Articles

Jam Terbang Tidak Menipu…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jam Terbang Tidak Menipu…

Ada teman-teman level 1 Sekolah Charis yang takut lanjut ke level 2, karena di level 2 banyak tugas-tugas untuk presentasi.
Konon berbicara di depan umum adalah salah satu momok terbesar bagi kebanyakan orang, termasuk saya dulu.
Glossophobia, istilah kerennya.

Sebetulnya saya ingin bisa public speaking sejak dulu, itulah sebabnya berulang kali saya ikut seminar public speaking. Guru-guru saya semua top, masalahnya latihannya di mana?
Mau presentasi buku saja, selain ikut seminar, masih latihan dengan guru privat.
Bayangkan…

“Bu Yenny, takut gak kalau mau tampil?”
Takutlah.
Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak.
Ketika sudah diperlengkapi, tidak takut lagi.
Apalagi yang saya sampaikan tentang Tuhan, jadi saya bergantung kepada-Nya, selebihnya urusan Tuhan.
Tugas saya mempersiapkan diri dengan baik, saat tampil, biar Tuhan yang mengarahkan.
It’s all about Him, not me.

Pernah bertahun-tahun lalu, saya diberi kesempatan berbicara di suatu acara di MDC Surabaya.
Setelah itu saya koq takut sekali.
Telpon Bu Mariani minta batal.

Beberapa hari gelisah.
Kalau tidak mencoba sekarang, lalu kapan lagi?
Saya memberanikan diri telpon Bu Mariani lagi, saya mau.
Dan Bu Mariani memberikan kesempatan lagi.
Tidak marah atau tersinggung.
Padahal beliau seorang ibu gembala dari gereja besar.
Pribadi yang lembut, penuh kasih dan berjiwa besar.
Langka.
Love you Bu Mariani Rahardjo!

GKPB MDC Surabaya berjasa besar dalam hidup saya,
belajar menulis dan public speaking di sana.
Tidak ada YennyIndra hari ini, jika bukan karena P. Andreas Rahardjo, B. Mariani dan leader-leader MDC Surabaya, yang memberi saya kesempatan dan panggung untuk berlatih serta memulainya.
Diterima apa adanya dengan  kasih dan penerimaan yang tulus.
Thank you so much MDC Surabaya

*****
Teringat saat pertama kali belajar menulis, bersyukur sekali diberi wadah di warta jemaat MDC Surabaya selama 5 tahun.
Setelah warta jemaat dari mingguan berganti rupa jadi 3 bulanan, saya kehilangan wadah.
Mulailah menulis di sosmed dan di mana saja, saat ada kesempatan. Menulis artikel travelling di surat kabar, majalah dll. Menulis beberapa buku.
Dengan berjalannya waktu, makin lama belajar, trial & error,  akhirnya menemukan style sendiri hingga kini.

Beberapa teman japri.
“Bu Yenny, ajarin saya menulis dong… Supaya bisa menulis artikel seperti ibu.”

Setelah saya beri teori singkat, tidak lupa berpesan, yang penting latihan. Menulis sebanyak mungkin, karena jam terbang itu tidak bisa menipu.
Saya paham sekali rahasia ini.

*****

Membaca dan menulis itu hobi, tetapi berbicara di depan umum, itu bukan bakat bawaan saya. Mesti belajar.
Dan problem yang saya hadapi, butuh tempat untuk berlatih.

Saya pernah membaca, Warren Buffett, orang no 3 terkaya di dunia, pernah menjadi guru, karena dengan demikian, melatih kemampuannya untuk berbicara di depan umum.
Siapa pun butuh jam terbang, untuk menjadi expert.

Nach Sekolah di Charis betul-betul menjawab kebutuhan saya.
Belajar membuat saya memiliki bahan-bahan yang bermutu baik untuk tulisan mau pun untuk public speaking.
Ketika resources ini dipraktekkan, hidup saya berubah, makin berkualitas, penuh dan utuh.
Bangga masih bisa sekolah dan ilmu yang didapat tidak hanya mengubah hidup saya dan keluarga saja, tetapi bidup teman-teman juga. .

