Monthly Archives: Jul 2025

Articles

Kesembuhan: Anugerah yang Harus Dijaga


Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Kesembuhan: Anugerah yang Harus Dijaga

Tuhan itu baik. Dia penuh kasih, dan salah satu bukti nyata kasih-Nya adalah keinginan-Nya untuk menyembuhkan. Kesembuhan bukanlah hadiah untuk orang suci, tapi warisan bagi anak-anak-Nya.

Yesus menyembuhkan semua orang yang datang kepada-Nya dengan iman — tanpa seleksi. Itu artinya Tuhan selalu mau menyembuhkan. Tapi, seperti halnya keselamatan, kesembuhan itu tidak otomatis. Kita harus merespons dengan iman dan ketaatan.

Saya sering bertanya-tanya: Kenapa ada yang disembuhkan seketika, tapi ada juga yang sembuh perlahan-lahan — bahkan ada yang belum sembuh sama sekali? Ternyata jawabannya sederhana: Tuhan bukan mesin mujizat, Dia adalah Bapa yang rindu hubungan dengan anak-anak-Nya.

“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.” — Mazmur 147:3

Kesembuhan bisa terjadi secara instan — mujizat langsung. Tapi untuk mempertahankan kesembuhan, kita harus mengisi hidup kita dengan Firman Tuhan. Kalau tidak, penyakit itu bisa datang kembali. Yesus sudah memberi peringatan keras:

“Apabila roh jahat keluar dari seseorang… ia kembali ke rumahnya yang telah ditinggalkannya… lalu masuk dan tinggal di situ; maka keadaan orang itu lebih buruk dari sebelumnya.” — Matius 12:43-45

Artinya, jika kita tidak mengisi hidup dengan Firman, kebenaran, dan gaya hidup baru yang sehat secara rohani maupun jasmani, kita membuka pintu bagi iblis untuk kembali — dan kali ini lebih parah.

Saya pernah mendengar kesaksian seseorang yang sembuh total dari penyakit berat setelah didoakan. Tapi hanya beberapa bulan kemudian, penyakit itu kembali, bahkan lebih parah. Ternyata, setelah sembuh, ia kembali hidup seperti dulu — cuek terhadap gaya hidup, makanan, bahkan emosinya. Tidak ada perubahan pola pikir. Tidak membangun hubungan dengan Tuhan. Firman tidak lagi menjadi makanan rohaninya. Itulah kunci kegagalan.

Tuhan bisa menyembuhkan lewat mujizat, tetapi sering kali, kesembuhan datang melalui hikmat. Ketika kita membangun hubungan dengan-Nya, Roh Kudus akan menunjukkan akar masalahnya: pola makan yang salah, stres yang terus-menerus, gaya hidup yang rusak, atau bahkan kebiasaan yang merusak tubuh. Kita perlu bertobat, bukan hanya percaya. Percaya tanpa pertobatan adalah iman yang kosong.

“Umat-Ku binasa karena kurang pengetahuan.” — Hosea 4:6

Penyakit seringkali merupakan buah gaya hidup yang tidak selaras dengan Firman selama bertahun-tahun. Maka kesembuhan sejati menuntut kita untuk berubah dari dalam. Tuhan mengundang kita untuk hidup dalam kemitraan dengan-Nya. Dia menyembuhkan, dan kita menjaga kesehatan itu dengan hikmat dan ketaatan.

Saya belajar, kesembuhan bukan sekadar doa dan mujizat. Kesembuhan adalah perjalanan hidup yang melekat pada Firman. Ketika tubuh kita diselaraskan dengan kehendak Tuhan — baik secara jasmani, jiwa, dan roh — maka kesembuhan bukan lagi kejutan, tapi hasil yang wajar dari kehidupan yang benar. Inilah yang disebut Hidup Dalam Berkat.

Mari kita isi hati dengan Firman, dengar suara Roh Kudus setiap hari, dan ubah gaya hidup kita. Tuhan sudah menyembuhkan, tetapi mempertahankan kesembuhan adalah tanggung jawab kita bersama Dia.

