Articles, Relationship

SEPAKAT BARU BERTEMAN?

.

Suami saya mempunyai teman golf dari ibu kota, sebut saja Budi. Seorang professional sukses yang lulus S1, S2 dan S3 dari tiga negara maju yang berbeda. Saat kecil dia tumbuh normal seperti anak-anak lainnya. Rutin ke sekolah minggu dan sekolah di sekolah Kristen. Pengalamannya di masa dewasa berkali-kali dikecewakan bahkan ditipu oleh teman dan otoritas yang seharusnya menunjukkan keteladanan, integritas dan kasih Tuhan, ditambah pula dengan pengalamannya di luar negeri di mana banyak orang yang hanya mengandalkan logika, memuja ilmu pengetahuan dan meninggalkan Tuhan, membuat Budi menjadi orang yang membenci Tuhan. Budi menjadi orang atheis yang kritis.

.

Keluarga kami berteman baik dengan keluarga Budi. Sebagai seorang teman, Budi orang yang loyal, suka membela kepentingan teman dan baik. Dia teman yang setia dan terkenal suka menolong teman yang sedang dalam kesulitan. Oleh karenanya, Budi memiliki banyak teman dan diterima di mana-mana. Budi memiliki banyak uang, karir yang melesat, terkenal karena sering memberikan seminar di berbagai kota besar di Indonesia. Budi juga murah hati membagikan uangnya kepada orang yang membutuhkan. Dia orang yang aktif di berbagai kegiatan sosial. Kehidupan yang sukses. Dengan bangga Budi berkisah bahwa dia sudah menyiapkan untuk istri dan masing-masing anaknya rumah serta deposito dalam jumlah cukup besar bagi mereka kelak. Hidup yang tertata rapi, aman bahkan nyaris sempurna.

.

.

Dalam kesempatan tertentu, beberapa kali Budi memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar kekristenan. Saya tahu, saya tidak akan pernah menang berdebat dengannya. Dan saya juga tidak mau berdebat soal keyakinan iman seseorang. Tidak ada gunanya. Orang yang sudah memiliki keyakinan di dalam dirinya, tidak akan mengubah pandangannya. Sesungguhnya kita tidak dapat mengubah seseorang. Kita hanya bisa menginspirasi orang lain untuk berubah. Perubahan hanya bisa terjadi saat orang itu sendiri yang memutuskan untuk berubah.

Budi menguasai dan hafal ayat-ayat Firman Tuhan. Ditambah pula kesukaannya membaca berbagai buku pengetahuan, filsafat dan mendalami agama-agama lainnya, membuatnya bisa menyajikan argumen-argumen yang sangat bagus. Biasa saya tidak meladeni kata-katanya yang kadang-kadang sinis terhadap Tuhan dan cenderung sombong mengandalkan kemampuannya sendiri. Pernah juga Budi protes bahwa saya tidak bersedia menerima kritik dan tidak berani berdiskusi. Saya hanya tertawa. Saya berkata bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan. Orang bijak berkata bahwa manusia diciptakan untuk menjalani kehidupan, bukan untuk memahaminya. Ada hal-hal yang nampaknya tidak adil terjadi di dunia ini dan kita tidak tahu mengapa Tuhan ijinkan hal itu terjadi. Namun saat kita memilih untuk tetap percaya kepadaNya, suatu hari ketika menoleh ke belakang, kita menyadari bahwa rancangan Tuhan itu baik adanya. Ketika seseorang sudah memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan, dia tidak akan mudah meninggalkanNya. Meski harus mengalami badai kehidupan, namun bersama Tuhan ada damai di dalam hati. Hal-hal semacam itu sulit dijabarkan dengan kata-kata. Hanya orang-orang yang sudah mengalami, yang bisa memahaminya.

.

Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, 15 tahun sudah kami mengenal Budi dan keluarganya. Gelombang kehidupan mendera Budi dan keluarganya dalam beberapa tahun terakhir. Budi gagal dalam berumah tangga. Bercerai kemudian menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda usianya.  Namun pernikahan keduanya juga tidak berjalan lancar. Putra sulung kebanggaannya ternyata kecanduan narkoba. Dalam keadaan seperti ini, Budi didiagnosa mengidap kanker prostat. Hartanya satu demi satu melayang. Budi yang semula terkesan sebagai orang yang hebat dan serba bisa, sekarang berubah. Suami saya dan saya belajar untuk mendampingi Budi sebagai teman di saat-saat yang berat. Suami saya secara berkala menelpon memberikan perhatian, menjadi pendengar dan memberinya semangat hidup. Sebagian besar teman-temannya meninggalkan atau menghindari Budi. Kejadian beruntun ini mengajarkan pelajaran kehidupan baginya. Budi merasa membutuhkan Pribadi yang lebih besar untuk menolongnya. Di saat seperti ini, saya bisa berdiskusi dengan Budi. Hatinya terbuka menerima kebenaran Firman Tuhan.  Budi sekarang dalam keadaan yang siap menerima pendapat orang lain. Sampai pada titik tertentu, akhirnya Budi kembali kepada Tuhan dan bertobat. Tuhan Yesus sungguh baik.  Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan baginya. Anak yang hilang telah kembali. Satu per-satu masalah Budi selesai dengan baik dan keluarganya dipulihkan.

.

Hidup senantiasa menyimpan misteri. Sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Saya belajar banyak dari pengalaman ini. Hendaknya kita bersahabat dekat dengan saudara seiman yang hidup benar karena hidup kita tidak akan jauh berbeda dengan kehidupan sahabat-sahabat kita. Namun kita sebaiknya membuka diri, berteman dengan siapa saja, karena inilah kesempatan kita untuk menjadi terang dan garam sesuai dengan perintah Tuhan.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang,

melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,

supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

.

.

Tentunya terang dibutuhkan justru di tempat yang gelap. Kita berteman dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan dengan membawa misi sebagai saksi Tuhan di dunia ini. Saat bergaul dengan mereka, itulah kesempatan bagi kita agar mereka bisa melihat bahwa karakter Tuhan terpancar melalui kehidupan kita. Ini misi Tuhan bagi setiap anak-anakNya. Tidak mudah. Namun saat ada anak Tuhan yang bisa dimenangkan, suka cita yang kita rasakan tak ternilai harganya.

.

.

Memang bergaul dengan saudara-saudara seiman jauh lebih mudah dan menyenangkan. Namun bukan itu tujuan Tuhan bagi anak-anakNya. Kita diperlengkapi saat di gereja dan bersekutu dengan saudara seiman. Setelah itu, hendaknya kita menggunakan apa yang kita miliki untuk menjadi terang di dunia yang gelap. Kita tidak perlu sepakat dengan seseorang, baru bisa berteman. Kita belajar untuk menghargai dan menghormati pandangan orang lain yang tidak sepaham dengan kita. Seperti kata Gus Dur, “Yang sama tidak usah dibeda-bedakan. Sebaliknya yang berbeda, tidak usah disama-samakan.” Kita bisa berteman dengan siapa saja meski kita memiliki pandangan yang berbeda. Tugas kita adalah membagikan kebenaran dan menjadi teladan. Mungkin benih firman yang kita sebar, suatu hari bisa bertumbuh dan teman tersebut bisa dimenangkan. Siapa tahu? Mari kita membuka diri untuk menjadi terang bagi dunia.

Selamat menjalankan misi Tuhan!

.

OLEH: YennyIndra

.

Photo: The Ultimate Sales Professional – Putting it All Together Pt. I …blacksalesjournal.com

Atheis | Blog Penting Dede Wijayadedewijaya.wordpress.com

http://www.fbceustis.com/templates/cusfbceustis/details.asp?id=29555&PID=750833

http://rachelwojo.com/the-light-of-the-world/

Shine – Called to be Lights in a Dark Worldwww.video-sermon.org

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Apa Rahasia Kecantikan Yang Membuat Pierce Brosnan, Sang James Bond 007 Tergila-Gila?
“Kekuatan Kata-kata.”
“Kesepakatan Telah Selesai.”

Leave Your Comment