ANGER


Banyak orang yang tidak berani marah karena marah itu dosa. Mereka memilih memendam rasa marah atau merasa terluka tanpa menyelesaikannya. Ada pula yang marah tetapi dengan kemarahan yang tidak bertujuan. Sekedar meluapkan kemarahan. Tidak banyak orang yang bisa marah dengan benar.

Aristoteles berujar  “Siapa pun bisa menjadi marah-itu mudah, tetapi menjadi marah kepada orang yang benar, pada saat yang benar dan untuk tujuan yang benar serta dengan cara yang benar-itu tidak berada pada kuasa siapa pun, dan itu tidak mudah”.

Apa sesungguhnya marah itu? Amarah adalah emosi manusia yang dirancang Allah untuk  memotivasi kita agar mengambil tindakan yang positif dengan cara membangun penuh kasih dalam menghadapi perbuatan yang salah. Tujuan utamanya adalah meluruskan hal yang salah, supaya keadaan menjadi lebih baik. Perbudakan di Amerika berakhir karena adanya kemarahan dalam menanggapi ketidakadilan kemanusiaan yang terjadi. Kemarahan dengan alasan yang baik ini, berkembang menjadi usaha untuk  memberikan  persamaan hak bagi setiap warga Amerika. Hasilnya adalah Proklamasi Emansipasi  yang ditandatangani oleh Presiden Abraham Lincoln.
Bagaimana caranya marah dengan benar?

  • Secara sadar, akui dengan jujur  pada diri sendiri bahwa kita marah.

Kesadaran ini membuat kita bisa mengambil respon positif, bukan sekedar membiarkan emosi kita meledak. Kesadaran ini seperti rem.

  • Kendalikan respon langsung kita.

Sangat bijak untuk diam dulu, membiarkan hati kita tenang sebelum bertindak. Pada saat hati panas, banyak kata-kata salah yang kita ucapkan.

  • Temukan fokus kemarahan kita: kesalahan apa yang diperbuat orang itu sehingga kita marah dan seberapa besar pelanggarannya. Apa kita marah memang karena orang itu salah atau kita hanya tersinggung saja misalnya karena kita ditolak saat ingin meminjam sesuatu, tidak dilibatkan dalam suatu kegiatan, diremehkan yang disebabkan cara kita memberi arti atau tanggapan terhadap suatu peristiwa.
  • Analisa pilihan-pilihan yang kita miliki.

Ada dua pilihan yang kita miliki: yang pertama mengabaikan saja dan menganggap masalah ini selesai. Sedangkan pilihan ke dua, kita mengkonfrontasi orang itu dengan penuh kasih, tujuannya untuk memperbaiki keadaan.

  • Ambil tindakan yang membangun.

Banyak orang yang memilih tidak berkonfrontasi atau menegur. Sesungguhnya definisi teguran yang benar adalah memaparkan suatu masalah di hadapan orang lain yang kita anggap telah bersalah kepada kita. Tentunya teguran tidak disampaikan dengan kasar tetapi tujuannya agar bersama-sama bisa melihat permasalahan yang ada. Saat kita berani menegur maka kita memiliki kesempatan untuk mendengar dan mengerti sudut pandang orang itu terhadap masalah ini. Selain itu, kita memberinya kesempatan untuk mengungkapkan alasan  tindakan atau ucapannya yang telah membuat kita marah. Di samping itu, orang itu juga punya kesempatan untuk mendengar dan mengerti mengapa kita terluka, tersinggung atau bahkan marah. Pembicaraan terbuka dari ke dua belah pihak ini akan membuka pintu rekonsiliasi dan bisa terbuka pintu maaf dan pengampunan. Pembicaraan yang terbuka dan kesalahpahaman yang diselesaikan secara dewasa akan membawa hubungan ke tingkat keakraban yang lebih mendalam.

.
Masalahnya, tidak semua kemarahan dikeluarkan dengan cara positif dan ada pula orang-orang yang tidak bisa diajak untuk menyelesaikan masalah secara positif pula. Ada orang-orang yang selalu mencari ‘kambing hitam’- orang yang bisa disalahkan atau selalu mencari alasan.  Ada pula yang memilih untuk menarik diri, menyangkali kemarahannya dan memendam kemarahannya. Akibatnya, timbul kebencian, frustrasi dan kesedihan. Istri yang kelihatannya sabar, ‘nrimo’ istilah orang jawa, meski pun dijajah, diperlakukan kasar, dihina selama bertahun-tahun lalu tanpa disangka, suatu hari dia bisa membunuh suaminya. Kemarahan yang dipendam dan tidak diselesaikan dengan baik justru merusak dan reaksinya bisa diluar kontrol. Banyak teori yang mengaitkan kemarahan yang terpendam dengan berbagai penyakit yang dialami manusia.

.

Kita tidak bisa mengendalikan orang lain tetapi kita bisa mengendalikan respon kita terhadap sesuatu. Ada kalanya dalam hidup kita diperlakukan tidak adil, dikhianati dan difitnah. Jika kita bisa menyelesaikan dengan positif, maka selesaikan secara positif. Namun jika situasi tidak memungkinkan, serahkan kepada kebesaran dan keadilan Tuhan. Minta kekuatan Tuhan agar kita bisa mengampuni dan melepaskan segala kemarahan dari hati kita. Hidup adalah perjalanan panjang, mungkin saja saat ini kita nampak kalah namun seperti orang bertinju, yang dilihat adalah hasil di akhir pertandingan. Tuhan senantiasa membela anak-anakNya yang dengan setia berharap kepadaNya. Berkat mengikuti orang-orang yang berbuat benar. Mengapa kita harus mempertahankan kemarahan? Serahkan hidup kita kepada Tuhan!