“Hai anakku, perhatikanlah perkataanku… sebab itulah kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.” — Amsal 4:20-22

Jangan hanya kejar mujizat, tapi kejar Dia yang memberi mujizat. Karena bersama Tuhan, kita bukan hanya sembuh — tapi hidup sehat dalam kebenaran-Nya. Itulah yang dinamakan hidup dalam berkat – blessings. Sehat, makmur, berkelimpahan dalam damai sejahtera.

“The Word of God is spirit and life, and it brings health and strength to those who receive it in faith.” – Smith Wigglesworth.

“Firman Tuhan adalah roh dan hidup, dan membawa kesehatan serta kekuatan bagi siapa saja yang menerimanya dengan iman”. – Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Berdamai Sebelum Terlambat.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Berdamai Sebelum Terlambat.

Pernahkah kita menyadari bahwa banyak masalah besar sebenarnya bisa dihindari… kalau saja kita mau bicara lebih awal? Kadang bukan soal siapa yang benar atau salah — tetapi soal siapa yang cukup bijak untuk tidak membiarkan luka berkembang jadi jurang.

Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan: kalau kamu sedang dalam perjalanan menuju pengadilan dengan seseorang yang berselisih denganmu, usahakan berdamai sebelum sampai ke meja hakim. Kenapa? Karena setelah kasus itu masuk sistem, kamu bisa kehilangan kendali, dan akibatnya bisa lebih buruk dari yang kamu bayangkan.

Ini bukan hanya soal pengadilan dalam arti hukum. Dalam kehidupan nyata, banyak dari kita sedang “di jalan” menuju bentuk penghakiman yang lain — kehilangan persahabatan, hancurnya keluarga, hubungan kerja yang tegang, atau bahkan hati yang hancur sendiri karena terlalu lama memelihara dendam.

Masalahnya, ketika konflik dibiarkan, ia berubah bentuk. Apa yang awalnya hanya kesalahpahaman kecil bisa tumbuh menjadi kebencian. Dan kebencian, kalau dibiarkan, akan menjebak kita dalam semacam “penjara emosional”.

Orang yang terluka sering menjadi curiga, mudah tersinggung, dan sulit percaya. Hatinya sempit. Fisiknya pun bisa ikut menderita. Banyak penyakit justru berakar dari tekanan batin dan kepahitan yang tidak pernah diselesaikan. Itulah mengapa kita perlu belajar berdamai — bukan hanya demi orang lain, tapi untuk kesehatan jiwa dan tubuh kita sendiri.

Rekonsiliasi bukan hal yang mudah, tetapi selalu mungkin. Bukan berarti semua akan kembali seperti dulu. Tapi kita bisa memilih untuk tidak menyimpan racun di dalam hati. Kalau kamu menyakiti orang lewat kata-kata, minta maaf. Kalau kamu punya utang janji atau tanggung jawab yang belum ditunaikan, selesaikan. Kalau kamu bersalah, akui dan perbaiki.

Inti dari perdamaian bukan sekadar menyentuh permukaan, tapi menyelesaikan akar persoalan: rasa sakit, iri, cemburu, atau harga diri yang pernah dilukai. Memang tidak mudah mengakui luka, apalagi kalau ego masih dominan. Tapi justru di situ letak kebijaksanaan.

Banyak orang menunggu waktu untuk menyembuhkan luka. Tapi waktu saja tidak cukup. Tanpa keputusan untuk berdamai, luka itu hanya tertutup debu, tapi tetap bernanah di dalam.

Menariknya, dalam hubungan manusia dan Tuhan, yang terpisah karena manusia jatuh dalam dosa. Tapi justru Tuhan yang pertama kali mengambil langkah untuk memperbaiki hubungan itu. Dia tidak menunggu manusia sempurna dulu — Dia datang terlebih dulu, menawarkan damai melalui anugerah-Nya dengan gratis. Mengampuni dan menebus dosa kita, bagi yang bersedia menerima-Nya. Sebuah contoh luar biasa tentang inisiatif dalam rekonsiliasi.

