Articles

Kail Atau Ikan Atau……?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kail Atau Ikan Atau……?

Hhhmmm… Belajar itu memang membuka wawasan. Sungguh suatu keberuntungan bisa ‘bergaul’ serta berguru dengan orang- orang hebat.

Selama ini saya sudah merasa cukup ‘pintar’ dengan menghidupi pepatah kuno,
“Berikan ikan kepada seseorang, Anda memberinya makan untuk sehari. Ajari dia memancing dan Anda memberinya makan seumur hidup.”

Pepatah ini menjadi pegangan kami, sehingga P. Indra kekeuh melatih anak-anaknya agar bisa ‘memancing’. Mumpung orangtua masih bisa membimbing, kami mati-matian berusaha melatih mereka, jika si anak mau.

Tetapi begitu belajar dari David Briggs, saya merasa terlalu kuno…. Pandangan saya terlalu sempit, berpikirnya keciiiilll sekali!

“Berikan ikan kepada seseorang, Anda memberinya makan untuk sehari. Ajari dia memancing dan Anda memberinya makan seumur hidup. Ajari dia mendirikan bisnis perikanan, maka Anda tidak hanya memberinya makan seumur hidup, tetapi juga mendatangkan manfaat bagi keluarga dan komunitasnya.”

Dieeeenkkkk….. Ini baru cara berpikir Besar!

Hidup kita bukan kebetulan. Setiap kita diberi ‘pekerjaan’ yang menjadi ‘panggung’ dimana kita bisa menjangkau, mengasihi serta menjadikan hidup kita ini buku yang terbuka, sehingga orang lain bisa menikmati karya Allah melalui kehidupan kita.
Hidup orang lain menjadi lebih baik karena mereka mengenal kita. Kita menjadi pengaruh yang membawa kehidupan orang lain meningkat dan berkualitas, karena kita memanfaatkan panggung kita secara efektif.

Setiap kita sudah diberi pekerjaan, kemampuan, talenta serta panggung yang berbeda.
Apa yang menjadi marketmu, tidak bisa saya jangkau, demikian pula dengan sebaliknya.
Disana Tuhan ingin kita berdampak, meneladani-Nya dalam membagikan kasih-Nya bagi dunia.


Dulu saya berpikir, orang yang rendah hati itu tidak serakah. Jadi minta berkat dari Tuhan secukupnya saja asal cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah sekolah di Charis, mindset diubah.
Meminta hanya sekedar cukup untuk keluarga saya, itu egois!
Seharusnya saya minta diberkati berkelimpahan agar saya punya berkat extra untuk dibagikan kepada orang lain.
Tujuan hidup kita adalah diberkati untuk menjadi berkat bagi orang lain sehingga orang lain bisa melihat kemurahan Allah melimpah dalam hidup kita… Dan mereka ingin mengenal Allah kita yang murah hati.


Dulu saya cukup bangga dan merasa menjadi orang baik ketika kondisi sulit, lalu patungan dengan teman-teman membelikan nasi bungkus dan membagi-bagikannya kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Saya berpikir, ada budget tertentu memberi makan orang lain, tentu ini perbuatan baik. Dan ya… Memang baik.

Tetapi seharusnya tidak stop sampai disitu saja. Lebih bagus lagi jika memberdayakan mereka, tidak sekedar memperoleh ikan untuk makan sehari… Seperti kata David Briggs, ajari mereka memiliki bisnis perikanan supaya komunitasnya juga berubah. Hidup yang berdampak mengentaskan masyarakat.

Saya cukup tersentak mendengar komentar seorang guru,
“Jika Anda melayani komunitas miskin dan terpinggirkan, dan setelah 5 tahun Anda melayaninya, ternyata hidup mereka tidak mengalami peningkatan, maka STOP saja pelayanan Anda! Anda sudah gagal!”

Banyak pelayanan yang selama ini hanya menyalurkan dana dari donatur dan tidak membawa perbaikan serta peningkatan taraf hidupnya. Mereka hanya diladeni, tanpa pernah dilatih untuk mandiri.
Donatur cukup puas orang-orang tidak kelaparan, dan yayasan pun hanya sekedar mengumpulkan dana dari para donatur, lalu mengelolanya dengan efektif dan efisien. Hanya sampai disitu saja visinya.

Tujuan yang benar adalah mengentaskan mereka, melatih dan membukakan jalan sehingga mereka bisa hidup mandiri dan sukses. Mengajari mereka berbisnis, membimbingnya hingga sukses.
Pada gilirannya, mereka melatih teman-teman dalam komunitasnya, agar mampu mandiri seperti mereka.
Saling mempengaruhi dan berdampak, pada akhirnya seluruh masyarakat dientaskan.

Tuhan ingin setiap orang mengemban misi ini di dunia dan setiap kita dapat menjadi ‘pebisnis’ yang tidak egois hanya memikirkan ‘aku’ tetapi berpikir untuk ‘kita’.
Inilah cara kerja yang dikehendaki Allah.
Ketika kita bersatu dan saling mengasihi, maka orang tahu, bahwa kita ini murid-murid Allah. Ada kasih tulus yang terpancar dari sana… Pancaran kasih Allah.

Menarik bukan?
Ikut bergabung dalam Visi Tuhan yuuukkk….

Whatever you’re thinking, think bigger. – Tonny Hsieh

Apa pun yang Anda pikirkan, pikirkan yang lebih besar. – Tony Hsieh.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Menyenangkan Semua Orang…
Apakah Anda Percaya Yesus Mati Untuk Semua Orang?”
Tidak Sadar Punya Harta Karun? Hah…..Masa Iya?