Pengampunan bukanlah suatu metode

Yang harus dipelajari

Tetapi suatu kebenaran yang harus dijalani

Nancy Leigh Demoss

OLEH : YENNY INDRA

Bibliografi:

Gary Chapman, ANGER, Visipress 2010.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Comments

In Every Bad Experience…..


Hidup ini tidak menentu. Bencana alam, kecelakaan, krisis terjadi dalam waktu yang begitu cepat dan tidak ada seorangpun yang bisa memastikan apa yang akan terjadi pada masa depan. Setiap orang pasti pernah mengalami pengalaman yang buruk. ‘Hidup makin susah,’ demikian keluhan banyak orang. Sesungguhnya saat-saat buruk senantiasa ada dalam siklus kehidupan sejak jaman dulu. Yang penting kita sadari, bahwa saat-saat buruk seperti musim yang akan terus berganti. Meskipun ketika mengalaminya rasanya lama sekali, musim dingin misalnya, tetapi kita tahu ada saatnya musim dingin berakhir dan akan diganti musim semi dimana daun-daun bersemi dan bunga-bunga bermekaran dengan indahnya. Karena itu jangan pernah kehilangan harapan. Itulah sebuah siklus kehidupan – pengalaman buruk adalah bagian yang alami dari kehidupan yang akan berganti menjadi pengalaman yang indah jika kita bijak meresponinya.

Jika anda dalam situasi yang buruk,

jangan kuatir sampai semuanya berubah.

Jika anda dalam situasi yang baik,

jangan kuatir pula sampai semuanya berubah.

John A. Simone.

Pada masa pemerintahan raja Yoyakhim-raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar-raja Babel mengepung kota itu. Lalu bangsa Israel ditawan dibawa ke negeri Babel. Dibuang di negeri asing menjadi tawanan tentunya bukanlah keadaan yang baik, sama keadaan kita saat ini yang tengah dilanda krisis. Raja bertitah agar memilih beberapa orang Israel yang berasal dari keturunan bangsawan, yang tiada  bercela, berperawakan baik dan berhikmat untuk bekerja di istana raja.

Diantara mereka yang terpilih adalah Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang yang mengasihi dan setia kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Mereka memilih tidak menajiskan dirinya dengan makanan dan minuman yang tidak berkenan kepada Tuhan serta selalu menjaga persekutuan pribadinya dengan Tuhan melalui doa. Ketika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan hidup berpaut kepadaNya maka Tuhan membuat kita menonjol diantara banyak orang. Tuhan berkenan kepada orang-orang setia mencari serta berharap kepadaNya.

Daniel diberi hikmat oleh Tuhan sehingga dia melebihi kemampuan semua orang bijaksana di negeri Babel untuk mengartikan mimpi raja Nebukadnezar sehingga Daniel  dijadikan penguasa atas seluruh wilayah Babel dan menjadi kepada dari semua orang bijaksana di negeri Babel. Dan atas permintaan Daniel maka raja memerintahkan agar pemerintahan wilayah Babel diserahkan kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego sedangkan Daniel sendiri tinggal di istana raja. Yang menarik, karena hikmat Daniel maka raja Nebukadnezar mengakui,”Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu.” (Daniel 2:47) Akhirnya kemuliaan dipersembahkan bagi Tuhan semata. Meskipun menjadi tawanan tetapi Daniel berhasil menjadi saksi bahwa Allah Israel itu hidup dan dahsyat melebihi allah yang lain.

Selama hidupnya Daniel melayani 3 orang raja: Nebukadnezar, Belsyazar dan Darius. Kembali pada masa pemerintahan raja Belsyazar, Daniel mengartikan tulisan yang muncul di dinding ketika raja Belsyazar sedang mengadakan perjamuan dengan para pembesarnya. Tuhan menunjukkan bahwa hikmat Daniel melebihi semua ahli jampi, ahli nujum yang ada di seluruh negeri itu. Akhirnya raja Belsyazar memberi Daniel kekuasaan sebagai orang ketiga di negeri itu.

Ketika pemerintahan berganti, dipegang oleh raja Darius dari Media maka Darius mengangkat seratus duapuluh wakil-wakil raja atas kerajaannya. Membawahi mereka , diangkat pula tiga pejabat tinggi dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang ini. Daniel melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja, karena ia mempunyai roh yang luar biasa dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.

Apakah kita memperhatikan bahwa Daniel selalu mendapat kedudukan yang tinggi saat melayani tiga orang raja? Tentunya ini prestasi yang luar biasa dan tidak mudah dicapai meskipun pada jaman sekarang. Pemerintahan dan penguasa boleh berganti, tetapi Daniel selalu berada pada posisi yang tinggi dan berkuasa. Luar biasa! Apa yang membuat Daniel menonjol? Roh hikmat yang dimilikinya! Dan hikmat itu berasal dari Tuhan, karena Daniel menghadapi segala tantangan termasuk dimasukkan goa singa karena dia berpegang teguh untuk beribadah kepada Tuhan, apapun resikonya. Ada harga yang dibayar tetapi upah yang menantipun luar biasa.

