Articles, Relationship, Self Motivation

Tongkat Estafet….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tongkat Estafet….

Chat masuk dari sahabat kami, P. Susanto Tjahyadi dari Bali, foto Wong Mei Kee resto, pemenang Michelin di Kuala Lumpur/Penang 2023. Lengkap dengan linknya.
Pantas dicoba ini…
Meski habis sarapan, kami menuju ke resto itu dan alamak.. antrian panjang sekali. Semua meja full dan belum ada makanan yang tersaji. Panas pula. Restonya di ruko tanpa AC.  P. Indra mengajak pulang hotel saja.

Tapi pikir-pikir penasaran juga. Teman-teman memotivasi, worth it dicoba. Michelin pula…
Keesokan harinya sengaja ke resto lagi. Resto buka hanya 12 pm – 3 pm. Artinya hanya berbisnis 3 jam saja.

Kami tiba 11.45, antrian sudah panjang lagi… lhoh???
P. Susanto menjelaskan, orang-orang sudah mulai datang sejak pk. 10.30 dan menunggu resto buka. Resto dibuka pk. 11.00 tetapi makanan baru disajikan setelah pk. 12.00.
Pantas semua meja sudah penuh.
Wow…

Bossnya sendiri yang memotong dan menyiapkan makanannya. Pelayan-pelayan hanya menyajikannya. Mungkin itu rahasianya mengapa rasa dan kualitasnya tetap terjaga.
Roast Pork, Roast Chicken, Ayam Rebus, Kuah Asam. Itu saja makanan yang disediakan disertai aneka minuman.

Saya mesti berdiri dekat meja, di mana orang yang makan sudah dilayani dan segera selesai. Nyaris mesti berebut, agar bisa dapat meja.
Rasanya memang top. Pantas laris manis luar biasa….

*****
Sejak tahun 1990, kami punya langganan ayam rebus di sebuah foodcourt di Pluit. Kesukaan kami sekeluarga.
Awalnya ditraktir teman, orang Medan yang terkenal jagoan soal makan enak.
Dulu kami masih tinggal di Kota Solo, setiap ke Jakarta, tidak lupa makan di sana.
Sampai pindah Surabaya hingga sudah stay di BSD, ayam rebus tetap menjadi favorit keluarga.

“Ayam rebus paling enak. Resto besar pun lewat…,” ujar P. Indra.

Suatu ketika kami ke foodcourt, ayam rebus gak jualan. Demikian pula kali ke 2 dan ke 3, koq gak ada. Bahkan terakhir diganti makanan lain yang jualan di sana.

Michelle putri bungsu saya kecewa berat…. sudah kangen sekali ayam rebus.

Penasaran. Saya cari pengelolanya dan mendapatkan info, si encek yang jual ayam rebus sudah meninggal.

“Mengapa tidak diteruskan oleh anak istrinya?”

“Sudah sich… tapi gak laku…”

Hati saya trenyuh.
Tidak mudah membangun brand dan mengumpulkan sedemikian banyak customer yang loyal selama puluhan tahun. Itu tak ternilai harganya. Tetapi pedagang kuno tidak menyadari hal itu. Sekedar berjualan, asal kecukupan, ya sudah… Tidak memikirkan strategi jangka panjangnya.

Rupanya si encek tidak melatih anaknya sejak awal. Saat orangtua masih ada, dan masih bisa mendampingi, sang anak bisa belajar dan berlatih.
Dimana kekurangannya, sang papa bisa membetulkannya ibarat coach yang sedang melatih muridnya. Customer tidak akan merasakan besarnya perbedaannya, apalagi klo sang papa tetap muncul di foodcourtnya. Sesungguhnya, rasa itu beda tipis. Apalagi jika jam terbang anak makin tinggi, tentu makin mirip dengan buatan papanya.

Bukannya masak itu tergantung tangan yang memasak?
Begitu anggapan umum di masyarakat. Buktinya McD, KFC dan berbagai brand terkenal bisa buka cabang di berbagai belahan dunia. Artinya, rasa itu bisa dirumuskan dan dijadikan kurang lebih sama.

Ketika sang papa sudah tidak ada, baru sang anak muncul, tentu customer lebih kritis membandingkan masakan sang papa dengan sang anak. Jam terbang tidak bisa menipu.
Inilah cara sederhana untuk memberikan tongkat estafet kepada sang anak.

Tidak hanya dalam hal makanan, tetapi dalam semua bidang. Dengan mengalihkan tongkat estafet dengan bijak dan sejak dini, maka anak tidak perlu merintis dari nol lagi. Brand, customer, aset semua sudah ada..ini modal yang tak ternilai harganya. Tinggal bagian sang anak untuk mengembangkan dan membawa apa yang telah dirintis oleh orangtuanya, supaya bisa go national bahkan international.
Dikemas dan dijual dengan cara bisnis masa kini.

****
Melihat larisnya Resto Wong Mei Kee mengingatkan saya agar berbagi pemikiran tentang mengalihkan tongkat estafet sejak dini.

Elisa, putri sulung kami kerap menasehati adik-adiknya yang sudah berbisnis sendiri,
“Mumpung papa & mama masih ada, gunakan waktu untuk bereksperimen mengembangkan bisnismu. Ada tempat untuk bertanya dan ada back up jika something happens. Ada mentor yang bisa dimintai nasehat yang jujur.”

Mengalihkan tongkat estafet dan melatih anak-anak tidaklah mudah. Kadang kesulitan, darimana mulainya? Banyak hal-hal yang menurut kita, sewajarnya demikian karena kita sudah berpengalaman selama puluhan tahun, tetapi ternyata pemikiran anak-anak berbeda.

Mereka pun punya teman-teman yang sukses di bisnis masa kini sehingga kita tidak bisa memaksakan cara lama juga. Mereka punya strategi yang berbeda dengan cara bisnis lama. Kedua belah pihak butuh sama-sama belajar, bagaimana bisa memberikan tongkat estafet, sekaligus memberi mereka kesempatan agar dapat terbang jauh lebih tinggi dari pencapaian orangtuanya.

Bagaimana pendapat Anda?

The greatness of our lives is not in what we leave behind, but in what we send forward.

Kehebatan hidup kita bukan terletak pada apa yang kita tinggalkan, namun pada apa yang kita berikan.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan

 

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Hutang Tidak Dibayar? Bagaimana Dong?
Apakah kita memandang dunia seperti Allah memandangnya?
Why Charis?