Articles

Kriteria Wanita Cantik Ala P. Ken Sudarto.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kriteria Wanita Cantik Ala P. Ken Sudarto.

Berpuluh tahun lalu, saya membaca wawancara Alm. Bapak Kenneth Tjahjady Sudarto, terkenal dengan panggilan Ken Sudarto, Presiden Komisaris Matari Advertising Grup, di sebuah majalah wanita.
Beliau berasal dari Kebumen, kota kecil di Jawa Tengah, kampung halaman saya.

“Menurut P. Ken, wanita cantik itu seperti apa?”

“Ada wanita yang secara fisik sangat cantik. Bahkan nyaris sempurna. Tetapi ketika berbicara dengannya, dalam 5 menit, kita sudah kehabisan topik pembicaraan. Gak tau mau ngomong apalagi.”

Ungkapan P. Ken mengubah persepsi saya tentang kecantikan. Kalau diajak ngomong serba ga tahu, meski secara fisik cantik, dalam 5 menit luntur dah kecantikannya!
Blas gak menarik…. Saya paham sekarang.

P. Ken bukan orang sembarangan. Pengusaha sukses, lulusan Harvard Business School pula. Mungkin satu-satunya orang Kebumen yang lulus dari Harvard. Artinya, pendapatnya layak jadi panutan.

Mau cantik? Ayoo isi otak dan hati dengan pengetahuan dan kebenaran firman Tuhan. Wisdom itulah yang membuat kecantikan tak lekang oleh waktu.

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji,” pendapat Raja Salomo yang mempunyai 1000 istri.

Dengan bertambahnya usia, kecantikan fisik akan pudar tetapi kecantikan yang dari dalam, berupa kebijaksanaan, hikmat, pengertian, kepandaian, akal budi, akan terpancar dari dalam yang menyinarkan kecantikan sejati, yang menarik banyak orang di sepanjang masa.

Wanita diciptakan untuk menjadi penolong yang sepadan bagi pria. Penolong berarti wajib melebihi yang ditolong: lebih repot, lebih cerdik, lebih bijak supaya bisa menjadi penasehat yang handal, tetapi posisinya tetap yang nomor 2… Karena dia hanyalah penolong.
Unik bukan?
Itulah yang Tuhan kehendaki!

Nothing is more beautiful than a woman who is brave, strong and emboldened because of who God is in her.

Tidak ada yang lebih cantik dari seorang wanita yang berani, kuat, dan bersemangat karena siapa Tuhan yang ada di dalam dirinya.

Sesungguhnya, nilai-nilai ini tidak hanya berlaku untuk wanita saja tetapi untuk pria dan siapa saja.
Semakin lama saya hidup dan belajar, semakin sadar, yang membuat seseorang menarik adalah api semangat dan nilai-nilai hidupnya.
Wisdom alias kebijaksanaan seseorang dan semangat untuk berkarya bagi sesama, yang membuatnya menarik. ‘Membuat hidup lebih hidup’, kata iklan, bertambah ‘cantik or tampan’ pula. Kata-kata yang terucap dari mulutnya, menawarkan ‘kehidupan’. Semangatnya menarik orang mengikutinya.

Saat kita berjumpa dengan seseorang yang ‘ajubilah’ kekayaannya, tetapi itu hanyalah sisa-sisa kesuksesannya di masa lalu, tidak ada sesuatu yang menarik lagi. Ucapannya pasrah, tanpa mimpi yang hendak diraih, dan hidupnya seolah menunggu giliran dipanggil Tuhan saja.

Berbeda dengan P. Ken, sms terakhir yang dikutip oleh Blog Tokoh Indonesia, berbunyi:
“Hidup bagaikan bendera perang. Kadang-kadang berkibar megah, menantang. Kadang-kadang kotor, robek-robek, dan hampir jatuh ke tangan musuh. Tapi harus tetap dipertahankan dengan gagah berani, sampai ke tangan Tuhan”.

Wow…. Ungkapan seorang pejuang sejati yang cinta Tuhan. Imannya terpancar dalam setiap kata yang terucap. Bunda Dewi Motik pun menceritakan begitulah P. Ken yang hebat. Beliau memang bersahabat dan mengenal P. Ken secara pribadi.

Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.

Ingatlah senantiasa, selama kita masih diberi nafas oleh Tuhan, artinya masih ada tugas yang harus kita kerjakan.
Cari Tuhan sungguh-sungguh.
Apa tugas yang belum kita selesaikan?
Jadikan itu mimpi kita dan raih.
Do our best!
Itu yang membuat pribadi kita senantiasa menarik dan akan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita dengan nilai-nilai kebenaran yang kekal.
Menjadi Terang dan Garam dunia, sehingga hidup orang-orang di sekeling kita, menjadi  lebih baik karena mengenal kita.

Saya tidak pernah mengenal P. Ken secara pribadi. Saat saya kecil, P. Ken sudah malang melintang di Jakarta. P. Ken tentu tidak menyangka, pendapatnya tentang kecantikan sudah mengubah hidup seseorang: saya…fans-nya dari jauh. Bahkan saat beliau sudah di surga, ungkapannya tetap memberkati banyak orang: pembaca Seruput Kopi Cantik YennyIndra.

Pelajaran yang saya ambil:
Kita pernah tahu, ungkapan mau pun tindakan kita akan berdampak seperti apa? Be wise… !

Sebagai penutup, inilah ungkapan Dr. Melvin Maxwell pada putranya, John Maxwell, saat beliau berusia 95 tahun:
“Son, remember… The best is yet to come – Anakku, ingat… Yang terbaik masih ada di depan sana.”

Wow… Sungguh teladan kehidupan yang berkualitas dan sangat menarik. Dr. Melvin Maxwell masih menantikan yang lebih baik lagi saat berusia 95 th. Dahsyat!

Pertanyaannya:
Sudahkah kita bermimpi dan giat meraihnya?

Becoming a woman of God does not happen overnight. To become the woman that God desires for us to be, He takes is through a lifelong journey that teaches us how to love Him with our heart, body, soul, and spirit. – Kendra Jackson.

Menjadi wanita yang berkenan kepada Tuhan tidak terjadi dalam semalam.  Untuk menjadi wanita yang Tuhan inginkan, Dia mengerjakannya di sepanjang perjalanan umur kita untuk mengajar bagaimana mencintai-Nya sepenuh hati, dengan tubuh, jiwa, dan roh kita.  – Kendra Jackson

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Mengapa Sebagian Orang Menyalahkan Tuhan Karena Keadaannya? (Part 2).”
“Bagaimana kita dapat mengalahkan depresi, kebingungan, keraguan dan ketakutan?”
BOUNDARIES