daripada mempertahankan agar tetap di puncak. Billy Graham salah satu teladan yang bersih, sukses, tanpa cacat sepanjang hidupnya sebagai penginjil besar dunia hingga akhir hayatnya.

Teringat sahabat saya, Bu Mira, yang juga menolak diantar oleh suami orang, meski sudah kenal sangat baik dan hanya dekat saja.
“Saya itu janda, Bu Yenny…. harus bisa menjaga harkat dan martabat seorang janda.”

Keren ya…. mereka contoh pribadi yang menjaga kekudusan dengan disiplin. Jauh lebih mudah mencegah daripada membereskan saat gossip sudah menyebar di mana-mana. Tidak ada asap, jika tidak ada api.
Bagaimana pendapat Anda?

You can’t control what others say about you, but you can control what you give them to talk about.”- Craig Groeschel.

“Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang kita, tapi kita bisa mengendalikan apa yang kita berikan untuk mereka bicarakan.” – Craig Groeschel.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#Kesembuhan #ImanKepadaTuhan
#BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Alkitab Dan Ilmu Pengetahuan Itu Selaras. Ini Buktinya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Alkitab Dan Ilmu Pengetahuan Itu Selaras. Ini Buktinya!

Dalam salah satu episode acara *Sid Roth – It’s Supernatural!*, saya belajar banyak dari seorang ilmuwan otak Kristen, Dr. Caroline Leaf. Beliau bukan hanya seorang ahli dalam bidang neuroplastisitas, tetapi juga seorang yang sungguh-sungguh mengandalkan firman Tuhan dalam setiap penelitiannya. Mendengarnya menjelaskan bagaimana iman dan ilmu pengetahuan bekerja selaras membuat saya terkagum-kagum. Ada begitu banyak hal yang sebelumnya kita anggap rohani semata, ternyata bisa dijelaskan secara ilmiah. Dan sebaliknya, hal-hal ilmiah pun justru menunjukkan betapa hebatnya kebenaran Firman Tuhan.

Dr. Caroline menjelaskan bahwa manusia memang didesain oleh Tuhan untuk “wired for love.”
Otak kita secara alami dirancang untuk hal-hal positif—kasih, sukacita, damai, kebenaran, antusiasme, gairah, pengharapan. Semua itu menghasilkan reaksi kimia di otak kita yang sehat, membangun, dan memperkuat pikiran yang benar. Tapi sayangnya, kita hidup di dunia yang rusak, penuh trauma dan ketakutan. Saat kita mengalami sesuatu yang menyakitkan atau mempercayai kebohongan, maka otak kita pun membentuk “pohon-pohon hitam” – memori beracun yang disimpan dalam bentuk struktur yang nyata di dalam otak.

Yang menarik, dalam 24–48 jam sejak pikiran negatif itu muncul, kita sebenarnya diberi waktu oleh Tuhan untuk mengambil keputusan. Apakah kita akan membiarkannya tumbuh dan memperkuat diri? Atau kita mau mengubahnya, dengan menggunakan bagian otak depan kita – frontal lobe – untuk berkata, “Ini tidak baik. Aku memilih percaya kepada Tuhan. Aku memilih kebenaran-Nya.”

Firman Tuhan dalam Markus 11:22–23 berkata, “Percayalah kepada Allah… Katakanlah kepada gunung ini…”
Gunung itu, kata Dr. Caroline, adalah pohon-pohon beracun dalam pikiran kita
. Kita bisa berbicara kepada mereka – bukan sekadar berpura-pura positif, tapi dengan mengucapkan Firman Tuhan. Saat kita membaca Alkitab, percaya dan mengucapkannya, otak kita menghasilkan bahan kimia seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin yang secara ilmiah mampu melelehkan struktur memori beracun itu. Luar biasa, ya?

