Monthly Archives: Jul 2025

Articles

Kebangkitan: Awal Dunia Baru

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Kebangkitan: Awal Dunia Baru

Banyak orang berpikir, salib Yesus hanya tentang pengampunan dosa. Kita diampuni, selesai. Tom Wright membukakan pemahaman baru.
Pengampunan dosa itu baru setengah cerita. Bagian yang sering terlewat adalah: kebangkitan Yesus.

Di kayu salib, Yesus menanggung dosa kita. Tapi ketika Ia bangkit, sesuatu yang jauh lebih besar dimulai.
Kebangkitan adalah tanda dimulainya dunia baru.

Paulus menuliskan, “Dia diserahkan karena pelanggaran kita, dan dibangkitkan untuk pembenaran kita.”
Artinya apa?
Kebangkitan adalah deklarasi Allah:
“Kalian sudah Kuperdamaikan. Sekarang Aku membuka jalan bagi ciptaan yang baru.”

Karena karya salib dan kebangkitan, kita:

– Diperdamaikan dengan Allah.
– Diperdamaikan dengan diri kita sendiri.
– Menjadi bagian dari proyek Allah untuk memulihkan dunia.

Sering kita hanya berhenti di titik pertama: “Tuhan sudah mengampuni aku.” Titik. Selesai.
Tapi kehidupan Kekristenan bukan hanya tentang dosa yang dibereskan.
Kebangkitan Yesus adalah awal sebuah kehidupan baru, di mana kita dipanggil untuk ikut membereskan dunia bersama Dia.

Bayangkan ini: tubuh Yesus yang bangkit adalah “prototype” ciptaan baru. Itu bukan sekadar mukjizat spektakuler. Itu adalah model awal bagaimana dunia yang rusak ini akan diperbaharui.
Allah memulai dengan Yesus, lalu meneruskannya lewat kita, anak-anak-Nya.

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya la, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29 (TB)

Itulah sebabnya Paulus menggunakan istilah “pembenaran” (justification) dalam kaitannya dengan kebangkitan.
Kebangkitan bukan hanya bukti Yesus menang atas maut. Kebangkitan adalah deklarasi resmi bahwa sekarang ada dunia baru, dan kita berada di dalamnya.

Kalimat besar yang tertulis di atas dunia baru ini adalah:
“Benar di hadapan Allah.”

Bukan karena kita sempurna. Tapi karena Yesus.
Status kita berubah: dari orang berdosa yang dihukum, menjadi anak yang diperkenan.
Dan dari posisi itu, kita diajak untuk hidup sebagai ciptaan baru.

Inilah panggilan kita: hidup di dunia lama dengan cara dunia baru.

Dunia lama penuh ketakutan, egois, serakah, dan putus asa.
Dunia baru hidup dengan damai, murah hati, dan penuh harapan karena tahu Allah memerintah.

Kita tidak hanya selamat supaya “aman masuk surga.” Kita diutus supaya dunia melihat:
“Ada cara lain untuk hidup. Ada pengharapan.”
Itulah mengapa Yesus berkata, “Kamu adalah terang dunia.”

Apakah ini mudah? Tidak.
Ada banyak tantangan. Tapi kita tidak berjalan sendiri. Roh Kudus memampukan kita.

Hari ini, saat kita menghadapi berita buruk, ketidakadilan, atau kegelapan, mari ingat:
Kebangkitan berarti dunia baru sudah dimulai.
Di tengah kekacauan, kita bisa berdiri teguh dan berkata:
“Aku adalah bagian dari karya Allah. Aku akan membawa terang-Nya.”

Jadi, jangan hanya berhenti pada pengampunan.
Terimalah hidup kebangkitan itu.
Karena ketika Yesus bangkit, Dia bukan sekadar keluar dari kubur. Dia membuka jalan untuk dunia yang benar-benar baru, dan kita diundang ikut di dalamnya.

“Kita tidak hidup untuk diri sendiri lagi. Kita hidup sebagai ciptaan baru, di dalam dunia baru yang sedang Allah pulihkan.”