Entah Anda percaya konsep spiritual atau tidak, prinsipnya tetap sama: hubungan hanya bisa pulih kalau ada pihak yang mau mengambil langkah lebih dulu.

Dunia hari ini tidak kekurangan teknologi, tapi kekurangan hati yang mau mendengarkan. Tidak kekurangan peluang, tapi kekurangan orang yang mau mengalah demi kebaikan bersama.

Mungkin sekarang kita sedang dalam perjalanan menuju “pengadilan” tertentu. Hubungan yang retak, kepercayaan yang nyaris hancur, atau konflik yang tak kunjung selesai. Sebelum semuanya terlambat, cobalah untuk berdamai. Tidak selalu mudah. Tapi setiap langkah kecil menuju perdamaian adalah investasi besar bagi masa depan.

Karena ketika hati kita bebas dari beban konflik, barulah kita bisa benar-benar menikmati hidup dengan damai dan penuh makna.

Saya belajar…. bagaimana dengan Anda?

“Getting over a painful experience is much like crossing monkey bars. You have to let go at some point in order to move forward.” – C.S. Lewis.

“Melewati luka itu seperti naik palang monyet. Kamu harus melepaskan satu pegangan agar bisa maju” – C.S. Lewis

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Jawaban Doa Lahir dari Hubungan, Bukan Kepanikan.

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Jawaban Doa Lahir dari Hubungan, Bukan Kepanikan.

“Ada jalan yang tidak diketahui oleh burung buas, dan tidak dilihat oleh mata burung nasar.” – Ayub 28:7

Ayat ini menyimpan rahasia besar: ada jalan keluar, ada solusi, ada terobosan, tapi itu bukan jalan biasa—tidak terlihat oleh mata jasmani, bahkan mata rohani yang tidak terhubung langsung dengan Tuhan. Jalan itu hanya bisa diakses oleh mereka yang berjalan akrab dengan Tuhan, lewat doa yang lahir dari keintiman, bukan sekadar rutinitas rohani.

Inilah yang dialami Musa. Di tengah kepanikan bangsa Israel yang terjepit antara laut dan tentara Mesir, Musa tidak asal teriak. Dia bertanya kepada Tuhan, dan jawaban Tuhan sangat menarik:
“Mengapa engkau berdoa kepada-Ku, Musa? Rentangkan tongkatmu.”
Artinya? Bagi Tuhan, jalan keluarnya sudah ada. Laut sudah ada jalan kering di dalamnya. Tapi hanya iman dan hikmat dari Tuhan yang bisa membukanya.

Terkadang kita panik, lalu berdoa seperti orang kebakaran jenggot:
Tuhan, berkati saya! Tolong saya! Buka jalan! Buat mujizat!
Tapi tahukah kamu? Tuhan tidak tergerak oleh jeritan panik. Tuhan merespon iman, bukan panik. Tuhan bertindak saat kita tahu siapa Dia, mengerti prinsip-prinsip-Nya, dan percaya walau belum lihat hasilnya.

Doa itu bukan alat sulap.
Tuhan bukan pesuruh kita.
Doa bukan tempat merengek, tapi tempat menyelaraskan hati kita dengan kehendak Tuhan.

Itulah kenapa banyak doa tidak dijawab. Bukan karena Tuhan tidak peduli. Tapi karena kita belum belajar prinsip-prinsip-Nya. Banyak orang kirim pesan minta didoakan mujizat keuangan. Tapi ketika ditanya apakah mereka tahu prinsip memberi, mengelola keuangan dengan takut akan Tuhan, hidup dalam integritas—mereka bingung.
Kita mau mujizat, tapi tanpa memahami cara kerja Tuhan.

Ulangan 33:25b berkata: “Dan hendaklah kekuatanmu seperti hari-harimu.”

