Articles

Hubungan Dengan Allah Yang Dipulihkan..Mau Tahu Rahasianya?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hubungan Dengan Allah Yang Dipulihkan..Mau Tahu Rahasianya?

Di Indonesia, semua orang mengaku mengenal Tuhan. Nyaris ga ada yang mengaku atheis.
Lihat saja di kolom agama dalam KTP-nya, selalu tertulis salah satu agama yang diakui pemerintah.

Tidak sedikit teman-teman saya yang hanya berdoa saat hendak makan saja. Sebagian dari mereka, bahkan minggu pun tidak beribadah. Cukup asal jadi orang baik, kata mereka.

Ada masalah besar, yang pertama dipikir, siapa orang hebat yang bisa membantu saya?
Sakit? Langsung cari info, siapa dokter yang paling jago di bidang ini?
Kapan cari Tuhan?
Kalau dokter sudah angkat tangan, langsung jungkir balik cari Tuhan.

Kapan mereka sungguh-sungguh berdoa dan mencari Tuhan?
Saat ditimpa masalah besar, yang secara akal tidak bisa diselesaikannya dengan kekuatan sendiri.
Tuhan Maha-baik bahkan dalam kondisi seperti itu pun masih ditolong-Nya.

Bagaimana setelah masalah selesai?
Kembali ke pola hidup yang lama. Tuhan hanya dibutuhkan saat ada masalah besar atau sedang sakit.
Beribadah dan berdoa hanya untuk basa basi saja.
Koq tahu?
Lha dulu saya juga begitu… 🙂 🙂 🙂 Bahkan menganggap memang sewajarnya begitu.

Hidup berjalan sesuai kemauan dan rencana ‘pintar’ saya sendiri. Lalu memerintahkan Tuhan memberkatinya.
Belajar ilmunya dari tokoh-tokoh top, penulis-penulis buku yang terkenal.
Kan kita hidup di jaman modern, ya mesti begitu, demikian pikir saya.
Setiap seminar besar, bertemu dengan pengusaha-pengusaha nasional dan para pejabat, merasa sudah di jalur yang benar.


“Hanya mencari Tuhan saat ada masalah itu tanda kesombongan. Banyak orang berdoa setelah kehabisan semua cara alami. Itu menunjukkan kesombongan hati mereka,” ujar Andrew Wommack.

Dan itu mengagetkan, karena itulah saya, saat masih bayi rohani. Saya menganggapnya wajar karena orang-orang di sekeliling saya demikian juga.
Mak Jleb!

Tuhan menolong anak-anak-Nya sekedar agar lolos dari krisis, dengan mujizatnya. Mujizat artinya penangguhan hukum alam. Contoh, mobil tanpa bensin seharusnya tidak bisa jalan. Kita berdoa, Tuhan tolong….
Meski bensin kosong, ternyata masih bisa jalan hingga sampai SPBU.
Wah… Senang.
Tapi jangan stagnan di sana. Karena kalau kita kerap menerima mujizat, artinya, hidup kita dari krisis ke krisis.

Saat dalam masalah besar atau sakit, Tuhan mengirimkan mujizat-Nya.

Namun itu sesungguhnya bukan kehidupan seperti itu yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Tuhan ingin kita dewasa rohani, hidup dalam kelimpahan berkat-Nya.
Bensin habis?
Ya beli… Karena uang kita lebih dari cukup untuk membelinya.

Nach untuk menjadi dewasa rohani dan menikmati hidup berkelimpahan, ada syaratnya: bertumbuh menjadi dewasa dan menjalani hidup sesuai God’s way. Tuhan yang menjadi Boss, sementara kita mengikuti arahan-Nya.


Saya baru paham ternyata hidup yang dikehendaki Tuhan bagi orang yang percaya kepada-Nya adalah hidup seperti Adam & Hawa saat masih di Taman Eden. Saat mereka belum jatuh dalam dosa.

Apakah Adam & Hawa menganggur?
Tidak!
Mereka bekerja, tetapi pekerjaan bukanlah beban, melainkan kegiatan yang menyenangkan.

Setiap hari Adam & Hawa bekerja, dengan fokus serta dengan akrab bercakap-cakap dengan Tuhan menikmati hari lepas hari. Mereka percaya dan menikmati persekutuan yang akrab dengan Tuhan. Apa pun yang mereka butuhkan sudah tersedia. Mereka menjalani serta menikmati hidup bersama Tuhan.
Inilah bentuk hubungan yang dikehendaki Allah bagi kita!

Setelah manusia jatuh dalam dosa, bekerja menjadi beban. Dibutuhkan hakim, jaksa, polisi karena adanya ketidakjujuran dan korupsi. Dibutuhkan dokter, perawat, pabrik obat dan rumah sakit karena adanya penyakit akibat iblis yang memegang otoritas dunia.
Malapetaka dan berbagai kerusakan melanda karena Adam menyerahkan otoritas dunia kepada si iblis.

Allah ingin memulihkan hubungan kita dengan Dia seperti di Taman Eden dulu.
Kembali menjalani kehidupan kita setiap hari dengan fokus kepada-Nya dan firman-Nya. Hubungan yang dipulihkan.
Kita tidak hanya mencari-Nya sebagai ban serep saat menghadapi kesulitan, tetapi benar-benar menjadikan-Nya Allah atas hidup kita, yang benar-benar kita kasihi sepenuh hati.
Allah yang menjadi driver kehidupan saya, jadi Bossnya, sementara saya yang duduk di kursi penumpang mengikuti arahan-Nya dengan taat.

Dengan cara demikian, kita akan mengalami damai sejahtera yang melampaui segala akal.
Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia, semua disediakan Allah bagi kita yang mengasihi-Nya… Hubungan yang berkualitas dengan Allah.

Kualitas hubungan semacam ini, tidak dapat dicapai jika kita mengikuti arus dunia alias world’s way…
Dunia mementingkan ‘aku’, namaku, caraku…
Apa untungnya buatku?

Damai yang dari Allah diperoleh ketika kita menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah. Beri dulu maka kamu akan diberi.
Tabur, maka kamu akan menuai.
Haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan. Semua karena anugerah-Nya, bukan kehebatan kita.

Dahsyat bukan? Praktik yuk…

God intends for us to experience the satisfaction of a lifevwell lived. We can do this if we are willing to do more than just go with the flow – – even dead fish can float downstream – Andrew Wommack.

Tuhan bermaksud agar kita mengalami kepuasan hidup yang dijalani dengan baik. Kita bisa melakukan ini jika kita mau melakukan lebih dari sekadar mengikuti arus – – bahkan ikan mati pun bisa mengapung ke hilir – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Lahir Karena Kecelakaan? (Healing Part 6)
Ingin Tahu Rahasia Kesuksesan Andrew Wommack? Cukupkah Sekedar Berdoa?
Who Am I?