The resurrection gives my life meaning and direction and the opportunity to start over, no matter what my circumstances.” – Robert Flatt

“Kebangkitan memberi arti dan arah hidupku, serta kesempatan untuk memulai lagi, apa pun keadaanku.- Robert Flatt

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Belajar Memberi Grace: Melihat Orang Lain dengan Kaca Mata Baru

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Belajar Memberi Grace: Melihat Orang Lain dengan Kaca Mata Baru

Ada satu kalimat yang di post sahabat saya Yuliadi, yang mengubah cara saya melihat orang lain:

When you finally learn that a person’s behavior has more to do with their own internal struggle than it does you, you learn grace.

“Ketika kita akhirnya mengerti bahwa perilaku seseorang lebih banyak berhubungan dengan pergumulan dalam dirinya sendiri daripada tentang kita, saat itulah kita belajar memberi anugerah.”

Selama ini kita sering salah paham.
Ada orang yang bicara ketus, marah tiba-tiba, sinis, atau dingin. Spontan kita tersinggung. Pikiran kita langsung berkata: “Dia kenapa sih sama aku?”
Padahal, seringkali masalahnya bukan di kita sama sekali.

Kita tidak pernah tahu apa yang dia alami: mungkin sedang ada masalah rumah tangga, tekanan keuangan, sakit hati, atau bahkan masa lalu yang berat. Semua itu mempengaruhi sikapnya hari itu. Perkataannya hanyalah luapan badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

Ketika saya sadar hal ini, hati seperti terbuka. Ada kelegaan.
Kita tidak lagi menempatkan diri sebagai pusat dunia, seolah semua orang bertindak karena kita. Kebanyakan orang sedang bergumul dengan diri mereka sendiri.

Di titik inilah kita belajar memberi grace.
Apa itu grace? Grace adalah anugerah.
Anugerah itu sesuatu yang kita terima dari Tuhan tanpa syarat, gratis, karena kasih-Nya. Bukan hasil usaha kita.

Kalau kita sudah menerima kasih karunia itu dengan iman, otomatis kita dimampukan untuk juga memberi anugerah kepada orang lain.
Memberi grace artinya memberi ruang, tidak cepat bereaksi, memberi pengertian, karena kita sadar kita pun hidup hanya karena kasih karunia Tuhan.

Grace tidak berarti membenarkan perilaku yang salah. Tapi hati kita tidak mudah tersulut, karena kita tahu masalahnya bukan tentang kita.
Grace itu sikap: hati kita tetap lembut walau orang lain sedang berantakan.

“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain.”
Kasih seperti ini bukan teori. Ini latihan setiap hari.
Kita dilatih justru saat orang lain tidak sempurna.

Saya belajar berkata dalam hati,
“Mungkin dia sedang letih. Mungkin hatinya terluka. Saya tidak perlu ikut terbawa arusnya.”
Hidup jadi lebih ringan.

Orang yang sudah matang dan mengerti kasih karunia Tuhan tidak gampang marah. Mereka tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan, sehingga tidak terguncang oleh sikap orang lain.
Kita hanya bisa memberi grace kalau hati kita sudah kenyang oleh kasih Tuhan.

Seorang teman pernah berkata,
“Kalau kita bereaksi setiap kali ada orang yang salah kepada kita, hidup kita habis hanya untuk memadamkan api di luar. Lebih baik kita belajar memadamkan api di dalam hati dulu.”

Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan marah-marah.

Mari kita belajar melihat orang lain dengan cara berbeda.
Daripada tersinggung, lihatlah mereka dengan belas kasihan.
Kadang orang yang paling menyebalkan adalah orang yang paling butuh kasih.

Apakah ini mudah? Tidak. Tapi setiap kali kita memberi grace, kita sedang bertumbuh.
Pelan-pelan, hati kita makin dewasa dan damai sejahtera kita terjaga.

Mungkin inilah maksud Tuhan ketika berkata: “Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.”

Berhentilah berpikir bahwa semua hal tentang kita.
Karena begitu kita sadar: Perilaku orang lain lebih banyak tentang pergumulan mereka sendiri, bukan tentang kita,
kita pun akan hidup lebih damai… dan belajar memberi grace—anugerah yang sudah kita terima dari Tuhan.

“Hurting people hurt people. They are full of pain, and it comes out in what they do and say.” – Joyce Meyer.