Berkat yang sejati seringkali tampil di hadapan kita

dalam bentuk kesakitan, kehilangan dan kekecewaan.

Joseph Addison.

Kita seringkali merasa terteror dengan situasi yang disebut krisis global. Dari kehidupan Daniel kita bisa belajar sesungguhnya tidak penting keadaan dunia itu seperti apa, selama hubungan kita dengan surga tetap baik maka tidak ada sesuatupun yang pantas kita kuatirkan. Di surga sumber berkat tidak pernah mengalami krisis.

Situasi kita meskipun kisis tentunya lebih baik daripada menjadi tawanan negara musuh bukan?   Tetapi meskipun dengan status tawanan ternyata Tuhan bisa membuat keadaan Daniel lebih hebat dan berkuasa daripada keadaan orang yang bebas. Belum tentu di negaranya sendiri dalam keadaan bebas Daniel bisa mencapai posisi seperti itu. Justru dalam pembuangan, pada masa raja Nebukadnezar Daniel menjadi penguasa atas seluruh Babel; pada masa raja Belsyazar, Daniel menjadi orang ketiga yang paling berkuasa di seluruh negeri sementara pada masa raja Darius, Daniel menjadi salah satu dari tiga pejabat paling tinggi kekuasaannya di seluruh negeri.

Di balik setiap pengalaman yang buruk, selalu tersedia kesempatan emas yang bisa kita raih asalkan kita tetap mau berusaha menggalinya. Seringkali paradigma kita yang salah menghambat kemajuan kita dan membuat kita mengabaikan kesempatan yang tersedia. Tuhan menyediakan makanan bagi burung-burung di udara  meskipun burung itu tidak menabur dan menuai, tetapi burungpun harus mencari makanannya – tidak berarti makanan itu tersedia di depan mulutnya. Tuhan memelihara bunga bakung di ladang tanpa harus bekerja dan memintal, tapi bunga bakungpun harus berusaha memasukkan akarnya kedalam tanah untuk mengambil sari-sari makanan dan mengarahkan tangkainya ke tempat matahari bersinar agar dapat tumbuh sehat. Untuk bisa hidup kita perlu usaha, tidak hanya secara jasmani tetapi yang lebih penting usaha dan kedisiplinan kita untuk terus membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan.  Berkat Tuhanlah yang menjadikan kita berhasil.

Ada perbedaan besar antara kuatir dan peduli.

Orang yang kuatir melihat masalah,

sementara orang yang peduli menyelesaikan masalah.

Harold Stephen

Apa lagi yang perlu kita kuatirkan? Dalam keadaan kekeringan di seluruh negeri, Tuhan bisa mengirim burung gagak untuk memberi makan Elia, membuat tepung dan minyak janda Sarfat tidak habis dimakan sampai habisnya masa kekeringan. Tuhan punya sejuta cara untuk memberkati dan menolong kita!

Ketika negeri Aram sedang berperang melawan Israel, raja Aram menyusun strategi tetapi nabi Elisa tahu dan memberitahu raja Israel sehingga mereka diluputkan. Demikian berkali-kali, hingga raja Aram marah dan mencurigai bahwa ada penghianat di kerajaannya tetapi kemudian diberitahukan kepadanya bahwa ini karena nabi Elisa yang tahu apa yang dikatakan raja Aram bahkan ketika dia berada di kamar tidurnya. Luar biasa bukan?

Tentunya dengan cara yang sama, Tuhanpun bisa memberitahu kapan harga saham tertentu akan naik atau turun, kapan harga dollar naik atau turun, juga strategi apa yang sesuai dalam situasi yang disebut orang dunia sebagai “krisis”. Kalau kita punya Allah yang sedemikian dahsyat, apalagi yang perlu kita kuatirkan? Yang terpenting adalah cara kita agar lebih peka ketika Tuhan sedang memberitahu kita rahasia untuk mengatasi masalah kita.

Mengapa berhenti bermimpi besar hanya karena krisis? Selama Tuhan memberi kita kesempatan hidup di dunia ini berarti Tuhan masih ingin memakai kita menjadi alatNya, saksiNya di dunia ini, maka lakukan yang terbaik yang kita bisa dan terus mengembangkan diri sambil terus berlari-lari mengejar mahkota kehidupan kita. Mari kita saling berlomba menjadi anak Tuhan sekaligus saksi Tuhan yang efektif!


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Comments

PERAN WANITA dalam PERNIKAHAN


Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya?

Ia lebih berharga dari pada permata.

Amsal 31:10

Gerakan feminisme melanda dunia terutama di negara-negara barat. Feminisme (tokohnya disebut Feminis) adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Feminisme bertujuan untuk menciptakan dan mempertahankan peluang politik, ekonomi, dan sosial hak yang sama bagi kaum wanita. Gerakan ini memperjuangkan kesetaraan gender. Prinsip ini pun mempengaruhi kehidupan pernikahan. Meskipun secara teori tujuannya baik namun terbukti angka perceraian di negara-negara dimana gerakan feminisme berkembang luas,  makin tinggi. Menurut angka statistik yang dirilis divorce guide, bahwa 50 % pernikahan pertama di Amerika diakhiri dengan perceraian. Sedangkan jumlah perceraian pada pernikahan ke dua lebih parah lagi, mencapai 65%. Dalam setiap perceraian, korban yang paling menderita tentu saja adalah anak-anak. Semanis apapun perceraian dilakukan, hasil penelitian para psikolog membuktikan, senantiasa meninggalkan luka di hati anak-anak dan mereka kehilangan keteladanan akan keluarga yang harmonis.

