Articles

Growth Environment for Our Children

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Growth Environment for Our Children

A big part of a leader’s job is to create a growth environment – Sebagian besar tugas seorang pemimpin adalah menciptakan lingkungan pertumbuhan,” ujar Billy Epperhart, founder Wealthbuilder.

Tantangan ini jauh lebih mudah dipraktekkan di perusahaan daripada dalam keluarga.
Mendidik anak-anak yang lahir dalam keluarga berkecukupan, sungguh tidaklah mudah. Apalagi yang sejak lahir sudah kaya, harta leluhur dimakan tujuh turunan pun tidak habis.

Kecenderungan ortu yang dulu hidupnya susah, saat berkecukupan, berusaha memberi yang ‘terbaik’ bagi anak-anaknya  jangan sampai mereka susah seperti dia.
Yang tidak disadari, sesungguhnya itu sedang ‘mengamputasi’ kemampuan anak-anaknya. Menempatkan anak-anak di zona nyaman, sehingga mereka tidak berani dan tidak siap menghadapi tantangan.

Sedemikian protektifnya, sampai pergi ke kota yang berdekatan saja, tidak jarang sang ibu terus menerus memonitor.
Anaknya jelas senang, merasa diperhatikan, tetapi repotnya, endingnya nanti di mana?
Mampukah sang anak survive, tanpa ortu?

We don’t grow when things are easy, we grow when we face challenges – Joyce Meyer.

Kita tidak bertumbuh ketika segala sesuatunya berjalan mudah, kita justru bertumbuh ketika kita menghadapi berbagai tantangan – Joyce Meyer.

Yang lebih tragis lagi, ada yang sedemikian memanjakan anak, sehingga memberinya fasilitas melebihi kemampuan ortu yang sesungguhnya. Anak terbiasa hidup di awang-awang, tidak berani menghadapi kenyataan. Tidak terbiasa berpikir realitis. Yang penting Image duluan. Tidak diajarkan menentukan Skala Prioritas. Lebih mementingkan apa kata orang.

Rahasia sukses yang paling mendasar, saat penghasilan naik, pengeluaran jangan ikut naik. Supaya ada uang lebih yang bisa untuk cadangan atau diinvestasikan. Financial Freedom adalah target yang hendak dicapai. Bak jamur dimusim penghujan, seminar yang menawarkannya.

Seorang sahabat yang menikah dengan anak orang kaya, mengeluh suaminya tidak juga bekerja. Setelah ortu meninggal, tidak tahu mau bisnis apa. Padahal modal dan fasilitas lengkap.
Seorang teman lain, yg IQ-nya termasuk kategori genius. Tidak sukses karena tidak berani mencoba. Takut gagal. Takut salah. Ortu tidak melatihnya. Semua sudah tersedia.

Teman dari sahabat saya, seorang istri yang sangat dimanja suaminya. Tiba-tiba suami meninggal, tanpa sakit. Bayar listrik pun tidak tau caranya. Sekarang hidup sakit-sakitan tetapi dokter tidak menemukan penyakitnya. Stres tidak mampu hidup sendiri.

Hidup itu bukan dongeng HC. Andersen yang happily ever after. Bahagia selama-lamanya.
Hidup itu penuh tantangan.
Meski punya duit banyak, kalau merasa hidupnya tidak berprestasi, hidup seseorang tidak akan bahagia. Tuhan menciptakan setiap manusia dengan tujuan. Kebahagiaan hanya tercipta, ketika kita merealisasikan tujuan itu.

Salah satu yang ditekankan P. Indra, anak-anak harus berani. Gak boleh penakut. Orang yang penakut, ga bisa sukses  demikian prinsipnya.
Ketika Nicho kecil, takut naik Jetcoaster. P. Indra memaksanya. Sambil menangis Nicho naik, begitu selesai, Nicho justru minta naik jetcoaster lagi. Bahkan berani mencoba Jetcoaster yang jauh lebih mengerikan.

Salah satu alasan mengapa kami mengirimkan anak-anak sekolah ke luar negeri, supaya mereka mandiri. Kalau dekat  kecenderungannya ingin bantuin. Di sana mereka ‘dipaksa’ belajar menyelesaikan masalah sendiri, beradaptasi dengan lingkungan yang sangat berbeda dan berjuang agar bisa survive.

Kami memiliki 4 anak. Elisa & Christian lahir saat kami masih berjuang. Sementara Nicho lahir ketika kami agak mapan dan Michelle saat lebih mapan. Selain faktor itu, Elisa ke Aussie lulus SMP, Christian lulus SD. Sedangkan Nicho & Michelle, ke US ketika keduanya lulus SMU. Hasilnya, kami amati juga berbeda.
Elisa & Chris jauh lebih mandiri.
Mungkin juga bawaan karakter dan urutan kelahiran juga berpengaruh.

Bu Evi Tjahjono, psikolog UBAYA, pernah bertanya, bagaimana cara kami membesarkan anak-anak?
Keempatnya tidak suka pekerjaan yang rutin, mudah bosan dan kreatif. Konon berbeda dengan anak-anak pada umumnya.
Saya bengong. Apa ya…?

Yang jelas, P. Indra selalu mendorong agar anak-anak berani mencoba sesuatu yang baru. Gagal gapapa. Itu biaya sekolah kehidupan.

“Lebih baik anak gagal saat ortu masih hidup. Ada yang menolong dan bisa dibimbing untuk bangkit lagi,” kata Elisa,
“Klo ortu sudah gak ada siapa yang mau bantuin beneran? Ortu berhasil kan ada caranya. Bukan sekedar kebetulan. Mindset sukses, sepanjang jaman tetap sama. Valuenya tidak berubah. Nach itu yang tidak diajarkan di sekolah. Masing-masing anak yang harus menimba ilmunya dan dikombinasikan dengan cara bisnis masa kini.”

Mari kita menjadi ortu yang bijak. Bersikap sebagai pelatih dan sparing-partner, agar anak-anak bisa menjadi pribadi yang handal, sehingga mampu menghadapi tantangan di masa depan. Orangtualah yang harus menyiapkan Growth Environment, lingkungan agar mereka bertumbuh.
Tidak ada belajar berenang tanpa masuk ke air, demikian juga anak-anak harus menghadapi tantangan yang nyata.

Renungkan selalu, jika kita memperlakukan anak seperti ini, endingnya di mana?
Setuju?

It is our job to prepare our children for the road and NOT prepare road for our children – Sushil Jain

Adalah tugas kita untuk mempersiapkan anak-anak kita agar mampu melalui jalan hidupnya dan BUKANNYA mempersiapkan jalan yang dilalui anak-anak kita ( yang harus dipersiapkan anak-anaknya, bukan dibuatkan jalannya) – Sushil Jain

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Bagaimana Kita Melihat Diri Kita Sendiri?”
“Mengapa Kita Menyalahkan Tuhan?”
Siapa Anda Di Dalam Roh?