Dan ternyata, proses ini memakan waktu 21 hari. Dalam 21 hari, kita bisa mulai menghancurkan pohon pikiran beracun dan membangun pohon hijau baru di sebelahnya – pikiran-pikiran sehat yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Tapi dua pohon ini tidak bisa hidup berdampingan dalam satu tempat. Yang satu harus digantikan oleh yang lain. Kasih yang sempurna mengusir ketakutan, kata 1 Yohanes 4:18. Ternyata, itu bukan cuma janji rohani, tapi juga kenyataan ilmiah.

Dr. Caroline juga bercerita tentang pria 78 tahun yang sudah tidak bisa terbang lagi karena matanya memburuk. Tapi dia memutuskan memulai karier kedua: jadi akuntan. Dengan menerapkan prinsip firman Tuhan dan ilmu otak, dia berhasil lulus di usia 84 dan bekerja sebagai akuntan selama 19 tahun! Bahkan ada juga anak muda yang mengalami cedera otak parah, divonis tak bisa pulih, tapi setelah menerapkan prinsip ini selama 3 bulan, ia bukan hanya pulih, tetapi meraih 4 gelar dan jadi pembicara top di Afrika Selatan.

Jadi, siapa bilang makin tua kita makin lemah dan pikun? Kalau kita setia merenungkan Firman Tuhan, membaca Alkitab, berdoa, memuji dan menyembah-Nya, bagian luar otak kita akan menebal. Secara ilmiah, itu artinya kita makin cerdas! Firman Tuhan bukan hanya menguatkan hati dan jiwa, tapi juga menyehatkan dan memperbarui otak secara fisik.

Kebenaran ini benar-benar menyentuh saya. Firman Tuhan itu bukan sekadar tuntunan hidup, tapi juga sarana pemulihan total – roh, jiwa, dan tubuh. Tak heran Mazmur 1 menyebutkan bahwa orang yang merenungkan firman Tuhan siang dan malam itu seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air—yang tidak layu daunnya dan apa saja yang dibuatnya berhasil. Ternyata, kita pun punya pohon-pohon dalam otak kita. Dan kita bisa memilih: mau tanam pohon hijau atau biarkan pohon beracun merusak hidup?

Seperti kata Dr. Caroline Leaf, “You are not a victim of your biology. You are a product of your choices.”
“Kita bukan korban dari biologi kita. Kita adalah hasil dari pilihan-pilihan kita.”

“Renew your mind with the Word of God. It literally changes your brain.”
“Perbaruilah pikiranmu dengan Firman Tuhan. Itu sungguh-sungguh mengubah otakmu.”

Wow…. praktik yuk….

“Science now proves that we are not victims of our genes. We can change our genes, health, even our destiny… supernaturally!” – Sid Roth

“Ilmu pengetahuan sekarang membuktikan bahwa kita bukan korban gen kita. Kita bisa mengubah gen, kesehatan, bahkan takdir kita… secara supranatural!” – Sid Roth

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ukuran Hidup Itu Bukan Seberapa Hebat Kita, Tapi Seberapa Dalam Jejak yang Kita Tinggalkan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ukuran Hidup Itu Bukan Seberapa Hebat Kita, Tapi Seberapa Dalam Jejak yang Kita Tinggalkan…

HIDUP KITA AKAN BERNILAI APABILA ADA ORANG YANG MERASA BERSYUKUR TELAH BERTEMU DENGAN KITA.”
FRANZ MAGNIS SUSENO –

Wuih… senangnya, quotes Franz Magnis Suseno persis dengan prinsip saya….

Ukuran kebermaknaan hidup bukan terletak pada berapa banyak harta, jabatan, atau popularitas yang kita miliki, melainkan pada jejak kebaikan yang kita tinggalkan dalam kehidupan orang lain. Hidup yang bernilai adalah hidup yang menghadirkan rasa syukur bagi orang-orang di sekitar kita—entah karena kebaikan sederhana, ketulusan dalam membantu, atau sekadar kehadiran yang menenangkan.