Dalam budaya Asia termasuk Indonesia, wanita dianggap pelengkap. Dalam budaya Jawa wanita diberi julukan ‘kanca wingking’, sekedar pengikut, dan sering dikatakan wanita itu ‘Suwarga nunut, neraka katut’, artinya wanita hanya ikut saja keberuntungan dan kemalangan suami. Benarkah demikian?
Sesungguhnya dalam ajaran agama diajarkan bahwa Tuhan menciptakan pria dan wanita menjadi pasangan yang sepadan untuk saling melengkapi satu dengan lainnya. Pria ditetapkan menjadi kepala dan imam dalam keluarga. Sementara wanita diciptakan menjadi penolong yang sepadan dengan pria, tidak lebih tinggi namun juga tidak Lebih rendah. Tidak ada rumahtangga bahagia tercipta jika kita tidak mengikuti rumusan ini. Bukankah Sang Pencipta mengajarkan hal ini karena Tuhan tahu inilah rumusan yang benar sejak Tuhan menciptakan Adam dan Hawa? Pertanyaannya: Bagaimana caranya wanita dapat menjadi penolong yang sepadan tanpa harus terinjak-injak oleh pria?

Tuhan menciptakan kekuatan wanita bukan terletak pada kekuatan otot dan fisiknya seperti pria, namun pada pengaruhnya .  Kekuatan seorang wanita yang bijak terletak pada pengaruhnya  yang baik,  pemikirannya yang positif dan kemampuannya menjadi motivator serta inspirator yang baik untuk suami, anak-anak maupun lingkungannya. Keberadaannya membuat dunia sekelilingnya menjadi lebih baik dan berkualitas. Wanita yang bijaksana mendukung keberhasilan keluarga. Dia mampu mempengaruhi keputusan dan pilihan-pilihan yang diambil oleh suami dan anak-anaknya dengan cara yang santun dan halus, tanpa harus memaksa mereka. Dia tahu cara membawa diri dan cara membangun hubungan dengan orang-orang di sekelingnya. Wanita yang bijak memiliki strategi yang jitu agar dapat menang tanpa berperang. Seperti ungkapan Sun Tzu, sang ahli perang China,  “Jika anda mengenal kekuatan sendiri dan mengenal kekuatan lawan maka anda tidak akan dikalahkan dalam seratus pertempuran. Namun dengan strategi yang unggul, anda dapat memenangkan peperangan tanpa harus berperang.” Bagaimana caranya?

Sebagai wanita, hendaknya kita terus menerus mengisi pikiran dengan pengetahuan-pengetahuan yang baik dan relevan dengan masalah-masalah yang dihadapi keluarga kita. Wanita yang bijak adalah inspirator dan motivator dalam keluarga. Oleh karena itu,  hendaknya kita juga melengkapi diri kita dengan belajar cara membangun hubungan dengan orang lain. Dengan strategi membangun hubungan yang cerdas maka kita dapat membuat ide kita diterima dengan senang hati, ‘menang tanpa ngasorake’, kata pepatah Jawa, artinya menang tanpa merendahkan. Pengetahuan dan solusi yang baik hendaknya disampaikan dengan sikap yang manis pula. “Attitude is everything”, kata orang bijak. Sikap adalah segalanya. Saran yang baik namun disampaikan dengan cara dan nada yang salah, seringkali menimbulkan pertengkaran atau kesalahpahaman. Solusi yang brilian dipadu dengan sikap yang baik lalu disampaikan dengan santun, akan menolong memecahkan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh suami dan anak-anak kita sehingga pada gilirannya kita dapat meraih kepercayaan mereka . Secara bertahap hubungan yang dekat dan akrab akan tercipta dalam keluarga. Kita pun menjadi wanita yang dikasihi, dihargai dan menjadi kebanggaan keluarga.

Selain itu, wanita yang bijak adalah seseorang yang taat beribadah dan senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan. Mengapa? Seseorang menjadi bijaksana karena hikmat Tuhan. Hikmat adalah pengertian, pengetahuan dan kebijaksanaan dari Tuhan. Orang yang berhikmat memahami segala perkara dengan baik. Hikmat tidak dapat dipelajari. Hikmat adalah pengetahuan yang dikaruniakan Tuhan tentang sesuatu secara tepat, pada saat yang tepat melebihi segala pengetahuan manusia. Hikmat melebihi pengetahuan apapun di muka bumi, hanya didapat oleh seseorang yang peka pada petunjuk Tuhan karena kedekatan hubungannya dengan Tuhan. Keuntungan lainnya, ketika kita hidup dekat dengan Tuhan, maka kita akan menjadi wanita yang saleh; hati kita dipenuhi dengan damai sejahtera sehingga hikmat dan ucapan positif yang membangun senantiasa meluncur melalui mulut kita. Inilah yang membuat wanita memiliki kecantikan yang sejati. Kecantikan yang tidak lekang oleh waktu dan usia. Wajah kita bersinar sebagai pancaran kecantikan batiniah, inner beauty.