Tuhan menyediakan kekuatan yang cukup untuk setiap hari, tapi kita harus berjalan bersama-Nya hari demi hari. Hikmat yang kita butuhkan tidak turun dari langit begitu saja, tapi diberikan kepada mereka yang setia berjalan dalam Firman dan berserah pada Roh Kudus. Berdoa berbahasa lidah sehingga peka akan hal-hal rohani.

Mazmur 46:1-2 berkata:
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut…”

Mengapa kita tidak takut? Karena Tuhan adalah kekuatan kita—bukan gaji, bukan koneksi, bukan keadaan. Tapi Tuhan.

Jawaban doa bukan hasil dari “berdoa lebih keras,” tapi dari hidup lebih dalam bersama Tuhan.
Semakin kita kenal Tuhan, semakin kita bisa mengenali suara-Nya, dan tahu apa yang harus kita lakukan. Sama seperti Musa: Tuhan tidak menyuruhnya menangis, tapi bertindak berdasarkan hikmat ilahi.

Ayub 28:10-11 menulis:
“Dia menggali saluran air di antara batu-batu karang… dan yang tersembunyi dibawa-Nya ke terang.”

Inilah yang dilakukan Tuhan—membawa jalan keluar yang tersembunyi, ke permukaan. Tapi akses ke sana hanya diberikan kepada mereka yang mengenal suara-Nya.

Jadi, kalau doa kita belum dijawab, jangan langsung merasa Tuhan diam.
Tanya dulu:

Apakah saya berdoa seperti anak yang mengenal Bapa-Nya, atau seperti pengemis yang hanya ingin hasil tanpa hubungan?

Tuhan menjawab doa. Tapi Dia ingin hubungan, bukan hanya permintaan.
Dia bukan ATM. Dia Bapa.

Dan ketika kita hidup dalam prinsip-Nya, percaya Firman-Nya, dan melangkah dalam hikmat-Nya—doa kita bukan cuma dijawab, tapi hidup kita berubah.
Doa bukan hanya untuk mengubah keadaan, tapi untuk mengubah kita dulu.
Dan setelah kita berubah, Tuhan akan buka jalan yang tidak bisa dilihat siapa pun.

Itulah kekuatan doa yang sejati!

The purpose of prayer is not to get answers from God, but to have perfect and complete oneness with Him” – Oswald Chambers

“Tujuan doa bukanlah untuk mendapatkan jawaban dari Tuhan, tetapi untuk menyatu dengan Tuhan.” – Oswald Chambers

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kuatir Itu Melelahkan… Memangnya Itu Tugas Kita?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kuatir Itu Melelahkan… Memangnya Itu Tugas Kita?

Tullisan Fanky dengan gambar secangkir kopi, sungguh menggelitik.

Tuhan berkata: Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

Sekilas muncul pertanyaan ke diri sendiri: siapa yang disuruh jangan kuatir?
(Kamu/Saya/Kita kan?)

Berarti kendali rasa kuatir tersebut ada di tangan Tuhan atau kita?

Berarti kendali rasa kuatir tersebut ada di tangan Tuhan atau kita?

Lanjut muncul dibenak saya Kalau gitu Perasaan saya adalah tanggung jawab Dan Berarti kalau saya serahin balik ke Tuhan “TUHAN tolong kendali kan perasaan saya ataupun tolong singkirkan rasa kuatir ini” Apa itu Saya lempar balik tanggungjawab saya ke Tuhan ya?

Hmm Seruput kopi dulu….

********
Tuhan berkata: “Sebab itu janganlah kamu kuatir…”

Waktu membacanya, saya berhenti sejenak.
Tuhan bilang: “janganlah kamu kuatir.”
Nah… siapa yang disuruh jangan kuatir? Saya, kamu, kita, kan?

Berarti yang bertanggung jawab atas kekuatiran itu bukan Tuhan, tapi kita sendiri.