Kata-kata ini menyentuh dan menyadarkan. Karena di tengah dunia yang ramai mengejar sorotan, kita sering lupa bahwa hidup bukan soal jadi yang paling menonjol, tapi soal apakah orang lain bersyukur karena pernah mengenal kita. Dalam realitasnya, banyak orang terjebak dalam pencarian nilai yang semu—mengejar pengakuan, like, view, followers, atau posisi. Padahal, seseorang yang hidupnya biasa-biasa saja bisa meninggalkan kesan yang luar biasa, jika hatinya tulus dan kehadirannya membawa damai.

Nilai hidup tidak selalu muncul dalam bentuk prestasi besar. Justru sering terlihat dalam hal-hal kecil yang konsisten: senyum yang menguatkan, pelukan yang menyembuhkan, kesediaan mendengar tanpa menghakimi. Kita semua mungkin tidak bisa hebat seperti tokoh-tokoh besar, tapi kita bisa menjadi orang yang menghadirkan rasa aman dan sukacita bagi orang lain.

Apakah kehadiran kita memberi cahaya? Atau malah meninggalkan bayangan kelam?
Kita perlu bertanya: ketika kita tidak ada, apakah orang lain akan merasa kehilangan? Atau justru merasa lega?
Karena yang abadi bukanlah nama besar, melainkan jejak hati yang tertanam dalam hidup orang lain.

Saya tidak pernah menyangka, lewat hobi menulis, Tuhan membuka begitu banyak pintu. Saya dipertemukan dengan banyak orang, mendengar cerita hidup mereka, ikut mendoakan, tertawa bersama, bahkan menangis bersama. Tapi yang lebih mengejutkan—sering kali bukan saya yang memberkati mereka, justru saya sendiri yang paling banyak belajar. Setiap tulisan bukan hanya berbicara kepada orang lain, tapi sedang mengajar saya sendiri. Tuhan sungguh baik.

Tidak ada kebahagiaan yang melampaui saat kita tahu hidup kita bisa jadi saluran berkat. Itu sukacita yang tak bisa dibeli, tak bisa diukur dengan materi. Tapi saya tahu juga: ini bukan karena saya hebat. Sejujurnya, ini semua karena Tuhan yang mengorkestrasi semuanya dengan sempurna.

Seperti kisah yang baru-baru ini saya alami. Ibu Hermini mengirim pesan,
“Bu, saya di detik yang sama sedang mengetik untuk mengungkap rasa kecewa. Pas di baris kelima sedang nulis, WA dari Ibu masuk. Saya berhenti menulis karena ingin baca dulu. Ternyata isinya tentang KECEWA. Aduh Tuhan… Engkau tahu hati hamba-Mu saat sedang sedih. Saya langsung hapus tulisan saya. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Bu Yenny.”

Saya terdiam membaca pesan itu. Ini bukan kebetulan. Ini Tuhan yang bekerja—tepat waktu, tepat sasaran. Saya hanya menulis karena merasa perlu, tapi Tuhan tahu siapa yang sedang membutuhkan kata-kata itu, dan mengaturnya sampai tepat waktu masuk ke ponsel seseorang yang sedang nyaris tenggelam dalam rasa kecewa.

It’s all about God, not us.
Tuhanlah yang menjadikan hal sederhana tampak luar biasa. Tapi saat kita taat, saat kita bersedia dipakai, Tuhan membuat kita kelihatan lebih *“awesome”* dari diri kita yang sebenarnya. Bukan karena kita hebat, tapi karena Tuhan yang luar biasa bekerja melalui hidup yang biasa-biasa saja.

Dan itulah warisan terbaik. Bukan sekadar nama, harta, atau posisi. Tapi kehidupan yang menghadirkan rasa syukur di hati orang lain. Ketika mereka tersenyum, dan berkata dalam hati, “Terima kasih Tuhan, aku pernah mengenalnya.”

“The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.”— Mahatma Gandhi

“Cara terbaik menemukan jati dirimu adalah dengan mengabdikan dirimu bagi sesama.”— Mahatma Gandhi.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4