“Orang yang terluka cenderung melukai orang lain. Mereka penuh dengan rasa sakit, dan itu keluar melalui apa yang mereka lakukan dan katakan – – Joyce Meyer.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Hard Knocks atau Firman Tuhan?


Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Hard Knocks atau Firman Tuhan?

Pernah dengar istilah School of Hard Knocks? Artinya sekolah kehidupan yang penuh benturan, di mana seseorang baru sadar setelah dihajar masalah. Banyak orang hidup seperti itu. Sudah diingatkan, tetap jalan sendiri. Akhirnya jatuh, sakit, bangkrut, baru menoleh kepada Tuhan.

Padahal itu *BUKAN* rencana Tuhan.
Alkitab jelas mengatakan bahwa “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). Hidup jauh dari Tuhan itu berbahaya karena kita berjalan tanpa arah. Seperti anak bungsu dalam perumpamaan Yesus (Lukas 15:11–24), yang lari dari rumah, menghamburkan harta, dan berakhir di kandang babi. Baru setelah lapar, miskin, ditinggalkan teman-temannya, Alkitab berkata: “Ia sadar akan dirinya.” (Lukas 15:17).

Perhatikan, bukan Tuhan yang bikin dia sengsara. Pilihannya sendiri yang menjerumuskannya.

“Perbuatanmu sendiri mendatangkan malapetaka bagimu” (Yeremia 2:19).

Inilah hukum kehidupan. Kalau kita salah memilih, kita menuai akibatnya (Galatia 6:7).

Namun di balik kesulitan itu, ada satu hal yang bisa jadi titik balik: penderitaan seringkali membuka mata. Seperti anak bungsu itu, penderitaan membangunkan dia. Saat sadar, ia ingat rumah bapanya yang penuh kasih. Ia pulang, dan dipeluk.

Sayangnya, tidak semua orang pulang. Ada yang malah pahit, menyalahkan Tuhan.

Di sinilah pentingnya kita memahami: malapetaka bukan dari Tuhan. Tuhan itu Bapa yang baik (Yakobus 1:17).

Tetapi kalau kita mengabaikan firman-Nya, hidup ini seperti mobil yang dipacu di jalan tanpa rem. Ketika menabrak tembok, sakitnya luar biasa.

Firman Tuhan itu seperti rambu lalu lintas. Kalau kita mau belajar, mendengar dan menuruti-Nya, kita bisa menghindari tabrakan.

“Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian setiap orang diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:16–17).

Belajar dari firman itu jauh lebih ringan daripada harus belajar dari penderitaan. Tapi kalau keras kepala, hidup akan mengajar dengan cara yang keras.

Mana yang kita pilih? School of Hard Knocks atau sekolah Firman Tuhan?

Kalau kita jujur, semua orang pernah mengalami benturan. Namun orang bijak tidak berhenti di situ. Kita belajar, bangkit, dan memperbaiki hidup. Kesulitan itu menjadi guru, tetapi guru yang mahal. Mengapa harus menunggu sampai masalah menghancurkan kita baru mau dengar suara Tuhan?

Hidup kita ini berharga. Jangan tunggu sampai di kandang babi baru sadar. Lebih baik buka hati dari sekarang.
Baca firman setiap hari. Dengarkan suara Tuhan. Praktikkan. Hidup akan jauh lebih tenang karena kita dituntun.

Setiap kali membaca kisah anak bungsu, hati saya tergetar. Bagaimana seorang bapak dengan sabar menunggu, tidak menyeret anaknya pulang paksa. Tapi ketika anak itu pulang, sang bapak berlari menyambutnya, memeluk, memulihkan, dan mengadakan pesta. Itulah hati Bapa kita di surga.

Bagi yang sedang di tengah badai hidup, jangan salahkan Tuhan. Arahkan hati kepada-Nya. Gunakan badai ini sebagai alarm untuk kembali. Dan bagi kita yang masih ada kesempatan, belajarlah dari firman, bukan dari pukulan hidup.

Karena sekolah kehidupan memang ada, tetapi sekolah firman jauh lebih murah biayanya. Pilih mana?

“You can learn from God’s Word or from painful experience. Experience is always the most expensive teacher” – Rick Warren.