Kebetulan ciri khas tulisan saya adalah pengalaman pribadi. Ketika yang disampaikan pengalaman yang benar-benar dihidupi, pendengar mau pun pembaca bisa merasakannya bahkan mempengaruhi kehidupan mereka pula.
Dan itu sungguh membahagiakan.
Sadar, bahwa saya sedang menjadi sepotong puzzle dari bagian visi Tuhan yang besar.

“Di mana lagi kita bisa dapat tempat berlatih, yang ada teman-temannya selevel kita juga?” sharing saya pada teman yang ragu masuk level 2,
“Di kelasku juga sebagian memang benar-benar jago public speaking, nampak jam terbangnya sudah tinggi. Tetapi tetap ada yang selevel kita. Dan sekolah kan memang tempat belajar, jadi dimaklumi sekali kalau masih belepotan. Wajar…. Kalau di luar sekolah, kita dituntut untuk tampil perfect. Gak bagus ya ga dikasih kesempatan lagi. Dicibir pula…”

Latihan presentasi 5, 10, 15 atau 30 menit, ternyata menolong sekali. Belajar melihat poin-poin mana yang betul-betul penting dan disampaikan dengan runut.
Setelah terbiasa, ternyata untuk membawakan materi jauh lebih mudah.
Panjang oke, pendek pun tidak masalah.
Itulah gunanya sekolah.

Teringat pepatah, tidak ada belajar berenang tanpa masuk alias nyemplung, ke dalam air.
Demikian pula dengan public speaking, sehebat apa pun guru mau pun teorinya, tanpa latihan dan jam terbang yang cukup, tidak bisa.
Kecuali orang-orang yang memang sudah bakatnya di sana.

Teman-teman lanjut level 2, ya….
Mampu mengalahkan ketakutan dan maju, sungguh berharga.
Kemenangan itu selalu menyenangkan.
Wow… Ternyata saya sudah naik satu anak tangga lagi…
Yeaaayyyy…

Oh ya, takut Mission Trip?
Dulu saya juga. Tetapi setelah melewatinya, sangat menyenangkan. Kesempatan mempraktikkan apa yang sudah dipelajari, bahkan menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Dan menyadari setiap kita presentasi dengan keunikan dan kekhasan masing-masing. Semua bagus dan memberkati. Karena fondasi dan materi yang disampaikan memang bermutu dan bermanfaat.

Yang lebih membahagiakan lagi, anak-anak melihat, mamanya tetap sekolah lho.  Jadi teladan.
Mereka pun suka belajar.
Update info masa kini. Sehingga mereka tidak segan bertanya atau berbagi karena mamanya nyambung klo diajak ngobrol.
Kebanyakan anak-anak muda malas ngobrol dengan ortu, karena diajak ngomong apa saja gak ngerti.
Gak mau belajar lagi.

“Kelamaan Tante klo suru ngajarin mama… Mulainya darimana gak ngerti”, komentar putra teman saya.

Klo saya tanya ke anak-anak, jawabnya,
“Sudah cari paduan di google belum? Belajar dulu, klo beneran ga bisa baru nanya. Saya juga begitu….”
Dieeeenk… Sebelum bertanya, saya belajar sendiri duluan dari google.

Atau anak yang lain, daripada repot ngajarin, dia bikinin saja 5 menit jadi. Mamanya tetap ga bisa apa-apa.
Anak jadi kurang respect…

Nach lho….
Karena sekolah, saya bisa belajar dari teman-teman juga.
Bergaul dengan berbagai kelompok usia.
Pokoknya asyiiik…
Sekolah yuk…. Biar update, makin pintar dan anak pun respect.

“The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go.” – Dr. Seuss

Semakin banyak Anda membaca, semakin banyak hal yang akan Anda ketahui.  Semakin banyak yang Anda pelajari, semakin banyak tempat yang akan Anda kunjungi.” – Dr. Seuss.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Bagaimana Memahami Kehendak Allah Dalam Hidup Saya?
Rahasia Pamungkas Agar keluarga Diberkati.
“Legalisme [agamawi] bukan…..”