Itu membuat saya berpikir:
Kalau begitu… perasaan saya adalah tanggung jawab saya.
Kalau saya bilang, “Tuhan tolong dong hilangkan kekuatiran ini,”
apa saya lagi lempar balik tanggung jawab saya ke Tuhan?

Kadang kita ingin Tuhan yang mengangkat kekuatiran itu dari kita secara otomatis. Tapi sayangnya, Tuhan tidak bekerja seperti itu.
Tuhan memberi kita kuasa untuk memilih apa yang kita pikirkan dan rasakan.
Dia sudah memberi Firman-Nya. Memberi Janji-Nya. Memberi damai sejahtera-Nya. Tapi… kita yang harus memilih untuk percaya dan menolak kuatir.

“Kekuatiran adalah pilihan. Sama seperti damai sejahtera pun adalah pilihan.”

Lho? Masa sih?

Iya. Sama seperti kita bisa memilih untuk makan atau tidak, kita juga bisa memilih untuk memelihara kekuatiran… atau menolaknya.
Tuhan tidak akan pernah memaksa kita. Tapi Dia sudah membekali kita dengan Roh Kudus, pikiran Allah melalui firman-Nya, dan otoritas untuk menolak rasa takut.

Perhatikan tidak dikatakan
“Jangan kuatir, dan tunggulah sampai Aku mengambil kekuatiran itu dari hatimu.”

Tapi berkata:
“Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan…?”

Artinya: jangan biarkan pikiranmu dan mulutmu bergabung menyebarkan rasa cemas itu.
Kalau kita terus memikirkan, lalu kita mengucapkannya, kekuatiran itu makin kuat cengkeramannya.

“Kekuatiran berkembang lewat pemikiran dan pengakuan yang salah.”

Jadi kalau kita mau mengalahkan kekuatiran, kita harus ambil sikap.

Bukan duduk pasif berharap rasa khawatir itu menguap. Tetapi aktif menolak.

Praktisnya bagaimana?

Setiap kali kekuatiran muncul, katakan:
“Tidak! Aku tidak menerima pikiran ini. Tuhan sudah berjanji, Dia memelihara aku.”
Lalu ucapkan Firman Tuhan keras-keras:

Tuhanku akan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya.”

Ucapkan, bukan hanya pikirkan.

Karena mulut adalah kemudi hati. Mulut mengendalikan arah pikiran. Ketika kita memperkatakan Firman, perasaan akan ikut berbalik arah.

Kadang orang berkata,
“Saya nggak bisa mengendalikan perasaan saya.”
Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Kita tidak bisa mencegah perasaan muncul, tapi kita bisa memutuskan apakah kita akan membiarkannya tinggal.

Kekuatiran bukan tamu kehormatan. Jangan disediakan kopi. Usir saja.

Tuhan tidak akan menyuruh kita “jangan kuatir” kalau itu tidak mungkin dilakukan.
Dia tahu kita sanggup—karena Dia sudah memberikan semua yang kita perlukan.

Jadi, kalau kita berkata,
“Tuhan, tolong singkirkan rasa khawatir ini dari saya…”
Hati-hati. Itu bisa jadi bentuk spiritual-sounding untuk lari dari tanggung jawab pribadi.

Lebih tepat kalau kita berkata:
“Tuhan, aku percaya pada-Mu. Aku menolak kuatir. Aku ambil damai-Mu sekarang juga.”
Lalu bertindaklah seolah damai itu nyata—karena memang nyata!

Kesimpulannya?
Tanggung jawab atas perasaan ada di tangan kita.
Tuhan sudah memberi damai sejahtera, tinggal kita terima dan pegang.
Kalau kita menunggu Tuhan yang “mengambil” rasa kuatir dari kita, maka kita akan terus dikuasai pikiran negatif.

Kita yang punya kendali.
Kita yang punya pilihan.
Dan… kita yang harus berkata:

“Aku tidak kuatir. Tuhan yang memelihara aku. Titik.”

Nah sekarang, yuk… seruput kopi cantik, sambil bersyukur bahwa hari ini kita bebas memilih damai.
Siap?