“Kita bisa belajar dengan mendengar firman Tuhan, atau dengan pengalaman pahit. Tapi pengalaman selalu jadi guru yang mahal.” – Rick Warren.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Penghalang Itu di Kepala Kita” — Kisah Roger Bannister, Pemecah Batas Empat Menit

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Penghalang Itu di Kepala Kita” — Kisah Roger Bannister, Pemecah Batas Empat Menit

Selama puluhan tahun, dunia percaya bahwa tidak ada manusia yang bisa berlari sejauh satu mil (1.609 km) dalam waktu kurang dari 4 menit. Para pelatih, dokter, dan ilmuwan sepakat: secara biologis, tubuh manusia tidak mampu. Jika dipaksa, jantung bisa meledak. Itu kata mereka.

Keyakinan ini begitu kuat, sehingga tak seorang pun berani membantah. Hingga datanglah seorang mahasiswa kedokteran bernama Roger Bannister, yang berpikir: “Kalau memang tidak mungkin, kenapa tidak saya coba sendiri?”

Roger bukan pelari profesional. Latihannya pun seadanya. Di tengah kesibukan kuliah, dia menyempatkan waktu berlatih sendiri—tanpa pelatih, tanpa sponsor, dan tanpa alat modern. Hanya keyakinan dan tekad.
Satu hal yang dia miliki, dan dunia tidak: cara pandang yang berbeda. Dia tidak menerima mentah-mentah batasan yang ditanamkan oleh masyarakat.

Hari itu, 6 Mei 1954, di Oxford, Inggris. Cuaca berangin dan dingin. Banyak orang menyarankan Roger untuk menunda percobaannya. Tapi dia tahu, ini bukan soal cuaca—ini soal momentum.

Didampingi dua teman pelari sebagai pacemakers untuk menjaga ritme, Roger berlari sekuat tenaga, menantang semua opini, data medis, dan dogma dunia. Ketika komentator mengumumkan hasil waktunya, suara sorakan langsung pecah:

“Tiga menit… lima puluh sembilan koma empat detik!”
Tembok empat menit itu runtuh.

Dan inilah yang menarik: dalam 46 hari setelah Roger mencetak sejarah, John Landy, pelari asal Australia, juga berhasil menembus batas itu. Setahun kemudian, lusinan pelari lainnya mengikuti.

Apakah mereka tiba-tiba lebih kuat secara fisik? Tidak.
Yang berubah adalah keyakinan mereka.

Sampai saat itu, penghalang itu bukan di kaki mereka—tapi di kepala mereka. Begitu ada orang yang membuktikan bahwa itu bisa dilakukan, batas itu kehilangan kuasanya.

Bukankah begitu juga dengan hidup kita?

Seringkali, kita tidak maju bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita percaya bahwa kita tidak mampu. Ada suara-suara di sekitar kita, kadang dari keluarga, lingkungan, bahkan dari dalam diri sendiri, yang berkata:

“Sudah terlambat.”

“Kamu bukan siapa-siapa.”

“Kamu tidak cukup pintar.”

“Itu mustahil dilakukan.”

Roger Bannister tidak menunggu semua orang setuju. Dia tidak butuh semua kondisi ideal. Dia hanya butuh satu hal: keyakinan bahwa batas itu bisa dirobohkan.

Firman Tuhan berkata bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari sesuatu yang tidak kita lihat.

Artinya, kita harus melihat terlebih dahulu dengan mata iman sebelum bisa mengalaminya dalam dunia nyata.

Jika hari ini kita sedang menghadapi tembok penghalang yang kelihatan mustahil, ingatlah kisah Roger Bannister. Jangan tunggu semua orang mengerti. Jangan tunggu cuaca sempurna. Lakukan bagian kita—percaya, melangkah, dan bertahan.

Karena seringkali mujizat datang bukan dari kekuatan kita, tapi dari keberanian kita untuk percaya dan bertindak sebelum kita melihat hasilnya.

Hari ini, mungkin “batas 4 menit” versi kita adalah hutang yang menggunung, hubungan yang retak, penyakit yang belum sembuh, atau impian yang terasa terlalu tinggi. Tapi jangan biarkan batas itu jadi kuburan bagi panggilan Tuhan dalam hidup kita.

Jika kita berani percaya bahwa penghalang itu bisa roboh, dan mulai melangkah, seperti Roger Bannister… dunia pun akan tercengang melihat kita berlari melampaui semua batas.

