Articles

Ada Tertulis…..

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Ada Tertulis…..

Acara “Thurman Scrivner on Sid Roth” sungguh memukau.

Pada suatu hari ada polisi yang mencari Thurman, memberitahu bahwa istrinya, Betty, dan putrinya, Amanda,
dan cucunya Kathleen yang berusia 3 tahun, beserta seorang temannya, terlibat kecelakaan. Mobil yang dikendarai dengan kecepatan 75 miles/hr, sekitar 120km/jam menabrak truk dan hancur.
Istri serta putrinya meninggal dunia. Cucu dan teman cucunya dalam keadaan kristis. Wajahnya hancur, matanya terlepas dari saluran otaknya.

Dalam keadaan demikian, Thurman tetap tenang dan percaya bahwa cucu serta teman cucunya akan tetap hidup dan sembuh total. Padahal entah berapa banyak tulang-tulang patah baik di wajah mau pun kakinya. Mobil yang dikendarai hancur tak berbentuk. (lihat foto)

Dokter mengatakan kalau pun selamat, mereka akan jadi makhluk seperti ‘sayur’ alias tidak berguna dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Tetapi Thurman tetap yakin, percaya dan beriman.

“Apakah kamu mendengar suara Tuhan yang mengatakan cucumu akan sembuh?” tanya Sid Roth.

“Tidak. Tetapi saya punya Alkitab yang merupakan suara Tuhan” jawab Thurman.

Dieeenk…..
Saya sungguh terpesona.

Bagi Thurman Firman Tuhanlah realitas yang sesungguhnya, bukan fakta secara kasat mata. Seburuk apa pun kondisi cucunya, Thurman yakin cucunya akan sembuh, dapat melihat, berjalan lagi dan normal sempurna.

Apa yang dilakukan Thurman?
Selama 10 jam beliau mendeklarasikan firman Tuhan. Secara bertahap cucunya sembuh. Tanpa operasi, wajah yang hancur, mata yang lepas dari sambungan otak dan kaki yang patah, semuanya utuh kembali. Tanpa cacat sedikit pun. (lihat foto)


Ketika sharing tentang hal ini dengan B. Henny, Marlina, Dacy, Merry dan B. Ribka, tiba-tiba kami sadar…. Betapa seringnya saat membaca Alkitab kami sibuk menunggu rhema: firman Tuhan yang dihidupkan.
Tidak selalu rhema itu muncul tetapi sesungguhnya Firman Tuhan itu ya Suara Tuhan yang tertulis.
Thurman TIDAK menanti mendapatkan rhema, tetapi berpegang pada firman Tuhan yang tertulis.

Ini menempelak kami….
Dan kami sadar, kami tidak perlu menantikan sensasi atau perasaan saat berhubungan dengan Tuhan.

Banyak orang yang menantikan sensasi hadirat Tuhan dengan meneteskan airmata atau merasa bulu kuduk berdiri atau sensasi lainnya.
Semua bisa saja terjadi, tetapi Iman Bukanlah Perasaan.


Suatu ketika Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja.

Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,
dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.
Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.

Kata Petrus kepada Yesus:
“Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”
Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.
Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara:
“Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.
Markus 9:2-8 (TB)

Untuk membuktikan bahwa pengalaman mereka di gunung bukan sekedar dongeng, Petrus mengatakan,

“Kami menyaksikan, bagaimana Ia (Yesus) menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.
Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi.
Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri.”
2 Petrus 1:17-20 (TB)

” Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi,” kata Petrus.
*Berarti meski pun mendapatkan penglihatan yang spektakuler, disertai suara yang terdengar dari surga, yang dilakukan Petrus adalah melihat kembali ke Kitab Suci untuk memastikan semua itu selaras dengan nubuatan para nabi.

Kesimpulannya, Petrus menghargai Firman lebih tinggi daripada penglihatan dan suara yang diterimanya bersama Yohanes dan Yakobus saat melihat transfigurasi Yesus bersama dengan Musa dan Elia.

Pelajarannya, berpeganglah pada Firman Tuhan karena Firman itu adalah Allah.
Jangan mengejar perasaan, penglihatan atau nubuatan. Kalau pun kita menerimanya, harus dipastikan ulang, selaraskah dengan Firman?
Firman itu otoritas yang tertinggi.
Firman yang dapat menghapus keraguan.


“Yesus sendiri ketika dicobai oleh setan, berkata,
“Ada tertulis….” dan bukan “Bapa berkata…”, demikian Bu Henny mengingatkan.
Yesus berpegang pada Firman, bukan suara yang didengar.

Bersyukur sekali hidup saya dikelilingi oleh teman-teman yang betul-betul memprioritaskan Tuhan.
Konon biasa ibu-ibu kalau berkumpul, sibuk cerita gossip, shopping atau cerita tentang anak.
Tetapi uniknya, teman-teman sambil cerita ngalor- ngidul, setiap topik dikaitkan dengan firman Tuhan dan bagaimana menghidupinya.
Inilah yang memicu pemahaman kian mendalam.

Yuliadi, sohib saya, yang mengirimkan link Thurman Scrivner on Sid Roth.
Bukan link artis atau tik tok yang sedang trend.
Iman pun kian bertambah kuat dengan banyaknya resources rohani yang bagus dan teman-teman yang sungguh-sungguh cinta Tuhan.

Ketika kita memikirkan hal-hal Ilahi, kita menjadi seperti Dia. Firman yang ditanam di dalam kita, – bukan google atau gossip – yang akan menyelamatkan kita.
Penting diingat, apa yang kita pikirkan, endingnya menjadi perkataan & perbuatan kita.

Inilah kekayaan yang tak ternilai harganya.
Hidup dipenuhi damai sejahtera dan sukacita dari Allah.
Dengan siapa kita bergaul, menentukan masa depan kita, juga ending kita di mana?

Pertanyaannya:
Siapa teman-teman Anda?

In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was fully God.

Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu sepenuhnya adalah Allah.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Bagaimana Kita Melihat Diri Kita Sendiri?”
“Apakah Anda hidup dari jiwa atau dari roh?”
Sudahkah Kita Seperti Pohon Sanobar dan Pohon Murad?