Worry is the antithesis of trust.
Every time you worry, you are practicing atheism.”- Elisabeth Elliot.

Kekhawatiran adalah antitesis dari kepercayaan. Setiap kali Anda khawatir, Anda sedang mempraktikkan ateisme.” – Elisabeth Elliot.

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bukan Tuhan yang Mencobai – Hati-Hati dengan Tipu Daya Iblis!

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Bukan Tuhan yang Mencobai – Hati-Hati dengan Tipu Daya Iblis!

Masalah datang tanpa diundang. Kadang seperti badai, menggoncang hidup kita. Tapi pernahkah kita bertanya, siapa sih pencetus masalah ini?

Tidak semua penderitaan datang dari setan. Mari kita luruskan dulu:
Ada yang berasal dari kesalahan kita sendiri—salah ambil keputusan, sembrono, atau tidak peka mendengar suara Tuhan. Bahkan sesekali, sudah tahu itu melanggar firman, tetap saja dilakukan. Itu konsekuensi.
Tapi ada juga yang datang dari musuh jiwa kita, si setan, yang sengaja mengirim testing untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan.
Tujuannya satu: mencuri Firman Tuhan yang ada di dalam hati kita.

Mengapa Firman?
Karena Firman itulah kekuatan dan kemenangan kita!

*Yohanes 1:1 berkata, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”*

Setan tahu: selama kita berdiri teguh di atas Firman, dia tidak bisa menang. Maka ia ciptakan skenario lewat orang, situasi, bahkan hal kecil yang mengganggu emosi—semua untuk membuat kita ragu, kecewa, dan melepaskan pegangan pada Firman.

Jangan salah paham!
Banyak orang mengira, “Ini cobaan dari Tuhan.”
Bahkan berkata, “Mungkin Tuhan sedang mengajar saya lewat penyakit ini… lewat kebangkrutan ini…”
Padahal Alkitab tegas:

_Yakobus 1:13 (TB): “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!’ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.”_

Tuhan bukan sumber masalah. Dia sumber pertolongan!
Tuhan mengajar kita melalui Firman-Nya — bukan lewat kecelakaan atau kanker.

_2 Timotius 3:16 (TB):
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”_

Jadi apa yang harus kita lakukan saat diuji?

Jangan menjauh dari Tuhan.
Justru saat tertekan, itulah waktunya mendekat. Kita perlu tuntunan dan strategi dari-Nya untuk menang.

Tetap berdiri di atas Firman.
Jangan ijinkan situasi mengguncang keyakinan kita. Firman itu kekal dan pasti bekerja.

Sadar bahwa kita sudah dibekali semua yang kita butuhkan!

Dengarkan janji ini:
2 Petrus 1:3-4 (TB):
“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia… Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar…”

Bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk menang dan hidup ilahi, terlepas dari hawa nafsu dunia ini.

Lalu bagaimana supaya kita tidak tersandung?
Lanjutkan di ayat 10:
“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.”

Jelas!
Teguhkan panggilan kita. Berpegang terus pada Firman.
Karena ketika Firman hidup di hati dan kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, kita akan tetap berdiri, bahkan ketika badai menerpa.

Jadi, setan bisa datang menguji. Tapi dia tidak akan menang—selama kita tetap tinggal dalam Firman, mendekat pada Tuhan, dan memakai otoritas yang telah Yesus beri.
Kita tidak perlu tersandung.
Kita bisa tetap berdiri teguh. Karena kita bukan sendirian—kita bersama Dia, dan Firman-Nya hidup di dalam kita.

Itulah kuncinya.
Jangan lepas Firman, maka kita tidak akan tersandung.

Siap praktik? Yuuuk….

*God is not testing you. He is equipping you with truth to overcome.” – Lisa Bevere.*

“Tuhan tidak sedang menguji kamu. Dia sedang memperlengkapimu dengan kebenaran untuk menang.” – Lisa Bevere.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4