Jika terbukti dengan hikmat, pemikiran serta sikap yang baik, kita dapat memberikan pemecahan masalah-masalah dengan bijak tanpa menggurui, tentunya tidak hanya suami dan anak-anak kita yang menghargai kita, bahkan orang-orang di sekeliling kita akan datang meminta saran-saran bijak kita. Secara natural, kita telah memperoleh persamaan hak dengan pria (baca: suami) dengan cara yang manis dan santun. Rumahtangga akan terbina dengan penuh kasih, saling menghargai dan saling menghormati maka kebahagiaan pun tercipta dengan sendirinya.  Bagaimana pendapat anda? Selamat mencoba!

Wanita yang bijak menaruh sebutir gula di dalam setiap ucapan yang disampaikannya kepada pria,

dan mengambil sejumput garam dari apa yang diucapkan seorang pria kepadanya.

Helen Rowland ( Penulis Inggris-Amerika, 1876-1950)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Comments

WHY ME????


Sebuah email teman lama muncul di inbox saya. Dia mengabarkan bahwa anaknya yang ke dua baru lahir dan didiagnosa dokter mengidap Down Syndrome. Sahabat ini dan suaminya pasangan Kristen yang sungguh-sungguh cinta Tuhan. Saat hamil, dokter sudah menyarankan untuk test apakah janinnya dalam keadaan sehat? Sudah menjadi kebiasaan di negaranya untuk mengambil test ini. Jika janin kurang bagus maka dokter akan mengaborsinya. Suami dan ibu mertuanya yang juga seorang dokter, menolak test ini karena bertentangan dengan iman Kristen. Apalagi kemungkinan anak sahabat ini terkena down syndrome hanya 1 dibanding 100.000. Ternyata anaknya betul-betul lahir dengan kondisi Down Syndrome. Mengapa Tuhan mengijinkan ini terjadi? Anak ini akan menjadi beban sepanjang hidupnya. Dia pun merasa bersalah pada putri sulungnya yang harus merawat adiknya yang cacat setelah mereka meninggal nanti. Sahabat ini marah kepada Tuhan, marah kepada suami dan ibu mertuanya yang menyarankan untuk tidak mengambil test, dia marah kepada nasibnya. Dia tidak berani ke gereja, tidak mau keluar rumah karena takut dengan pertanyaan orang tentang anaknya. Why me?

Sungguh sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Ada orang-orang yang ketika berdoa lalu mendapat mujijat kesembuhan. Sembuh total dan hidup normal. Namun dalam kenyataan hidup, tidak sedikit teman-teman yang mengidap kanker atau penyakit berat lainnya, yang tetap meninggal dan tidak mendapat pemulihan total.

Seperti biasa, saat saya bertanya maka Tuhan akan menjawab pergumulan saya. Tidak melalui cara-cara supranatural namun dengan menarik perhatian saya pada buku yang ditulis oleh Joni Eareckson Tada, seorang gadis muda yang mengalami Quadriplegia alias kelumpuhan total pada tubuhnya. Joni tidak pernah disembuhkan dari sakitnya, seumur hidupnya harus tergantung pada kursi roda. Namun dia bertumbuh luar biasa baik secara jasmani maupun rohani. Joni bisa ‘mandiri’ pada batas tertentu dan pemahamannya akan kehendak Allah, pergumulan dan pertumbuhan rohaninya hingga dia memperoleh hikmat yang luar biasa berharga telah memberkati orang-orang di seluruh dunia. Kesaksian hidupnya telah mendorong semangat banyak orang yang juga menderita untuk menyongsong masa depan dengan pandangan yang positif.

Selama ini jika saya membaca kitab Ayub maka yang paling saya hafal adalah akhir Kitab Ayub. Ayub diberkati dengan harta dua kali lipat banyaknya daripada hartanya yang hilang dahulu, dan Ayub dikaruniai 3 orang anak perempuan yang paling cantik di seluruh negeri. Selebihnya, nol. Namun saat membaca uraian buku Joni, saya mengerti kebenaran Kitab Ayub dengan cara yang baru. Ayub begitu jujur, apa adanya mengungkapkan kemarahan dan pertanyaannya kepada Tuhan tentang apa yang menimpanya. Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

Mengapa aku tidak mati dalam rahim ibu, atau putus nyawa pada saat kelahiranku?

Mengapa aku dipeluk ibuku dan dipangkunya, serta disusuinya pada buah dadanya?

Sekiranya pada saat itu aku berpulang (mati), maka aku tidur dan mengaso dengan tenang.

Ayub 3:11-12 (Alkitab bahasa sehari-hari)

Ternyata melalui sakit yang dideritanya, Joni belajar tentang kebenaran Firman Tuhan secara mendalam sehingga menimbulkan keberanian untuk terbuka kepada Allah, seperti halnya Ayub, dan itulah awal dari penerimaan akan keadaannya. Seorang teman yang pernah hampir mati memberikan saran, saat berada pada puncak kesakitan, berserahlah kepada Tuhan. Semakin melawan, sakitnya akan semakin menyengat. Namun saat berserah, rasa sakit itu secara berangsur-angsur kian berkurang. Kuncinya: saat kita menyerahkan segala masalah kita ke tangan Tuhan dengan hati yang pasrah, itulah saat pemulihan terjadi. Selain itu Joni mengajarkan bahwa Tuhan itu senantiasa menyertai kita dan kasih karunia Allah senantiasa tersedia bagi kita. Kalimat-kalimat yang nampak klise bagi orang yang sehat dan normal namun saat menghayati keadaan seseorang yang cacat seperti itu maka hal-hal kecil yang terasa biasa bagi kita yang normal, menjadi anugerah yang luar biasa. Pelajaran tentang kesabaran, pengharapan dan penantian. Kita dicelikkan betapa Allah itu peduli dan penuh kasih.

