Articles

“Apakah Kasih Itu?”

“Apakah Kasih Itu?”

Subjek kasih atau cinta bisa menjadi sangat kompleks.
Kita berbicara tentang mencintai es krim atau kue, kemudian berbicara tentang mencintai atau mengasihi Tuhan. Kita mengatakan mencintai seseorang. Namun bersiap diri pula bahwa cinta itu akan memudar seiring berjalannya waktu.

Cinta atau kasih manusia kerap kali didasarkan pada nilai yang disematkan pada benda atau orang yang dicintai. Seperti yang kita semua ketahui, manusia dan banyak hal lainnya berubah seiring dengan berjalannya waktu. Dengan demikian, cinta manusia akan beralih pada hal-hal atau orang baru yang nampaknya lebih bernilai tinggi daripada hal yang lebih lama atau orang yang pernah kita cintai. Inilah alasan banyaknya perceraian. Cinta manusia didorong untuk memuaskan keinginannya sendiri.

Cintanya Tuhan tidak didasarkan pada daya tarik seseorang atau suatu benda, melainkan muncul di hati Sang Pengasih terlepas dari kondisi orang yang dicintai. Kasih atau cintanya Tuhan menjangkau semua pria mau pun wanita terlepas dari kondisi, kecantikan, atau apa yang dapat mereka lakukan untuk Sang Pengasih. Ini adalah cinta/kasih tanpa syarat, didasarkan pada hati Sang Pengasih (Tuhan) yang tidak mengenal batas atau limit.

Alkitab menyatakan bahwa Tuhan adalah kasih dan Dia sangat mengasihi kita sehingga Dia mengutus Yesus untuk mati bagi kita agar kita dibebaskan dari dosa dan kematian.
Mungkinkah kasih Tuhan memudar seiring dengan berjalannya waktu?
Apakah kita cukup berharga di mata-Nya sehingga kasih-Nya tetap bertahan, tanpa melayang kepada seseorang yang lebih pantas?

Kasih Tuhan muncul dari dalam hati-Nya, tidak terbatas serta tidak tergoyahkan. Kasih ini tidak memudar seiring waktu.
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak pernah gagal.

Ketika kita mengukur kasih dalam kaitannya dengan nilai, kita semua akan gagal. Kita semua terlalu sadar akan kesalahan dan kegagalan kita. Jika Tuhan hanya mengasihi yang indah, maka kita semua ada dalam bahaya. Itulah perbedaan antara kasih manusia dan kasih ilahi. Kasih Tuhan tidak didasarkan pada nilai atau kinerja kita, tetapi pada integritas dan keputusan-Nya untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

Cinta ilahi yang sama itu sekarang tinggal di dalam kita dan tersedia untuk diberikan kepada orang lain. Jangan mendasarkan kasih kita pada orang lain berdasarkan nilai mereka bagi kita, melainkan pada nilai mereka yang tak terbatas bagi Tuhan.

[Repost ; “What is love?”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Growth Environment for Our Children
Perlu PCR-kah?
Rahasia Makmur, Sehat & Sejahtera.