Karena dalam Tuhan, tidak ada hal mustahil—selama kita mau percaya.
Siap praktik? Yuk….

“Believe you can and you’re halfway there.”- Theodore Roosevelt.

Percaya bahwa kamu bisa, itu sudah setengah jalan menuju keberhasilan.” – – Theodore Roosevelt.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Jangan Menyalahgunakan Kebaikan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Menyalahgunakan Kebaikan…

Niat baik bisa jadi bumerang kalau tidak dibarengi hikmat.
Banyak orang berpikir bahwa menolong = selalu memberi. Tapi kalau kita tidak hati-hati, “kasih” kita malah bisa menjerumuskan orang lain makin dalam ke dalam pola hidup yang salah.

Pernah dengar kalimat ini:
“Kalau dia tidak mau bekerja, jangan beri dia makan.”
Kedengarannya keras, ya? Tapi ini sebenarnya bentuk kasih yang benar.

Kita hidup di zaman yang suka mengaburkan batas antara baik hati dan dimanfaatkan. Di satu sisi, kita ingin membantu. Di sisi lain, ada orang yang menjadikan belas kasihan sebagai gaya hidup. Mereka bukan tidak mampu. Mereka hanya tidak mau berusaha. Dan lucunya, malah merasa itu sah-sah saja karena selalu ada yang “baik hati” menopang.

Ini bukan soal pelit. Tapi soal membangun manusia.
Menolong orang yang memang sedang jatuh, tertimpa musibah, atau benar-benar dalam masa sulit — itu wajib. Tapi “menolong” orang yang tidak mau berubah, tidak mau bertanggung jawab, justru membuat dia makin terlena.

Kebaikan tanpa batas itu bukan kasih. Itu kebodohan. Dan kalau diteruskan, bisa berubah jadi racun.

Saya pernah bertemu seorang pria muda yang selama bertahun-tahun hidup dari belas kasihan keluarganya. Setiap kali ia datang, ia bawa cerita sedih dan wajah penuh harap. Semua tergerak. Semua membantu. Tapi… tidak ada perubahan.
Tidak bekerja, tidak belajar, tidak bergerak.
Saat ditanya, jawabannya sederhana:
“Rejeki saya lewat orang-orang yang peduli.”

Sekilas terdengar rohani. Tapi itu manipulasi.
Kalimat manis yang dibungkus supaya orang lain terus membiayai kemalasannya.

Menolong tanpa membangun tanggung jawab = jebakan.
Itu bukan pertolongan. Itu pembiaran.
Dan sering kali, justru orang yang merasa menolong itu yang sedang menghalangi proses pendewasaan yang sedang terjadi dalam hidup si penerima.

Satu kalimat yang membekas dalam hidup saya:
“Kalau kamu menolong seseorang yang sebenarnya sedang diproses hidupnya, kamu bisa merusak proses itu.”

Jadi apa solusinya?
Tetap menolong — tapi dengan hikmat.
Alih-alih kasih uang, ajak ngobrol.
Daripada kasih bantuan terus-menerus, tawarkan pelatihan.
Daripada jadi penolong instan, jadilah sahabat yang berani menegur.

Orang malas bukan butuh kasihan, tapi butuh arahan.
Butuh dorongan untuk bangkit, bukan disuapi terus-menerus.
Karena kadang, cinta sejati justru muncul dalam bentuk ketegasan.

*Kebaikan bukan soal berapa sering kita memberi. Tapi seberapa jauh kita membangun manusia di baliknya.*

Mari jadi orang yang tetap murah hati, tapi cerdas.
Punya hati yang lembut, tapi tidak mudah dimanfaatkan.
Berani menolong, dan berani menolak — saat itu memang bentuk kasih yang lebih besar.

Karena tujuan kita bukan bikin orang nyaman dalam kondisi lama,
tapi membantu mereka keluar dari zona itu, bertumbuh, dan hidup dengan martabat.

Setuju?

“You are ridiculously in charge of your life.” – Dr. Henry Cloud.

“Hidupmu sepenuhnya tanggung jawabmu – suka tidak suka, kamu yang memegang kendalinya”. – Dr. Henry Cloud.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4