Hikmat dari buku Joni, saya sharingkan. Sahabat saya merasa lebih baik. Saya menyarankan agar melakukan upaya terbaik yang bisa dilakukan untuk menolong anaknya, dan di sisi lain dia tetap minta Tuhan untuk memulihkan anaknya. Tetap harapkan mujijat. Tuhan itu senantiasa memahami kebutuhan anak-anakNya. Dia memahami batas ketahanan kita. Dia tidak pernah terlambat. Secara tak terduga, Tuhan mempertemukan sahabat saya dengan seorang wanita yang memiliki anak yang bisu tuli saat lahir, namun dengan berjalannya waktu, doanya dikabulkan Tuhan. Anaknya dipulihkan total. Sahabat saya mulai menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan tengah mendidik dia dan keluarganya agar bertumbuh lebih dewasa rohani. Dalam email terakhir, dia bercerita bahwa dia sungguh-sungguh mencintai anaknya, terlebih saat anaknya tersenyum kepadanya. Situasi berubah dan harapan kesembuhan terbuka satu demi satu ketika dia berserah kepada Tuhan dan menerima keadaannya.

Apakah ada jaminan bahwa anak sahabat saya akan dipulihkan? Tentu tidak. Tuhan berdaulat! Namun satu hal yang harus kita pegang, apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik yang Tuhan sediakan bagi kita. Justru dalam kelemahan kitalah, kuasa dan kasih karunia Tuhan menjadi nyata.

Saya ingin menutup artikel ini dengan kisah yang sangat menyentuh hati, ditulis oleh Ace Collins tentang sahabatnya, Nancy, dari buku “Women of Extraordinary Faith” :

Nancy seorang gadis muda yang berbakat, mahasiswi yang pandai, pemain softball yang selalu bermain untuk menang. Sesungguhnya Nancy tidak lebih berbakat dibandingkan orang lain, namun ia lebih bernyali dan lebih bersemangat. Dia seorang yang pantang menyerah. Dia seorang pemenang. Tidak hanya itu, Nancy senantiasa membuat semua orang merasa istimewa dan mengilhami orang-orang di sekitarnya untuk hidup lebih baik. Ace dan Nancy bersama-sama saat mereka kuliah di Universitas Baylor, di Waco, Texas. Ace berkomentar, jika Norman Vincent Peale membutuhkan seorang wanita untuk menggambarkan kuasa berpikir positif, maka Nancy-lah orangnya! Nancy percaya Tuhan bersamanya. Ia melihat bahwa setiap ujian dalam hidupnya adalah kesempatan untuk membuktikan penyertaan Tuhan dan kasih karuniaNya.

Setelah lulus, Nancy mengajar anak-anak dan dia yakin bahwa itulah rencana Tuhan bagi hidupnya. Beberapa tahun kemudian, Nancy didiagnosa mengidap kanker. Dia pun bergumul melawan kanker dengan berbagai terapi hingga keadaannya membaik. Nancy tetap bersemangat dan kanker tidak berhasil mengalahkannya. Tujuh tahun kemudian, Nancy kembali di diagnosa menderita tumor ganas sehingga ginjal yang terinfeksi diambil. Namun apa pun keadaannya, Nancy tetap mengajar anak-anak. Suatu saat dia pernah berkata,”Aku ingin semua orang dapat melihat Allah, sedikit saja, dalam diriku.”

Nancy hanya bisa mengajar beberapa bulan, sebelum menerima berita buruk lainnya. Radiasi yang menghentikan kanker telah merusak sebagian organ tubuhnya. Ia perlu lebih banyak operasi. Melihat keadaan Nancy yang kian buruk, Ace merasa imannya goyah. Mengapa Tuhan mengijinkan hal ini terjadi pada Nancy? Mengapa dia harus menderita, bukankah dia sangat mencintai Tuhan? Suatu hari Ace bertanya kepada Nancy, apakah dia pernah bertanya kepada Tuhan ,”Mengapa aku, Tuhan?” Jawabnya sangat sederhana. Nancy berkata,”Aku biasa menanyakan hal itu, tetapi kemudian aku melihat kondisiku dan bertanya,’Mengapa bukan aku?’ Jika tidak terjadi padaku, ini bisa terjadi pada orang yang kukasihi. Aku tidak ingin siapa pun yang kukenal mengalaminya. Tuhan menguatkan aku, maka aku akan menanggungnya. Aku akan berjuang melawannya. Dan aku akan mengalahkannya.”

Akhirnya, Nancy meninggal pada usianya yang ke 33. Sebelum meninggal, Nancy membagikan kata-kata ini kepada mahasiswa yang berjuang melawan kanker: “Manfaatkan semua hal yang diberikan kanker kepadamu. Kanker memberimu kesempatan untuk menantang dirimu dan menemukan batas kekuatan dan imanmu. Kamu akan mempunyai kesempatan untuk berusaha memahami sekelompok orang yang hidupnya dipenuhi dengan trauma dan kesedihan. Kamu dapat membagikan kegembiraan serta harapan kepada mereka dengan membagikan iman kristenmu. Ingatlah, kamu dapat memikul beban yang diberikan kepadamu, dan dengan melakukannya, kamu akan membantu orang lain memikul beban mereka. Kamu ditempatkan untuk menjadi inspirasi. Ambillah tanggungjawab ini dan berikan semua yang kamu bisa. Jika kamu melakukannya, kamu akan menang!”

Ketika buku ini ditulis, Nancy telah meninggal 20 tahun yang lalu. Namun orang-orang yang pernah mengenalnya, tidak pernah melupakannya. Umumnya, mereka tidak membahas peristiwa dalam hidupnya. Mereka membahas semangatnya dan bagaimana semangatnya lebih hidup setiap hari. Hidup Nancy menjadi berkat dan inspirasi bagi orang-orang di sekelilingnya. Nancy percaya bahwa semua orang bisa menyentuh setiap momen kehidupan dengan cara yang baik atau buruk. Ia memilih cara yang baik. Bagaimana dengan kita?


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Comments

Nilai Persahabatan


Kartini Nitiharijanto

Di tengah-tengah liburan kami sekeluarga ke kanada dan Alaska juni-juli lalu, sebuah message facebook dikirim oleh Siu Ling, sahabat saya di jogja bahwa salah satu sahabat kami, Ci Coco, telah meninggal dunia. Berita yang cukup mengejutkan. Menjelang berangkat liburan saya dengar Ci Coco sakit dan saya sempat menelponnya, namun saya tidak menyangka bahwa dia pergi secepat itu. Bahkan saya belum sempat menjenguknya, setelah perpisahan kami bertahun-tahun yang lalu.

Setelah pulang liburan, Maria teman yang lain chatting bahwa sahabatnya, Kartini telah meninggal dunia karena pendarahan otak. Kami bersama-sama saat berziarah ke Israel beberapa tahun sebelumnya. Kehilangan ke dua teman ini membuat saya merenung dan sempat terbawa mimpi selama berhari-hari. Peristiwa demi peristiwa yang pernah kami alami bersama, bagaikan tayangan sebuah film berjalan di benak ini. Perasaan kehilangan, sedih dan kosong yang mendalam mengisi hati. Bahkan Maria masih meratapi kepergian sahabatnya dan foto-foto kenangan lama di upload di facebooknya.

Satu hal yang melegakan bahwa ke dua teman ini telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka. Bahkan kesaksian dari Siu Ling bahwa Ci Coco ketika didoakan menjelang kematiannya, masih sempat mengangkat tangannya dan berseru, “Halleluya… halleluya….”  Dia tetap memegang imannya hingga akhir hayatnya. Maria bersaksi, setelah tiga belas hari koma, saat Maria selesai mendoakan lalu Kartini membuka matanya sesaat, dan kemudian “pergi”……

Dalam hidup ini kita bertemu banyak orang dan memiliki banyak teman. Ada teman-teman yang hanya datang  sesaat dalam kehidupan kita, namun ada pula teman yang ada di sepanjang jalan kehidupan kita. Ada pertemanan yang tetap berada tahap biasa dan ada pertemanan yang berkembang menjadi persahabatan. Ada teman yang hanya datang pada saat kita senang, teman yang demi keuntungan pribadi rela mengorbankan temannya. Bahkan tidak sedikit pula kisah menyakitkan teman yang memakan duit teman sendiri. Namun ada pula kisah teman-teman yang setia, peduli dan menjadi teman doa serta berbagi beban yang setia. Mendapatkan teman itu mudah namun mengembangkannya menjadi suatu persahabatan diperlukan usaha, kasih, pengorbanan dan pengampunan.

Persahabatan lebih dari sekedar berteman. Persahabatan adalah pertautan mendalam baik dalam jiwa maupun roh, membentuk ikatan yang tak terputuskan baik oleh kehidupan mau pun kematian. “What is a friend? A single soul dwelling in two bodies,” ujar Aristoteles. Sahabat adalah orang yang berkomitmen untuk setia baik dalam suka maupun duka. Tidak berarti dibangun tanpa adanya ketersinggungan atau kesalah-pahaman namun keduanya bersedia saling belajar untuk memahami, mengasihi dan mengampuni. Sahabat peduli. Sahabat menerima menerima diri kita apa adanya sehingga kita merasa aman untuk membuka diri. Sahabat tetap mengasihi walau pun dia mengenal sisi-sisi buruk kita yang tersembunyi. Sahabat sejati senantiasa berusaha memakai sepatu sahabatnya agar dapat mengerti cara pandang dan posisi sahabatnya sehingga dengan bijak mengambil keputusan yang tepat. Apakah mudah mencapai tahap ini? Tentu tidak. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun, saling membentuk dan mempengaruhi satu dengan yang lain hingga menjadi persahabatan tak terpisahkan. Inilah persahabatan antara teman saya, Maria dan Kartini yang telah teruji hingga akhir hayat Kartini.

Friendship is a living thing that lasts only as long as it is nourished with

kindness, empathy and understanding.”

Author Unknown


Ada orang-orang yang mungkin saja memiliki banyak teman namun tidak mampu memeliharanya hingga ke taraf persahabatan. Ada seorang teman yang berkomentar saat hubungan pertemanannya mengalami gesekan, ”Teman yang satu datang , dan teman yang lain pergi. Jika tidak ada yang pergi darimana kita bisa menilai mana teman yang baik? Toh pada akhirnya, hidup berjalan seperti biasanya”. Bagi teman ini, bukanlah suatu masalah kehilangan seorang teman. Masih banyak teman lain yang akan datang.

Saat bilangan usia kian bertambah, sebagian besar kita menyadari betapa berharganya sebuah persahabatan atau sekedar pertemanan. Kita mulai mengadakan reuni. Mencari teman-teman lama kita. Bahkan teman-teman SD yang wajah dan tubuhnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Yang lucu, saat reuni SMA, sebetulnya ada diantara kami yang bertemu dengan teman-teman yang betul-betul sudah lupa namun terjadi kesepakatan diantara kami, anggap saja ingat. Jadi kenalan lagi, mengingat nama plus berbagai keterangan dari kelas mana dan sebagainya, maka kami pun jadi akrab. Kami sama-sama merindukan pertemanan jadi kami semua mudah akrab.  Di usia pertengahan orang cenderung suka membangun grup baik melalui blackberry, arisan, kelompok hobi dan sebagainya untuk sarana agar dapat berkumpul dan berbagi dengan teman-temannya. Hidup tanpa teman, sekaya apa pun kita, terasa ada tempat kosong yang membuat hidup kita terasa hambar. Tuhan menciptakan kita untuk saling berbagi dan mengasihi satu dengan yang lainnya. Berbahagialah orang-orang yang memiliki banyak teman, terlebih lagi jika beruntung memiliki satu atau dua orang sahabat sejati, sangatlah luar biasa.

Saat merenung di tengah kepedihan kehilangan sahabat-sahabat terkasih, timbul pertanyaan: Apa yang bisa dipelajari melalui peristiwa ini? Seorang bijak mengatakan, kita meminta maaf kepada masa lalu dengan cara memberi yang terbaik kepada masa kini. Kita seringkali kurang menghargai saat teman, sahabat, keluarga masih ada di dekat kita. Namun ketika mereka pergi selamanya, barulah kita merasa kehilangan. Maria & saya sepakat, belajar dari persahabatan kami dengan Kartini, hendaknya kami lebih mengasihi dan menghargai sahabat-sahabat kami saat mereka masih hidup . Dari Siu Ling pun saya belajar dan melihat kesaksian, sebuah kasih tulus untuk melayani sahabat kami hingga akhir hayatnya. Siu Ling pun merasakan saat-saat berdoa bersama menjadi sebuah ikatan kasih yang kuat meski pun itu telah terjadi bertahun-tahun yang silam karena setelah itu mereka sempat berpisah berjemaat di gereja yang berbeda. Ada pula sahabat kami lainnya, Ci Mei Siang, yang dengan setia melayani dan merawat Ci Coco. Sungguh dari mereka semua saya belajar tentang kesetiaan dan kasih. Berbahagialah seseorang yang memiliki sahabat-sahabat yang setia dan mengasihinya dengan sepenuh hati.

Pelajaran lainnya, kita semua menyadari bahwa pada saatnya kita pun akan kembali ke rumah Bapa. Christopher Peterson dari University of Michigan percaya bahwa dengan mendorong orang-orang untuk memikirkan bagaimana mereka akan dikenang setelah mereka meninggal nanti, akan memotivasi mereka untuk mencapai long-term goals dan merealisasikan melalui tindakannya agar menjadi kenyataan yang mereka capai. Kesadaran bahwa hidup di dunia ini hanya sementara juga akan membuat kita lebih peduli kepada sesama. Alangkah baiknya jika kita tetap dengan kecepatan penuh berusaha menjadi yang terbaik menggenapi rencana dan misi Tuhan dalam hidup kita. Namun pada saat-saat tertentu kita sengaja berhenti sejenak untuk mengkaji ulang, apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan long-term goals kita akan kekekalan? Selamat mencoba.

Remember, the greatest gift is not found in a store nor under a tree,

but in the hearts of true friends.”
Cindy Lew


A friend loves at all times, and a brother is born for adversity.

Proverbs 17:17


Artikel ini dipersembahkan untuk:

Siu Ling, Ci Mei Siang & Ci Coco – Maria & Kartini.

Keteladanan akan persahabatan kalian menjadi berkat.

Bibliografi:

59 seconds                          – Richard Wiseman.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Comments

Warning: file() [function.file]: URL file-access is disabled in the server configuration in /home/yennyind/public_html/wp-content/plugins/wp-auto-trackback-sender/ats.php on line 122

Warning: file(http://plugins.aawnews.com/wp-ats/query-trackbacks_4d44a934421021de45a6e54a9c0eaaa1) [function.file]: failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/yennyind/public_html/wp-content/plugins/wp-auto-trackback-sender/ats.php on line 122

Warning: implode() [function.implode]: Invalid arguments passed in /home/yennyind/public_html/wp-content/plugins/wp-auto-trackback-sender/ats.php on line 123

Switch to our mobile site